
Malam itu, Ken dan Wildan berbicara dengan sangat serius tentang siapa itu Laudya. Wildan tak menyangka jika Zee bisa berurusan dengan Zidan, bahkan mungkin saja Alex dan Wiliem sedang dalam masalah.
“Tolong kau jaga dia! Aku akan pergi menemuimu setelah urusanku di sini beres,” ucap Ken.
“Kau selesaikan saja. Masalah wanita itu akan aman bersamaku di sini,” balas Wildan.
Elina yang di tugaskantuk mengoperasi Laudya pun sudah menyelesaikan tugasnya. Wanita muda itu, merasa kasihan pada Laudya yang mengalami luka yang sebenarnya tak parah namun di buat menjadi semakin buruk.
“Kenapa wanita itu begitu bodoh,” ucap Elina dengan menatap Laudya yang masih tak sadarkan diri.
“Darimana kau membawa wanita itu, El?” tanya Arga.
“Rumah sakit di ibu kota,” jawab Elina.
“Wanita cantik seperti dia,kenapa bisa mendapat luka separah itu?” tanya Arga.
“Dia wanita simpanan dan lukanya itu sebenarnya tak parah. Hanya saja, obatnya yang membuat lukanya semakin parah bahkan membusuk seperti tadi,” jawab Elina.
“Dokter Wildan, apakah dia selalu membawa orang-orang yangmemliki latar belakang aneh?” tanya Arga.
“Jangan banyak bicara, kau harus menjaganya tetap diam di sini dan tugas kita itu membuatnya kembali sembuh,” jawab Elina seraya pergi.
Arga hanya diam mendengarkan perintah dari sang kakak dan mengikuti semua perintah dari Wildan. Karena lelaki itulah dia bisa bertemu dengan Elina sang kakak yang telah berpisah selama delapan tahun, maka dari itu Arga dan Elina mau menjadi orang-orang kepercayaan dari Wildan.
Dalam sebuah ruangan, terlihat Alex dan Wiliem yang sedang berusaha mencari jalan keluar dari tempat itu. Namun sayang, taka da cela sama sekali di ruangan itu, hanya ada satu jendela kecil yang hanya bisa di lewati seekor kucing saja.
“Lex, bagaimana dengan Zee? Apa dia dalam bahaya, apakah dia bisa mengatasi yang terjadi dalam kantor?” tanya Wil cemas.
“Tenanglah, dia akan aman. Zee selalu di lindungi oleh kakak-kakaknya dan tak akan membiarkan Zee dalam masalah,” jawab Alex.
“Zidan orang yang licik, bagaimana jika Kak Ken atau Zyan pun tertipu oleh mereka?” tanya Wil.
Alex menatap langit gelap dari balik jendela itu, pikirannya menerawang jauh akan rencana yang dia berikan pada sang istri. Apalagi situasinya yang semakin genting seperti ini, dia tertangkap dan Alex sungguh tak bisa berbuat apa pun jika suatu saat Zidan mendapatkan Zee.
“Aku percaya dengan istriku, Wil. Zee bukanlah wanita bodoh dan lemah, dia wanita kuat dan pintar,” ucap Alex.
Tak,,, tak,, tak,,
Terdengar suara langkah kaki dari luar, Alex dan Wiliem pun semakin waspada. Terdengar suara pintu di buka, seorang wanita paruh baya masuk membawa sebuah nampan dengan makanan dan minuman di sana.
“Tidak ada racun, Tuan Zidan tak ingin kalian mati dengan mudah sebelum dia mendapatkan istri-istri kalian tuk menjadi budak seksnya,” ucap wanita itu.
Wiliem semakin geram dengan ucapan wanita itu, dia mengingat Vanya yang menunggunya di sana. Alex dengan santainya meneguk air itu sampai habis, memasukkan makanan itu dalam mulutnya tanpa ingin berkomentar. Wiliem begitu kesal pada Alex yang terlihat begitu tenang.
