Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kesalahan dan Pertolongan


__ADS_3

Charles tersenyum sangat puas saat melihat Zee yang sudah berada di genggamannya.


"Sebentar lagi, kau akan menjadi milikku selamanya. Tak akan ku sia-siakan kesempatan ini," batin Charles sembari mengusap dagunya.


Matanya sudah menjelajahi seluruh tubuh Zee, menatapnya penuh dengan napsu yang sudah tak bisa dia tahan.


"Tuan, lebih baik kita segera keluar! Karena saya harus segara menemui client lain!" pinta Zee.


"Kenapa terburu-buru, Nona. Kita istirahat sebentar saja, nanti kita tunggu Lisa kembali," ucap Charles.


"Baiklah," ucap Zee seraya duduk kembali.


Setelah 15 menit, Zee merasakan sesuatu dalam tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, seluruh tubuhnya erasa panas, pandangannya tiba-tiba kabur.


"Aa-apa yang terjadi padaku?" ucap Zee lirih.


Mencoba memejamkan matanya lalu membukannya kembali, berharap pandangannya kembali normal. Charles yang melihat reaksi dari Zee, membuatnya tersenyum senang.


"Tuan, tolong lebih baik saya kembali terlebih dahulu saja!" pinta Zee seraya berdiri namun gagal karena tubuhnya lemas.


Charles memegangi tubuh Zee yang akan roboh, menompangnya dengan sedikit memeluk tubuh Zee.


"Tolong lepaskan diriku! Jangan memelukku, siapa yang mengijinkanmu,hah!" bentak Zee seraya mendorong tubuh Charles.


"Hey, Nona. Kau itu begitu sombong ternyata, aku sudah membantumu. Tapi, kau tak tahu terimakasih," seru Charles marah.


Zee memegang pelipisnya, semakin lama semakin berputar, tubuhnya semakin panas. Ingin rasanya dia membuka semua pakaiannya dan langsung merendam di kolam renang.


"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Zee mencoba menahannya.


"Huh, kau baru menyadarinya Nona Zee yang cantik," jawab Charles dengan tersenyum menang.


"Astaga, jadi benar. Aku, meminum obat perangsang?" batin Zee mulai ketakutan.


Wajanya berubah menjadi takut, Zee mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Al, Sam, Zyan, tolong aku! Aku, aku dalam bahaya. Aku, aku tak mau di modal lelaki kurang ajar sepertinya," batin Zee begitu merasa takut. Air matanya mengalir deras.


"Tuan, aku mohon lepaskan aku! Tolong, jangan lakukan ini padaku!" pinta Zee memohon pada Charles.


Charles tersenyum penuh arti, berjalan mendekati Zee. Namun, Zee memilih tuk mundur menghindari sentuhan dari Charles.


"Kenapa? Kau menjauhi aku, Nona. Bukannya kau meminta bantuan padaku?" tanya Charles.


Zee melihat pintu ruangan itu terbuka, dengan cepat Zee mencoba berlari kearah pintu. Namun, tubuhnya lebih cepat di dekap oleh Charles.


"Kau mau kemana? Lebih baik kita sudahi drama ini. Dan melakukannya dengan baik dan cepat, aku tahu kau sedang tersiksa dengan menahan efeknya," ucap Charles berisik di telinga Zee.


"Kau kurang ajar, Tuan. Aku akan pastikan kau mendapatkan hukuman yang setimpal karena perbuatanmu ini. Aku jamin itu!" seru Zee sambil mencoba melepaskan tangan Charles di tubuhnya.


"Bukan aku yang akan malu, tapi dirimu. Karena sudah menjadi l***jangku," ucap Charles tertawa.


Tubuh Zee semakin gemetar karena takut, dan juga tersiksa karna harus menahan efeknya sekuat tenaga.


Dengan sekali angkat, Charles menghempaskan tubuh Zee di atas sofa. Zee semakin beringsut kebelakang, Zee begitu ketakutan. Air matanya sudah membanjiri wajah ayunya.


Charles tak memperdulikan apapun, karena dia tahu jika pelanggan VVIP disini tak akan menghiraukan satu sama lain. Dengan santainya Charles membuka kancing kemejanya satu persatu.


"Hiks,,, hiks,, Tuan aku mohon. Jangan lakukan itu! Apa salah yang aku lakukan padamu?" tanya Zee seraya memohon.


"Hah, kau tak salah Nona. Salahnya itu kau begitu cantik dan begitu menggoda diriku. Di tambah lagi, kau begitu sulit di taklukkan," jawab Charles.


Setelah membuka semua kancing bajunya, Charles langsung menerjang tubuh Zee, sontak membuat Zee berterima minta tolong.


