
Alina jatuh tersungkur dari balik dinding tempat dia menguping pembicaraan antara Raka, Adam dan Anisa.
Sejak tadi, Alina sudah berada di sana. Mendengar setiap kata demi kata pengakuan Anisa.
Dengan susah payah Alina menahan diri nya agar tidak menimbulkan suara, meskipun rasanya tidak kuat menahan semua rasa yang muncul saat mendengar kenyataan yang sebenarnya terjadi.
Sangat kuat Alina menggenggam tangan nya sendiri dan menekan dada nya begitu kuat. Bergantian menutup mulut nya dan menghapus air mata yang membanjir.
--
Dengan berat Raka melangkahkan kaki nya meninggalkan unit apartemen Anisa.
Seakan tidak punya semangat lagi, Raka berjalan sambil menunduk.
Kedua matanya kemudian menangkap sosok wanita yang sangat di kenal nya sedang menangis di ujung lorong.
Alina? Itu Alina! Astaga.. apa jangan-jangan Alina mendengar semuanya?
"Alina?"
Alina bahkan tidak menyadari kehadiran Raka di hadapan nya.
"Alina... Hei !!!" Raka berlutut sedikit menggoncang tubuh Alina.
"Kamu kenapa seperti ini Alina? Dan sedang apa kamu disini?"
"Kenapa mas? Kenapa..." Isak Alina.
"Ke..kenapa apa?"
__ADS_1
Alina tidak mampu berkata lagi.
Ya Tuhan, ingin sekali aku mengutarakan semua rasa sakit ini. Tapi bahkan mengucapkan satu kata saja, mulut ini terasa begitu berat. Rasa nya sakit sekali.
"Ayo berdiri dulu, Alina."
Raka membantu Alina untuk berdiri.
"Kita pulang dulu ya, Lin. Kita bicara di rumah."
.
.
.
"Aunty !!!" Nabila berlari menghampiri Alina saat melihat Alina turun dari mobil.
Alina bahkan tidak merespon saat Nabila berada di dekat nya.
"Aunty kenapa, Uncle?"
"Aunty harus istirahat dulu, sayang. Nabila jangan ganggu aunty dulu ya."
Nabila pun turut kata-kata Raka. Dia menjauh dan membiarkan Raka menuntun Alina ke kamar.
"Kamu istirahat dulu, tenangkan dulu diri kamu. Aku keluar sebentar ambil teh buat kamu."
"Mas..."
__ADS_1
Akhirnya Alina bersuara.
Raka berbalik dan mendekat ke ranjang tempat Alina berbaring.
"Aku sudah mendengar semua nya." Air mata nya kembali menetes.
"Alina, aku..."
"Cukup mas. Jangan bicara lagi. Kali ini tolong biarkan aku yang bicara."
Raka pun diam, mengikuti permintaan Alina untuk diam dan mendengar nya bicara.
"Tidak ada satupun kakak di dunia ini yang ingin melihat adik nya sedih, apalagi sampai hidup nya hancur. Sejak aku mengerti arti hidup, aku selalu berusaha membuat Anisa bahagia dan bangga memiliki kakak seperti aku. Aku selalu berusaha mengalah, apapun itu, asalkan dia tersenyum.
Sampai kedua orang tua kami pergi untuk selama nya, aku menjadi satu-satu nya pelindung untuk Anisa, adik kecilku yang sekarang sudah dewasa tapi di mataku tetaplah gadis kecil.
Dan di saat hanya aku yang bisa dia harapkan, aku malah menghancurkan hidup nya secara perlahan tapi pasti. Aku merebut laki-laki yang sangat dia cintai, laki-laki yang selalu dia banggakan di hadapan ku dan kedua orang tua kami. Aku menyiksa nya dengan secara terang-terangan menunjukkan kemesraan dengan pujaan hati nya di depan matanya. Hingga dia harus memaksa hati nya untuk mengubur perasaan nya yang begitu dalam. Aku tidak tau bagaimana semua itu bisa terjadi antara kamu dan Anisa. Aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa karena memang aku tidak bisa. Bukan kamu yang salah, bukan juga Anisa yang salah. Aku bahkan tidak mengerti dengan situasi ini, mas."
"Alina..."
"Aku belum selesai."
"Setidaknya dengarkan aku dulu, Lin."
"Untuk apa lagi kamu menjelaskan, mas? Bukannya sudah tidak ada artinya? Semua nya sudah terungkap sekarang. Kebenaran dan kenyataan nya kita sama-sama sudah mengetahui nya. Jadi untuk apa lagi? Dan seperti yang kamu katakan pada Anisa..."
"Lin..."
"Ceraikan aku, mas!"
__ADS_1
...******...