Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kemarahan Eric.


__ADS_3

" Sial aku tak tau namanya . Jika tau aku bisa meminta bantuan Tante Lia. Dasar wanita gila " umpat Bunga untuk Viona , ia begitu geram dengan wanita itu berani sekali menyuruhnya untuk menggoda Rafli bahkan melempar tubuhnya . Rafli saja melihatnya seperti ingin membunuh nya apalagi ia tidur di kamar Rafli entah bisa jadi apa dirinya .


.


.


.


Willy merasa heran karena baby sitter yang menjaga anaknya tersebut hilang bak di telan bumi pantas saja sudah begitu lama tak menghubunginya dan dirinya terlalu sibuk hingga melupakan putra semat wayangnya . Pencarian terhadap baby sitter dan anaknya terus ia lakukan enggan memberi tahu Bunga tentang kejadian apa yang saja ia ketahui .


'' Apa kalian tidak becus bekerja untuk menemukan dimana putraku. Apa selama ini kerja kalian hanya memakan gaji buta saja " umpat Willy .


" Aku bilang cari putraku sampai ketemu " bentak Willy membuat para anak buahnya segera bergerak. Perusahaan dalam masa sulitnya karena banyak dana yang terbuang begitu banyak untuk menghancurkan Rafli kala itu , namun nyatanya Rafli sebentar lagi akan tersenyum.


Waktu terus berlalu dan Willy terpaksa berkata jujur tentang Geilo jika Geilo hilang membuat Bunga menangis tersedu-sedu mendengarnya hingga membuat Lia dan bi Jum pusing sendiri melihat Bunga yang menangis namun enggan untuk bercerita .


" Apa yang harus ku lakukan , bahkan wanita sialan itu tak menghubungiku lagi . Ya Tuhan selamatkan putraku " ucap Bunga di setiap tangisnya .


.


.


.


" Ma , kenapa Bunga sering menangis " ucap Rafli karena Arjuna bercerita kepada Rafli jika Bunga sering menangis .


'' Mama juga bingung . Mama sudah bilang jika ada masalah ia bisa bercerita namun enggan sekali ia bercerita , bahkan ibunya saja tak tau apapun . Gadis itu begitu tertutup beberapa tahun ini . Yang penting ia tak mengganggu mu " ucap Lia dan diangguki Rafli , Ya selagi Bunga tak mengusiknya dan merawat putri kecilnya dengan baik maka Rafli tak mempermasalahkannya.


.


.


.


Sementara di Italia terlihat keluarga kecil yang bahagia tengah menikmati makan siang di restaurant ternama di kota itu sehabis menemani Ericana bermain di salah satu mall terbesar .


'' Anakku begitu suka coklat sama seperti bundanya '' tutur Eric saat melihat Ericana memakan ice cream sementara Vini hatinya mendadak ngilu jika Eric membahas tentang Ana di hadapannya.


'' Vin , lusa aku ingin berkunjung ke Berlin apa kau mau ikut " ucap Eric seraya menikmati pencuci mulut .


'' Apa kau ingin berusaha menemui Ana mas " tanya Vini memberanikan diri.


'' Ada urusan bisnis dan jika bisa aku ingin menemuinya Vin , aku begitu rindu dengannya . Aku sejujurnya ingin mempertemukan Ericana dan Ana siapa tau keajaiban bisa datang dan membuatnya segera sadar tapi aku takut mereka menyadari tentang Ericana yang wajahnya begitu mirip dengan Ana " lirih Eric dengan wajah yang terlihat begitu murung .


'' Apa kau masih mencintainya mas " tanya Vini hati-hati.


'' Masih , aku masih sangat mencintainya " jawab Eric dan seketika membuat Vini menunduk karena jawaban Eric begitu menyakiti hatinya .


