Takdir Cinta

Takdir Cinta
257


__ADS_3

Deg,,, deg,,, deg,,,


"Zee," panggil lirih wanita paruh baya itu.


Alex menengok ke arah wanita tersebut, yang kini sudah berubah menjadi pucat. Membuat Alex semakin tak mengerti. Sedangkan, Zee menghentikan tangannya. Berbalik dan melihat siapa sosok wanita yang memanggilnya.


Mata, Zee membulat sempurna melihat siapa sosok wanita tersebut sedang menangis menatap dirinya. Namun, Zee sama sekali tak merasakan iba sedikit pun padanya. Yang ada rasa benci dan kemarahan dalam hatinya.


"Zee, benarkah itu dirimu nak?" tanya Cessi.


Alex menatap heran pada Cessi, darimana dia tahu nama Zee. Sedangkan, Zee diam tak bersuara, dia hanya dirasakan luka lamanya yerbuka kembali. Melihat Cessi sama halnya dia melihat Zyvia.


Cessi berjalan pelan menghampiri Zee, tangannya menyentuh wajah Zee dengan gemetar. Menyentuh semua tubuh Zee, menggenggam tangan Zee lalu menariknya dalam dadanya.


"Nak, kau kemana saja? Sejak dulu aku mencari dirimu dan semua kakakmu. Tapi, tak pernah bisa menemukan kalian," ucap Cessi dengan isak tangisnya.


Cessi begitu bahagia bisa bertemu dengan Zee, karena memang sebelum mempunyai anak. Zee dan Zyan adalah ponakan yang sangat mereka sayang. Apalagi, sejak tragedi berdarah itu mereka sama sekali tak di perbolehkan lagi mendekati keluarga Bumi oleh Aldo dan Intan.


"Sepuluh tahun, aku mencari kalian kw seluruh negara, aku dan Leo mencari ke Korea, Amerika. Zee bagaiaman keadaan mu nak, bagaimana kabar semua anak-anak yang lainnya?" tanya Cessi sembari membersihkan darah di tangan Zee.


Zee masih diam tak berkata, semua kebaikan yang dulu Cessi dan Leo lakukan hilang sudah tak berbekas di ingatan Zee. Apalagi dalam hatinya, yang tersisa hanyalah luka yang mereka ukir kan dalam dirinya dan seluruh keluargnya.


"Jadi, kau yang membeli Villa dan seluruh aset Ayah? Kau juga yang menanam pohon itu?" tanya Zee dengan nada dingin.


Cessi yang sedari tadi membersihkan tangan, Zee seketika berhenti dan menatap Zee. Terlihat kebencian dimata Zee, terlihat kemarahan yang begitu dirasakan oleh Cessi.


"Nak, aku tahu kesalahan ku dan Leo begitu fatal. Tapi, dia juga sudah mendapatkan balasan yang setimpal dalam hidupnya selama sepuluh tahun ini," jawab Cessi.


"Mungkin aku tak tahu, apa lagi rencana kalian. Tapi, bisakah kalian menjaga anak kalian. Dan tak lagi mengingat Alfa dalam dirinya. Karena, semua itu tak pantas dia ingat, dia itu pembunuh," ucap Zee begitu dingin.


Deg,,,


Hati ibu mana yang tak marah sakit hati jika seorang anaknya di katakan pembunuh. Walaupun memang kenyataannya seperti itu. Cessi mencoba bersabar, karena dia tahu Zee baru bisa bertemu dengan dirinya selama sepuluh tahun ini. Karena dahulu Bumi dan Azura begitu menjaga Zee tuk tidak bertemu dengan keluarga Andero.


"Kau mengatakan balasan? Ya, dia sudah membalas semua sakit hatinya padaku dengan membunuh Alfa. Membuat aku dan Alfa terpisah tuk selamanya. Apa kau tahu, aku seperti apa setelah kejadian itu? Aku harus mengurus sendirian anakku, membesarkan dia seorang diri, dan yang paling menyakitkan adalah anakku tumbuh tanpa kasih sayang dari seorang ayah. Dan semua itu karena anakmu, Zyvia!" seru Zee penuh amarah.


