Takdir Cinta

Takdir Cinta
Rencana


__ADS_3

Abdi beserta Joe segera menaiki jet pribadi mereka untuk segera menuju Berlin , tujuan utama adalah putranya. Sementara Gunawan dan Laras menaiki pesawat berbeda.


'' Mas , apa langkah selanjutnya " tanya Ana .


'' Berlatihlah untuk ilmu bela diri sekaligus menggunakan senjata Ana " ucap Rafli , ia terpaksa mengizinkan hal itu , meskipun Ana tetap berada dalam jangkauannya , namun tidak ada salahnya sang istri mahir dalam hal tersebut .


'' Mas serius " ucap Ana terlihat binar bahagia di manik hitamnya .


'' Ya , itu terpaksa mas melakukannya " ucap Rafli .


'' Lusa kita hadir di konferensi pers , untuk menjelaskan semua. Ini sudah waktunya dan mas harap kau siap " ucap Rafli memeluk pinggang ramping sang istri.


'' Aku harus siap mas . Menjadi istrimu telah menjadi resikonya . Bukan " tanya Ana mengelus rahang tegas suaminya .


'' Ya " ucap Rafli singkat .


'' Bagaimana dengan ibu yang marah pada mas ya " ucap Rafli mendesah kasar.


'' Ibu hanya khawatir mas , yang sabar ya. Aku akan selalu berada disisimu '' ucap Ana membuat Rafli tersenyum . Disaat seperti ini sang istri menguatkannya . Rafli berniat akan melatih sang anak untuk bela diri dan mahir menggunakan senjata meskipun Rayana sekalipun , namun ia tak memaksa anak-anak jika menolak .


'' Sayang istirahatlah " ucap Rafli sesaat setelah membaca pesan singkat .


'' Mas mau kemana " tanya Ana karena jam sudah menunjukkan tengah malam .


'' Mas ada urusan sebentar " ucap Rafli .


'' Hati-hati ya mas dan kembali dengan selamat '' ucap Ana membuat Rafli terkekeh geli .


'' Mas bukan pergi berperang sayang " ucap Rafli tersenyum.


'' Ya kan mas tetap harus hati-hati dimanapun " ucap Ana cemberut membuat Rafli mengecup singkat bibir istrinya .


'' Iya -iya. Baiklah , mas pergi dulu '' ucap Rafli dan diangguki Ana . Malam ini terpaksa ia tidur sendiri tanpa suaminya , tubuh dan fikirannya cukup lelah hari ini .


.


.


.


Sementara di sebuah kamar hotel terikat seorang wanita cantik yang matanya begitu sembab , menangis meminta di lepaskan namun para penjaga menulikan pendengaran mereka . Ingin sekali mereka menyentuh rubah cantik tersebut namun belum ada perintah yang mutlak.


Monica terperangah saat Rafli datang menemuinya , ia sudah menebak jika dalang di balik semua ini adalah pria tampan di hadapannya .


'' Ku mohon lepaskan aku Raf " ucap Monica memelas dengan air mata yang berlinang namun gestur tubuh yang mencoba menggoda.


'' Melepaskanmu , setelah apa yang kau katakan pada istriku " ucap Rafli mencengkram rahang Monica dengan kuat , sekilas matanya melihat bongkahan bulat milik Monica namun sayang tak ada minat dalam dirinya .


'' Aku akan melakukan apapun untukmu , bahkan memuaskan mu di ranjang ini tapi tolong bebaskan aku " ucap Monica memelas namun ia juga berharap Rafli akan tergoda dengannya .


'' Aku tidak tertarik dengan ****** sepertimu '' ucap Rafli dan mengambil remote TV memutar siaran jika perushaan Monago sahamnya kian merosot banyak para investor menarik investasi mereka secara besar-besaran , hal itu membuat Monica menangis.


'' Kau memang pria jahat dan kejam . Aku akan beberkan pada semua orang siapa kau dan siapa istrimu . Lihat saja kau Rafli " bentak Monica , tak ada minat lagi dengan pria kejam di hadapannya kini.

__ADS_1


''kau bisa apa " ejek Rafli .


" Terlepas dari ikatan ini saja kau tak bisa " ucap Rafli mulai beranjak pergi .


'' Jika kalian minat silahkan menggunakan j*lang itu , tapi ketahuilah . J*lang itu bukan wanita suci namun bisa memuaskan kalian semua " ucap Rafli membuat Monica syok , belasan orang yang berada dalam kamar hotel tersebut .


'' Kau gila Rafli '' umpat Monica.


'' Bisnis itu kejam Monica dan salah mu sendiri mencari masalah dengan istri kesayanganku '' ucap Rafli santai .


'' Aku sudah memberikan mu peringatan jangan untuk terlalu dekat apalagi menggodaku , tapi kau acuhkan '' imbuh Rafli. Jika Monica bukan anaknya rekan bisnis Wijaya group , Rafli tak mau repot memberinya peringatan , mungkin Rafli akan melempar nya langsung keluar dari atas gedung . Namun kali ini Monica sudah melewati batasannya dan dirinya seorang Rafli jadi tak berfikir untuk berbuat hal kejam setelah waktunya terbuang sia-sia untuk menyadarkan jal*ng sejenis Monica.


