
Saat Sasa dan Vini memasuki super market terlihat seseorang tengah mengamati mereka , pandangan penuh dendam terlihat jelas dimatanya , rasa ingin menghancurkan sama yang ia alami saat ini. Wanita itu ialah Lolita , Lolita sendiri di usir secara tak hormat oleh ayahnya sendiri yang merasa malu atas foto syur anak tunggalnya.
'' Semua ini karena keluarga Permana , terutama kau Eric. Kau berjanji padaku tak menyebarkan foto itu namun kau menipu ku padahal aku tak mengganggu kehidupanmu lagi dan istri rendahanmu itu " gumam Lolita.
Pandangannya makin memanas saat melihat Sasa dan Vini kini fokus memilih susu untuk ibu hamil . Ia tak menyangka jika Vini hamil anak kandung Eric. Senyum nya mengembang saat ia merasa mendapat sebuah ide untuk menghancurkan keluarga Permana .
'' Tunggu saja kalian pembalasanku " ucap Lolita dan segera beranjak untuk membayar belanjaannya. Menggunakan kaca mata dan topi guna menutupi identitasnya yang kini menjadi pembicaraan di kota nya.
.
.
.
Sepasang kaki jenjang terlihat memasuki lobi perusahaan Wijaya Group , wajahnya terlihat masih cantik dan memiliki body bak model yang masih perawan . Semua mata memandangnya takjub saat pertama kali wanita itu menampakkan dirinya. Resepsionis menyapanya ramah saat dirinya dekat menghampiri ...
'' Siang nona . Ada yang bisa saya bantu " ucap resepsionis 1 .
'' Saya ingin bertemu dengan Rafli Wijaya " jawabnya.
'' Maaf dengan siapa saya bicara " tanya resepsionis .
'' Nama saya Ana Gunawan " ucap Ana tersenyum ramah seraya menenteng bekal makan siang suaminya...
'' Tapi tuan Rafli sedang meeting nona dan apa nona sudah punya janji " ucap resepsionis yang merasa betah menahan Ana disini.
'' Aduh kenapa aku lupa ya , nomornya pun gak aktif " gumam Ana membuat resepsionis yang berkewarganegaraan Jerman itu heran karena Ana menggerutu dengan bahasa Indonesia .
'' Ana " ucap Abdi Wijaya saat datang mengunjungi kantor miliknya .
'' Papa " ucap Ana memeluk Abdi Wijaya membuat semua orang melongo tak percaya , mulai ada yang bergosip miring tentangnya .
'' Kalian semua perhatikan dia baik-baik. Dia keponakan saya. Jika ia bertamu kesini dan ingin bertemu Rafli , jangan melarangnya " ucap Tegas Abdi Wijaya dan membuat semua karyawan mengangguk patuh. Identitas Ana yang sebenarnya sebagai istri Rafli Wijaya hingga kini masih di tutupi . Semua mata yang tadi terang-terangan meliriknya langsung kini hanya melirik sedikit dengan menggunakan ekor mata mereka ...
'' Apa kau sudah minta izin Rafli untuk kemari " tanya Wijaya karena Rafli tak akan membiarkan Ana keluar mansion dengan mudah...
'' Papa tau sendiri anakmu gimana . Aku harus merayunya pa biar bisa keluar meski keluarnya kemari " ucap Ana.
'' Hehe . Kau tau sendiri Rafli gimana . Dia menyayangi mu melebihi apapun Ana " ucap Abdi dan Ana hanya mengangguk . Obrolan terus berlangsung saat di dalam lift.
Hingga Ana berpapasan dengan Rafli yang di dampingi Bianca sekretaris yang begitu muda dan sexy. Mata Ana berkaca-kaca saat melihat kedekatan Bianca dan Rafli yang kini asyik mengobrol dengan klien mereka . Ana mengedarkan pandangannya meneliti dimana ruang suaminya dan Ana segera melangkah memasuki ruangan Rafli tanpa aba-aba ia menutup pintu ruangan Rafli dengan cukup keras membuat mereka yang mendengar terkejut .
