Takdir Cinta

Takdir Cinta
Antara Dosa dan bahagia


__ADS_3

" Sayang ini mas gak salah lihat kan " ucap Rafli segera memeluk dan menghirup aroma yang selama ini ia rindukan.


'' Iya mas . Ini aku " jawabnya dan segera mengecup bibir suaminya yang kini Rafli dengan semangat membalas luma*annya .


Rafli yang begitu merindukan istrinya pun menerima jari lentik yang terus membangkitkan gairahnya . Nafasnya memburu saat melihat Ana kini membuka handuk kecil yang melingkar di pinggangnya .


'' Mas merindukanmu sayang . Sangat rindu " ucap Rafli sementara wanita di hadapannya kini mengangumi sosok polos di hadapannya .


Bunga yang sedari tadi merasa takut kini rasa takut itu meluap karena obat yang di berikan Viona cukup mujarab . Rafli berhalusinasi jika melihat Ana saat ini. Dengan parfum milik Ana mampu mengecoh Rafli , di tambah Rafli yang begitu merindukan Nananya . Jika Rafli hanya sekedar mabuk atau obat p*rangs*ang maka Rafli bisa mengatasinya maka Viona memilih obat lain .


Bunga yang lama tak tersentuh oleh Willy , kini mulai mendekati Rafli dan meng*cup bibirnya. Rafli melakukan hal yang terlarang itu bersama dengan Bunga. foreplay cukup lama Rafli lakukan membuat Bunga mend*sah , jika Willy memainkannya secara cepat berbeda dengan Rafli yang mampu membuatnya terbang kenirwana hanya dengan bibir dan sentuhannya saja.


Rafli me***cup bibir Bunga saat memulai menerobos gua miliknya . Bunga merintih kesakitan saat Rafli melakukan nya dengan sekali hentakan.


'' Ah... mas sakit " lirih Bunga merasa milik tampung nya begitu penuh saat ini.


'' Mas akan pelan sayang " ucap Rafli dan bermain dengan bukit kembar nan indah tersebut .


Hentakan setiap hentakan Rafli lakukan bersamaan dengan suara d*sa**n yang menghiasi suasana malam itu .


Bunga juga nampak agresif , ia tak akan melepaskan Rafli malam ini dan akan meminta pertanggung jawaban suatu saat nanti , bunga tak akan meminum obat yang telah ia siapkan usai melakukan ini. Ia akan hamil sesuai dengan ancaman Viona , jika ia mengandung anak Rafli ia akan meminta bantuan Rafli untuk mengambil Geilo untuk hidup di tengah mereka dan untuk Willy ia tak mungkin mampu menjangkaunya . Dan untuk Ana ,ia harus mampu membujuknya agar berbagi suami meski Bunga begitu ragu untuk melakukan nya .


" Maaf kan aku mbak Ana. Kenikmatan ini benar benar-benar menggoda dan aku tak akan melepaskannya . Ku harap kau mau membagi nya " batin Bunga melayang menikmati apa yang Rafli berikan padanya meski kini ia tengah di jungkir balik kan oleh Rafli yang terus menggempurnya seraya menyebut nama Ana dengan menambahkan kata cinta , masa bodoh bagi Bunga.


Bunga mengira Rafli kelelahan karena mencabut miliknya yang membuat Bunga melayang namun Bunga melongo saat pria yang telah membuat miliknya mudah di masuki angin tersebut memintanya untuk memegang kendali ...


" Giliran mu Ana " ucap Rafli dengan suara berat , ia ingin melupakan rasa rindunya pada wanita yang ia cintai .


" Aku harus memuaskannya melebihi mbak Ana . Aku jauh lebih muda pasti aku jauh lebih menantang . Aku baru melahirkan sekali sedangakan mbak Ana sudah banyak " batin Bunga begitu percaya diri . Ia tak tau berapa harga yang sekali di keluarkan Rafli untuk perawatan istrinya.


Bunga melakukannya dengan begitu baik menurutnya dan melihat Rafli memejamkan mata seraya mengeluarkan suara indah dari bibirnya membuat Bunga semakin bersemangat meski miliknya begitu sesak saat kembali dimasuki benda berdiri tegak tersebut.