Cessi menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang dia dengar. Seorang anak tanpa seorang Ayah.


"Anak, apa kau dan Alfa memiliki seorang anak? Apa saat itu kau sedang hamil?" tanya Cessi dengan bibir yang gemetar.


Zee menangis memegang dadanya yang terasa sakit, luka dalam hatinya terbuka kembali seakan banyak darah didalam sana.


Alex menghampiri Zee menariknya dalam dekapannya. Mengurungnya dengan lengan kekarnya.


"Lebih baik kita pergi, ini tempat yang seharusnya kau jauhi," ucap Alex.


Zee hanya diam saat Alex memapahnya berjalan. Cessi hanya bisa menatap Zee dan Alex yang semakin menjauh. Namun, langkah keduanya terhenti saat mendengar suara wanita yang memanggil Cessi.


"Mommy, kau dimana?" teriak Zyvia dari kejauhan.


Terlihat Zyvia masuk ke dalam labirin melihat Mommy nya yang sedang menangis, terlihat juga lelaki dan wanita yang berada di dekapannya.


"Zyvia," panggil Cessi lirih.


Zee melepaskan pelukan Alex, lalu menatap sosok wanita di depannya. Matanya menatap tajam padanya. Sedangkan Zyvia begitu terkejut melihat sosok Zee.

__ADS_1


"Zee, apa itu kau?" tanya Zyvia dengan mata berkaca-kaca.


Kemarahan Zee kembali memuncak saat melihat sosok wanita yang sudah membuat dirinya menderita bagaikan hidup di dalam neraka. Menghancurkan hidupnya membuat dirinya terpuruk akan ketiadaan.


Alex merangkul, Zee serah menenangkan sang istri. Alex kembali memapah tubuh Zee tuk berjalan.


"Kita pergi, mereka hanya masa lalu mu," ucap Alex.


Zee mendengarkan ucapan sang suami berjalan melewati Zyvia begitu saja tanpa menatapnya sama sekali.


Zyvia menangis saat melihat Zee berlalu di hadapannya. Dia mengerti akan semua kesalahan dirinya. Mengerti akan luka yang sudah dia perbuat tak akan bisa di maafkan.


Cessi menangis terduduk di sana. Memegang dadang yang begitu sakit, mengingat anak yang di kandung Zee saat kematian Alfa.


Zyvia berlari menghampiri sang Mommy, memeluk tubuh sang Mommy. Zyvia menangis hebat di sana.


Sedangkan Zee dan Alex langsung berkemas dan segera pergi dari tempat tersebut.


"Setelah sepuluh tahun lebih, aku baru bisa bertemu dengan mereka, Al. Sungguh, aku membenci semua keluarga Andero. Mereka benar-benar malapetaka tuk ku dan smeu keluarga besar kita. Al, wanita itu masih saja menyimpan rasa padamu. Wanita yang telah membunuhmu, membuat takdirku dan dirimu terpisahkan tuk selamanya," batin Zee.


Alex mengerti akan semua kesedihan yang Zew rasakan. Karena dirinya mengetahui semuanya dari Sam dan Zyan.


Alex begitu iba melihat kesedihan sang istri. Luka yang sudah dia kubur sangat dalam kembali lagi muncul di permukaan.


Alex memeluk tubuh Zee dari belakang. Memberikan rasa nyaman disana. Zee, meemjamkan matanya mengatur kembali perasaannya. Kini, dia sudah berbeda ada Alex di sisinya dan dia harus menghargai itu.


"Maafkan, aku. Aku terbawa emosi karena masalalu itu. Maafkan aku, Lex. Sungguh aku tak bermaksud seperti itu," ucap Zee lirih.


