
...بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم...
..."Jika hati sudah sama-sama bisa menerima dengan lapang dada. Kuyakin semua akan indah pada waktunya."...
...°°°...
Hanya memerlukan waktu sekitar satu hari saja untuk menginap di rumah sakit, sebab aku memang tak ingin berlama-lama di tempat tersebut. Cukup bedrest di rumah saja, lagipula aku pun sudah merasa lebih baik dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Meskipun harus dibatasi, sebab aku tak ingin kejadian yang kemarin menimpaku kembali terulang.
Kini Bagas pun sudah bekerja seperti semula, dan aku hanya seorang diri saja di rumah. Membosankan, tak ada kegiatan lain selain menonton televisi dan menikmati stoples keripik kentang. Enak sekali hidupku, hanya ongkang-ongkang kaki dan uang bulanan akan mendarat dengan mulus ke kantung.
Sejenak aku bisa menikmati peran sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga ini. Berbeda dengan dulu pada saat awal-awal menikah, hanya tekanan batinlah yang kurasakan. Sekarang sudah lebih baik, lambat laun Bagas mulai mencair dan tak terlalu keras seperti batu. Alhamdulillah, buah dari kesabaran itu akhirnya mampu kutuai juga.
"Assalamualaikum."
Kegiatanku yang tengah asik menonton serial televisi pun terhenti kala mendengar suara salam yang bersumber dari luar. Dengan segera aku pun bergegas untuk membukakan akses masuk pada sang tamu.
"Wa'alaikumusalam," jawabku sedikit ketus, sebab wajah Bianlah yang kini memenuhi pelupuk netra. Untuk apalagi lelaki itu menyambangi kediamanku?
"Mau apalagi, Mas?" tanyaku sarkas.
"Hari ini aku mau ke bandara," jawabnya membuat keningku terlipat.
"Ya terus?"
Ia menghela napas panjang lantas mengembuskannya secara perlahan. "Temani Ibu, kondisinya lagi kurang fit, aku takut terjadi sesuatu kalau nanti Ibu pulang sendiri," jelasnya.
"Aku gak bisa keluar tanpa seizin Mas Bagas," selaku mencari alasan. Aku tak ingin kembali berurusan dengan Bian, sekalipun ada ibu di tengah-tengah kami. Tapi sisi lainku bergejolak tak setuju, ikut mencemaskan keadaan ibu.
"Ya udah kamu hubungi Mas Bagas dulu, aku tunggu," ucapnya mempersilakan.
__ADS_1
"Tapi, kan—"
"Cepatlah, Btari, aku gak mau ketinggalan pesawat hanya gara-gara kamu," selanya dengan nada lumayan tinggi. Sangat bukan Bian sekali, ia tak pernah berbicara dengan volume seperti itu.
Tanpa kata aku langsung mengambil gawai yang berada dalam saku gamis, mencoba menghubungi Bagas melalui panggilan selular. Tapi sampai berkali-kali kucoba, tak sedikit pun membuahkan hasil, Bagas enggan mengangkatnya.
"Gak diangkat, Mas, aku gak mau pergi tanpa izin dari Mas Bagas," tukasku berharap Bian bisa mengerti dan memaklumi.
Tapi hati kecilku mengkhawatirkan ibu, beliau pasti kelelahan karena seharian kemarin merawatku di rumah sakit. Dan kini putra bungsunya akan pergi, tapi beliau tak bisa mengantarkan. Sungguh dilema sekali aku ini.
Suara deringan pertanda pesan masuk membuyarkan segala kemelut hati, dengan segera aku pun membaca pesan tersebut.
...Mas Bagas...
Ada apa?
Ya
Hanya sebatas dua huruf itu yang Bagas berikan. Memang benar-benar manusia kutub utara, dingin tak tersentuh.
"Tunggu sebentar, Mas," kataku segera menutup pintu dan bergegas untuk kembali berganti pakaian. Jika bukan karena ibu pasti aku tak ingin melepas kepergian Bian, hanya membuang-buang waktu dan tenaga saja.
Setelah dirasa cukup layak dan sopan aku pun langsung keluar untuk menemui Bian yang tadi kutinggalkan di depan pintu. Bukan tak tahu etika dan tatakrama pada tamu, tapi memang seharusnya seperti itu. Aku tak ingin menimbulkan fitnah karena menerima tamu lelaki tanpa dampingan dari suamiku sendiri. Itu zona merah yang tak boleh kulanggar.