Rafli melakukannya tiada henti dan itu membuat Bunga semakin bangga atas stamina dan semua yang Rafli punya . Kini mereka tengah melakukannya di bawah guyuran air shower yang mengalir kecil membasahi tubuh mereka . Bunga dan Rafli terlihat membuat tubuhnya tak berjarak sedikitpun dan kini Bunga menyatukan b***r mereka seiring dengan bagian yang di bawah menyatu maju mundur . Bunga melemas dan membuat Rafli menggendong tubuh Bunga dengan bagian bawah masih menyatu . Rafli melakukan pelepasan terakhir dan Bunga begitu menikmatinya saat itu merasakan sesuatu yang kuat menghentaknya kuat .


" Mas mencintai mu Ana. Tidurlah pasti kau lelah " ucap Rafli dengan stamina yang habis terkuras.


" Kita akan mengulanginya lagi mas , akan ku buat kau menyukai ku dalam hal apapun " gumam Bunga .


" Maafkan aku mbak Ana , mungkin saat ini aku menyukai keperkasaan suamimu . Ku harap kau harus ikhlas berbagi . dan semoga akan ada makhluk kecil kembali di rahimku " ucap Bunga mengecup bibir Rafli yang terlelap .


Meski lelah Bunga kini melanjutkan aksinya . Secepat mungkin ia membuang lingerie yang telah di koyak habis oleh Rafli . Berjalan menahan rasa perih menuju kamarnya guna menyimpan lingerie tersebut dan Kembali menuju kamar dimana Rafli tertidur pulas.


Bunga tersenyum senang saat melihat bercak merah di seprai berwana putih tersebut.


" Aku akan menuntut pertanggung jawaban mu mas " gumam Bunga seraya melihat milik Rafli yang mampu merobek miliknya .


" Pantas saja besar sekali " ucap Bunga dan memilih tidur sejenak lalu melanjutkan drama nya esok pagi .


.


.


.


Pagi hari di ruang Ana yang tengah dirawat begitu sibuk para dokter terlihat. Membuat dokter yang memimpin memerintahkan pelayan untuk memanggilkan Rafli yang saat ini tak seperti biasanya , biasanya Rafli akan bangun pukul 6 atau tujuh pagi namun hingga pukul sembilan Rafli tak kunjung turun. Apalagi ini penting mengenai kondisi Ana.


Sementara Rafli yang terganggu akibat gedoran pintu yang memekakkan telinganya menggeliat merasa tubuhnya lelah saat ini .

__ADS_1


" Tuan bangun ... Non Ana tuan " pekik pelayan membuat mata Rafli terbuka sempurna saat nama Ana di sebut .


" Tunggu sebentar bi " teriak Rafli dan membuat ketukan pintu terhenti .


Rafli membelalakkan matanya saat melihat bercak merah di seprai miliknya . Ingatan nya berputar , ia tau bercak apa itu dan ia mendapatkan nya saat menyentuh Ana pertama kalinya . Tapi tunggu....


" Ohh. Shittt " geram Rafli saat menyadari melakukan sebuah dosa besar yang begitu membuatnya ingin segera mati .


Telinga Rafli menajam saat mendengar tangis seorang wanita yang sama sekali tak ia kenali . Segera mengambil kimono handuknya untuk menutupi tubuh polosnya dan segera melihat iblis apa yang berada di kamar mandinya. Wajahnya mengeras seraya dengan tangan yang terkepal kuat .


Ceklek .


Rafli mematung melihat Bunga yang kini terisak di bawah guyuran air shower dengan tanda yang biasa ia berikan untuk Ana .


" Jangan mendekat .... ku mohon.... Jangan sentuh aku " ucap Bunga bereaksi ketakutan saat Rafli mendekatinya dengan tampang kejam namun dengan alis yang menyatu karena heran . Rafli ingat betul semalam jika wanita yang menyerupai Ana merayunya membuatnya begitu mudah tergoda , tapi bercak darah itu sungguh mustahil jika Ana kembali pecah p*rawannya lagi.


" Aaauuu sakit mas " ucap Bunga saat Rafli menjambak rambutnya begitu kuat .


"Kau jangan pura-pura ketakutan ***** , jangan lupa jika semalam kau menggodaku " ucap


Rafli membentak Bunga dengan suara menggelegar .


" Tidak.... kau yang me....maksaku " elak Bunga menangis dan bercampur gugup .


" Aku tak akan menyentuh jika bukan milikmu yang Sah " sergah Rafli.


" Obat apa yang kau berikan malam itu . Jawab sialan " bentak Rafli dan seraya tamparan nyaring terdengar begitu menyakitkan .


" Tidak obat .... a...apa...pun " ucap Bunga takut , tak pernah ia melihat amarah pria begitu menyeramkan seperti yang dirasakannya saat ini . Bodoh jika ia berfikir mampu mengulang kembali kejadian semalam bersama pria yang sedang seperti banteng kesurupan dihadapannya saat ini .


