Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kegundahan


__ADS_3

Setelah kepulangannya dari rumah Ken, Alex terus saja teringat akan foto Alfa. Bayangan itu kembali ke masa lalu yang selalu membuat hatinya berdegup kencang.


"Kenapa dunia begitu sempit? Kenapa takdir ini selalu menjeratku pada posisi yang sulit," gumam Alex.


Masih teringat akan genggaman tangan itu, bibirnya yang bergetar pelan mengatakan sesuatu yang sangatlah berarti tuk hidupnya.


Alex semakin tak bisa berdiam diri, karena semua masa lalu itu seakan mengikatnya tuk takdir di masa depan. Dan semua itu pada dirinya dan kehidupan seseorang.


° Indonesia


Terlihat Zee sedang duduk di taman bunga, wajahnya sedikit berseri tak seperti kemarin yang sendu dan terus menangis.


Zee mengenang masa lalunya yang selalu berjalan santai bersama keluarganya di taman itu. Teringat akan masa kecilnya yang selalu mengikuti tiga pangeran itu, mereka selalu meledeknya tapi juga sangat menjaganya.


Zyan yang menjadi kakaknya begitu usil padanya, Alfa teman sekaligus kekasihnya itu selalu saja membuatnya menangis tapi dia juga yang membuat Zee mengenal cinta. Sam, dia itu sahabat terbaik yang Zee miliki, dia itu seperti benteng tuk dirinya.


Teringat saat Zyan tak ada, Sam selalu menjaganya dari siapa pun termasuk dari Alfa sekali pun. Zee tersenyum manis mengingat semua itu, rasanya saat itu dia adalah gadis beruntung dan terbahagia karena mendapat tiga pangeran sekaligus.


"Jika waktu itu bisa di putar kembali, aku tak ingin beranjak dari sana. Aku ingin selalu bersama kalian," batin Zee.


Zee terus berjalan, tanpa dia tahu ada sosok mata yang memperhatikan dirinya. Melihat semua gerak gerik Zee, namun dia tetap diam ditempatnya tanpa ingin mendekati.


"Kau terlihat bahagia. Apa tempat ini penuh dengan kenangan? Aku bersyukur bisa melihat dirimu tersenyum tanpa beban," ucapnya.


Lelaki gagah itu, tersenyum. Zee terus berjalan menyusuri jalan berumput itu, Zee membuka sepatunya dan merasakan air embun di atas rumput.


"Kenapa dia membuka sepatunya? Bagaimana jika dia menginjak sesuatu?" gumamnya.


Dan benar saja, baru beberapa langkah, kaki Zee menginjak sesuatu yang membuatnya kesakitan.


"Awww,,, sshhhhtt," pekik Zee seraya mengangkat kakinya.


Terlihat kakinya berdarah, Zee menginjak pecahan kaca disana. Zee mencoba berjalan dengan mengangkat kakinya.


"Hufh,, sakit benar deh," ucap Zee.


Tapi seketika oleng karena rumput yang basah membuat kakinya licin dan hampir terjatuh. Untung saja ada tangan kokoh yang menangkapnya.


"Aaahhh,," pekik Zee saat tubuhnya hendak terjatuh.


"Hati-hati!" serunya seraya memeluk Zee dari belakang.


Zee melihat siapa yang sudah menolongnya, matanya membulat saat tahu siapa lelaki tersebut.


Deg,,,


"Alex, Wili, siapa dia?" batin Zee.


Wili menatap Zee yang masih melihatmu dengan tatapan terkejut. Dengan cepat, Wili mengangkat tubuh Zee.


"Ahh, kau mau apa? Turunkan aku!" pintanya meronta tuk di turunkan.


"Tolong diamlah! Nanti kau bisa jatuh lagi!" perintah Wiliem.


Seketika, Zee terdiam langsung melingkarkan tangannya pada leher Wiliem. Wili tersenyum karena ucapannya ampuh.


Wili mendudukan Zee di kursi mobil, dengan perlahan Wil mencabut pecahan kaca di kaki Zee.


"Ahh, kau harus pelan-pelan!" pinta Zee sedikit takut.


"Baiklah. Kau bisa memukulku jika merasa sakit!" seru Wiliem.


Zee sudah mengcengkram erat bahu Wiliem. Perlahan namun pasti, sekali cabut kaca kecil itu bisa di keluarkan.


"Aarrgghh,,, Hufh,, hiks,, hiks,, sakit!" serunya Zee seraya memeluk Wiliem.


"Hey, jangan menangis! Kau itu seperti anak kecil saja," ledek Wiliem.

__ADS_1


Zee tak menjawab, dia hanya memukul punggung Wiliem.