'' Bunuh dia , setelah pesta kalian usai dan jangan pernah tinggalkan jejak " ucap Rafli berbisik .


'' Baik tuan . Kami laksanakan '' ucap seroang pengawal penuh semangat.


'' B*jingan , b*debah , b*adab kau Rafli '' teriak Monica memaki Rafli yang telah berlalu pergi . Beruntung kamar luas itu kedap suara.


'' Kau menggoda tuan kami kan. Ayolah kami semua akan memuaskanmu '' ujar seorang pengawal yang kini tubuhnya telah polos . Sangat jarang mereka mendapatkan hal ini , jika menjadi anak buah di naungan Devan mungkin mereka akan puas merasakannya.


'' Tolong .. Jangannnnnn '' teriak Monica histeris .


.


.


.


Suasana mansion Rafli kini makin di jaga dengan ketat , sementara Ana sudah mulai berlatih dengan para bodyguard wanita yang memang diperbolehkan untuk melatih kemampuan Ana , latihan dasar Ana lakukan namun cukup membuat tubuhnya terasa lelah . Sementara Dewa dan Arjuna yang melihat Ana berlatih tertarik untuk ikut berlatih dan mereka meminta izin pada sang ayah dan tentu saja Rafli setuju . Para pelayan dan sebagian bodyguard merasa heran untuk apa bagian inti keluarga tiba-tiba berlatih , apalagi nyonya rumah mereka yang di jaga bagai berlian langkah oleh sang tuan pemilik mansion .


.


.


.


Suasana tegang kini menyelimuti ruang keluarga Wijaya , Rafli dan Ana sengaja di undang ke mansion Wijaya dengan pengawalan super ketat hingga tak ada cela sedikitpun untuk musuh menyentuh mereka.


Plakk


Suara tamparan menggema di ruang keluarga Wijaya , Ana sangat kaget atas apa yang ia lihat. Suami nya di tampar dengan cukup keras oleh ayah mertuanya yaitu Abdi Wijaya.


'' Mas '' ucap Ana dengan mata berkaca-kaca melihat sedikit darah di ujung bibir suaminya .


" Jangan bersedih , mas tidak kenapa-napa " ujar Rafli .


'' Kenapa papa menampar suamiku '' tanya Ana . Sementara tangan Rafli terkepal kuat , ia terikat janji oleh sang ayah sebelum menikah dengan Ana .


" Papa akan merestuimu dengan Ana , tapi dengan syarat . Jangan publikasikan Ana di hadapan umum karena sangat beresiko untuk menjadi istrimu . Itu syarat mutlak jika kau ingin menikah dengan wanita yang kau cintai , semua ini demi keselamatannya jika kau mengikuti jejak kakekmu yang berbisnis dengan kejam , jangan sampai kejadian yang dulu terulang " ucapan Abdi yang selalu terngiang di fikiran Rafli , namun nyatanya ia melanggar janji itu .


" Kenapa papa menampar Rafli " ucap Lia tak terima.


" Papa mengizinkan nya menikah dengan Ana , dengan dua syarat saat itu " ucap Abdi .

__ADS_1


" Aku minta maaf pa , aku terpaksa melanggar syarat itu. Jika aku harus memilih , aku akan melepas semua yang aku miliki saat ini tapi tidak istriku dan anak-anak " ucap Rafli tegas.


" Syarat apa " tanya Lia yang mewakili pertanyaan semua orang yang ada disana , kecuali Joe yang sudah mengetahuinya .


Rafli menceritakan semua syarat yang di ajukan Abdi Wijaya , berapa kali Rafli sempat terus di jodohkan oleh sang ayah untuk menerima wanita lain agar seorang wanita tak membuat Rafli menjadi lemah seperti seorang Ana yang kini menjadi istri Rafli . Rafli begitu lemah jika bersangkutan dengan Ana karena Rafli begitu mencintai Ana.


" Tapi kenapa papa bisa menikah dengan mama , wanita yang papa cintai " tanya Rina yang juga berada disana melayangkan protes.


"Papa jangan egois " imbuhnya ...


" Kau lihat cara berbisnis adikmu . Berapa banyak perusahaan yang tak sejalan dengannya itu terhempas namanya dalam dunia bisnis , berapa banyak nyawa yang telah di hilangkannya " ucap Abdi lantang bahkan ia melempar informasi nama perusahaan serta pemilik perusahaan tersebut dan tak lupa keluarganya. Ana semakin syok akan sepak terjang suaminya , apa bisnis harus sekejam ini pikir Ana .


" Aku tidak akan di usik jika aku tidak di usik pa . Dan apa papa lupa , jika selama ini masalah yang menimpa keluarga ku bukanlah bersumber dari rival bisnis ku " ucap Rafli melirik sang mama sementara telapak tangannya terus menggenggam telapak tangan Ana yang terasa berkeringat.