'' Papa " ucap Rafli , dan klien Rafli menunduk mengucapkan salam hormat pada Abdi serta Joe dan dibalas senyum ramah oleh mereka ...
'' Dia cemburu , kejarlah " ucap Abdi dan di mengerti Rafli segera pamit menuju dimana istrinya kini berada. Semenjak Ana tersadar ntah kenapa wanita itu terkadang suka cemburu tapi Rafli begitu menyukainya .
Saat menemukan istrinya benar saja . Ana menatapnya tajam ...
'' Kenapa istri mas cemburu " goda Rafli .
'' Aku tu gak cemburu mas. Hanya kesel aja " ucap Ana .
'' Maaf. Tadi mas gak sadar kamu datang sayang " ucap Rafli namun Ana menggeleng cepat .
'' Bukan itu . Tapi wanita sexy yang pakai baju hitam tadi mas , dia nempel terus ma kamu " ucap Ana melayangkan protesnya .
'' Jadi maunya apa sayang. Apapun mas akan kabulkan , bahkan tentang cara berpakaian wanita itu " ucap Rafli memeluk erat Ana.
'' Kamu yakin mas " tanya Ana memastikan .
'' Seribu persen yakin " ucap Rafli tegas .
__ADS_1
'' Aku ingin wanita yang sexy tadi pakai pakaian yang tertutup namun tetap mengikuti fashion " ucap Ana dan segera Rafli menggunakan panggilan interkom nya . Ana mendengar jika Rafli memerintahkan seseorang untuk masuk keruangannya.
Terlihat kaki jenjang nan mulus memasuki ruangan Rafli , wanita dengan rok mini hanya sekilan di atas lutut jelas memperlihatkan paha mulus dan juga padatnya. Ana bergidik ngeri membayangkan nya , apalagi jika wanita itu mununggit sedikit saja otomatis segitiga bermuda yang mempunyai renda itu terlihat .
'' Bianca . Aku memberimu waktu satu jam untuk membeli pakaian yang sopan dan ingat jangan gunakan rok mini serta atasan ketat . Aku tak menyukainya " ucap Rafli tanpa aba-aba. Bianca yang awalnya tersenyum ramah kini wajahnya mendadak mendung .
'' Tapi .... " ucap Bianca terhenti .
'' Turuti atau kau ku pecat " ucap Rafli tegas.
Bianca segera berjalan mendekati Ana , karena ia tau jika sang ratu bos nya yang menginginkan hal itu .
'' Nyonya bos , tolong bujuk tuan ya . Saya sudah terbiasa dengan pakaian ini . Saya juga bukan wanita penggoda " ucap Bianca memohon kepada Ana , ia tak ingin Ana salah paham menilainya .
'' Jadi mas sudah terbiasa melihat ini dan membiarkannya " tuding Ana membuat Rafli membelalakkan matanya .
'' Tidak nyonya bos . Tuan pernah menegur saya namun saya sudah terbiasa berpakaian seperti ini. Saya juga tidak bakal menggoda tuan yang sudah tua ini " ucap Bianca memohon.
'' Saya bilang ganti . Ya ganti Bianca " ucap Rafli membentak , ia tak terima di katain tua oleh siapapun . Anak enam bukan berarti ia tua , usia 39 tahun belum lah tua menurut nya terbukti masih mampu membuat Ana KO saat mereka bergulat.
'' Baiklah tuan " ucap Bianca pasrah.
'' Kau sekretaris suamiku " tanya Ana dan diangguki Bianca .
'' Maka gantilah bajumu . Sekretaris tidak harus terkesan sexy tapi otak nomor satu . Meski aku mempercayai kesetiaan suamiku tapi bagaimana juga suamiku seorang pria sejati , aku hanya mencegah hal yang tak di inginkan terjadi " ucap Ana terhenti saat Rafli ingin protes bahwa ia tak akan tergoda oleh perempuan manapun namun seketika wajah Rafli berubah saat ingat jika ia mengkhianati Ana sekali meski pengkhianatan itu terjadi karena di jebak.