"Apa mereka orang-orang yang selama ini tak kau temui? Dan wanita itu, apakah dia yang melakukannya?" tanya Alex.


Alex bisa merasakan tubuh, Zee gemetar saat mengatakan itu. Alex membalikkan tubuh sang istri lalu mengecup lembut bibir sang istri.


Tanpa mereka ketahui, Zyvia mengikuti mereka dari belakang. Zyvia semakin merasa bersalah saat mendengar kalau Zee memiliki seorang anak dari Alfa.


Saat ingin menemui, Zee. Zyvia melihat kejadian Alex yang sedang memperlakukan Zee begitu lembut sama seperti saat Alfa melakukan itu pada Zee.


"Kenapa, kenapa kau selalu mendapatkan hal yang begitu indah dan penuh dengan kasih sayang?" batin Zyvia begitu iri pada Zee.


Zyvia melihat Alex yang sedang mencium Zee. Sebenarnya, Zyvia adalah gadis baik hati. Hanya saja rasa dirinya dan ketidak senangannya membuat dia merasa tak seberuntung Zee.


"Siapa lelaki itu? Apakah itu suamimu atau kekasihmu? Kau bisa bersama dengan lelaki lain selain Alfa? Kau menghianati Alfa ku, Zee." batin Zyvia.


Zyvia berlari pergi dari Villa tersebut, dia begitu marah karena melihat Zee bersama dengan lelaki lain. Dia merasa kalau Zee telah berhianat dari Alfa. Sedangkan dirinya selama ini selalu setia dengan Alfa tanpa menikah atau mempunyai seorang kekasih.


Cessi melihat Zyvia yang baru saja kembali. Terlihat gelang aneh dari Zyvia yang membuat dirinya mengikuti Zyvia ke kamarnya.


Terlihat, Zyvia sedang menatap foto Zyan, Alfa, Sam dan juga Zee. Senyuman di wajah Zyvia begitu menakutkan. Cessi yang menyadari itu langsung keluar dan mengunci Zyvia dari luar.


"Zyvia, dia. Kenapa dia kembali seperti itu?" tanya Cessi merasa takut.


Cessi berlari dan menghubungi Leo tuk segera kembali kerumah. Karena, Zyvia terlihat aneh.


Di dalam kamar, Zyvia tersenyum penuh arti dengan menatap foto tersebut. Tatapannya begitu tajam menatap sosok gadis tersebut.


Zyvia berjalan ke arah lemarinya, memakai mantel hitam panjangnya. Lalu berjalan ke pintu tuk keluar. Namun, sayang pintu itu terkunci dari luar.

__ADS_1


"Terkunci? Huh, Mommy buka pintunya! Kenapa kau melakukan ini padaku!" teriaknya dengan menarik-narik gagang pintu.


Cessi begitu terkejut mendengar suara teriakan dari Zyvia. Dadanya berdegup kencang. Apakah sisi lain Zyvia kembali lagi datang.


Cessi memilih tuk pergi keluar menunggu sang suami. Masih terdengar suara teriakan Zyvia di barengi dengan suara barang yang di pecahkan.


Terlihat suara mobil Leo terdengar, Cessi begitu lega melihat sang suami yang sudah datang.


"Ada apa? Bukannya pagi tadi semuanya baik-baik saja?" tanya Leo cemas.


"Zee, aku dan Zyvia bertemu dengan Zee tanpa sengaja," jawab Leo.


"Zee, dimana gadis itu? Dan kenapa dia sampai bisa kemari?" tanya Leo.


"Entahlah, dia kemari dengan lelaki. Mungkin dia hanya berjalan-jalan. Mengingat ini kan dulu milik keluarganya," jawab Cessi.


Prankkkk,,,


Terdengar suara gaduh dari kamar Zyvia. Leo dan Cessi pun berlari menghampiri. kamar snah anak. Leo megintip dari lobang kunci terlihat Zyvia sedang mengamuk didalam.