“Lex, kau bisa makan degan tenang? Apa kau tak dengar dia berkata apa, istri-istri kita sedang dalam bahaya,” ucap Wiliem geram.
Wanita itu menatap Alex dengan pandangan aneh karena lelaki itu terlalu tenang mendengar kabar buruk yang dia sampaikan. Alex tak menggubris ucapan dari sang adik dan terus memakan semua makanan itu sampai habis.
“Katakan pada atasanmu, makanan ini begitu tak enak bahkan sudah sangat dingin. Apakah atasanmu itu sudah semakin miskin?” tanya Alex dengan nada meledek.
Wiliem hanya diam menatap Alex dan tak mengerti dengan pikirannya, apa rencananya dan apa yang akan dia lakukan.
“Makanlah, Wil. Makanan itu bisa menahan perutmu tuk sementara, walaupun rasanya sungguh buruk di mulut,” ucap Alex.
Tanpa piker panjang, Wiliem memakan itu dan merasakan rasanya yang menurut Wiliem sangat lah enak. Namun, dia hanya diam saja tanpa ekspresi. Setelah melihat mereka makan, wanita paruh baya itu kembali membawa nampan itu dan pergi.
“Apa di sini ada CCTV?” tanya Wil.
“Tak ada, tapi ada pada pelayan tadi. Aku melihatnya di belakang rambutnya,” jawab Alex.
“Sungguh licik manusia itu. Aku sampai mengalami ini, apakah kita bisa bebas?” tanya Wil.
“Jika kau dan aku tak bisa bebas, Zee dan Vanya akan menjadi janda. Apa kau mau itu?” tanya Alex.
“Jangan mengatakan omong kosong, Lex! Kau membuatku takut, kalau aku tak bisa bertemu dengan Vanya lagi, bahkan kami belum memiliki anak,” seru Wiliem.
__ADS_1
“Bukankah itu lebih baik, jika kalian punya anak akan membuat Vanya kesusahan,” ledek Alex.
Bugh,,,
Wiliem meninju Alex dan membuat sang kembaranya tersungkur di tanah, itu membuat Alex tersenyum karena Wiliem sudah bisa melampiaskan kemarahannya. Sedangkan, Wiliem hanya bisa marah menatap Alex.
“Sudah lebih tenang setelah memukul kakakmu ini, Wil?” tanya Alex.
Wiliem terkejut mendengar ucapan dari Alex, ”Maafkan aku, Lex! Aku begitu cemas pada mereka.” Seraya memeluk tubuh Alex.
“Tenanglah, Zidan tak bisa menyentuh mereka di sana. Aku sudah berjaga-jaga sebelum kemari, sekarang kita harus bisa lepas dari sini bagaimana pun caranya,” bisik Alex.
“Baiklah, aku akan mencoba tuk tenang,” jawab Wiliem.
“Merekamemang sengaja membuat kita merasa kesal sampai mau menghubungi Zee tuk melepas perusahaan itu. Kau tahu, Vanya mempunyai teman bernama Roy?” tanya Alex.
“Darimana kau tahu? Roy itu lelaki yang menyukai Vanya, dia temanyang selalu membantu dan bersama dengan Vanya,” jawab Wiliem.
“Kau tahu siapa Roy? Dia adalah keponakan dari Zidan, bahkan Roy sudah dia anggap sebagai putranya,” ucap Alex.
“Apa yang kau katakan? Jangan bercanda, aku sungguh tak menyukai leluconmu itu,” balas Wiliem.
“Dia mengatakan semuanya padaku, Wil. Dia juga mengatakan semua tentangmu, Vanya, bagaimana kalian bisa bertemu, Roy pun jika aku adalah kau,” ucap Alex.
“Dunia begitu sempit dan kenapa harus Roy yang menjadi keponakan dari Zidan,” ucap Wiliem.
Di ruangan lain terlihat ada Zidan dan Lissa dengan para pengawalnya, seorang wanita paruh baya itu datang dan melaporkan apa yang tadi dia dengar dan lihat saat menemui Alex dan Wiliem.
