
Terlihat keluarga Diago sedang menyantap sarapan mereka dengan berbincang-bincang. Disana ada Erika yang terus mengumbar senyuman cantiknya.
"Kau begitu bahagia bisa berkenalan dengan Wil?" tanya Diago.
"Tentu, Dad. Dia kan lelaki yang membuat aku semangat dalam kuliah. Ternyata dia lelaki yang begitu baik," jawab Erika.
"Jangan bodoh, Erika. Wil memang pintar dan tampan. Tapi, tetap saja Wiliem itu bukanlah perawis dari Alexander Company. Karena, Alex lah pewaris yang sebenarnya," ucap Diago.
"Dad, aku tak mau lagi menjadi batu pijakanmu. Aku mau mendekati, Tuan Wil itu karena memang aku mau berteman baik dengan dirinya. Aku tak menyukai Tuan Alex, walaupun mereka serupa," balas Erika.
"Erika! Dengarkan Daddymu. Kau itu harus mendekati lelaki yang berkuasa, karena itu akan menjamin semua kehidupanmu nantinya," ucap Deasy.
"Aku bukan alat tuk kalian mencapai semua keinginan kalian," teriak Erika seraya pergi.
"Erika!!" teriak Diago.
Terlihat Diago begitu marah pada Erika, lalu melempar semua makanan di atas meja.
"Kau lihat, putri yang kau manjakan itu? Dia sudah berani membantah diriku!" seru Diago dengan marah.
Deasy hanya bisa menunduk takut, dia begitu takut akan ancaman atau pun kemarahan dari sang suami. Oleh karena itu, Erika selalu menjadi alat dirinya tuk terlepas dari amukan sang suami.
Erika yang kesal pada orang tuanya pun akhirnya memilih pergi dari rumah. Erika memilih pergi ke taman tuk menenangkan dirinya. Air mata Erika masih saja mengalir, dia memang gadis baik nan polos. Akan tetapi obsesinya pada Wil membuat gadis itu begitu ingin memilikinya.
"Tuan Wil, aku akan mendekatimu demi diriku sendiri. Karena perasaanku pada mu begitu tulus," ucap Erika.
Sudah hampir setengah bulan, Erika dan Wil semakin dekat. Mereka sering berjalan berdua, mengabari satu sama lain, membicarakan tentang kuliah dan pekerjaan.
"Tuan, malam ini akan ada pertemuan para kolega dari luar negri apakah anda akan datang?" tanya Erika.
"Ya, mau bagaimana lagi. Aku memegang salah satu perusahaan dari Daddyku. Jadi, seperti biasa aku akan datang dengan Alex dan Zee," jawab Wil.
"Tuan, maaf. Apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Erika.
"Apa itu?" jawab Wil.
"Apakah, kau sudah memiliki seorang anak? Maaf, sebelumnya aku mendengar kau menyebut putriku," ucap Erika.
"Ahh, yang kau maksud itu pasti Al," balas Wil.
"Al, siapa dia?" tanya Erika.
"Namanya, Alyandra. Ya, dia putriku," jawab Wil.
"Putrimu? Jadi, benar anda sudah mempunyai seorang anak?" tanya Erika.
"Benar, memang kenapa? Apa kau berpikir lelaki yang sudah tua seperti ku masih single?" tanya Wil.
Erika sedikit terkejut dengan jawaban Wil, ada rasa kecewa tapi ada pula rasa penasaran.
"Tidak ada, aku hanya bertanya. Karena, setahu ku anda belumlah menikah," jawab Erika.
"Hahaha ... Ya, kau benar. Aku memang belum menikah, Al itu anak dari Zee dan Alex. Jadi, tentu saja Al otomatis menjadi anakku," ucap Wil.
__ADS_1
Erika tersenyum, ada rasa lega di hatinya. Karena, ternyata Wil masih single.
Siang itu, Wil dan Erika sedang berada di sebuah restoran. Tanpa sengaja terlihat Zee, Alex, Vanya dan juga Alya, sedang berjalan masuk ke dalam restoran tersebut.
Wil dan Erika sedang menikmati santapan siangnya, sedangkan Alex dan keluarga baru saja datang dan mereka duduk bersebrangan.
"Kalian mau pesan apa? Biar aku pesankan saja," tanya Vanya.
"Aku seperti biasa, kalau minuman aku mau dan Alex jus jeruk saja," jawab Zee.
"Al mau pizza dan jus alpukat saja," ucap Alya.
"Ok, tunggu sebentar," balas Vanya.
Vanya pun memesan makanan tuk semuanya, setelah itu kembali duduk di sana. Alya dan Vanya selalu saja bercanda, Zee dan Alex hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.
"Lex, nanti malam bagaimana jika ajak Alya dan Vanya tuk ikut?" tanya Zee
"Ya, tentu karen ini acara keluarga besar juga. Habis ini belilah gaun yang indah tuk kalian," jawab Alex.
"Ok, terimakasih sayang," ucap Zee seraya mencium pipi Alex.
"Daddy," teriak Alya menatap Wili di seberang sana.
"Ya, honey. Kenapa kau berteriak?" tanya Alex.
Alya tersenyum lalu menunjuk ke arah Wil. Alex dan yang lainnya pun mengikuti arah tangan Alya. Ternyata ada Alex dan Erika.
