
Malam hari Abigail sudah lebih tenang, Ken membawanya pulang dan menceritakan apa yang dia dapatkan. Abigail tanya bisa menanngis tanpa berbicara satu kata pun.
"Aku tak tahu siapa dia sebenarnya, dan yang aku tahu Naru adalah seorang wanita yang mempunyai suami dan dua anak kembar. Namun naas, hidupnya tak lama dia di bunuh dan baru saja kemarin mayatnya ditemukan yang sudah menjadi tulang belulang," jelas Kenzio.
"Kapan kita pergi? Kapan aku bisa bertemu dengannya paman?" tanya Abigail.
"Besok pagi kita sudah pergi," jawab Kenzio.
Abi kembali kekamarnya, matanya tak lepas menatap tempat biasa Naru berdiam disana, tepat di sebelah meja kecilnya. Air mata Abi menentes kembali, dadanya sesak, mengingat Narulah yang selalu bersamanya.
"Naru, Naru, kenapa kau juga meninggalkanku? Aku sudah bisa merasakan lagi Gail di dekatku," isak Abigail dengan sangat pilu.
Abigail terduduk di lantai, sungguh dia merasakan jiwanya telah pergi bersama kepergian Naru. Hatibya hampa dan juga begitu sunyi.
"Tunggu aku! Aku mohon tunggu aku, Naru. Aku akan menemui mu, aku mohon tunggu aku!" pinta Abigail dengan begitu lirih dalam isak tangisnya.
Di dalam ruangan itu hanya ada Zee dan Alfa, malam itu mata Zee terbuka, dengan perlahan Zee mengedipkan matanya dengan perlahan menyesuaikan cahaya lampu di atasnya. Zee merasakan tangannya fi genggam kuat oleh seseorang, dan ya itu Alfa.
Alfa tertidur setelah kemarin tak tidur sama sekali menunggu Zee, seketika air mata Zee mengalir deras dari sudut matanya. Ada rasa bahagia Alfa ada disisinya, tapi Zee pun sedih karena bimbang dengan hatinya dan hubungannya dengan Alfa.
Zee dengan perlahan membelai rambut Alfa, Zee sangat rindu dengan Alfa. Sangat rindu dengan sikap Alfa yang selalu tiduran di pangkuannya, dan memainkan rambut tebal Alfa.
"Zee, ja-jangan pergi! Maafkan aku, maafkan aku!" ucap Alfa sangat lirih. Namun, masih bisa Zee dengarkan.
"Al, Alfa," panggil Zee lirih. Namun, Alfa tak menyahuti panggilan Zee, ternyata Alfa mengingau tentang dirinya.
"Apa yang terjadi padaku, didalam mimpimu, Al? Kenapa kau, begitu sangat sedih?" tanya Zee.
Alfa terus memanggil nama Zee dengan deraian air mata, Zee begitu sedih melihat Alfa yang mengigau seperti itu.
"ZEE," teriak Alfa dengan begitu terkejut, ternyata dirinya bermimpi buruk. Alfa menghapus air mata yang ada di pipinya, tanpa tau kalau Zee sudah sadar dan melihatnya.
"Ada apa kau berterima memanggilku, Al?" tanya Zee lirih.
Deg, dengan perlahan Alfa menengok kearah suara tersebut. Dan melihat Zee yang sedang duduk disana sambil menatapnya dengan penuh tanya.
"Princess," panggil Alfa lirih. Sambil menyentuh pipi Zee dengan begitu pelan. Karena, dirinya masih belum sadar dan percaya.
"Ya, ini aku. Aku Zee," jawab Zee dengan tersenyum manis menghiasi wajah pucatnya.
Alfa begitu bahagia, dengan cepat langsung memeluk tubuh Zee, mencium pucuk kepala dan juga kening Zee.
"Apa yang kau rasakan? Biar aku panggilan Dokter untuk memeriksamu!" ucap Alfa.
"Tidak Al. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, aku baik baik saja," balas Zee dengan mengangguk pelan.
Alfa kembali duduk dikursinya, menatap lekat wajah sang gadis dengan penuh bahagia. Mencium tangan Zee, sedangkan sang gadis hanya diam melihat sang kekasih hati melakukan apapun padanya.
"Aku merindukanmu, Al," ucap Zee dalam hatinya.
