Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kemarahan Rafli


__ADS_3

" Aku kesal mas lihat Jimmy seakan melarangku menanam pohon durian " ucap Ana mengadu membuat Rafli menatap Jimmy tajam.


" Tapi " ucapan Jimmy terpotong saat Ana merebut laptop dalam pangkuan Jimmy secara mendadak.


" Kau lihat , jika ada pohon durian pendek dan berbuah lebat " ucap Ana menahan emosi seraya memperlihatkan gambar pada Jimmy.



" Aku tidak mungkin menghabiskan lahan kebun ini untuk menanam pohon durian yang menjulang tinggi itu. Tak ku sangka , kau bodoh tak mengenal durian cangkokan " umpat Ana.


" Awas saja mereka karena telah mengerjaiku memanjat pohon durian yang tinggi itu " batin Jimmy kesal terhadap anak buahnya yang malah menemukannya dengan pohon durian yang super tinggi itu dan kini pemiliknya menjadi orang terkaya di kelurahannya.


" Sayang , apa benar dengan pohon durian seperti ini ada " tanya Rafli tak yakin.


" Ternyata kau dan Jimmy sama saja mas " gerutu Ana.


" Tidak " ucap Rafli tak terima.


" Aku suamimu dan Jimmy bukan siapa-siapamu , mana bisa aku disamakan dengannya " protes Rafli membuat Ana menggelengkan kepalanya merasa heran karena jawaban Rafli.


" Sudahlah , kalian para lelaki yang tak tau apa-apa tentang kebun jangan cerewet " ucap Ana kesal.


" Dan kau , jangan ikut campur dengan pohon apa yang ingin ku tanam " imbuhnya menatap tajam Jimmy namun yang di tatap biasa saja.


" Rasanya aku ingin menanam ranjau di sekitar pohon matoa ku " ucap Ana tak suka karena Jimmy menatap dalam pohon matoa miliknya.


" Jim , kau jangan buat emosi Ana naik turun begitu , nanti aku di suruhnya tidur di luar " ucap Rafli tegas dan segera mengejar langkah kaki Ana yang menghampiri tukang kebun rumahnya.


" Saya permisi tuan" ucap Jimmy merasa kepalanya berdenyut nyeri setelah apa yang ia alami beberapa saat tadi. Melihat Ana sensitif dan moodnya berubah-ubah karena kehamilan , Jimmy pun mengerti akan hal itu.


.


.


.


" Mas , apa kau tak bisa berhenti menciumku " ucap Ana karena sedari tadi Rafli terus menciumi wajahnya membuat Ana kesulitan memasangkan dasi bayi besarnya.


" Kenapa kau makin menggoda saat hamil membuat mas makin mencintaimu " jawab Rafli.


" Ya , aku sangat tahu itu " ucap Ana yang telah usai merapikan seluruh pakaian yang di kenakan Rafli.


" Ayo kita sarapan " ucap Ana karena makanan telah tiba di kamar mereka. Mereka sarapan bersama di dalam kamar , Ana merasa lelah karena semalam bergadang menuntaskan hasrat Rafli yang kian hari kian menggebu.


" Mas pergi ya , jangan lupa minum susu yang telah mas buatkan " ucap Rafli dan Ana mengangguk.


" Jagoan ayah jangan nakal ya , ingat jangan menyusahkan bunda " pesan Rafli terhadap anak dalam kandungan Ana , Rafli berharap anaknya seorang laki-laki , bahkan Rafli telah mempersiapkan kamar bayi mereka dengan nuansa baby boy, hatinya begitu yakin jika anaknya laki-laki yang akan lahir 3 minggu lagi.


" Mas pergi ya sayang " ucap Rafli mencium bibir Ana sedikit lama.


" Kenapa rasanya semakin nikmat " goda Rafli yang ingin mencium Ana kembali.


