Takdir Cinta

Takdir Cinta
299


__ADS_3

Pagi ini, terlihat pasutri yang sedang berendam bersama di dalam bath up. Entah memang pengantin baru atau memang sudah menjadi kebiasaan mereka yang selalu melakukan apapun bersama.


Terdengar gelak tawa dari dalam kamar mandi itu, sang lelaki begitu menyayangi sang istri yang lebih muda darinya. Memperlakukan sang istri seperti ratu dan selalu memanjakannya.


"Sudah lepaskan! Aku sudah merasa dingin, kau lanjutkan saja sendiri," ucapnya seraya keluar dari bath up dan membilas seluruh tubuhnya dengan air hangat.


Terlihat senyuman dari wajah sang pria yang terlihat puas karena sudah mengerjai sang istri. Tubuh gagahnya masih terdapat busa yang menempel disana, matanya tak peroaling sedetik pun dari sang istri yang sedang tanpa sengaja menontonkan ke indahan tubuhnya.


"Jangan terus menatapku, bola matamu akan keluar nanti!" seru Vanya.


Wil tertawa mendengar ucapan dari Vanya, Vanya memakai handuknya lalu pergi keluar, sedangkan Wil masih asyik berendam.


Hari ini, aku akan pergi menemui Yuan. Anak itu harus mendapatkan kasih sayang dari semua keluarganya, Vanya memakai pakaian casual dan membiarkan rambutnya yang panjang itu tergerai begitu saja. Wil yang baru selesai berendam pun terkesima melihat kecantikan sang istri kecilnya.


"Mau kemana, sayang? Kau begitu rapih," tanya Wil.


"Emm, aku akan menemui Yuan dan mungkin saja akn pulang sore. Aku akan mengajaknya pergi," jawab Vanya.


"Pergilah, kau bisa membawa mobil. Atau mau aku antar, aku juga harus ke kantor sekarang," ucap Wil.


"Ini kan weekend, apa ada masalah di kantor?" tanya Vanya.


"Tidak ada, hanya saja inverstor dari luar negri akan datang dan bertemu denganku dan Alex," jawab Wil.


"Baiklah, antarkan aku ke rumah Kak Kiara! Setelah itu kau bisa pergi," balas Vanya.


Vanya pun menyiapkan baju kantor tuk suami, terlihat begitu senada dengan dresnya. Wil tersenyum melihat sang istri yang selalu menyamakan bajunya dan dirinya.


"Kau pakailah baju, aku akan membuat sarapan sebentar tuk mu!" ucap Vanya.


"Baiklah, terimakasih sayang."


Pagi itu, setelah mengantar Vanya ke rumah Zyan, Wil bergegas menuju kantornya. Di sana sudah ada Zee dan Alex yang baru saja turun dari mobilnya.


"Selamat pagi," sapa Wil seraya cipika cipiki dengan Zee dan memeluk Alex sekilas.


"Selamat pagi," sahut Zee.


Seperti itu lah, sikap mereka jika bertemu tak pernah melupakan pelukan dan ciuman. Seisi kantor sudah mengetahui dan merasa iri dengan keluarga dari atasan mereka yang begitu harmonis. Apalagi melihat, Zee yang sangat di sayangi oleh ke dua lelaki itu.


"Client ini kenapa mengajak bertemu di saat weekend? Memang tak bisa menunggu besok?" tanya Alex.


"Entahlah, aku juga tak mengerti. Tapi, kau tahu bukan kita harus profesional," jawab Wil.


"Sudah, jangan ada lagi perdebatan. Mungkin dia orang yang sangat sibuk," ucap Zee menengahi mereka.


Ketiganya masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai paling atas. Terlihat sekretaris dari Wil berjalan cepat menghampiri mereka dan mengatakan jika client sudah ada di dalam ruang rapat.


"Sangat cepat, dan kita terlihat amatiran tak bisa lebih cepat," gumam Zee.


Alex tertawa kecil mendengarkan ucapan dari sang istri, mengusap punggung Zee dengan lembut.


"Sudahlah sayang," balas Alex.


Cory membukakan pintu tuk mereka, Wil masuk terlebih dahulu di susul dengan Zee dan Alex di belakangnya ada Cory.


"Sungguh, Nyonya muda ini snavat elegan. Apapun yang dia pakai seakan indah padanya, kenapa juga Tuan Alex bertambah tampan setelah menikahi Nyonya Zee," batin Cory.


Terlihat sosok lelaki paruh baya dan perempuan muda yang sangat cantik nan seksi sudah menunggu. Tatapan Wil dan Alex terlihat geram melihatnya, sedangkan Zee masih santai dan biasa saja.

__ADS_1


"Selamat datang Tuan Zidan dan maaf atas keterlambatan kami," ucap Wil seraya mengulurkan tangannya.