Charles terus menerus memaksa tuk mencium Zee, memegang kuat lengan Zee, mengungkung tubuh Zee di bawahnya.


"Aahhhh,,,, tolong!! Tolong!!" teriak Zee begitu keras.


Zee begitu jijik dengan tubuhnya yang sudah terkena oleh Charles. Zee terus menerus meronta berharap Charles melepaskan dirinya.


Charles begitu kesal pada Zee yang tak bisa diam. Akhirnya, satu tamparan mendarat di pipi mulus Zee. Zee begitu kesakitan, karena sudut bibirnya sampai sobek dan mengeluarkan darah.


"Aku bilang diam! Itu yang akan kaunrasakan jika kau tak bisa diam. Dan melayani diriku!" bentak Charles.


"Tidak, aku tak mau melakukan apapun tuk dirimu! Kau kurang ajar!" seru Zee semakin berteriak.


Plak,


Charles kembali menampar Zee. Membuat kesadaran Zee semakin kabur. Tubuhnya sudah sangat lemas, tak bisa lagi tuk melawannya.


"Alya, maafkan Mommy nak! Mommy menjadi wanita kotor!" batin Zee


Charles memaksa membuka kancing baju Zee, namun tangannya tertahan oleh Zee. Zee menggeleng menatapnya dengan memohon.


Namun Charles tak bisa lagi berpikir panjang. Yang sekarang dia inginkan adalah tubuh milik Zee.

__ADS_1


Charles mencium leher Zee dengan paksa, air mata Zee menetes deras memejamkan matanya begitu rapat.


"Aku lebih baik mati, jika harus kehilangan kehormatanku," batin Zee.


Sebaliknya Alex yang berada di kamar sebelah begitu terganggu oleh teriakan wanita yang berada dikamar sebelah. Membuat dirinya terpaksa melihat keruang tersebut tuk melihat apa yang terjadi.


"Dasar kurang ajar, sepertinya dia sengaja tak menutup pintunya!" ujar Alex.


Alex pun berjalan mendekat, terlihat sosok lelaki sedang mengkungkung tubuh wanita di bawahnya. Namun, terlihat ada yang aneh saat Alex melihat sosok wanita tersebut.


Barulah, saat rambut itu tersingkap terlihat wajah wanita tersebut penuh dengan air mata, bibir yang berdarah. Dan wajah itu tak asing baginya.


"Zee," ucap lirih Alex dengan penuh kemarahan. Matanya penuh dengan amarah.


Dengan langkah pasti, Alex menghampiri Zee. Mengangkat tubuh lelaki itu dan menbantingnya kebelakang.


Bughh,


Tubuh Charles terlempar hingga tersungkur di lantai. Alex melihat kearah Zee dengan keadaan baju yang terbuka. Zee hanya bisa memejamkan matanya. Dengan cepat Alex melepas kaosnya dan menutupinya.


"Hey, apa yang kau lakukan!" teriak Charles tanpa tahu siapa yang ada di hadapannya.


Alex sudah meradang, berbaliklah Alex dan menatap penuh amarah. Hawa membunuhnya begitu terasa.


Charles yang melihat siapa lelaki yang telah menganggunya itu begitu terkejut saat Alex lah yang ada di hadapannya.


"Tu-tuan Alex," ucapnya terbata penuh ketakutan.


Napas Alex sudah naik turun saat melihat Chralesnya lah yang sudah berani menyentuh Zee.


"Dasar kau kurang ajar! Kau berani menyentuh tubuh Zee!" bentak Alex.


"Anda, mengenal Zee, Tuan?" tanya Charles.


"Kau tau siapa dia? Dia adalah wanitaku! Wanitaku!" teriak Alex penuh kemarahan.


Alex memukul habis Charles tanpa henti, membuatnya merasakan sakit yang Zee rasakan. Keributan itu membuat semua orang di club ramai-ramai melihat kejadian itu.


Madam Liu yang melihat Alex yang kesetanan pun memanggil bodyguard nya tuk menahan Alex. Jika tidak seperti itu, semuanya akan berbahaya tuk Alex.


"Tuan sudah, kau akan mmebunuhnya! Lihatlah dia sudah tak sadarkan diri!"


Alex masih menatap tajam Charles yang sudah pingsan dengan luka parah di wajahnya. Madam menatap Zee yang masih lemas tak berdaya, dan menghampirinya.


Dengan cepat Madam Liu melepas carding yang dia pakai tuk menutup tubuh Zee.


Alex yang mendengar itu begitu langsung mendekati Zee, melihat wajah Zee yang sudah tak berdaya.