Rafli menyeret tubuh Bunga keluar dari kamar mandi tanpa belas kasih dan memberikan pakaian Ana satu lembar untuk menutupi tubuh menjijikkan yang terukir maha karyanya .


" Pergilah dari sini , sebelum aku benar-benar membunuhmu " ucap Rafli tak main - main.


" Tapi . Kau telah merusakku tuan . Merusak masa depan ku " Isak Bunga begitu kasihan .


" Aku akan menggantinya . Kau bisa mencari rumah sakit terbaik di negeri ini " ucap Rafli dan berjalan menuju lemari mengambil cek dan tangannya dengan cekatan menulis nominalnya cukup untuk membuat Bunga hidup di luar sana tanpa mengusiknya.


" Meski aku melihat darah itu saat ini. Tapi aku sangat ingat jelas , aku tak merasakannya saat menyentuh milik mu . Kau seperti sudah puas di pakai pria lain. Bahkan milik Ana lebih dari segalanya " ucap Rafli sarkas dan Bunga begitu pias wajahnya meski ucapan Rafli itu kenyataan.


" Pergilah sekarang dan gunakan cek ini sebaik-baiknya " ucap Rafli seraya menyerahkan cek berisi 30 milyar.


" Itu masih sisa jika kau ingin mengoperasi milikmu dengan darah menjijikkan itu " imbuh Rafli memandang Bunga dengan tatapan jijik.


" Tapi bagaimana jika aku hamil tuan " Isak Bunga namun tawa Rafli menggelegar saat mendengarkan itu .


" Mustahil sekali " ucap Rafli di sertai senyum mengejek .


" Kau berniat ingin menjadi nyonya dirumah ini dan menyaingi istriku . Itu hanya mimpi karena tak akan pernah terjadi . Meski kau hamil sekalipun aku lebih memilih membunuhmu bersama keturuanan ku . Tapi sayang , hal itu tak akan terjadi . Karena aku " ucap Rafli menjeda ucapannya yang segini saja membuat tubuh Bunga melemas , nyali yang menggebu memiliki Rafli kembali menciut begitu sempurna mendengar perkataan Rafli yang begitu keji baginya .


" Karena aku melakukan Vasektomi . Dengan begitu tak akan ada kehadiran makhluk kecil seperti tujuan mu dan cepatlah pergi dari kehidupanku dan seluruh kehidupan keluar Wijaya " ucap Rafli tegas


" Tapi jika aku melihatmu meski sekedar bayangan saja . Aku sendiri yang akan membunuhmu " ucap Rafli mencengkram rahang Bunga cukup kuat .


Bunga kini memilih mundur , masa bodoh tentang ke inginannya yang menginginkan Rafli seperti semalam niatnya yang begitu berminat .


Melihat Rafli menyeramkan bagaikan monster di hadapannya ini , membuat Bunga memilih pergi jauh dan akan mencari cara untuk menemui anaknya serta Willy. Memilih kembali kepada Willy bukan hal yang buruk baginya .

__ADS_1


" Aku minta kau sudah keluar dari mansion ini sebelum aku keluar dari kamar mandi dan bawa pergi semua jejak mu yang ada disini " ucap Rafli berjalan dan menutup pintu kamar mandi begitu kuat .


" Aku harus pergi " gumam Bunga , percuma dramanya tadi pagi dan kini ia dibayar dengan cek begitu mahal .


Rafli berdecak kesal saat tanda merah mengukir leher kekarnya . Mencari foundation milik Ana namun tak di temukan nya . Ia lupa membelinya . Terlihat lengkap alat make up istrinya yang baru ia beli namun sebuah make up penting itu terlupa olehnya . Ana akan mencari benda itu untuk menyamarkan bekas sesapannya .


Rafli memilih mengenakan switer dengan leher yang cukup panjang yang penting tanda itu tak terlihat oleh siapapun terutama Ana yang begitu teliti akan apapun.


" Astaga istriku " ucap Rafli segera keluar kamar dan bertepan dengan pelayan yang di pastikan akan memanggilnya kembali.


Rafli tak memperhatikan senyum mengembang pelayan yang ingin mengabarinya itu . Rasa bersalah dan panik mendominasi kini . Rafli tak ingin Ana pergi meninggalkan seolah bagai penembus dosa yang harus ia bayar .


