
Hari itu, Alex dan Wil membawa pergi Lissa tuk berbicara tentang apa saja yang dia ketahui. Lissa mengikuti kedua lelaki itu kembali ke kedai kopi namun ada yang berbeda saat mereka masuk ke dalam kedai itu. Tak ada satu pun orang di sana, Alex dan Wiliem begitu terkejut karena di sana terdapa Zidan dan anak buahnya.
“Hallo Alexander dan Wiliem,” sapa Zidan dengan seringainya.
“Apa ini maksudnya? Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Alex.
Terlihat Lissa berjalan ke arah Zidan dan berdiri dibelakangnya, ternyata Lissa adalah mata-mata dari Zidan. Lissa menbungkuk dengan tersenyum pada Alex dan Wiliem.
“Shit! Kau membohongi diriku, Lissa?” tanya Alex begitu geram.
“Tidak, Tuan. Aku tak membohongi siapa pun di sini,” jawab Lissa.
“Dasar kurang ajar kau Zidan!!” teriak Wiliem yang akan maju memukul Zidan namun tertahan oleh Alex.
Semua anak buah Zidan melengkapi dirinya dengan senjata pistol di setiap punggungnya, Alex menatap ke arah Zidan dengan tajam, lalu menatap ke arah Lissa yang terlihat santai tanpa menatap dirinya.
“Sial, ternyata wanita itu mata-mata dari Zidan. Namun, kenapa dia seakan benar-benar mendukungku dengan terus mengatakan semua tentang Zidan. Siapa sebenarnya wanita itu?” batin Alex.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Wiliem menatap Zidan.
“Kau terlalu terburu-buru Tuan Wiliem, kenapa kita tak bermain-main dahulu sebentar,” jawab Zidan.
“Apa maksud dari perkataanmu, Zidan?” tanya Alex.
“Oh, kau menjadi semakin mengerikan Alexander jika sedang marah. Mengingatkan aku pada sosok teman lamaku, tapi sayangnya dia telah tiada,” jawab Zidan.
“Jangan bertele-tele, katakan apa yang kau mau?” ucap Wiliem begitu kesal.
“Serahkan perusahaanmu! Aku sangat menyukai perusahaanmu itu,” balas Zidan menyeringai.
“Sanders Company, tidak akan ku serahkan pada siapa pun itu,” ujar Alex menatap tajam Zidan.
“Apa kau yakin, Tuan Alexander?” tanya Zidan, seraya melihatkan video Zee yan sedang bekerja dikantornya.
Alex melihat Zee yang terlihat ke susahan dengan semua dokumen yang berada di tangannya. Wiliem semakin geram karena Zidan menyerang Zee yang seorang wanita.
“Apa yang kau lakukan dengannya, huh?” teriak Wiliem melihat video Zee.
“Wow, ada apa ini? Siapa wanita ini, sampai kau juga
terlihat marah, Tuan Wiliem. Bukankah, dia istri dari kembaranmu yang berarti kakak iparmu,” ucap Zidan dengan tersenyum meledek.
__ADS_1
“Apa yang inginkan dari Sanders Company. Bukankah,
perusahaan dan semua anak cabangnya berkembang pesat. Lalu apa yang kau inginkan dengan perusahaan kecil seperti itu?” tanya Alex.
“Kau jangan berpura-pura amnesia, Tuan Alexander.
Perusahaanmu memang kecil, namun sangat berkuasa karena penyokong dari belakangnya, dan itu sangat aku inginkan,” jawab Zidan.
“Kau menjadikan perusahaanku batu loncatmu, tuk bisa mendekati perusahan dari siapa Zidan?” tanya Alex.
“Lexion Company dan perusahaan asing dari China yang selama ini diam-diam menanam saham pada perusahaanmu, milik siapakah itu?” tanya Zidan.
“Huh, kau menginginkan kedua perusahaan itu bergabung dengan manusia seperti dirimu? Jangan harap mereka melihatmu, Zidan. Mendengar namamu
saja, mereka akan tahu seperti apa pemiliknya bahkan seperti apa perusahaanmu itu,” jawab Wiliem.
Zidan terlihat begitu geram karena mendengar ucapan dari Wiliem yang seakan merendahkannya, bahkan sangat menghina dirinya yang tak sepadan dengan Sanders Company.
“Kau terlalu percaya diri, Tuan Wiliem. Aku bisa saja,
langsung mengirimkan utusanku ke Korea agar bisa mengambil perusahaan Lexion Company. Bahkan bisa saja membuat sang pemilik bertekuk lutut padaku,” ucap Zidan sombong.
“Jika kau tak memberikan perusahaanmu, wanita cantik ini akan menjadi milikku. Dia begitu cantik, bahkan dengan pakaian tertutup, bagaimana Tuan Alex menurutmu? Seperti apa tubuh molek dari wanitamu ini?” tanya Zidan dengan seringainya.
“Tutup mulutmu, Zidan!!” teriak Wiliem dengan begitu emosi.
Alex masih diam tak bereaksi, bukan karena dia tak marah mendengarkan istrinya di hina seperti itu. Hanya saja, Alex sedang menahan diri tuk tetap tenang karena Zidan tahu kelemahan dari dirinya dan Wiliem adalah Zee.
