
Setelah pulang dari kantor, Zee melanjutkan perjalanan ke rumah Ara. Disana sudah berkumpul keluarga besarnya, ada Sam dan Abigail juga.
Zee di sambut dengan teriakan putrinya yang berlari sembari memeluk tubuh sang Mommy.
"Mommy!" teriak Alya.
Zee tersenyum lalu duduk berjongkok menanti snah putri memeluk dirinya. Kiara yang baru bertemu kembali dengan Zee setelah 9 tahun ini, tersenyum melihat adik iparnya itu sang menurut dirinya adalah wanita hebatnya.
"Hay, sayang. Kau pulang dengan siapa?" tanya Zee sembari mencium pipi Alya.
"Kak Jiso dan Mommy Kia," jawab Alya.
Zee berjalan menghampiri Kiara, mereka berpelukan melepas rindu yang sangat lama itu.
"Apa kabarmu?" tanya Kiara.
"Aku, baik. Bagaimana, dengan dirimu?" tanya balik Zee.
"Aku, baik dan semakin baik karena bisa bertemu kembali denganmu, sayang!" seru Kiara sembari membelai pipi Zee.
Sam dan Abigail hanya bisa tersenyum, mereka yang melihat langsung bagaimana kehidupan Zee saat hamil Alya. Menurut mereka, Zee adalah wanita hebat, wanita yang begitu tegar, begitu keras kepala pada dirinya sendiri tapi tidak untuk anaknya.
"Hemm,,, baiklah. Sekarang, waktunya kita makan!" perintah Ara.
Semua orang berlalu berjalan ke ruang makan, Zee melihat semuanya berpasangan, air mata Zee menetes tanpa permisi. Seakan ada bayangan Alfa yang sedang berdiri menatapnya dengan senyuman terbaiknya.
"Al," panggil Zee lirih. Air mata itu semakin deras mengalir, napas Zee tersengal menahan sakit di hatinya.
"Mommy, jangan menangis! Daddy, kan ada di hati kita," ucap Alya sembari memeluk tubuh sang Mommy.
"Huh, tidak sayang. Mommy, menangis karena Mommy bahagia bisa berkumpul dengan keluarga besar kita. Dan, ya kau benar! Daddy ada selalu ada di hati kita," saut Zee sembari memeluk tubuh Alya.
Kiara yang melihat dan mendengar itu, menangis tanpa suara, sungguh berat kehidupan Zee. Tapi, dengan cepat Kiara menghapus air matanya dan kembali mendekati Zee.
"Princess, kenapa kau diam saja disitu?" tanya Kiara.
"Ya, baiklah. Aku akan datang!" seru Zee.
Makan malam hari itu begitu menyenangkan anak-anak bermain bersama, sedangkan para orangtua mereka berbincang-bincang seru.
Rasa perduli, cinta dan kasih sayang yang Bumi dan Azura wariskan pada anak-anak mereka menghasilkan ikatan yang kuat. Mereka, selalu kompak bersama, menjaga, melindungi satu sama lain. Begitu juga dengan generasi Rio dan Rino yang sudah memiliki tanggung jawab tuk menjaga adik-adik mereka.
"Abi, kapan kau akan melahirkan?" tanya Kiara.
"Bulan depan, ya perkiraan tanggal 19 dia akan lahir," jawab Abigail.
"Semoga semuanya berjalan lancar, kau dan anakmu bisa sehat, selamat tak kurang apapun," ucap Kiara
"Terimakasih. Atas doanya," balas Abigail.
Diusia yang sudah beranjak 29 tahun, Zee masih saja begitu manja pada Zyan. Seakan masih berumur 19 tahun saja, tapi itu lah yang sangat mereka sukai. Zyan itu sudah seperti Bumi yang akan menenangkan Zee saat berada di pelukannya.
"Bagaimana kehidupamu disini? Tak, ada yang mengganggu mu bukan?" tanya Zyan.
"Mana ada yang berani mengganggu ku, jika ada pengawal galak seperti dia," ucap Zee sembari menatap Sam.
Abigail dan Ara tersenyum, sedangkan Sam hanya diam melirik ke arah lain. Zyan tersenyum sembari terus menciumi pucuk kepala sang adik.
"Sam, maafkan aku yang sudah merepotkan mu tuk menjaga Zee. Seharusnya ini menjadi tugasku, dan menjadi amanat yang harus ku lakukan," ucap Zyan merasa bersalah.
"Sudahlah, mungkin sudah terbiasa. Bukannya sejak dulu aku selalu ada di belakangnya. Dan, jika aku tak melakukan itu, pangeran es itu akan menghantui diriku," balas Sam.