" Tidak ... itu tidak boleh terjadi " lirih Rafli dengan mata berkaca-kaca.


" Ana " teriak Rafli saat melihat wanita yang koma selama dua tahun itu membuka matanya membuat dunia yang baru saja runtuh mendadak kembali hidup dengan sempurna .


Tiada henti Rafli menciumi Ana tanpa peduli semua mata dengan kebahagiaan memandangi aksinya yang mencium Ana tiada henti . Wanita itu begitu terawat meski tak mandi dua tahun lebih karena Rafli begitu telaten membersihkan tubuh Ana selama ini .


'' Mas geli " ucap Ana dengan suara nyata dan sempurna .


" Mas kemana saja . Aku sudah terbangun sedari tadi dan menunggumu . Tumben kau bangun siang mas " ucap Ana tersenyum membuat Rafli berusaha menenangkan hatinya karena pertanyaan Ana mengingatkan perbuatan bejat nya , Rafli yakin Ana tak akan memaafkannya tapi Bunga juga sudah enyah dari kehidupan Wijaya termasuk dirinya.


" Mas kelelahan sayang . semalam mas mengerjakan tugas kantor yang begitu menumpuk hingga ketiduran . Biasa mas tidur di sampingmu " ucap Rafli mencari alasan dan Ana begitu mempercayai nya .


" Aku percaya mas . Karena kata Bu dokter kau bisa tidur disampingku mas " ucap Ana tersenyum memeluk tubuh suaminya . Ada getaran aneh yang di rasakan di hati Ana namun ia menyangka jika itu getaran rindu berat akan suaminya . Apalagi ia baru tersadar setelah dua tahun lebih ia mengalami koma .


'' Maafkan aku mas , baru sadar dan membuat mu mengunggu lama . Dengan setia kau menungguku bersama anak-anak " batin Ana terharu . Sementara Rafli menitihkan air matanya rasa bersalah begitu mengoyak hatinya kini .


" Mas , kenapa mama dan papa datang lama sekali . Aku merindukan anak-anak kita mas . Terutama Zilva dan Vanya " ucap Ana penuh harap . Membuat Rafli dan yang lainnya berwajah pias namun Rafli berusaha untuk tenang .


" Kita sabar saja ya menunggu mereka . Lebih baik segera makan lalu minum obat lebih dahulu " ucap Rafli saat pelayan baru saja menyerahkan makanan untuk Ana .


" Mas , aku ingin mandi dan tampil cantik saat anak-anakku datang nanti . Jadi makannya nanti aja ya '' pinta Ana dan diangguki Rafli setuju .


Kaki Ana sedikit kaku saat menggunakannya untuk berjalan tapi meski begitu ia menolak saat Rafli ingin menggendongnya malu di lihat banyak pasang mata yang menatapnya dengan pandangan bahagia di campur terharu.


'' Mas aku sendiri saja '' ucap Ana mengahalangi Rafli ikut masuk .


'' kenapa '' tanya Rafli heran .


'' Ya aku malu dong mas '' ucap Ana.


'' Kenapa malu . Mas puas melihatnya bahkan tau tanda lahirmu yang terselip '' bisik Rafli menggoda.


'' Bahkan selama koma , mas lah yang merawat dirimu . Mas tak mengizinkan perawat perempuan menyentuhmu '' imbuhnya tersenyum saat pipi Ana merona menahan malu mendengar perkataan nakal suaminya .


'' Mas , panggil bibi saja untuk membantuku '' ucap Ana memelas.


'' Dokter Stevani , tolong bantu istriku untuk membersihkan diri '' ucap Rafli dan siap dilaksanakan oleh Stevani .


'' Jangan dokter ... Bi Jum aja '' ucap Ana dengan senyum tak enak hati pada dokter Stevani yang begitu cantik jelita Meksi tak muda lagi . Rahang Rafli mengeras mengingat ibu nya Bunga masih disini namun demi apapun ia harus berusaha tenang dan menyipan perbuatan penuh dosa ini sendirian . Ia akan menyimpan rapat aib ini dan tak akan membiarkan siapapun tau terutama Ana dan anak-anaknya.


'' Bi Jum . Tolong bantu istriku '' ucap Rafli dan di sambut senyum ceria oleh BI Jum . Ana sebenarnya malu jika tubuh polosnya di lihat oleh Bi Jum nanti namun dari pada dokter Stevani yang sama sekali ia tak kenal maka membuatnya semakin malu saja.


Jangan lupa like dan komentarnya


Selamat membaca 😊

__ADS_1


__ADS_2