'' Seharusnya aku harus sadar diri , diriku dan Ana memang jauh berbeda dan bahkan mas Eric telah memperingati ku dari awal jika jangan sampai melibatkan perasaan dalam pernikahan kontrak ini . Namun bagaimana bisa jika dari awal aku sudah jatuh hati padanya . Kapan rasa ini terbalaskan . Setiap ia bercerita tentang Ana dan bersedih tentu membuatku ikut bersedih " batin Vini


" Vin , kau baik-baik saja . Vini " ucap Eric seraya menepuk pipi Vini pelan membuat Vini tersadar dari lamunannya .


" Maaf mas " ucap Vini lirih .


" Syukurlah , ku kira kau kenapa . Ayo kita pulang " ucap Eric .


" Tolong kau bayarkan . Password tanggal lahir Ericana " imbuhnya seraya memberikan ATM dan segera menggendong Ericana yang terlihat telah mengantuk .


" Segera sadarlah Ana , agar kau bisa bertemu putrimu ini " lirih Eric .


Saat mereka menuju parkiran mobil tanpa sengaja mereka bertemu dengan Lolita beserta anaknya sungguh membuat mood Eric mendadak rusak .


" Aku ingin bicara " ucap Lolita mencengkram pergelangan tangan Vini yang berada di belakang Eric.


" Kau belum hamil " ucap Lolita mengejek .


" Aku tau , pasti kau belum disentuhnya " ucap Lolita .


" Aku saja yang cantik tak menarik apalagi kau " imbuhnya .


" Vini , jangan dengarkan wanita gila itu. Ayo kita pulang " ucap Eric berusaha menahan emosinya saat melihat wajah Lolita.

__ADS_1


" Mas apa kabar . Aku senang melihatmu dan... " ucapan Lolita terhenti saat Eric menutup pintu mobil begitu keras . Muak bagi Eric mendengar suara Lolita.


" Awas kalian " ucap Lolita matanya tersirat penuh dendam .


.


.


.


Sementara di dalam mobil yang di tumpangi Eric dan Vini terjadi keheningan , di belakang terlihat Ericana tengah tertidur pulas.


'' Mas kita mau kemana ini " tanya Vini saat jalan yang di lalui bukanlah jalan pulang kemansion Teguh atau mansion Eric sendiri .


'' Kita akan ke villa pribadiku . Sudah lama aku tidak kesana " ucap Eric dan diangguki Vini .


Mobil yang di kendarai Eric terhenti di sebuah Villa yang begitu luas dan terlihat megah melihat gaya bangunannya , halaman villa terlihat begitu asri sepanjang mata memandang , terlihat pantai pasir putih yang tak jauh dari Villa dan taman bunga mawar putih di sekitarnya . Bunga yang begitu cantik dan banyak mawar putih jenis Holland disana lebih mendominasi .


'' Ayo masuk , kenapa bengong " ucap Eric menyadarkan kekaguman Vini akan villa pribadi milik Eric yang tak di ketahui oleh keluarganya.


Saat melewati setiap sudut ruangan dalam villa terlihat juga bunga mawar putih harumnya begitu semerbak. Terlihat beberapa pelayan menyambut mereka dengan ramah dan Eric meletakkan Ericana yang tertidur di kamar pribadi miliknya ...


'' Kenapa begitu banyak bunga mawar putih mas " ucap Vini penasaran namun Eric enggan menjawabnya . Sejujurnya ia enggan kemari namun karena bertemu Lolita membuat moodnya begitu jelek hingga mengunjungi tempat yang selalu bisa membuatnya tenang selama ini.


'' Bi , jus jeruk satu " ucap Eric .


'' Dan kau apa Vin " tanya Eric.


'' Lemon tea aja mas " jawab Vini dan pelayan segera membuatkan pesanan mereka .


Sebagian pelayan sedikit penasaran tentang sosok istri tuan mudanya terjawab sudah bahwa bukan sosok yang terlihat seperti di foto yang dulu memenuhi sudut ruangan villa ini . Di villa ini Eric sering menghabiskan harinya dulu saat menikah dengan Laurent selain menghabiskan waktu di galerinya . Saat menikah dengan Lolita, Eric begitu sibuk memantau pergerakan Ana , memastikan cinta pertamanya hidup dengan bahagia.