Semua orang terdiam saat mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Sam. Abigail menyenggol tangan Sam, tapi Sam hanya diam.
"Hemm, kau benar Sam. Ini semua salahnya, membuatku menjadi beban tuk kalian. Dia dengan tenang, hanya bisa melihatku dari jauh, membiarkan aku dan Alya sendiri tanpa dirinya," ucap Zee begitu lirih.
Ara sudah memalingkan wajahnya, karena air mata itu akan begitu saja menetes. Karena memang hati Ara sama seperti sang ibu Azura. Begitu lembut, dan penuh dengan kasih sayang.
"Hufh, sudahlah. Aku mau menyalahkan siapa lagi, Tuhan sudah menakdirkan aku seperti ini. Menjadi wanita kuat dan aku harus bisa menerimanya," sambung Zee sembari menghapus air matanya.
__ADS_1
"Keluarlah dari semua bayangan dirinya Zee! Alfa tak akan mau terus-terusan melihatmu, menangisi dirinya dan membuat Alya tak memiliki kasih sayang dari sang Ayah? Mau berapa tahun lagi, kau menyiksa diri sendiri?" tanya Sam menatap tajam Zee.
Zee hanya diam menunduk tak menjawab, tubuhnya bergetar menahan semua perasaannya. Sam pergi beranjak dari sana.
Entah kenapa, semenjak kepergian Alfa. Sam berubah menjadi sosok yang dingin tak pernah tersenyum seperti dulu lagi. Sam yang dulu hangat tak pernah terlihat lagi, kecuali pada Abigail.
"Zee, maafkan Sam yang sudah membuatmu sedih!" pinta Abigail.
Kiara menggengam tangan Abigail sambil mengangguk, mengisyaratkan tak apa- apa.
Zyan memeluk tubuh Zee, berbisik pada sang adik." Kau harus menatap ke depan, princess! Kau harus bisa berjalan dengan Alya, tanpa harus berpikir Al akan marah atau pun membencimu jika kau ingin memiliki kehidupan lain."
Zee mendengarkan semua ucapan dari Sam dan Zyan, malam itu Zee memilih pulang, sedangkan Alya menginap di rumah Ara.
Di dalam ruang kerjanya, begitu banyak foto dirinya dan Alfa, foto sejak mereka kecil sampai saat terakhir saat di desa C. Zee menyentuh satu persatu foto itu. Seketika air mata Zee mengalir deras, dadanya begitu sesak.
*Pada akhirnya semua akan pergi
Meninggalkan daku sendiri bersama sepi
Menuai rindu yang tak bertepi
Bersama ambisi yang tak terisolasi
Diujung hati ini sudah bertumpuk duka
Tentang cerita tanpa akhir bahagia
Tentang rasa tanpa dermaga
Tentang cinta yang tak berdua
Sayang, rinduku berantakan
Karena kita belum merajut kenangan
Hingga daku hanya bisa berkhayal dalam angan
Aku hanya berteman malam
Mengais sisa keindahan sebelum kepergian
Berharap bisa mengukir wajah dengan lengkungan
Naas, itu hanya sia-sia dalam kenyataan
Ini tidak adil hai Sang Kuasa!
Kau memberiku cinta yang tak sempurna
Membuatku terlena lalu menjadi hina
Membuatku terluka tanpa ada obatnya
Kau kejam hai Sang Kuasa!
Kau memisahkan kami saat berbahagia
Daku memupuk pilu tanpa temu dengan dia
Untuk sekarang dan selamanya*
@ Dhie. Me 23022020
Syair indah itu melantun begitu saja dari bibir Zee, semua perasaan yang dia tumpahkan semuanya. Cinta dan Sayangnya begitu besar pada sang kekasih.
"Apa, aku harus mencari penggantimu? Apa, aku harus membagi rasa ini pada lelaki lain selain dirimu?" batin Zee sembari memeluk bingkai foto itu.
"Aku, rasa tak bisa! Aku tak memiliki semua perasaan itu lagi, hatiku sudah kosong, gelap dan hampa, Al," ucap lirih Zee.
__ADS_1
Zee berjalan menuju kamarnya, membuka pintu kaca itu dengan sangat lebar, membiarkan angin malam berhembus bebas memasuki kamarnya.
Zee duduk sambil menekuk kakinya, menatap bulan, bintang di langit Finlandia itu. Zee memejamkan matanya merasakan hembusan angin.
"Angin, peluklah aku kembali! Dan bawalah aku terbang sebentar saja, biarkan aku melayang tanpa arah dan melepaskan semua beban dalam hatiku," ucap Zee.