'' Carilah pakaian yang mengikuti fashion saat ini namun tetap sopan . bagiamana pun kau wanita , jika berpakaian yang sexy akan memancing hasrat pria dan jika mereka nekat kau yang akan rugi saat itu terjadi. Aku ingin kau mengerti " ucap Ana tulus dan membuat Bianca setuju , semua perkataan Ana benar baginya meski dulu Rafli pernah mengatakannya namun dianggap angin lalu oleh Bianca.
'' Baik nyonya bos . Maafkan saya " ucap Bianca sadar kesalahan dalam berbusana nya.
'' Tidak apa . Gantilah besok jangan hari ini " ucap Ana dan diangguki mantap Bianca lalu pamit tak ingin mengganggu kemesraan suami istri tersebut , apalagi jika Rafli sudah mengkode nya untuk keluar.
'' Tapi ternyata kau selama ini menikmatinya kan " ucap Ana tak habis fikir jika sekretaris suaminya begitu sexy dan muda.
'' Mas senang jika kau cemburu tapi mas juga kewalahan menghadapinya. Mas sudah berulang kali memintanya menggunakan pakaian yang lebih sopan tapi Bianca selalu meminta perlindungan dari papa . Bianca pegawai yang berprestasi di perusahan Wijaya dan pekerja keras tahan banting saat mas memarahinya n menyuruhnya menghandle pekerjaan kantor. Dia termasuk orang yang super sibuk di kantor ini dan yang harus kau tau , apa gunanya melihat wanita sexy jika itu bukan istri sendiri " ucap Rafli menjelaskan peran penting Bianca.
'' Ternyata ada juga Dewi jilid dua ya mas " ucap Ana tersenyum , membayangkan Dewi saja begitu sibuk padahal ada Jimmy yang juga ikut serta . Apalagi disini Bianca sendiri , akan sesibuk apa wanita itu , apalagi perusahan Wijaya lebih bonafit dari pada RA group ,betapa hebatnya Bianca sebagai seorang wanita yang cukup tangguh baik mental menghadapi Rafli dan otaknya menghadapi pekerjaan yang menumpuk.
'' Sudah jangan bahas orang lain lagi sayang. Mas sangat lapar " ucap Rafli...
'' Tunggu mas. Tadi papa kesini dengan paman Joe . Apa tidak sekalian mengajaknya makan siang " ucap Ana .
'' Papa dan paman Joe sudah pergi karena ada alasan mendadak " ucap Rafli dan diangguki Ana.
'' Tunggu . Aku akan memberikan nasi + rendang + sayur lodeh ke Bianca sekretaris mu itu mas " ucap Ana dan Rafli hanya tersenyum , begitu lah istrinya jika merasa bersalah sedikit saja maka kebaikannya keluar begitu saja. Tapi , apa Bianca akan bisa memakan makanan yang diberikan Ana. Bianca pasti akan kebingungan rasa sayur lodeh seperti apa , biarlah wanita itu merasakan makanan Indonesia buatan istri nya.
.
.
.
Vini menikmati kehamilannya dengan bahagia , bukan hanya mertuanya saja yang memperdulikannya namun Eric selaku suaminya juga cukup peduli meski peduli yang di tunjukkan semata karena dirinya hamil anak kandung Eric .
'' Jangan lupa di minum susu ibu hamilnya dan jangan capek-capek . Aku gak mau anak ku kenapa-napa " ucap Eric lembut dan kali ini pandangan nya tak menajam seperti seminggu yang lalu saat Eric mengetahui jika Vini hamil .
'' Terimakasih mas " ucap Vini tersenyum .
'' Aku pamit ke kantor dulu ya " ucap Eric dan Vini segera menyalami punggung tangan suaminya dengan takzim. Tiba-tiba Eric mencium keningnya usai mencium perutnya yang masih merata. Eric memang pandai membuat Vini terbang ke langit ketujuh hanya dalam hal sederhana saja .
'' Hati-hati mas " ucap Vini dengan wajah merona .
__ADS_1
.
.
.
Seorang wanita di sudut kota terpencil kini sedang mengalami mual yang cukup hebat karena kehamilannya kali ini sungguh menyiksanya .
