
Hubungan Zee dan Alfa semakin dekat. Mereka sangat bahagia, semakin romantis dan seakan tak terpisahkan.
Minggu ini, di kelas ada tugas yang harus di kerjakan secara kelompok. Dan, saat pembagian tim Alfa dan Zyvia dalam kelompok yang sama. Sedangkan Sam, Zee dan Abigail dalam satu kelompok.
"Zee, kau tak apa bukan?" tanya Abigail.
"Memang, aku kenapa?" tanya Zee sembari tersenyum.
"Mereka satu kelompok, dan akan terus bersama selama seminggu ini," jawab Abigail.
"Mereka tidak hanya berdua, kan masih ada temen yang lain. Aku, percaya pada Alfa," ucap Zee.
Abigail menatap Sam, terlihat Abigail yang sangat khawatir. Namun, Sam juga tak bisa berbuat apapun.
Bagai dayung bersambut, Zyvia begitu senang bisa satu tim bersama, Alfa. Dan itu adalah doa yang terkabul bagi dirinya.
"Akan ku gunakan waktu seminggu itu, tuk dekat dengannya," ucap Zyvia dalam hati.
Sedangkan Alfa menatap ke arah Zee yang sedang tersenyum pada dirinya. Sungguh, Alfa begitu kesal karena berpisah dengan Zee.
"Princess!" panggil Alfa.
Zee berbalik dan melambaikan tangannya, mengedipkan sebelah matanya. Mengisyaratkan, jika dia baik-baik saja.
Barulah Alfa merasa tenang, dia sedikit lega, karena Zee percaya pada dirinya.
Alfa dan Zee pun benar-benar terpisah. Semua waktu mereka terkuras pada tugas yang di berikan oleh dosen. Materi yang mereka kumpulkan harus segera di setorkan.
"Besok, kita turun langsung ke desa. Dan akan melakukan riset disana selama lima hari!" perintah ketua tim.
"Shit!! Kenapa, loe baru bilang? Kalau, kita bakal turun langsung?" tanya Alfa.
"Ini tugas dadakan, Al. Gue juga gak tahu!" serunya.
Alfa meremmas rambutnya dengan kasar, karena fia akan benar-benar jauh dengan Zee. Tak akan, bisa bertemu dengan gadisnya itu.
"Apa kau begitu mencemaskan dia, Al?" tanya Zyvia dalam hati.
"Kapan kita berangkat? Terus di desa mana kita di tugasku?" tanya Alfa.
"Besok jam sepuluh kita berkumpul, dan kita mendapat desa A," jawabnya.
Alfa pun mendengarkan dengan baik apa yang ketua tim instruksikan. Setelah selesai, Alfa langsung meminta ijin tuk left. Dan besok tugas yang sudah menjadi bagiannya akan selesai.
Ketua tim pun mengangguk mengerti, Zyvia begitu tak suka dengan sikap Alfa yang begitu menggilai Zee. Alfa, berlari keluar mencari Zee diruangannya. Tapi, sayang sudah tak ada siapapun disana.
Alfa terus berjalan menyusuri kolidor kampus, dan melihat Zee yang sedang bersama Sam dan Abi duduk di dekat taman.
Dengan cepat, Alfa berjalan kearah mereka. Sam dan Abi sudah tahu, jika ada Alfa di belakang Zee.
"Hay, princess." ucap Alfa.
Zee hanya membalas dengan senyuman, Sam dan Abigail seketika menjadi diam.
"Kau kemari? Apa semua urusanmu sudah selesai?" tanya Zee.
"Sudah, dan besok tim ku akan turun langsung ke desa A. Bagaimana, dengan kalian?" tanya Alfa.
"Ya, sama seperti dirimu. Tim kita pun akan pergi besok ke desa C dan itu sangat jauh dari perkotaan," jawab Sam.
__ADS_1
"Kenapa harus kota C? Itu sangat jauh, apa kalian tak bisa mencari desa lain?" tanya Alfa.
"Mau, bagaimana lagi. Sudah jadi keputusan dosen, dan kita harus bisa menerimanya!" seru Abigail.
Alfa terlihat begitu kesal, karena harus berpisah jauh dari Zee. Selama seminggu, mereka tak akan bisa bertemu. Alfa kesal kenapa tak bisa satu tim dengan Zee. Sedangkan, Zee dia harus menahan segala rasa kekhawatirannya agar tak terlihat oleh siapa pun.
Zee terus tenang dan tersenyum, menutupi hatinya yang begitu takut. Karena, Alfa akan terus bersama dengan Zyvia. Tak di pungkiri dirinya cemburu.
"Apa yang membuat mu, marah. Al?" tanya Zee.
"Masih bisa bertanya padaku? Huh, aku begitu kesal karena tak bisa satu tim denganmu! Dan harus kejauhan dengan dirimu," sewot Alfa.
"Jangan marah seperti itu! Kau sangat jelek," ledek Zee.
Alfa menatapnya dengan tajam, Zee langsung tersenyum kuda sembari memeluk lengan Alfa dengan manja.
"Jangan, menatapku seperti itu! Aku takut. Al anggap saja ini ujian buat kita, karena kita kan selalu bersama. Aku percaya padamu! Biarpun disana ada dia yang selalu menantimu, tapi aku harus yakin. Kalau hanya ada aku di hatimu dan hidupmu," ucap Zee.
Abigail menatap sendu Zee, sedangkan Sam memalingkan wajahnya karena malu karena Zyvia.
"Al, kau tahu? Aku begitu cemburu saat mendengar kau satu tim dengannya, tapi aku juga tak bisa egois padamu! Jadi, tolong jaga hatimu hanya untuk ku!" pinta Zee sembari memiringkan wajahnya.