Sudah berjalan 10 tahun, sudah begitu lama dia menyendiri tanpa menghiraukan kumbang yang mengelilingi dirinya. Sudah begitu lama juga dia tetap mendadak semua perasaannya hanya tuk kekasih yang sudah tiada, meninggalkan dunia fana ini.
"Aku, harap saat nanti itu tiba. Dan, saat ada satu titik perasaan di hatiku, aku mau kau memaafkan aku. Dan bisa melihat diriku tersenyum, walaupun tak bersama denganmu," ucap Zee menatap kalung yang dia pakai.
Zee merebahkan tubuhnya, memiringkan tubuhnya agar tetap bisa menatap indahnya bulan, bintang di atas sana. Matanya mulai terpejam dengan perlahan, Zee sudah terbuai oleh dunia mimpi.
"Princess,"
"Siapa? Siapa itu,?"
"Aku bukanlah siapa- siapa, tapi yang ku tahu. Kalau, aku begitu menyayangi dirimu,"
Zee memutar tubuhnya mencari siapa sosok dari suara itu, Zee menatap kesembarang arah tapi tak juga dia dapati.
"Siapa kau? Jika, kau memang menyayangiku. Cepat keluar dan tunjukkan siapa dirimu!" teriak Zee.
"Princess, tanpa kau melihatku. Aku selalu ada di dekatmu, selalu berada di hatimu"
Deg, Deg, Deg,
Zee menutup mulutnya, air matanya tak lelah keluar terus menerus. Zee berjalan maju, tetap tanda siapa pun. Yang hanya ada cahaya putih.
"Al, Alfa. Tunjukkan dirimu! Aku, aku sangat merindukanmu!" seru Zee menangis.
"Dimana kau, kenapa kau baru datang padaku. Setelah 10 tahun berlalu?"
Cepat, keluar kau Alfa Reza! Tak puaskah kau membuat dunia ku hancur seperti ini, pergi membawa segalanya milikku!" teriak kembali Zee.
Zee menangis bersimpuh, tubuhnya begitu lemas. Ini pertama kalinya Zee memimpikan Alfa. Dan, sekarang pun Alfa tak mau menunjukkan dirinya. Hanya ada suara yang menemani Zee.
"Wanita hebatku, kenapa menangis? Maafkan, aku Zee!"
Sebuah tangan yang begitu dia rindukan, sedang menyentuh tubuhnya. Zee semakin menangis dengan begitu hebatnya.
"Jangan, lagi lepaskan tanganmu dariku! Aku mohon Al. Aku ingin selamanya menggenggam tanganmu!"
Alfa berjongkok dan memeluk tubuh Zee, dengan penuh kesadaran Zee serasa bisa memeluk kembali Alfa. Tangisnya semakin memilukan.
"Aku, sudah menepati ucapanmu, aku sudah datang dan memelukmu. Dan, menemanimu disaat kau menangis,"
Zee menatap wajah Alfa yang begitu tampan, bercahaya, Alfa semakin rupawan.
"Al, aku merindukan dirimu," ucap Zee begitu sendu.
"Bukankah, kau sendiri yang menempatkan aku di dalam hatimu?" tanya Alfa.
"Zee, dengarkan aku! Hiduplah dengan baik, berikan hak dari anakku, aku akan selalu mendukungmu," imbuh Alfa.
Zee masih tak mencerna apa maksud yang di ucapkan Alfa pada dirinya. Yang, Zee tahu dia begitu bahagia bisa bertemu dengan Alfa.
"Aku, akan pergi dengan tenang. Jika kekasih hatiku bisa segera bahagia. Menjalani kehidupan baru yang akan membuat dirimu bahagia," ucap Alfa.
"Aku, aku pasti akan menjalani hidupku seperti itu. Tapi tidak tuk sekarang. Karena hatiku dan seluruh perasaanku hanya tuk mu, semuanya milikmu," balas Zee.
Alfa hanya tersenyum, mencium kening Zee dan semakin lama bayangan Alfa smekain memudar. Membuat Zee menggelengkan kepalanya, tak percaya.
"Al, kau mau kemana? Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku!" pinta Zee sembari menarik-narik tangan Alfa yang tak bisa lagi dia gapai.
Mimpi yang telah berakhir, memberikan sebuah jawaban yang selama ini Zee pertanyakan. Sebuah ucapan yang membuat hatinya begitu sakit, namun ada sebuah rasa lega juga di hatinya.
Selamat membaca,,, semoga hari ini tak membuat semuanya menangis lagi yah ☺
Salam manis, dariku 😘
__ADS_1