"Dasar wanita iblis, kurang ajar, kenapa mau mengkhianati Alfa, huh?" teriak Zyvia.


Emosi Zyvia begitu menyeramkan, membuat Cessi menangis melihat Zyvia yang kembali seperti itu.


"Hahahaha, Alfa Reza. Lihatlah, kekasihmu kembali bersama lelaki lain. Kau bisa melihatnya bukan? Kenapa kau masih saja tak mau menerima aku. Aku, Zyvia selalu setia padamu," ucapnya dengan mencium poto Alfa.


Leo begitu terkejut melihat kejiwaan Zyvia yang mulai tak stabil lagi. Sepuluh tahun lalu Zyvia begitu gila karena kematian Alfa. Mereka harus kembali ke Amerika, Zyvia di hebailitasi karena kejiwaannya yang sempat terganggu.


Dua tahun lamanya Zyvia menjalani kehidupannya di Rumah Sakit Jiwa. Ya, Zyvia menjadi gila karena merasa sangat bersalah telah menabrak Alfa, lelaki yang sangat dia cintai. Setiap harinya, Zyvia hanya bisa berkata Alfa saja.


Setelah melakukan perawatan, akhirnya Zyvia bisa kembali normal dengan menjalani kehidupan barunya menjadi Zyzi berpindah ke Paris tuk mendapatkan kehidupan yang baru dan melupakan masa lalunya yang kelam.


Tapi, Tuhan berkata lain. Di Paris, mereka bertemu dengan Vanya yang sedang bersekolah disana. Zyvia bertemu dengan Vanya dan juga Sam yang sedang berkunjung.


Masa lalu itu kembali di ungkit, membuat Zyvia kembali stres dan mengingat semua apa yang sudah terjadi. Zyvia terus meminta maaf pada Sam dan Vanya. Namun penolakan dan cacian yang selalu Zyvia dapat.


Samudera Andero lelaki yang dulu sangat menyayangi dirinya pun. Sampai tak mau melihat Zyvia sama sekali, terlihat tatapan kebencian yang begitu teramat kuat di matanya.


Maka dari itu, Leo dan Cessi membawa Zyvia kembali ke Indonesia dan membawanya tuk melihat pusaran Alfa. Disana Zyvia menangis hebat, mengingat akan apa yang dia lakukan.


Selama beberapa tahun, Zyvia kembali di masukkan oleh Cessi dan Leo ke Rumahbsakit jiwa kembali, karena kejiwaannya Zyvia sering sekali tak stabil.


"Cessi, aku sungguh tak tahu harus melakukan apa lagi pada anakmu. Dia begitu menuruni sisi gelap dari dirimu. Bedanya, kau bisa aku sembuhkan, tapi Zyvia aku sedikit pesimis. Aku tak mau melihat anakku kembali ke Rumah sakit jiwa," ucap Leo frustasi.


Cessi bergetar mendengar penuturan sang suami. Cessi menggenggam tangan Leo dengan menangis.


"Tolong, jangan bawa lagi anakku pergi. Aku sungguh merasa tersiksa lihat Zyvia berada di tempat itu," pinta Cessi.


Leo memeluk tubuh sang istri, ini sudah sepuluh tahun lamanya. Tapi, Zyvia masih saja sering seperti itu. Saat ini usia Leo dan Cessi tak lagi muda, begitu pula dengan Zyvia yabg sudah beranjak usia kepala tiga.


Clak,,, clak,,, clak,, terdengar gagang pintu itu di tarik oleh Zyvia.


"Mom, Dad, please help me! Keluarkan aku, kenapa kalian mengunciku lagi?" tanya Zyvia begitu lirih.


Cessi dan Leo mendengar suara rintihan Zyvia dari dalam. Leo melihat kembali dari lubang kunci terlihat Zyvia sedang menangis terduduk di atas lantai.

__ADS_1


__ADS_2