"Tidak, Tuan Wil. Saya yang terlalu bersemangat tuk datang lebih awal," balasnya seraya menjabat tangan Wil.


Tatapan Zidan tertuju pada Zee sejak pertama masuk, Wil tersenyum miring mengetahui Zidan yang melirik Zee.


"Oh, ya perkenalkan ini Alexander direktur utama dan istrinya," ucap Wil.


"Zidan, senang bertemu dengan anda," ucap Zidan menjabat tangan Alex.


Alex hanya mengangguk ia dan tersenyum, mata elangnya terus memperhatikan Zidan yang menatap Zee.


"Lalu siapa nama dari istri anda?" tanya Zidan.


"Saya Levina, salam kenal Tuan Zidan," jawab Zee tanpa mengulurkan tangannya.


Zee malah mengaitkan tangannya melingkar di lengan kekar sang suami. Membuat Wil tertawa kecil melihat itu, sedangkan perempuan muda yang berada di belakang Zidan terlihat geram melihat Alex dan Zee.


"Jadi dia istri kesayanganmu, Lex. Jadi, sekarang hanya aku yang menyedihkan? Kalian berdua sudah berbahagia dengan hidup kalian yang sekarang?" batinnya penuh emosi.


"Silakan duduk! Mari kita mulai saja, pembicaraan ini," ucap Wil tanpa menanyakan siapa yang di bawa oleh Zidan.


Alex duduk di tengah sedangkan Zee dan Wil duduk bersebalahan, satu garis lurus dengan Laudya.


Zidan dan Wil membicarakan bisnis itu dengan sangat cepat, Zee dan Wil memeriksa semua dokumen perjanjian antara keduanya, Cory yang memang sangat mengagumi Zee semakin senang saat wanita itu melihat ada sedikit kontrak yang tak sesuai di sana.


"Maaf, saya rasa isi kontrak ini ada yang tak sesuai dengan perusahaan kami," ucap Zee yang masih membawa dokimen itu.


Alex dan Zidan yang sedang berbicara pun terhenti dan menatap Zee, Wil dengan cepat membaca itu dan benar saja. Dengan segera Wil menjelaskannya pada Alex dan Zidan.


"Wah, istri anda begitu hebat bisa menemukan kekurangan dalam perjanjian itu, saya ucapkan maaf karena kurang teliti lagi saat menuliskan perjanjian itu," ucap Zidan.


"Ya, karena itu akan menjadi satu masalah ke depannya," balas Alex.


"Cih, kenapa wanita itu bisa ikut campur dalam maslah perusahaan?" batin Laudya.


"Baiklah, poin yang telah kita setujui akan segera kita realisasikan. Namun, poin yang baru saja istri saya temukan tadi, saya harap anda memperbaikinya Tuan Zidan," ucap Alex.


"Tentu, saya akan segera mengantinya dan segera saya kirimkan kembali kepada anda," balas Zidan.


Pertemuan itu pun berakhir dan menghasilkan satu kerjasama yang terlihat menguntungkan tuk perusahaan Alex dan Wil. Namun, tanpa mereka ketahui jika Zidan mempunyai satu niat terselubung disana.


"Senang bisa berbisnis dengan anda Tuan Alex dan Wil, saya harap kerjasama ini berjalan dengan lancar," ucap Zidan.


"Terimakasih sudah mempercayai perusahaan kami," balas Alex.


Wil yang berjalan dengan Zidan, sedangkan Alex memilih berjalan sejajar dengan Zee, bahkan tangannya melingkar sempurna di pinggang Zee.


Laudya semakin di buat geram saja, dia ingat dulu apa yang sudah Alex dan dia lakukan dulu, membuat Laudya merindukan masa-masa itu.


"Aku semakin merindukanmu, Alex. Melihatmu yang semakin tampan membuatku ingin dan semakin yakin ingin memiliki dirimu," batin Laudya.


Matanya menyusuri tubuh Alex dari ujung rambut sampai ke kakinya, jiwanya mengelora dengan sendirinya.


Di dalam mobil, Laudya begitu mank pada Zidan yang sudah berusia lima puluh lima tahun itu, namun di usia yang sudah setengah abad itu mash terlihat dia begitu rapih dan gagah karena selalu merawat tubuhnya.


"Bukanya kau bilang, kalau kau mengenal mereka? Tapi, aku merasa mereka tak mengenali dirimu, babe," ucap Zidan.


"Jangan meledek diriku, kau tahu dua kakak beradik itu dulu pernah menjadi kekasihku dan menjadi teman ranjangku," balas Laudya dengan begitu bangga.

__ADS_1


Zidan tersenyum miring mendengar ucapan dari Laudya, Zidan adalah pengusaha dari Italy yang mempunyai banyak koneksi di Finlandia. Namun banyak yang mengatakan dia adalah penggila wanita, dan Laudya adalah salah satu dari wanitanya.