Alya turun dari kursinya dan menatap ke arah Zee dan Alex. Sedangkan Wil masih bum tahu ada Alya.
"Pergilah! Temui Daddy Wil," jawab Zee.
Alya tersenyum lalu berlari kecil ke arah Wil dan Erika.
"Daddy," teriak Al seraya memeluk tubuh Wil.
Wil yang merasakan pelukan dari Alya pun begitu terkejut, lalu membalas pelukan dari Alya.
"Hay, princess. Bersama siapa kau kemari?" tanya Wil seraya mencium pipi Alya.
"Bersama dengan, Mommy, Dad and Kak Anya," jawab Alya menunjuk mereka.
Wil pun mengikuti arah tangan Alya, terlihat Alex dan Zee tersenyum padanya. Sedangkan, Vanya hanya diam menatap Wil tanpa ekspresi.
"Daddy, tak sayang Al? Kenapa tak menemui, Al?" tanya Alya sedih.
"Hey, siapa yang mengatakan itu padamu? Daddy akan selalu sayang padamu," jawab Wil.
"Bohong. Daddy kenapa bersama dengan kakak ini? Dan tak mau bertemu dengan Al?" tanya Alya.
"Al, tidak boleh berbicara seperti itu! Kakak ini namanya Erika. Dan, Daddy sedang mengajarinya tentang bisnis," jawab Wil menjelaskan pada sang putri.
Alya menatap Erika, Erika membalasnya dengan senyuman manisnya. Namun, Alya hanya cemberut.
__ADS_1
"Alya akan kembali ke Mommy. Daddy bersama kakak ini saja," ucap Alya seraya turun dari pangkuan Wil.
Alya berlalu begitu saja tanpa menoleh ke Wil. Saat Wil memangilnya. Zee melihat Alya yang sedih pun berdiri dan menggendong sang putri.
"Ada apa, nak?" tanya Zee.
"Daddy tak sayang, Al. Daddy bersama dengan kakak itu," jawab Alya.
"Al tak boleh berbicara seperti itu, Daddy Wil sedang sibuk sayang," ucap Zee.
Alya menangis, meminta gendong pada Vanya. Vanya menggendong Alya lalu membawanya keluar.
"Anak itu sepertinya tak menyukai diriku," ucap Erika.
"Anak itu mempunyai nama," sahut Wil.
"Mmm, maaf. Maksudku, Alya seperti tak suka padaku, Tuan," ucap Erika.
Wil melihat Alya yang menangis dan memilih keluar bersama dengan Vanya. Membuat dirinya merasa bersalah.
"Erika, maaf. Sepertinya, kau harus pulang sendiri. Aku ingin menemui putriku," ucap Wil.
Erika teihat kecewa dengan sikap Wil. Hanya karena anak dari kakak iparnya. Dia sampai membiarkan dirinya pulang sendirian. Dan memilih gadis kecil itu yang memang bukan anaknya sendiri.
"Baik, Tuan. Tidak apa, sepertinya Alya lebih membutuhkan dirimu," balas Erika seraya tersenyum.
Alex dan Zee pun menghampiri Wil dan Erika. Mereka duduk di sana bersama.
"Mau kemana kau?" tanya Alex.
"Menemui, Al. Dia menangis bukan?" tanya Wil.
"Jangan dekati, Al. Biarkan dia bersama dengan Vanya saja dahulu!" pinta Zee.
"Nona Erika. Tadi itu anak kami, tapi dia lebih dekat dengan Wil. Apakah kau keberatan jika Wil mengajaknya keluar bersama kalian?" tanya Alex pada Erika.
"Tentu tidak, Tuan. Tuan Wil boleh membawa Alya, mungkin akan lebih menyenangkan jika ada anak kecil," jawab Erika.
Wil hanya diam, begitu pula dengan Zee yang menatap Erika. Vanya membawa, Al ke kedai es krim. Menenangkan Alya yang begitu sedih.
"Al, kita kembali yuk sayang? Mommy dan Daddy pasti sedang menunggu!" pinta Vanya.
"Alya, tak mau bertemu dengan Daddy Wil. Alya mau pulang saja!" pinta Alya.
Akhirnya, Vanya mengirimkan pesan pada Zee. Jika mereka pulang, dan meminta Zee tuk membawakan makanan yang di minta Alya.
"Kemana, Alya? Kenapa, tak kunjung kembali?" tanya Wil.
"Alya pulang bersama Vanya. Dia bilang tak mau bertemu dengan dirimu, Wil. Sepertinya, Alya benar-benar marah padamu. Yang tak bisa menemui dirinya, tapi bertemu disini dengan nona Erika," sindir Zee.
Perkataan Zee, membuat Wil dan Erika merasa tak enak hati. Begitu pula dengan Alex yang merasa, jika istrinya benar-benar kecewa pada Wiliem.
"Aku ingin pulang! Akan ku katakan tuk membungkus saja semuanya makanan itu. Aku tak tenang jika Alya sedang marah," ucap Zee.
__ADS_1
Alex pun mengangguk ia, lalu mereka berdua pun menghampiri kasir dan meminta semuanya di bungkus saja. Wil masih terdiam, dia akui tak menemui Alya karena ingin menjauh dari Vanya. Tapi, ternyata dia sudah salah.