" Sudah kerja sana , Jimmy menunggumu dari tadi " ucap Ana mengingatkan dan Rafli mendengus kesal mengingat Jimmy dengan berani menggedor pintu kamarnya sebanyak tiga kali karena telah menunggu Rafli lebih dari dua jam lamanya.


" Baiklah , mas mungkin nanti akan pulang malam , istirahatlah jangan terlalu lelah " ucap Rafli tegas dan Ana mengangguk patuh atas perintah suaminya.


.


.


.


Rafli dan Jimmy kini sedang meeting bersama Klien membahas pembangunan apartemen elit di luar kota yang akan di urus Jimmy kedepannya. Meeting berjalan lancar tanpa kendala dan kini mereka sedang menikmati makan siang yang di suguhkan oleh pihak RA gruop.


" Pak nanti akan ada meeting jam 3 sore " ucap Dewi ketika melihat Rafli dan Jimmy telah kembali dan Rafli mengangguk saja.

__ADS_1


Rafli mengambil benda pipihnya untuk mengetahui kabar sang istri tanpa sengaja amplop yang ia simpan kemarin terjatuh. Merasa waktu sedikit kosong membuat Rafli berniat membuka amplop tersebut.


" Aku hampir saja lupa melihatnya , amplop ini terlihat sekali ingin aku melihatnya " gumam Rafli.


Jantung Rafli berdetak kencang seakan dadanya di remas kuat saat melihat foto di dalamnya....


" Tidak mungkin " ucapnya lirih saat melihat foto Ana dan seorang pria saling berpelukan di dalam selimut dan kemungkinan sepasang manusia itu baru saja melakukan adegan panas.


Rafli berkali-kali mengucek matanya , memastikan pandangannya salah , namun hasilnya tetap sama , wajah Ana terlihat jelas disana ditambah lagi dress yang di gunakan Ana rancangan khusus untuk istrinya. Tidak hanya itu Ana dan pria itu juga berfoto dengan mesra mencium perut Ana yang membuncit namun itu bukan dirinya dan Ana mengenakan dress yang sama.


" Tidak , ini mustahil " lirihya masih meyakini foto ini hanya editan.


" Tidak , Ana tidak mungkin mengkhianati cintaku " gumam Rafli dengan dua bola mata yang telah memanas , sepanas hatinya yang terbakar saat mengetahui foto itu asli tanpa rekayasa. Rafli mencengkram kuat rambutnya menandakan ia sangat frustasi.


" Aku akan menanyakan ini pada Ana langsung , aku masih berharap ini sebuah kebohongan , karena seluruh hidupmu hanya milikku. Kau Ana Rafli Wijaya , istriku " ucap Rafli dingin dengan gigi yang bergemeletuk menahan gemuruh di hatinya.


Ceklek


" Kau kenapa " tanya Jimmy karena sedari tadi melihat wajah Rafli merah padam dan Rafli membawa tas kerjanya dan sebuah amplop yang terbuka.


" Jangan ikut campur dan kau jangan lancang , atau akan ku patahkan tanganmu " ucap Rafli meninggi dengan setetes air mata mengalir di pipinya saat Jimmy ingin meraih amplop tersebut karena Jimmy memperhatikan perubahan raut wajah Rafli saat Rafli membuka amplop yang Jimmy tak tau apa isinya , Rafli sendiri tak mau aib istrinya di ketahui oleh siapapun . Jimmy tersentak kaget saat melihat Rafli dengan amarah yang menggebu. Amarah Rafli melebihi saat Eric ingin menjebak Ana dan saat Ana di lukai oleh Asuka.


" Tenangkan emosimu " ucap Jimmy berusaha meredam emosi Rafli namun nihil , Rafli berjalan cepat menuju parkiran mobilnya.


Dewi sendiri kaget saat melihat raut wajah Rafli yang membuka pintu dengan kasar dan rambut acak-acakan. Melihat wajah Rafli yang merah padam tampak mengerikan membuatnya tutup mulut untuk membahas meeting dengan klien asal Tiongkok yang nilainya hampir 3 trilliun rupiah.