Lia menunduk lemas atas yang di ucapakan Rafli , ia teringat dengan Willy. Andai Willy tak menyusun rencana untuk menculik Ana saat sedang hamil tua , mungkin ia tak akan merasakan kehilangan seorang cucu.


" Lalu Viona " ucap Abdi membuat Rafli kembali terdiam.


" Maaf pa . Tapi masalah tentang Viona , Viona bukan rival bisnis Rafli. Viona , wanita masa lalu yang pernah mencintai suamiku. Maaf jika aku lancang pa , namun disini aku terlibat di dalamnya. " ucap Ana.


" Jika papa tak merestui ku untuk menjadi istri anak mu . Tapi kenapa papa begitu menjagaku , papa bisa memanfaatkan keadaan saat anak papa koma saat itu " ucap Ana lirih , Abdi hanya diam . Abdi begitu menyayangi Rafli , ia bukan tak merestui Ana . Namun ia mempunyai firasat jika Rafli akan melakukan bisnis seperti sang kakek karena Rafli begitu dekat dengan kakeknya bahkan sering di ajarkan berbisnis , malah Abdi sempat terkejut saat Rafli diajari cara menembak jitu bermain belati bukan hanya bela diri saja yang seperti orang tuanya katakan.


" Sudah . Jangan saling menyalahkan. Lebih baik kita bahas bagaimana mengatasi apa yang sudah terjadi " ucap seorang pria yaitu suami dari Rani , menantu pertama Abdi Wijaya .


Suasana yang sempat menegang kini sedikit mencair . Semua orang mengungkapkan pendapat mereka dan menerima semua kritik serta saran termasuk juga Rafli. Laras terus saja memeluk sang anak dengan mata berkaca-kaca. Apa iya sang putri sulungnya tak akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki , kenapa baru bahagia sebentar langsung ada masalah bertubi-tubi.


" Semua akan baik-baik saja Bu. Ibu tenanglah , aku percaya suamiku " ucap Ana berbisik namun masih didengar Rafli yang seketika hatinya menghangat. Ingin rasanya Rafli membawa Ana untuk menghangatkan ranjang mereka . Tolonglah Rafli , dalam situasi seperti ini jangan memikirkan ranjangmu terus .


Keputusan dan langkah sudah mereka sepakati dan Ana juga tak merasa keberatan hanya Laras yang meras keberatan namun ia tak bisa berbuat apapun karena Ana sendiri terus menyakinkan dirinya.


" Ibu tenang ya , semua akan baik-baik saja " ucap Ana kembali mencium pipi sang ibu .


Setelah perdebatan panjang yang akhirnya menemukan solusi terbaik kini mereka melanjutkan dengan makan malam bersama . Konferensi pers akan di lakukan sore hari , itu sudah menjadi pertimbangan Abdi serta Rafli , orang kepercayaannya Rafli dan Abdi telah mulai bekerja malam ini agar tak ada hal buruk yang akan terjadi. Berbagai rival bisnis Rafli pun merasa geram , betapa ketatnya keluarga Wijaya menjaga menantu cantik kesayangannya itu . Baru mendapat angin segar kemarin untuk menghancurkan pria angkuh , arogant nan kejam itu namun untuk menyusup sedikit saja tak bisa . Eric , Adam , Ines serta suaminya yaitu Darwin juga menjaga keselamatan Ana dengan trik mereka masing-masing dan tak ketinggalan yaitu Mario ia juga ikut serta menjaga kebahagian keluarga Wijaya karena dengan adanya Abdi serta Lia bisa membuat Mario merasakan jika orang tuanya masih ada.


'' Kami semua menyayangimu Ana " pesan dari semua sahabat Ana . Ana mengulas senyum saat mendapatkan pesan yang sama oleh para sahabatnya yang hanya berbeda beberapa detik saja.


'' Aku merasa bahagia dan beruntung memiliki kalian . Aku juga menyayangi kalian semua " balas Ana.


'' Apa dirimu tak merasa bahagia dan beruntung memiliki mas . Apa dirimu juga tak menyayangi mas " ucap Rafli menggoda istrinya saat baru saja usai makan malam.


'' Aku merasa sangat bahagia karena memiliki mas , aku merasa menjadi wanita paling beruntung karena mas begitu mencintaiku dan aku begitu menyayangi dan mencintai mas jadi jangan dipertanyakan lagi " ucap Ana tulus membuat hati Rafli terasa sejuk.


.


.


.


Sore hari pun tiba , dimana di sebuah aula hotel yang begitu mewah terlihat beberapa wartawan penting yang akan meliput konferensi pres sore ini tentu dengan penjagaan super ketat mulai dari radius satu kilometer dari hotel mewah tersebut. Sebagian wartawan ada yang kecewa karena tak di perbolehkan masuk dan meliput secara langsung .


'' Mas aku gugup " ucap Ana saat sang suami memeluk pinggangnya dari belakang. Rafli menatap cermin yang memperlihatkan wanita cantik yang di peluknya memang terlihat begitu gugup.


" Apa aku membatalkannya saja " batin Rafli .

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya .


Selamat membaca 😊


__ADS_2