"Apa kau menginginkan mereka kembali? Jika kau mau, aku bisa membantumu. Asalkan kau mau menuruti apa mauku," ucap Zidan dengan seringainya.


Laudya yang sedang duduk di pangkuan Zidan pun terkejut dengan ucapannya, tapi dengan cepat dia tahu apa maksudnya.


"Dasar kau lelaki seribu wanita, apa kau sudah bosan denganku? Sampai kau melirik wanita yang baru saja kau temui?" tanya Laudya.


"Hahahah,,, kau sungguh wanita kesayangan. Kau sangat pintar Laudya, mengerti apa yang aku inginkan," jawab Zidan.


"Kau lihat sendiri bukan, wanita itu sepertinya begitu setia dan mencintai Alex. Mana mungkin dia mau dengan lelaki tua seperti dirimu," sindir Laudya.


"Huh, jangan beberapa omong kosong. Semua wanita oada dasarnya sama, mereka hanya butuh uang saja," ucap Zidan.


Laudya hanya bisa memalingkan wajahnya karena merasa kesal dengan lelaki tua ini. Jika bukan karena uangnya, dia sudah tak sudi melayani si tua bangka ini. Apalagi, setelah melihat Alex membuat Laudya membayangkan sesuatu yang indah bersama dengannya. Kelak yang sudah mengambil mahkotanya saat dulu.


Diruangan, Zee hanya diam sembari memikirkan apa yang baru saja terjadi, melihat gerak gerik dari wanita itu dan juga tatapan memangsa dari Zidan padanya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Wil.


"Apa kalian mengenal wanita itu? Terutama kau, Alex dia selalu menatap dirimu dengan tatapan menggoda," jawab Zee seraya menatap Alex.


"Dia itu mantan kekasihnya, Wil. Tak ada hubungannya dengan diriku," balas Alex singkat.


"Mantan kekasih Wil dan mantan teman ranjangmu," ucap Zee.


"Ehem, memang kenapa sayang? Itu kan sudah sangat lama, jadi aku harap tak lagi membahas itu, Ok!" pinta Alex.


"Apa kau mengenal Zidan, Wil? Bukannya, dia mempunyai perusahaan besar di Italy kenapa bisa mencari rekan bisnis sampai Finlandia? Dan kenapa harus perusahaan kita?" tanya Zee mulai curiga.


"Kenapa kau berpikir seperti itu? Zidan memang mempunyai banyak cabang di sini, hanya saja banyak yang tak bisa berbisnis dengan dirinya," jawab Wil.


"Lalu kenapa wanita masa lalu kalian ada bersama dengannya? Apa dia itu istrinya atau memang sekretarisnya?" tanya Zee.


"Dia wanita simpanan dari Zidan. Karena, Zidan memang terkenal mempunyai banyak wanita setelah kematian istrinya," jawab Alex.


Zee memicingkan matanya, lalu kembali menatap Wil dan berbicara dengannya saja, tanpa memperdulikan Alex.


"Ahh, kenapa seakan-akan aku yang jahat," gumam Alex seraya membuka dasinya yang terasa mencekiknya.


"Kau tennaglah, biarkan aku yang menyelidiki masalah itu, aku harap semuanya memang murni kerjasama saja tanpa ada niat buruk," ucap Wil.


"Semoga saja, mungkin aku yang terlalu khawatir atau memang aku yang terlalu waspada pada kalian berdua," sindir Zee.


"Aish, ya kami tahu itu. Kami akan menjadi anak yang baik dan terus waspada," ucap Alex dan Wil bersamaan.


Zee mengambil tasnya dan keluar ruangan begitu saja tanpa mengajak Alex, Wil tertawa kecil melihat tingkah Alex yang menjadi frustasi jika Zee mendiamkannya.


Zee menuju meja Cory dan memberikan satu kotak kecil berwarna biru, seraya memberikan dia perintah.


"Mulai sekarang saya ingin kau melaporkan apa saja kegiatan dari atasanmu selama bekerjasama dengan Tuan Zidan!" pinta Zee.


"Baik, Nyonya saya mengerti," balas Cory.


"Dan ini ada barang kecil tuk mu, semoga berguna," ucap Zee seraya meletakkan kotak biru itu di atas meja.


"Nyonya, teriamaksih banyak," balas Cory seraya menundukkan tubuhnya.


Setelah Zee pergi barulah Alex keluar dari sana, mengejar sang istri. Cory membuka kotak itu, dan dia begitu senang karena hadiah yang Zee berikan adalah sebuah anting berlian berwarna merah yang begitu cantik.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa membencinya jika dia tahu apa yang aku suka," ucap lirih Cory sembari menyentuh anting itu.


Bersambung🍂🍂🍂


__ADS_2