"Maaf lama," kataku berbasa-basi, hanya anggukan kecil serta sunggingan tipis yang Bian berikan.
Ia berjalan lebih dulu untuk menuju taksi yang tengah ibu tumpangi. Dengan tanpa diduga ia membukakannya pintu mobil untukku, aku terdiam sejenak sampai pada akhirnya ikut mendaratkan tubuh di sisi ibu. Sedangkan Bian duduk di samping kemudi.
"Makasih yah, Nak, maaf merepotkan," sambut ibu setelah aku mencium punggung tangannya. Aku tersenyum lebar lantas berujar, "Iya, Bu, gak usah minta maaf segala. Gak ngerepotin kok."
__ADS_1
Mobil yang kami tumpangi mulai meluncur dan sepanjang jalan aku terlibat banyak perbincangan dengan ibu. Lain hal dengan Bian yang sedari tadi diam membisu. Biarkan saja seperti itu, aku lebih nyaman jika ia tak buka suara. Menganggap lelaki itu tak pernah ada.
"Ibu harus istirahat yang cukup biar gak drop lagi, maafin aku yah, pasti Ibu kecapekan gara-gara rawat aku seharian kemarin," ungkapku yang beliau balas gelengan.
"Gak, ini mah fisiknya Ibu aja yang udah gak sesehat dulu, umur makin tua makin gampang ngerasa lelah juga," sangkal beliau dengan diiringi sunggingan tipis.
"Bian kamu harus jaga kesehatan di sana, jangan lupa kabarin Ibu kalau udah sampai. Harus bisa jaga diri, inget kalau kamu itu sedang merantau di kota orang," petuah ibu yang langsung Bian angguki.
"Iya, Bu, Bian udah inget semua pesan Ibu. Ibu juga harus jaga kesehatan di sini, aku titip Ibu yah, Btari," sahutnya sembari memberikan amanah padaku. Tanpa diminta pun dengan senang hati aku akan menjaga dan merawat beliau.
Tak ada lagi perbincangan sebab kendaraan beroda empat ini sudah berhenti tepat di lobi bandara. Aku segera turun serta membantu ibu, sangat kelihatan sekali kalau beliau masih lemah dan perlu istirahat yang cukup. Wajahnya pun sudah pucat pasi.
"Ibu mau ke kamar mandi sebentar yah, kalian tunggu di sini aja," ucapnya yang jelas langsung kubalas gelengan.
"Aku antar ke kamar mandi, aku takut Ibu kenapa-napa lagi di sana," balasku mencemaskan keadaan beliau.
Ibu tersenyum tipis. "Gak papa, Ibu bisa sendiri, kamu jangan banyak jalan dan kerja yang berat-berat, Btari. Ibu gak mau terjadi hal-hal yang buruk sama kamu dan juga calon cucu Ibu."
Tak ada sanggahan lagi yang mampu kuberikan, sebab apa yang ini katakan memang benar. Kandunganku masih lemah dan memerlukan perhatian ekstra.
"Aku titip Ibu dan juga Mas Bagas." Perkataan Bian membuatku menoleh dengan cepat. Jarak kami duduk terhalang dua kursi kosong.
"Kamu ngomong gitu kaya mau pergi jauh dan gak akan balik-balik lagi aja, Mas. Sesekali, kan kamu bisa tengokin ibu sama kakak kamu," sahutnya yang malah dibalas senyum getir olehnya.
"Aku gak akan balik ke sini lagi, aku udah janji sama Ibu. Sekarang saatnya aku yang ngalah sama Mas Bagas. Kalian berhak bahagia tanpa bayang-bayang aku lagi," ucap Bian membuat sebagian hati kecilku sedikit sesak.
"Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan lain di sana, dan juga sosok pendamping yang bisa benar-benar menerima kamu apa adanya. Perempuan yang lebih baik dari aku, dan bisa lebih mencintai kamu," doaku penuh harap.
Bian tersenyum tipis dan mengaminkan. "Makasih, Btari. Maaf karena dulu pernah menjadi alasan di balik duka dan derita yang kamu rasa. Aku harap kamu dan Mas Bagas bisa hidup bersama dan bahagia."
__ADS_1