" Aku akan usahan meyakinkan klien " sahut Jimmy mengerti kecemasan Dewi karena inu merupakan tanggung jawab Jimmy jika Rafli melepaskan tanggung jawabnya.


" Aku berharap ini bukan masalah berat dengan nona Ana " batin Jimmy. Ia segera menelepon orang penting di mansion Rafli untuk berjaga-jaga.


Sementara Rafli sendiri menangis terisak menahan sesak di dadanya di dalam mobil.


" Apa yang harus aku lakukan jika kau menghinatiku Ana " lirihnya


" Apa kurangnya aku , pria bodoh yang selalu mencintaimu tanpa batas dan akhir " imbuhnya.


" Apa jangan-jangan itu bukan anakku " ucapnya dengan emosi yang memuncak, Rafli memeras foto yang memperlihatkan foto perut buncit Ana di cium pria lain.


" Tidak , Ana tidak mungkin berhianat begitu jahat padaku , selama ini aku yang merasakan gejala kehamilannya " ucapnya lirih.


" Apapun alasannya , aku tak akan melepaskanmu " gumamnya menancap gas poll yang hampir menewaskan security yang berjaga saat itu , jika saja security itu tak menghindar dengan cepat.


Rafli mengendarai mobilnya dalam keadaan yang begitu kacau , kecewa , amarah dan kesedihan menjadi satu. Berteriak untuk meluapkan kekesalan tak ada gunanya.


" Kau sungguh tega Ana " isaknya.....


" Apa aku harus melepaskanmu , apa aku mampu tanpamu. Apa kurang ku Ana , katakan " lirih Rafli...


Rafli langsung menerobos saat tiba di gerbang mansionnya... Beruntung CCTV dari jalan khusus mansionnya menangkap rekaman mobil Rafli hendak menuju mansionnya , jika terlambat sedikit saja untuk di buka maka mobil sport miliknya akan hancur seketika bersama dirinya.


Semua penjaga dan bodyguard menunduk gemetar. Rafli memakirkan mobilnya dengan asal , ia ingin segera bertemu Ana untuk meminta penjelasan.


Brakk


Suara pintu terbuka dengan kasar oleh Rafli bertepatan dengan Ana yang baru keluar dari lift . Senyum Ana mengembang melihat sang suami tercintanya datang .


" Mas " ucapan Ana terpotong saat Rafli langsung merengkuh pinggang Ana dan mencium Ana sedikit kasar , mendorong tubuh Ana agar masuk kembali kedalam lift . Ana sangat syok melihat Rafli yang m*nc*mbunya tanpa ampun membuat Ana tak membalas belit*n lidah Rafli di dalamnya.


" Balas aku Ana " pinta Rafli lirih melepas c*mb*annya sesaat kemudian melanjutkannya lagi. Ana mengikuti perintah Rafli , menatap kesedihan di manik mata suaminya dan kemudian Rafli memejamkan matanya mengeksplor setiap inci bibir dan rongga mulut Ana.


" Masih sama " batin Rafli.


" Maaf " ucap Rafli melihat volume bibir Ana yang sedikit membesar , Rafli lalu membuka tombol yang ia tahan sedari tadi agar lift tidak terbuka.


Ting.

__ADS_1


Ana hanya terdiam sepanjang jalan , memikirkan apa yang terjadi dengan suaminya. Ini masih siang namun Rafli telah pulang , padahal Rafli telah berpesan bahwa ia akan pulang malam.


" Mas ingin mandi air dingin " ucap Rafli dan Ana segera menyiapkan air untuk Rafli mandi meski Rafli sempat mencegahnya.


" Aku harus mampu meredam emosiku , jika tidak akan berbahaya untuk Ana dan aku tidak ingin itu terjadi " batin Rafli.