__ADS_1
"Zee, jangan bicara dengan hatimu! Kau tahu, aku juga sangat merindukanmu" ucap Alfa.
Dan ucapan itu sontak membuat dirinya begitu terkejut, darimana Alfa bisa tahu apa yang di katakan oleh hatinya?
"Aku tahu, jika semua perasaanmu akan sama dengan apa yang sekarang aku rasakan. Tapi, Zee percayalah padaku. Aku begitu menyayangimu, maafkan aku, maafkan aku yang sudah membuatmu sakit hati," terang Alfa dengan menunduk penuh penyesalan.
"Al, aku sungguh bingung dengan hatiku sekarang ini padamu. Aku menyayangi dan mencintai dirimu, namun ada kebimbangan diriku padamu," balas Zee.
Tangan Alfa gemetar mendengar semua ucapan Zee. Rasanya begitu takut Alfa rasakan, takut jika Zee memilih pergi dari dirinya. Zee merasakan perubahan pada diri Alfa, dan itu kembali membuat Zee merasa sedih, air mata yang sudah dia tahan akhirnya menetes deras jua.
"Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi dariku, jangan kau ambil semua rasaku, Zee!" pinta Alfa dengan isak tangisnya.
"Aku rela melakukan apapun untukmu, kecuali jangan buat aku pergi darimu atau kau yang meninggalkan aku. Aku mohon Zee," sambung Alfa sembari menciumi tangan Zee.
Zee menutup matanya dan menarik napas panjangnya, oksigen didalam jantungnya seakan berkurang banyak. Zee membelai kepala Alfa dengan penuh sayang.
"Diamlah, Alfa! Hentikan tangisanmu, kau membuat aku sedih," ucap Zee.
Alfa dengan cepat langsung menghentikan tangisannya, menghapus air matanya, dan menatap Zee dengan begitu lekat penuh kasih sayang.
Zee menggeser tubuhnya, menepuk ranjang itu sambil menatap Alfa. Alfa menaiki ranjang tersebut dan langsung memeluk tubuh Zee sambil berbaring.
"Sangat hangat, begitu nyaman dan sangat, sangat aku rindukan," ucap Zee dalam hatinya.
Alfa memeluk tubuh sang gadis dalam dekapannya, mengusap pelan punggung Zee membuat sang gadis semakin nyaman didalam pelukannya.
"Tubuh ini, dekapan erat ini yang sangat aku rindukan, degupan yang selalu mengiringi hariku," ucap Alfa dalam hati.
"Emmm," sahut Alfa yang sedang mencium kepala Zee.
"Al," panggil kembali Zee.
"Tidurlah! Aku akan memelukmu seperti ini, sampai pagi nanti," tegas Alfa.
Zee tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Alfa. Mata Zee perlahan tertutup, tangannya semakin melingkar di tubuh Alfa. Sedangkan Alfa semakin mengeratkan dekapannya, di lihatnya wajah sang gadis yang hanya berjarak berapa jari dari wajahnya.
"Selamat tidur princess, love you beby," ucap Alfa sembari mencium kilas bibir pink Zee.
**************
Korea
Dibelahan bumi lainnya, terlihat tiga sosok manusia yang sedang bersiap siap dan terlihat begitu heboh karena sedang dalam perjalanan menuju bandara.
Terlihat si tampan yang gagah itu sedang mengendong bayi di dadanya dan mendorong kereta bayi di depannya. Sedangkan dua wanita di belakangnya berjalan santai.
"Kau tegang Zia?" tanya Kiara.
"Tentu saja, aku begitu tegang. Ini hari dimana aku aka kembali pada tanah airku, dan hari dimana aku meninggalkan Korea setelah dua tahun lebih aku hidup menjadi orang lain," jawab Kenzia dengan mata yang berkaca kaca.
__ADS_1
"Kau yang sekarang, tetaplah Aurora Kenzia Putri yang aku kenal dulu. Hanya saja, akhir akhir ini kau terlalu keras dirimu sendiri," terang Kiara.
Kenzia hanya bisa diam mendengar ungkapan dari Kiara, dan sialnya semuanya benar apa adanya.
"Jangan berpikir macam macam! Lepaskan semuanya kak, saat kau sudah menginjakkan kakimu di dalam pesawat, lepaskan semua bebanmu pada awan yang putih tertiup angin. Dan pergi menjauh, membawa semuanya," ucap Xion tersenyum menatap Kenzia.