Niat di hidupnya hanya akan menikah dengan gadis di cintainya yaitu Ana Gunawan dan memilih melajang seumur hidupnya bila tak menikah dengan Ana.


Namun adanya pernikahan dengan Laurent dan pernikahan dengan Lolita membuatnya mendapat gelar duda sebanyak dua kali , semua itu karena keluarga yang memaksanya menikah terutama sang mama yang begitu ia sayangi paling antusias menikahkan putranya.


Namun kini demi mempertahankan Ericana Eric terjebak dalam permainan takdirnya sendiri .


Vini tersenyum kala Eric mengajaknya duduk santai menikmati halaman belakang villa tersebut . Deburan ombak kecil terlihat menggulung indah dan ada juga pohon kelapa rindang disana dengan buah kelapa muda terlihat menggoda .


Tak lupa ada air terjun mini di dekat mereka serta beberapa kolam ikan di dekat jembatan kecil yang berada di taman tersebut yang di hiasi bunga mawar namun ada bunga tulip yang tak begitu banyak...


'' Apa kau suka Vin " tanya Eric dengan mata memandang lurus di depan yang ada gazebo kecil di sana .


'' Emmm anu mas " jawab Vini gugup.


'' Pasti semua wanita akan bahagia bila melihat pemandangan seperti ini " ucap Eric tersenyum getir . Villa ini ia persembahkan untuk Ana kala itu , sudah ia rencanakan dengan apik untuk membawa Ana pergi dan tinggal disini bersama nya dan anak-anak mereka kelak , namun niatnya terbaca oleh Rafli yang datang menolong Ana saat itu jika tidak dirinya pasti hidup bahagia bersama Ana , bahagia sebelum Rafli kembali di tengah-tengah mereka .


'' Mas boleh aku bertanya sesuatu " tanya Vini .


'' Mau tanya apa " tanya Eric namun khayalan masih menari di kepalanya.


'' Kenapa begitu banyak mawar putih mas " tanya Vini , gadis itu begitu penasaran bunga kesukaan ibu mertuanya bukanlah mawar putih dan bunga kesukaannya adalah bunga lily putih dan biru...


'' Karena aku menyukainya " jawab Eric , tak mungkin ia menceritakan jika villa ini ia buat untuk Ana terutama tamannya yang sesuai Ana inginkan saat Eric menanyakan rumah impian Ana. Eric yang dulu tak menyukai bunga membuat nya menjadi menyukai bunga mawar putih lebih tepatnya Eric menyukai apa yang Ana sukai meski Eric begitu membenci hal itu .


'' Aku tak menyangka mas menyukai bunga " ucap Vini polos .


'' Lebih baik untukmu tak tau kenyataanya Vini , aku tak ingin menyakiti hatimu " batin Eric , tanpa ia sadari selama ini sering kali menyakiti hati Vini tanpa ia sengaja ataupun tak sengaja.


" Mas sepetinya Dogan itu segar sekali " ujar Vini dan Eric mengerti .


Eric segera memanggil tukang kebun dan memintanya untuk mengambilnya sekaligus menyajikannya untuk Vini. Andai Vini itu Ana , pasti Eric akan melakukannya secara langsung namun hanya angannya saja ....


Mereka menikmati makan malam bersama dengan hidangan laut yang menggugah selera namun seketika semua berubah khawatir saat Ericana menjerit karena kulitnya memerah gatal akibat memakan banyak bakso ikan yang di nikmati nya sedari tadi ..


'' Dad ...hikss... atel.... '' ucap Ericana terisak membuat Eric begitu panik dan segera para pelayan memanggil dokter untuk segera datang .


'' Kau kenapa nak , kenapa bisa begini . Biasanya juga tak apa '' ucap Eric dengan suara parau nya.