Ana membuka pakaian kerja yang melekat pada tubuh Rafli. Melepaskan dasi suaminya lalu kemudian melepas jas kantornya dan membuka kancing kemejanya , Rafli selalu menjadi manja bila bersama Ana namun kini Ana mendadak gugup saat melihat tatapan Rafli yang tak ia mengerti.


" Kau hanya milikku kan Ana " tanya Rafli lirih dan berhasil menghentikan gerakan jemari Ana.


" Apa maksudmu " tanya Ana kembali melanjutkan gerakannya.


" Aku tidak suka kau meragukanku " ucapnya ketus dan membuka kemeja Rafli kasar.


" Buka sendiri dan cepatlah mandi " ucap Ana kesal.


" Jangan marah , mas tidak mau membagi apapun milik mas " jelas Rafli.


" Pergilah " usir Ana tak mengerti dan Rafli segera menuju kamar mandi.


Didalam kamar mandi , Rafli menatap lekat dirinya mencari cela yang mengakibatkan Ana mengkhianatinya . Wajah tampan dan tubuh atletis menunjang penampilannya dan ia juga CEO perusahaan besar dan satu-satunya anak lelaki yang menjadi perwaris kekayaan Wijaya Group.


" Cintaku sangat luar biasa untukmu Ana " batin Rafli bergejolak menahan sesak di dadanya saat bayangan foto laknat itu melintas di fikirannya.


Ceklek pintu kamar mandi terbuka serentak dengan jeritan Ana kaget.


" Pakai baju mas " lirih Ana malu menatap Rafli meski telah terbiasa dengan tubuh itu , rasa malu tetap terkadang timbul di hatinya.


Rafli sangat acuh dan berjalan mendekati Ana.


" Mau apa " tanya Ana tak percaya. Rafli tak menjawab namun ia segera merengkuh tubuh Ana dan menciuminya dengan panas. Rafli merobek paksa baju hamil Ana karena mendapat penolakan Ana.


Rafli berhasil membuat Ana melayang akan sentuhannya.


" Basah " batin Raflu tersenyum.


" Ini milik siapa Ana " tanya Rafli saat tangannya sedikit menekan.


" Milikmu mas " ucap Ana dengan nafas tertahan.


" Kita akan buktikan jika ini milikku " gumam Rafli , sementara Ana sendiri kepintarannya telah menguap entah kemana , hingga tak mampu mencerna ucapan Rafli.


" Aahhkkk " Ana tersentak kaget saat Rafli sedikit kasar melakukannya.


" Apakah nikmat Ana " ucapnya terus mengayunkan tubuhnya dengan sedikit kasar.


" Kau menyakitiku mas...hiks... " ucap Ana mulai terisak namun Rafli terlihat tak memperdulikannya meski Ana menangis dan memohon.


" Aku sungguh membencimu mas , sangat membencimu " teriak Ana terisak dan berhasil membuat Rafli menghentikan sementara gerakannya.


" Maafkan mas sayang , maafkan mas " ucap Rafli dengan buliran bening menetes di pipinya. Menyesal Rafli rasakan.


" Mas akan melakukannya dengan pelan " imbuhnya .


" Rasanya masih tetap sama " batin Rafli


Rafli menikmati kegemaran yang ia sangat sukai itu , namun bebeda dengan Ana yang sama sekali tak menikmati dan merasakan sakit di hatinya.


Rafli segera bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Ana menutup pelan tubuhnya dan menatap nanar suaminya.


" Apa yang terjadi denganmu mas , hingga kau melakukannya dengan kasar . Aku istrimu mas , bukan j*langmu " batin Ana tersenyum getir , tak pernah terbayangkan oleh Ana memiliki suami yang melakukannya dengan kasar.


Sementara di kamar mandi Rafli melayangkan tinjunya di kaca cermin dalam kamar mandi.


" Apa yang telah ku perbuat pada anak dan istriku " teriak Rafli namun tak terdengar oleh siapapun. Lalu Rafli menguyur seluruh tubuhnya dengan air , tidak peduli dengan jari tangannya yang terluka.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya ...


__ADS_2