“Sial, kenapa lelaki tua sepertimu masih memiliki mata yang jeli soal wanita? Kau tahu, jika istriku memang sangatlah cantik, bahkan dia semakin cantik jika sedang bersamaku. Tapi, aku yakin dia tak mau bersama dengan lelaki tua sepertimu yang sudah bau tanah,” ucap Alex dengan tersenyum meledek Zidan.
Zidan terlihat memerah karena kesal oleh ucapan dari Alex, bahkan semua anak buahnya tertawa kecil karena itu. Itu sungguh memalukan tuknya, Wiliem yang sedari tadi emosi pun menjadi sedikit tenang karena melihat salah satu dari anak buah Alex disana.
Diruang VVIP
Terlihat Laudya yang terlihat sangat cemas karena mengetahui apa yang menjadi rencana dari Zidan. Sungguh dia tak tahu harus bagiamana lagi, dengan kondisinya yang tak berguna itu.
“Apa yang akan di lakukan Lissa pada mereka berdua? Kenapa mereka sangat lama,” gumam Laudya.
Tak lama kemudian terdengar suara suara pintu terbuka dan terlihat dua sosok cantik masuk ke dalam sana menatap Laudya denga tatapan meledek, bahkan dari merka seakan merasa senang dengan keadaan Laudya.
“Hallo, Laudya,” sapa Elen.
__ADS_1
“Jadi seperti ini keadaan primadona yang selalu di banggakan oleh Tuan Zidan?” tanya Sesil.
“Sangat mengenaskan. Mungkin ini juga waktunya kau selesai dan pergi Lau dari tahtamu, biarkan kita mengisi tempatmu itu di samping Tuan Zidan,” ucap Elen.
“Apa kalian kemari hanya tuk menghinaku? Atau memang ada pesan dari Tuan Zidan tuk ku?” tanya Laudya.
“Rasa percaya percaya dirimu masih saja begitu tinggi, Laudya.”
“Mulai besok, kau akan tinggal di Villa dan menjalani sisa perawatanmu di sana,” jawan Sesil.
"Jangan bercanda denganku! Walaupun aku cacat, Zidan masih tetap membutuhkanku. Jadi pergi dari sini sekarang juga!" hardik Laudya pada Elen dan Sesil.
"Wanita lemah seperti dirimu itu masih saja sombong, Laudya. Apa yang bisa di harapkan Tuan Zidan pada dirimu, huh?" tanya Elen begitu kesana pada Laudya yang berani meneriakinya.
Elen dan Sesil dahulu adalah anak buah dari Laudya, mereka selalu mengikuti dirinya dari dulu. Namun, sejak mereka mengikuti Zidan membuat dua gadis muda itu menggila dan tak lagi menghiraukan ucapan dari Laudya lagi.
"Selama ini aku sudah sangat sabar dengan dirimu, aku sudah muak berpura-pura manis di depanmu. Itu hanya karena Tuan Zidan, semata tak lebih dari itu," ucap Elen.
Elen dan Sesil berjalan menghampiri Laudya yang memang sedang duduk bersabda di ranjangnya. Sungguh, dalam hatinya sangatlah takut, jika mereka melakukan hal yang sangat tak di harapkan oleh Laudya.
"Jangan macam-macam denganku, jika kalian menyentuhku barang sedikit pun aku tak akan menjamin keselamatan kalian. Bahkan tangan kalian bisa saja hilang begitu saja," ucap Laudya penuh dengan penekanan.
"Kau mengancam kami? Sungguh, itu tak akan berguna bagi kami, Laudya," balas Elen dengan senyuman yang sangat mengerikan bagi Laudya.
Sesil menarik selimut tebal itu dan melihatkan kaki jenjang yang terbalut perban. Sesil dan Elen tersenyum dengan terlihat jijik melihat ke arah Laudya. Laufya dengan cepat memegang kakinya tersebut.
"Oh, lihatlah kau terlihat takut jika kakimu itu terluka kembali, Laudya?" tanya Elen tertawa.
"Pergilah! Selagi aku masih bersabar, jadi aku peringatkan lagi pada kalian. Jangan macam-macam padaku!" seru Laudya dengan nada emosi.
"Aah,, aku ketakutan. Tolong aku, Elen! Primadona kita sedang marah," ledek Sesil tertawa bersama Elen menatap Laudya.
Elen dan Sesil semakin mendekat dan menyentuh kaki Laudya dengan sedikit menekannya. Membuat, Laudya merasakan sakit dan ngilu yang luar biasa. Namun, Laudya terus melihatkan wajah yang tenang tanpa melihatkan kesakitan sedikit pun.
"Sedang apa kalian, huh?" teriak suara lelaki bariton dari belakang mereka.
Elen dan Sesil begitu terkejut dan melepaskan tangannya dari kaki Laudya karena begitu terkejut.
**Siapa kah suara dari lelaki itu? Terus nantikan kelanjutannya sayang sayangku...
Bersambung🍂🍂🍂**
__ADS_1