Kenzia tersenyum dan memeluk tubuh sang adik dari samping, dan Kiara pun mengikuti memeluk tubuh sang suami. Xion tersenyum bahagia sambil mencium kepala sang kakak dan istri tercintanya.
PESAWAT TUJUAN JAKARTA, INDONESIA AKAN SEGERA BERANGKAT !!!
Terdengar pemberitahuan, Xion dan yang lainnya pun memili segera berjalan kearah pemeriksaan tiket. Xion memilih kelas bisnis agar si kembar bisa leluasa dan nyaman saat di perjalanan.
Setelah duduk didalam pesawat yang sudah take off, Kiara dan Xion memilih bermain dengan kembar sampai dua bayi boy itu tertidur lelap. Kenzia menatap awan dari balik kaca pesawat, terlihat kota Korea di bawanya.
Kenzia memejamkan matanya, kembali kenangan saat malam itu dia membawa pergi Xion dengan keadaan yang sangat buruk. Karena hidup dan mati Xion saat itu begitu di pertaruhkan oleh dirinya. Air mata Kenzia menetes namun, dengan cepat dia hapus.
"Good bye Korea. Terimakasih sudah membuatku menjadi wanita yang tegar, sudah membuatku bertahan dengan identitas baruku dan kehidupanku," ucap lirih Kenzia.
Pesawat itu terbang menembus awan, melewati samudra, melewati banyak negara di bawahnya.
Sedangkan di bandara Indonesia, Kenzio dan Abigail sudah bersiap untuk berangkat menuju Korea, mencari segala sesuatu yabg akan merubah hidup snah ponakan angkatnya. Abigail tak banyak berbicara, dia hanya diam dan meremmas ujung bajunya sambil menunduk.
"Bersabarlah! Setelah kita sampai kau bebas mau berbicara apapun pada Naru, dan kau tau Abi. Aku berharap bisa melihatnya tuk yang terakhir kalinya," ucap Kenzio.
"Paman, terimakasih sudah mau melakukan segalanya untukku, dan selalu menyayangiku seperti anak sendiri," balas Abigail.
Kenzio menarik tubuh Abigail kedalam dekapannya, mencium kening sang ponakan dengan sayang.
"Sebelum aku kehilangan kakek, memang aku tak memiliki siapa pun selain dirinya. Namun kau tahu, saat aku melihat dirimu dan Gail membuatmu ingin memiliki kalian dan merasa kalau kalian itu hidupku," jelas Kenzio.
Abigail merasa terharu hingga meneteskan air matanya, dan membalas pelukan sang paman. Kenzio tersenyum melihat bayi yang dia rawat sudah menjadi gadis yang cantik.
"Gail apa kau merasakan kasih sayang paman pada kita? Paman sungguh baik, tak membedakan kita sama sekali. Gail apakah kau ada berada disisiku?" tanya Abigail dalam hatinya.
PESAWAT TUJUAN KOREA INCHEON, KOREA AKAN SEGERA BERANGKAT
Kenzio dan Abigail pun melepas tangis haru mereka dan bergegas menuju pemeriksaan tiket.
"Kau sudah siap, Abi?" tanya Kenzio.
"Aku selalu siap, karena ada paman di sampingku. Dan aku akan berusaha tak akan menyusahkan paman disana," jawab Abigail.
"Tak ada yang merasa direpotkan, aku akan senang melakukan apapun. Asalkan orang disekitarku pun senang dan bisa bahagia bisa dekat, hidup bersamaku," jelas Kenzio.
"Aku selalu bahagia hidup denganmu, jika bukan karena dirimu mungkin aku jadi gelandangan," ucap Abigail.
Kenzio tersenyum dengan ucapan sang ponakan, Kenzio memang sangat sayang pada Abigail, sudah seperti darah dagingnya sendiri.
Pesawat mereka lun lepas landas dengan cepat, mungkin bisa saja antara pesawat Kenzio dan Kenzia berpapasan di atas langit.
__ADS_1
Semuanya kembali dimulai dari sini, kehidupan yang akan mereka jalani lagi dengan segala intrik yang menyertai mereka.
Bersambung💞💞💞