"Madam, jika kejadian ini sampai terdengar keluar. Aku akan menghancurkan bangunan ini!" ancam Alex.


"Baiklah, Tuan. Kau bisa percaya semuanya padaku! Tapi, sebaliknya kau harus menolong Nona ini dahulu!" pinta Madam Liu.


Alex dengan cepat menggendong tubuh Zee dan berjalan cepat keluar dari sana. Membawa Zee pergi.


"Tolong aku! Ini sangat panas!" rintih Zee.


Alex terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia begitu bingung harus melakukan apa, Akhirnya Alex membawa Zee ke sebuah hotel.


Alex segara menggendong Zee saat sudah sampai di depan hotel. Para staff sudah mengenal Alex pun akhirnya langsung memberikan akses kartu tuk masuk kamar.


Zee sudah bergelayut di tubuh Alex, mengendus aroma tubuh Alex, dan itu membuat Alex semakin tak bisa menahannya. Alex merebahkan tubuh Zee diranjang. Sedangkan Alex modal mandir bingung harus melakukan apa.


"Kenapa kau menjauh? Aku sudah tak tahan! Tubuhku panas, ini sangat sakit!" rintih Zee.


Alex sungguh tak ingin melakukannya. Tapi, dia juga tak bisa melihat Zee dengan keadaan sakit seperti itu. Bisa-bisa Zee akan celaka karena tak bisa melepaskan semua efek obat tersebut.


"Zee, lihat aku! Apa kau tahu siapa aku?" tanya Alex seraya menangkup wajah Zee.


"Kau, kau, aku kenal kau. Kau itu...-," ucap Zee dan mencium bibir Alex dengan ganas.


Alex begitu terkejut, saat Zee menciumnya. Namun sebagai lelaki normal, Alex tak bisa lagi menahan semua gejolak di dalam tubuhnya. Apalagi Zee lebih dulu menyerang dirinya.


"Ini bukan karena aku mau. Ini sebuah kesalahan Zee, tapi hanya ini yang bisa aku lakukan tuk menolongmu!" batin Alex.


Alex dan Zee akhirnya menyatu dalam sebuah kesalahan. Ini memang bukan yang pertama tuk Alex dan Zee, namun Alex benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama Zee. Sedangkan Zee tak sadar dengan apa yang dia lakukan, yang dia tahu dia tak bisa menahan lagi gejolak di dalam tubuhnya.


Sahutan demi sahutan terdengar di dalam ruangan itu, melantunkan melodi yang membuat dua insan itu terbuai akan nikmatnya surga dunia.


Alex masih terjaga menatap wajah ayu disampingnya. Zee tertidur lelap setelah bertarung melawan Alex yang begitu perkasa. Membuatmu terkapar tak berdaya.


"Apa yang ku lakukan sekarang ini. Mungkin, akan membuatmu sangat membenci diriku. Tapi, aku akan menerimanya, dari pada aku melihat kau di nodai oleh lelaki lain," ucap Alex membelai wajah Zee.


Alex memejamkan matanya, mengingat akan penyatuan mereka. Membuat Alex memeluk tubuh Zee dengan erat. Rasanya dia tak rela jika sampai Zee menjadi milik orang lain.


"Bagaimana aku bisa merelakan dirimu. Jika aku saja sudah menodai dirimu. Aku sudah bersalah padamu, Zee," gumam Alex menangis seraya mencium kening Zee.

__ADS_1


"Maafkan aku! Tolong maafkan aku, Zee!" pinta Alex memohon pada Zee.


Hari semakin sendu dengan hilangnya senja, dan berganti dengan sinar bulan. Alex tak sadar jika dirinya pun telah terlelap dengan sendirinya.


Zee tidur dengan memeluk tubuh Alex, terlihat begitu nyaman berada di dekat dada bidangnya. Sedangkan Alex memeluk Zee, seakan mengunci tubuh mungil Zee di peluknya.


Sinar bulan yang menyusup dari balik tirai membuat Zee memejamkan matanya semakin dalam. Tapi, ada sesuatu aneh yang Zee rasakan. Perlahan namun pasti, Zee mencoba membuka matanya.


Gelap, ruangan itu gelap. Hanya sinar bulan yang sedikit menyinari. Zee merasakan dengkuran halus di atas kepalanya, merasakan juga tangan kekar di perutnya.


Zee membulatkan matanya saat dia menyentuh tubuhnya yang tak berkain. Begitu pula dada bidang yang ada di depannya terlihat jelas.


"Apa yang sudah aku lakukan? Siapa lelaki yang sekarang tidur denganku, memeluk tubuhku?" batin Zee penuh tanya dan sesal.