"Wanita kuat seperti mu juga ternyata masih memiliki kelemahan. Kau bisa bermanja padaku Zee!" batin Wiliem.


"Baiklah, lepaskan dulu pelukan mu! Aku harus memberikan obat pada lukamu!" perintah Wiliem.


Zee yang sadar jika dia memeluk Wiliem pun akhirnya melepasnya. Sungguh, Zee merasa sangat malu.Wiliem dengan penuh perhatian membersihkan kaki Zee, lalu membalutnya dengan perban.


"Jika kau ada masalah, jangan pergi. Datangnya, padaku! Jangan membuat jarak lagi denganku, Zee!" pinta Wiliem yang menatap dari bawah wajah Zee.


Zee mengalihkan wajahnya, agar tak bertatap muka dengan Wiliem. Entah kenapa, Zee begitu tak enak hati pada Wiliem. Dia merasa telah mengkhianatinya, karena kejadian malam itu.


"Zee," panggil Wiliem lirih.


Zee hanya menengok sebentar lalu berpaling lagi menatap ke arah lagi. Wiliem sungguh tak menyukai sikap diam Zee pun menariknya, dan mencium Zee.


Wiliem melummat bibir Zee dengan lembut, Zee tak bisa merasakan apapun hanya bisa diam menutup matanya. Membiarkan Wili yang mengambil alih ciuman itu.


Di tempat lain, terlihat lelaki sedang memegang ponselnya dengan sangat marah. Hingga melempar ponsel tersebut.


Hatinya begitu sakit, kemarahan sudah menjalar di tubuhnya. Matanya penuh dengan amarah.


"Aaarrraaggghhhhh," teriaknya seraya melempar semua dokumen di mejanya.


"Tidak, aku tidak bisa seperti ini. Kau memang sudah menjadi milik hati ini sejak dulu. Dan sekarang pun kau harus menjadi miliknya seutuhnya. Tidak juga dengan Wiliem, aku tak bisa lagi meninggalkanmu!" teriaknya penuh amarah.


Amarah Alex benar-benar memuncak setelah melihat foto Zee dan Wili yang sedang berciuman. Dia kembali kalah start dengan Wiliem yang telah menyusulnya ke Indonesia.


Sedangkan Zee semakin menjadi diam setelah ciuman itu. Dia terus menatap keluar jendela mobil, sedangkan Wiliem hanya bisa melirik Zee karena dirinya sedang mengemudikan mobil.


"Ciuman itu kenapa begitu berbeda dengan saat malam itu?" batin Zee.


Karena sesungguhnya Zee masih ragu dengan siapa dia tidur. Alex atau Wiliem? Zee tidak bisa membedakan keduanya.


"Kau memikirkan apa?" tanya Wiliem.


"Tidak ada, aku hanya merindukan Al saja. Apakah dia baik-baik saja?" tanya Zee.


Zee menatap tak percaya dengan ucapan Wiliem.


"Kau jangan bercanda. Apa kau berpura-pura menjadi Alex?" tanya Zee.


"No, Zee. Anakmu bisa membedakan antara aku dan Alex," jawab Wiliem singkat.


Zee sempat berpikir, kenapa Alya bisa dengan mudahnya membedakan antara Wiliem dan Alex.


"Kau tahu, sudah sebulan kita berteman dan saling bertemu. Tapi, sampai detik ini aku masih belum bisa membedakan kalian berdua," jelas Zee.


Wiliem hanya tertawa saat mendengar kejujuran dari Zee. Dia tersenyum sangat manis. Zee yang melihat itu hanya cemberut karena kesal.


"Jangan, cemberut nanti cantikmu bisa hilang!" ledek Wiliem.


"Wil, kau meledek diriku!" seru Zee dengan nada merajuk.


"Hahahah," Wiliem tertawa keras. Zee begitu lucu jika sedang merajuk.


Zee yang kesal telah di ledek, Wiliem pun hanya bisa mencubit lengan Wiliem.


"Aww, kau menyakitiku!" seru Wiliem seraya melotot pada Zee.


"Hem,,, rasakan itu!" balas Zee sembari menjulurkan lidahnya.


Akhirnya mereka pun sampai di sebuah restoran tuk sekedar makan atau minum saja. Udara di Indonesia begitu panas, Wiliem yang baru saja datang dari Finlanfia merasa sangat panas, tubuhnya menjadi merah.


"Kau alergi panas?" tanya Zee.


"Entahlah, sepertinya aku alergi akan debunya. Dan ya, disini sangat panas," jawab Wiliem.

__ADS_1


Zee meminta AC diruangan itu tuk di kecilkan karena melihat Wiliem yang masih kepanasan. Padahal sudah sangat dingin didalam.