Alfa begitu terharu akan kejujuran Zee, Alfa semakin mencintai Zee, dan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Jika, dirinya dan hatinya hanya untuk Zee.
Alfa tersenyum seraya memeluk Zee, Alfa berbisik pada Zee. "Jangan takut! Karena, aku memang di takdirkan hanya untukmu saja!" ucap Alfa.
Alfa mencium pucuk kepala Zee, Zee begitu nyaman dalam pelukan Alfa. Semua kegundahan hatinya seakan sirna hanya karena sebuah pelukan dari pangeran es nya.
"Tuhan, aku mohon. Biarkan, saja mereka seperti itu! Jangan kau buat semuanya terjadi, aku mohon!" ucap Abigail sembari menutup matanya.
"Baiklah, apa kalian tak ada kegiatan lagi? Jika tidak ada bagaimana jika kita jalan-jalan lagi?" tanya Sam.
"Kita kepusat kota! Bagaimana?" tanya Sam.
"Baiklah, aku juga ingin belanja sesuatu," jawab Zee.
Akhirnya mereka pun pergi kepusat kota, disana sangat ramai. Abi dan Zee begitu asyik memilih baju disebuah butik.
"Sam, tolong titip Zee. Karena mulai besok aku tak ada disampingnya!" pinta Alfa.
"Kau ini seperti mau pergi jauh saja! Bukannya, sudah biasa aku menjaga Zee," ledek Sam.
Alfa hanya tersenyum kecut, Sam merangkul bahu Alfa. Entah kenapa, Sam merasa akan ada sesuatu yang terjadi, tapi Sam kembali berpikir positif saja.
"Al, come here! Lihatlah, ini sangat cocok denganmu!" seru Zee sembari menenteng kaos biru.
Alfa hanya tersenyum karena, memang pilihan Zee sangat cocok dengan dirinya.
"Kemarikan! Biar aku pakai sekarang!" seru Alfa.
"Serius, kau mau memakai baju ini?" tanya Zee.
"Ya, princess. Bukannya, itu baju couple kan?" tanya Alfa.
Zee menunduk malu, karena memang ini baju pertama dirinya dan Alfa.
"Sudah, pergi sana! Pakailah, segera!" perintah Abigail serah mendorong tubuh Zee.
Dan hampir saja jatuh, jika tak ada Alfa di depannya, dengan disigap Alfa menangkap, memeluk tubuh Zee.
__ADS_1
"Abi!" panggil Sam.
"Sorry, aku tak sengaja!" seru Abigail memperjuangkan bibirnya.
Zee dan Alfa tertawa melihat Abigail yang baru kali ini begitu manja pada Sam.
Alfa pun menarik tubuh Zee tuk masuk keruang ganti, mereka masuk dalam satu bilik.
"Al, kenapa kita satu bilik? Cepat keluar, nanti ada orang yang tahu!" perintah Zee.
Cup, cup, cup, Alfa mencium bibir Zee dengan bertubi tubi.
"Al, stop it! Kau kenapa jadi semakin mesum?" tanya Zee kesal.
"Kenapa, nanti juga kau akan jadi istriku! Jadi, biarkan aku menandai gadis yang menjadi milikku!" ujar Alfa.
Zee hanya memutar bola matanya dengan malas, Alfa begitu santainya membuka kemejanya dan menggantinya dengan kaos.
"Hemm,, dasar pria mesum," ucap Zee yang terlanjur melihat tubuh sixpack Alfa yang begitu putih.
"Jangan terus memgumpati diriku! Bukannya, kau jiga melihatnya!" seru Alfa.
Setelah selesai, Alfa ternyata keluar dari bilik dan menunggu Zee di luar.
"Apa dia bilang? Istri, kapan dia akan menikahiku? Usiaku saja sudah mau 25 tahun," ucap Zee.
"Aku mendengarnya! Jangan, terus menggerutu didalam cepat keluar!" seru Alfa.
Zee tak menjawab, dia sibuk dengan acara ganti bajunya.
Alfa dan Zee pun kembali dan sudah memakai baju couple mereka. Begitu cantik pada Zee, karena begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih itu.
"Wah,,, cantik dan tampan!" seru Abigail.
"Baiklah, kita pergi ketoko selanjutnya?" tanya Sam.
"Kita ke toko aksesoris, boleh?" tanya Abigail.
"Tentu, apapun tuk mu!" seru Sam.
Wajah Abigail, memerah seketika karena terharu dan malu pada Zee dan Alfa.
"Dunia serasa milik berdua," ledek Alfa sembari merangkul pinggang Zee.
Tak mau kalah, Sam merangkul tubuh Abigail. Mereka pun tertawa bersama.
Tak ada yang tahu akan semua rencananya, tak akan ada yang tahu seperti apa kita selanjutnya dan tak akan ada yang tau seperti apa takdir seseorang didunia.
Waktu terus berjalan, tiap detik, menit, jam, hari, bulan, akan terus kita lalui. Sampai saat nanti kita akan bertemu kembali di ratusan purnama.
Begitu pula dengan hati, perasaan dan kecintaan. Tak bisa kita ukur hanya dengan suatu ikatan, menganggumi suatu keindahan yang mungkin, tak bisa kita penuhi dan raih.
Akan ada waktunya, kau harus merelakan sesuatu yang sudah menjadi kekuatanmu, menjadi kebahagiaanmu dan menjadi hidupmu!
Percaya dengan semua takdir yang sudah di gariskan, tanpa mengeluh, menerima dengan lapang dada. Akan tetapi, bisa saja semua itu membuat kita marah, benci, kecewa dan juga terluka.
Pergilah! Menjauhlah! Dengan begitu, kau akan tahu. Siapa yang akan terus menantimu, merindukanmu, dan setia pada dirimu!
TERIMAKASIH 😘😘😘
__ADS_1