“Bagaimana mereka?” tanya Zidan.
“Seperti yang Tuan dengarkan, jika Alex tetap tennag berbeda dengan Wiliem yang sangat marah jika sudah menyangkut istrinya,” jawabnya.
“Apakah istri dari Wiliem itu sama cantiknya dengan Zee?” tanya Zidan dengan seringainya.
Zidan tersenyum senang, dia seperti mendapat harta karun yang sangat besar karena melihat kecantikan dari Vanya dan Zee. Sungguh sangat beruntung jika dirinya bisa melenyapkan Alex dan Wiliem.
“Cantik, tapi aku lebih menyukai Zee yang sudah berpengalaman. Vanya ini masih sangat muda, kenapa ia bisa menikah dengan Wiliem?” tanya Zidan.
“Tidak ada laporan tentang itu, Tuan,” jawab Lissa.
Zidan mengangguk ia, senyumannya masih terlihat jelas di bibirnya dan matanya masih memandang foto Vanya tanpa berkedip.
“Kalian jaga dia, sudah waktunya aku melihat Laudya. Lissa, kau sudah mengurus anak buahmu tuk memindahkan Laudya bukan?” tanya Zidan.
“Sudah, Tuan. Mereka sudah ku minta tuk menemui Laudya dan memberitahu tuk segera memindahkannya,” jawab Lissa.
“Baiklah, ayo ingin lihat dia seperti apa sekarang,” ucap Zidan seraya berjalan keluar dengan di ikuti Lissa.
Zidan dan Lissa akhirnya pergi dari gudang itu dengan memakai mobil Jeep, terdengar suara mobil itu semakin menjauh. Alex dan Wildan yang mendengar itu mulai mendengar suara dari sekitar tempat itu.
“Kau dengar suara kerikil yang terlempar jauh, Wil?” tanya Alex.
Wiliem yang sedang berusaha melihat dari jendela pun merasakan udara dingin dari luar, terdengar suara gesek kan dahan pohon dari luar.
“Aku dengar itu dan sepertinya tempat ini di kelilingi oleh pepohonan rimbun, Lex,” jawab Wiliem.
Wiliem pun turun dari sana, Alex dan Wiliem pun kembali duduk diranjang kayu yang sudah reot tersebut.
Finlandia
Terlihat, Zee sedang duduk di kantornya dengan memegang dokumen di tangannya. Terlihat wajahnya begitu lelah dengan semua urusan kantor yang dia kerjakan. Ada Cory yang menemaninya di sana, entah sejak kapan sekretaris dari Wiliem itu menjadi anak buah yang patuh dan baik pada Zee.
“Nona, silakan minumlah! Agar kau lebih rileks,” ucap Cory seraya menaruh cangkir berisi coklat hangat.
“Terimakasih, Cory kaku sudah membantuku seharian ini. Kau pulanglah dan istirahat!” perintah Zee.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan anda?” tanya Cory.
“Tak apa, aku akan selesaikan semua ini. Setelah itu baru aku akan pulang,” jawab Zee.
Cory menatap Zee dengan tatapan tak tega tuk pergi meninggalkan atasannya itu sendiri, akhirnya Cory keluar ruangan dan kembali ke ruangannya. Zee mengerutkan keningnya, melihat sikap Cory yang tiba-tiba pergi begitu saja.
“Kenapa wanita itu sangat aneh, cepat sekali berubah hanya dengan hitungan detik,” gumam Zee.
Zee yang bertugas mengurus perusahaan tuk sementara selama Alex dan Wiliem pergi mendapat masalah karena satu investor yang membatalkan bekerja sama. Zee memang wanita pintar dia sangat teliti dan cerdas dalam bidang perkantoran.
“Kemana kau, Lex? Kenapa hari ini kau tak mengabariku?” tanya Zee seraya menatap fotonya .
“Apakah, Cory benar-benar pulang tanpa berpamitan dulu denganku?” sambung Zee menatap pintu.