"Jangan terus di garuk! Kau akan terinfeksi, lebih baik kau mencuci tanganmu saja!" perintah Zee.


Wiliem pun menuruti ucapan Zee, dia pergi ke toilet sambil membawa batu es yang sebelumnya dia minta.


"Astaga, kenapa disini sangat panas? Pantas saja dulu tubuhnya seperti terbakar dan melepuh saat pulang dari Indonesia," gumam Wiliem.


Zee masih memikirkan, akan ciumannya bersama Wiliem. Zee menyentuh bibir itu, dan mengingat rasa yang berbeda.


Malam itu, ciuman yang pertama tuk Zee stetelah kepergian Alfa. Karena, memang semua yang ada di Zee, Alfa lah yang pertama.


"Ciuman itu sangat berbeda, malam hari dan pagi tadi. Apakah aku sudah tidur dengan Alex, dan berciuman dengan Wiliem?" batin Zee.


"Astaga, wanita macam apa aku ini?" gumam Zee memegang kepalanya.


"Tentu, wanita hebat!" seru Wiliem dari belakang.


Deg,


Zee menengok kebelakang melihat Wiliem yang sudah berdiri di belakangnya dengan tersenyum.


"Kau membuatku terkejut," seru Zee sedikit tegang.


Wiliem pun duduk kembali ke kursinya, meminum coffe nya. Sedangkan Zee menahan rasa tegangnya agar terlihat biasa saja.


"Zee, aku mau menanyakan sesuatu padamu?" tanya Wiliem.


"Apa? Aku akan menjawabnya, jika aku bisa," jawab Zee.


"Kau pergi kemana, malam itu?" tanya Wiliem seraya menatap tajam Zee.


Deg,,, deg,,, deg,,,


Jantung Zee seakan mau meledak mendengar ucapan itu, wajahnya menjadi pucat. Wiliem menatap perubahan di wajah Zee.


"Malam, malam kapan?" tanya Zee terbata.


"Malam, sebelum kau pergi kemari? Aku tak bisa menemukan," jawab Wiliem.


Mata Zee berkaca-kaca saat mendengar ucapan Wiliem. Hatinya begitu sesak sampai tak bisa merasakan udara di sekelilingnya.


"Jadi, lelaki itu kau Wil? Lelaki yang sudah menolongku dan bersamaku malam itu?" tanya Zee terbata. Air matanya sudah mengalir deras.


Wiliem hanya diam tak menjawab, hanya hatinya berteriak penuh amarah. Wiliem menahan semuanya dengan menggepalkan tangannya dengan kuat.


"Jadi benar dugaanku! Kau dan Alex bersama malam itu?" batin Wiliem.


Hati Wiliem sangatlah tersakiti, dia sudah mulai mencintai Zee. Tapi semuanya seakan terlambat hatinya hancur. Jika saja tak ada Zee, ingin sekali Wiliem berteriak.


"Apa kau berharap jika itu orang lain, Zee?" tanya Wiliem lirih.


Zee hanya menggeleng, bibirnya seakan terkunci tak bisa menjawab, air matanya masih mengalir deras.


"Maaf, maafkan aku yang telah melakukan itu padamu!" pinta Wiliem.


"Tidak, itu bukan salah dirimu. Karena semuanya itu salahku, aku tak bisa menahan efek obat itu. Aku tahu kau hanya ingin membantuku," jelas Zee.


Wiliem mendengarkan semua yang Zee ceritakan pada malam itu. Ada rasa sakit, rasa kecewa tapi juga rasa sangat marah pada lelaki itu. Karena mencoba menodai Zee.


"Aku, aku akan bertanggung jawab. Aku menerima dirimu, walaupun rasa yang kau miliki bukanlah tuk ku," ucap Wiliem.


Zee menatap Wiliem dengan penuh penyesalan, Zee memang tak tahu jika memang bukanlah Wiliem yang malam itu bersama dengan dirinya, melainkan Alex.


"Kau begitu baik padaku, kau mencintai Alya, menyayangi dia. Dan Alya juga sebaliknya, dia membutuhkan dirimu tuk menjadi Daddy nya," balas Zee.


"Wil, maaf ketidak sempurnaan ku. Tapi, aku akan mencoba tuk menyayangi dirimu, belajar tuk mencintai dirimu," sambung Zee.

__ADS_1


Wiliem tersenyum senang mendengar jawaban dari Zee. Wiliem langsung memeluk tubuh Zee. Rasa sakit di hatinya tergantikan dengan kesukarelaan Zee tuk menerima dirinya.


"Maaf, Lex. Tuk kali ini, biarkan aku egois. Biarkan aku merasakan mencintai dia, dan aku akan berusaha tuk membuatnya melupakan kejadian malam itu," batin Wiliem.


__ADS_2