Detak jantungnya begitu cepat, air mata Zee sekita mengalir di wajahnya. Tubuhnya gemetar, dia tak bisa mengingat apapun. Apa yang sudah terjadi?


Zee memberanikan diri tuk melihat wajah lelaki itu, menatapnya dengan perlahan. Saat itu pula sinar bulan menerpa wajahnya, membuat lelaki itu merubah posisi tidurnya dan melepas pelukannya dari Zee.


Mata Zee membulat dengan sempurna saat melihat wajah siapa yang berada di sampingnya. Zee menutup mulutnya seraya menggeleng tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Dadanya begitu sesak, sakit, terluka. Kenapa, kenapa harus dia yang berada dengannya. Dan, kenapa ini harus terjadi pada dirinya.


Zee perlahan turun dari ranjang, mengumpulkan satu persatu pakaiannya. Dengan deraian air mata Zee memakai kembali bajunya, sungguh Zee merasa jijik melihat tubuhnya.


Dengan langkah gontai, Zee berjalan menyusuri lorong hotel dan segera pergi meninggalkan tempat terkutuk tuk dirinya.


Di dalam taxi, Zee terus menangis. Mencoba mengingat akan semuanya. Bagaimana bisa dia berakhir seranjang dengan lelaki itu. Zee juga tak tahu siapa dia, apakah Wili atau Alex.


*****************************


Pagi harinya, Alex terbangun dari tidur panjangnya. Alex memiringkan tubuhnya berharap Zee masih berada di disampingnya, tapi ternyata Alex tak merasakan keberadaan dari Zee. Membuat dirinya membuka matanya dan mencari keberadaan Zee.


"Sial, dia sudah pergi! Dan aku tak menyadari itu. Bodoh kau Alex!" umpatnya seraya meremmas kasar rambutnya.


Alex segera membersihkan tubuhnya, lalu bergeas pergi dari sana. Alex menatap ruang kamar itu sebelum menutupnya.


"Kamar ini jadi saksi bisu antara aku dan dirimu, Zee!" batin Alex.


Alex kembali ke rumahnya, terlihat Wili dan Sofia sedang sarapan. Alex berlalu begitu saja masuk ke dalam kamarnya.


"Apakah dia selalu ke club jika sedang ada masalah?" tanya Sofia.


"Tidak, Mom. Alex sekarang sudah sangat jarang pergi ke club. Sekarang dia memilih pergi ke suatu tempat dari pada kesana," jawab Wiliem.


"Kau memata-matai nya?" tanya Sofia.


"Tidak, Mom. Alex sudah besar, dan pastinya Alex bisa menjaga dirinya sendiri," jawab Wili.


Sofia pun mengangguk ia, dan kembali sarapan. Tak lama kemudian, Alex datang ikut sarapan bersama dengan mereka.


"Kau tak memberikanku ciuman, Alex!" seru Sofia.


Alex yang sudah duduk pun, akhirnya mengalah. Dan mencium pipi lalu kening sang Mommy. Setelah itu kembali duduk, menyantap hidangan yang ada di depannya tanpa berbicara.


Sofia dan Wiliem hanya diam, tak ingin membuat Alex marah lagi seperti semalam. Dan membiarkan Alex sarapan dengan tenang.


"Apa anakmu tak kemari?" tanya Alex tiba-tiba.


Wiliem pun menatap Alex dan Sofia bergantian.


"Sepertinya, tidak. Karena, Alya masih menginap dirumah saudaranya," jawab Wili.


"Alya masih menginap? Memangnya, Zee tak menjemputnya?" tanya Sofia.


"Tidak, Mom. Semalam juga, Zee tidak pulang," jawab Wiliem.


"Uhuk,,, uhuk,, uhuk,," Alex tersedak saat mendengar ucapan Wiliem.


Dengan cepat Sofia dan Wiliem menyodorkan minum secara bersama. Alex yang melihat itu, akhirnya mengambil air minumnya sendiri.


"Hati-hati. Tak ada yang mengambil makanan mu!" seru Sofia.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Wiliem seraya menatap Alex.


"Ya, im fine. Sudahlah, habiskan sarapan kalian!" ucap Alex dengan nada memerintah.


"Dia semalam tak pulang? Kemana dia, apakah dia baik-baik saja?" batin Alex begitu mencemaskan Zee.


Alex memakan sarapannya dengan sedikit melamun. Mata Wili tak hentinya melirik sang kembaran.


**Kemanakah perginya Zee? Akan kah dia baik-baik saja?


Jadi, siapakah lelaki yang ada di pikiran Zee?


Tunggu selanjutnya!! Bye... Bye**..

__ADS_1


__ADS_2