Tanpa sepengetahuan dari Zee, Cory sedang berada di sebuah toko swalayan yang cukup lengkap di dekat kantor. Wanita itu ternyata membelikan baju dan makanan tuk Zee.
“Aku tak tahu apa yang dia suka, tapi rasanya dia suka dengan makanan yang gurih. Aku akan belikan itu dan baju yang casual tuknya,” ucap Cory.
Setelah menghabiskan beberapa menit akhirnya dia kembali ke kantor dan melihat ruangan Zee masih terlihat menyala. Cory masuk begitu saja sampai mengagetkan Zee yang sedang focus pada komputernya.
“Ah, kenapa kau masuk tanpa bersuara? Membuatku terkejut bahkan aku rasa jantungku telah keluar dari tempatnya,” ucap Zee sewot.
Cory yang di marahi hanya tersenyum kuda menatap Zee, namun dengan segera memberikan paper bag dan menyimpan makanan di atas meja.
“Nona mandilah dulu, ini sudah malam. Aku membelikan sepasang baju casual tuk kau pakai,” ucap Cory sembari menunjuk paper bag tersebut.
Zee melihat isi paperbag tersebut dan melihat baju yang di belikan Cory memang pas dengan dirinya yang tak suka dengan model yang glamor. Zee pun menatap Cory dengan tersenyum tipis, “Terimakasih, bajunya aku suka.”
Cory mengangguk dan tersenyum, sebelum dia keluar kembali dan menuju patri tuk mengambil gelas dan piring, sedangkan Zee masuk ke dalam ruang baca tuk mandi dan mengganti baju di sana.
Zee keluar dari balik rak buku membuat Cory terkejut dan menatap ruangan kecil di baliknya, “Wah, ada ruang rahasia di balik rak buku ini, Nona?”.
“Ya, itu ruang istirahat Alex. Bukankah di ruang kerja Wiliem pun ada, apa kau tak tahu?” tanya Zee.
Cory hanya menggeleng dengan memakan makanan yang baru saja dia beli, Zee duduk di sampingnya melihat semua makanan itu dan kembali tersenyum.
“Kau membeli semua ini? Dengan semua uangmu?” tanya Zee.
“Ya, tentu. Memang kau kira siapa yang membayar semua ini?” jawab Cory.
Zee melihat Cory dengan mengerutkan keningnya, kenapa sekretaris dari Wiliem ini tak menggunakan card perusahaan. Namun, Zee tetap diam tak ingin menanyakan itu dan memilih tuk makan.
“Rasanya enak, kau beli dimana?” tanya Zee.
“Swalayan dekat kantor yang buka 24 jam, sepertinya baru saja di buka karena aku melihat banyak karangan bunga di sana,” jawab Cory.
“Kau tak pulang? Dan sepertinya kau juga sudah mandi dan berganti pakaian?” tanya Zee.
“Bagaimana aku bisa pulang, jika kau saja masih berada di sini dan mengerjakan semua ini sendirian?” jawab Cory.
“Terimaksih karena menghawatirkanku, dan terimakasih mau menemaniku di sini,” ucap Zee tersenyum.
“Ekhem,,, aku hanya tak ingin makan gaji buta saja. Jadi aku terpaksa menemanimu di sini,” balas Cory.
“Kau makanlah! Aku sudah kenyang, jadi akan kembali memeriksa kembali pekerjaanku,” sambung Cory.
Zee merasa jika Cory tak seperti yang dia lihat, dia wanita baik dan sangat sopan menurutnya. Berbanding balik dengan penampilannya yang glamor dan selalu tampil seksi.
Malam itu mereka bermalam di kantor mengerjakan semuanya sampai tertidur di sana, Cory menemani Zee tidur di ruangan Alex dengan menggunakan sebuah matras tuk alas tidur mereka.
Bersambung**🍂🍂🍂**
Jangan lupa tuk terus dukung novelku dengan memberi VOTE nya dan tinggalkan jejaknya.
Terimakasih semuanya...
__ADS_1