'' Ericana , sini mama ganti dulu pakaianmu '' ucap Vini terlihat juga cemas apalagi saat melihat tubuh kecil Ericana terlihat berbercak merah .

__ADS_1


'' Mas , tubuh Ericana panas juga . Apa lebih baik kita segera membawanya kerumah sakit '' saran Vini terlihat air matanya meleleh melihat putri kecilnya yang ia rawat dari bayi walaupun bukan anak kandungnya namun Vini begitu menyayangi Ericana seperti anaknya sendiri .


Eric segera menggendong Ericana keluar untuk segera menuju rumah sakit terdekat .


'' Bertahanlah nak . Daddy akan membawamu berobat '' lirih Eric dengan mata berkaca-kaca , jantungnya berdetak kencang cemas melihat keadaan Ericana tak pernah Ericana memberikan reaksi seperti ini selama hidupnya.


'' Maaf tuan saya terlambat '' ucap dokter wanita dengan raut wajah pias melihat pemandangan di depannya apalagi raut wajah Eric terlihat menatapnya tajam.


'' Segera periksa putriku '' ucap Eric menahan emosinya.


'' Dad... '' Isak Ericana enggan menjauh dari Eric membuat Eric segera memangkunya agar Ericana tenang di periksa dokter.


Dokter memeriksa Ericana dengan teliti untuk memastikan kenapa bocah kecil yang belum genap dua tahun itu terkena elergi .


Terlihat dokter bertanya makanan apa saja yang dimakan Ericana hingga bocah itu merasakan elergi lumayan berat hingga tubuhnya menjadi panas beruntung Ericana tak merasakan sesak nafas ataupun pingsan .


Vini yang menyiapkan makanan pun menyebutkan jika ia memasak sesuai biasanya yang di makan oleh Ericana selama ini dan diangguki Eric sebagai persetujuannya.


'' Tapi menurut pemeriksaan saya, anak anda mengalami elergi makanan yang masuk kedalam tubuhnya baru kali ini dan menolak saat tersebut , saya sudah mengantongi sampel darahnya dan akan saya tes di lab nanti dan hasilnya akan di ketahui dua hari lagi . Jika bisa saya juga minta izin untuk mengetahui dengan pasti makanan apa yang bisa membuat anak tuan dan nyonya dengan membawa apa yang baru saja anak kalian konsumsi '' ucap dokter sopan dan diangguki Eric , segera seorang pelayan menyiapkannya ..


Setelah kepergian dokter , Vini berkeinginan menjaga Ericana yang terlelap usai Ericana meminum obat dari dokter. Sedangkan Eric terlihat wajahnya memerah menahan amarah pada pelayan yang menyiapkan bahan makanan yang dimasak oleh Vini .


Semua pelayan yang bersangkutan saat memasak tadi menunduk takut terlihat wajah garang Eric mendominasi di ruangan yang sejuk mendadak panas .


'' Kau jelaskan bahan apa saja yang kalian persiapkan tadi '' ucap Eric merasa tak puas mendengar jawaban jujur dari pelayanannya.


Eric melangkah meneliti satu persatu bahan makanan yang di masak oleh Vini namun nihil , tak ada bahan yang berbahaya yang menyebabkan Ericana elergi .


'' Tuan ... '' ucap salah seorang pelayan takut .


'' Katakan ada apa '' tanya Eric .


'' Tadi nona Vini memasak bakso ikan tersebut dengan mencampur minyak wijen sedikit '' ucap pelayan menunduk takut. Mereka tak melarang nyonya rumah tersebut saat menggunakan minyak wijen karena nyonya mereka bukanlah Ana Gunawan yang elergi dengan minyak Wijen .


Eric mematung sesaat , berbagai kemungkinan ia fikirkan saat ini . Bisa saja Ericana elergi minyak wijen yang sama seperti Ana , bukan hal mustahil jika seorang anak akan meniru elergi yang sama seperti orang tuanya . Pikiran Eric berkecamuk saat ini , bayangan Ericana elergi sungguh membuatnya begitu takut .