'' Kurang ajar beraninya wanita itu ternyata ia telah menyusun rencana sekedemikian rupa " umpat Bunga , wanita yang hamil ini adalah Bunga. Viona yang telah menyusun segala rencana dengan sempurna. Dokter yang menangani vasektomi Rafli bukanlah dokter Wicak melainkan saudara kembar dokter Wicak yang dikenal cukup licik karena ia akan menyimpan semua sp*rma milik pria yang di kenal kaya raya di dunia ini termasuk Rafli masuk dalam daftar pria tersebut dan benar saja Viona membelinya dengan harga begitu mahal , tak ada yang mengetahui jika dokter Wicak telah di bunuh olehnya karena merasa tersaingi dengan kakak kandungnya sendiri .
'' Bunga ini vitamin dan susunya " ucap wanita paruh baya yang bertugas mengurus nya selama hamil .
'' Letakkan saja Bu " ucap Bunga ketus .
'' Kau jangan membuat masalah. Ingatlah anakmu ada di tangan nona Viona " ucap wanita paruh baya itu dengan senyum mengejek , Bunga ingin sekali rasanya segera kabur dan menggugurkan kandungannya namun jika dirinya kabur kali ini tamat sudah riwayatnya karena siksaan yang cukup berat akan ia dapatkan.
.
.
.
Hari telah berganti dan kini tiga bulan sudah sejak Ana tersadar Rafli merasa begitu bahagia , bahkan Bunga tak mengganggunya dan itu membuatnya tenang.
'' Sayang , kau tak ingin kita bulan madu " ucap Rafli dengan tak tau malunya.
'' Seharusnya yang bulan madu itu Bianca mas bukan kita " ucap Ana menghapus make up yang menempel di wajahnya. Mereka baru saja pulang dari acara menghadiri pernikahan Bianca yang di gelar mewah disalah satu hotel ternama di Berlin.
'' Kenapa , bahkan dirimu tadi jadi perhatian di pesta Bianca . Mas sudah bilang jangan terlalu cantik tapi kenapa kau masih juga cantik " ucap Rafli dengan nada sensual mencubit gemas pipi Ana , wangi tubuh Ana menyeruak masuk memenuhi otak dan fikirannya yang sudah menjadi candunya .
'' Kita tidak perlu bulan madu mas . Aku ingin menghabiskan waktu yang terbuang selama dua tahun dengan bersama mu dan anak-anak " ucap Ana mengecup sekilas bibir suaminya tentu saja membuat hasrat Rafli merayap naik...
'' Apa kau siap malam ini sayang " ucap Rafli ambigu ..
'' Maksud mas apa " ucap Ana tak mengerti kali ini .
'' Ntah mengapa setiap menghadiri pesta pernikahan seseorang pasti mas malah yang ingin melakukan malam pertama bersama istri mas " ucap Rafli yang kini tangannya bergerak nakal.
'' Mas itu memang kelewat.... " ucapan Ana terhenti saat benda kenyal membungkam bibirnya dan terjadilah kebiasaan Rafli untuk membuat Ana mengikuti keinginannya..
Tiga jam berlalu dan Rafli baru saja melepaskan Ana dalam dekapan nya. Dengan nafas yang memburu Ana mengukir indah di dada suaminya . Pikiran Ana kini menerawang tentang satu hal .
'' Mas " ucap Ana .
'' Emmm ada apa sayang . Ingin nambah " ucap Rafli .
'' Aauuuwww sakit sayang " rintih Rafli saat cubitan panas mendarat di lengannya.
'' Semenjak aku sadar kita sering melakukan HB mas . Aku takut jika hamil mas karena aku tak mengkonsumsi pil KB " ucap Ana membuat wajah Rafli seketika pias .
'' Kau tak akan hamil sayang " ucap Rafli lirih .
'' Kenapa " tanya Ana kini memperhatikan mimik wajah suaminya yang begitu mendung .
'' Kenapa mas " tanya Ana kembali .
Jangan lupa like dan komentarnya .
Terima kasih yang sudah like dan komentar .
Selamat membaca 😊.
__ADS_1