Brak....


Eric membuka pintu dengan kuat membuat Vini yang setengah mengantuk terkejut begitu saja .


'' Mas buka pintu yang pelan dong '' keluh Vini yang baru saja hendak terlelap .


'' Aauuuwww Sakit mas , apa yang kau lakukan '' desis Vini kesakitan karena tanpa aba-aba Eric menarik kuat rambutnya. Vini tak menyangka Eric kini menyakiti fisiknya.


'' Apa kau berniat meracuni putriku dengan minyak wijen itu '' ucap Eric menahan emosinya . Vini mematung mencerna ucapan Eric namun ia tak mungkin mempunyai niat meracuni Ericana yang begitu ia sayangi .


'' Kau pasti iri bukan dan berniat meracuni nya '' tuduh Eric menarik paksa Vini agar turun dari ranjang .


'' Sungguh aku tak tau apa-apa mas dan tak pernah terlintas sedikitpun jika aku ingin meracuni Ericana . Aku begitu menyayangi nya mas , bahkan melebihi nyawaku . Lagi pula aku tak menyangka Ericana akan elergi hanya karena minyak wijen dan tak ada yang memberitahuku jika Ericana elergi karena minyak itu '' Isak Vini membela diri karena ia tak tau tentang Ericana jika elergi terhadap minyak wijen .


Eric mengusap wajahnya kasar , Eric terlihat sangat cemas jika mengenai Ericana lagian ini hanya dugaannya sementara.


" Bagaimana bisa kau menuduhku mas ingin meracuninya . Meracuni putri kita sendiri " Isak Vini.


'' Tutup mulut mu Vini. Ericana hanya anakku berarti hanya putriku " ucap Eric tak terima .


'' Sekarang keluar lah sebelum aku memukulmu . Kau bisa tidur di kamar sebelah " ucap Eric pelan saat Ericana merasa tidurnya terganggu .


'' Mas , tapi kenapa kau menuduhku berniat meracuni Ericana , percayalah mas. Aku tak ada niatan seperti itu " Isak Vini menyentuh kaki Eric .


'' Bangunlah Vini " ucap Eric berusaha membangunkan Vini .


'' Maaf jika aku lepas kendali tadi. Ericana segalanya bagi ku Vin . Aku ingin tidur berdua Ericana dan kau bisa tidur di kamar sebelah " ucap Eric dan dengan terpaksa Vini menuju kamar sebelah dengan berat hati sementara Eric segera mengunci pintu kamarnya lalu menarik sebuah kain putih yang terdapat sebuah foto besar dirinya dan Ana .


'' Aku berjanji Ana , akan menjaga putrimu. Cepatlah sadar '' lirih Eric tanpa terasa air matanya kembali menetes . Memaksa menghilangkan nama Ana di hatinya begitu sulit Eric rasakan . Tinggal foto ini yang tersisa di kehidupan Eric .


Eric mencium kening Ericana dan mengucapkan selamat malam , disayanginya Ericana seperti anaknya sendiri.


Jika Eric telah terlelap dalam tidurnya lain halnya dengan Vini . Meski dirinya telah merasa tenang berbeda dengan hatinya yang terasa begitu sakit saat Eric menuduhnya dan kasar padanya dan yang lebih sakitnya saat Eric tak mengizinkannya menganggap Ericana juga putrinya.


'' Kau jahat sekali mas . Bagaimanapun aku juga istrimu berarti ibu dari Ericana mas seperti yang semua orang tau . Apa kau lupa mas , dia bukan putri kandungmu . Apa kau hanya menganggap aku pengasuh dan pelayan pribadimu saja mas . Kenapa hatimu begitu keras untuk ku lewati mas " ucap Vini saat berbaring di ranjang empuknya hanya pemandangan kosong di sampingnya . Biasa ada Ericana dan Eric disisinya namun kini hanya sendiri.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya ya .


__ADS_2