Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 312


__ADS_3

Lelaki muda itu tersenyum menatap Alex dan Wiliem, Alex dan Wiliem merasa aneh pada lelaki muda nan gagah itu, usianya masih tergolong muda namun dia bisa sangat di handal kan dia seorang yang sangat gesit, cerdik dan juga kuat.


“Jangan terus menatapku seperti itu, lebih baik kalian harus cepat! Mau ikut dengakku atau tidak?” tanyanya dengan keluar dari ruangan itu.


Alex dan Wiliem saling berpandangan dan memutuskan ikut keluar dari pada terus di sekap di tempat itu tanpa bisa melakukan apa pun. Karena mereka sama sekali tak mengetahui di mana tempat itu. Alex dan Wiliem begitu terkejut saat melihat banyak anak buah Zidan yang bergelimpangan tak sadarkan diri.


“Kau mau bawa kami kemana?” tanya Alex.


“Ketempat yang lebih baik dari pada di sini,” jawabnya.


“Siapa namamu? Sungguh tak adil, karena kami tak tahu namamu sedangkan kau tahu nama kami,” ucap Wiliem.


“Messi, itu namaku.”


Messi membawa mereka keluar, Alex dan Wiliem terkejut melihat di mana mereka berada. Sebuah tebing yang terdapat di pinggir laut. Wiliem melihat sekitar ternyata tempat itu berada di ujung tebing dengan di kelilingi pohon tinggi dan berakhir di laut.


“Tempat apa ini, kenapa begitu menyeramkan?” tanya Wiliem.


“Tempat ini dinamakan tebing kematian,” jawab Messi.


“Baiklah, mari kita pergi! Aku tak ingin berlama-lama di tempat in,” ucap Alex.


Messi menunjukan mobil Jeep yang terletakdi balik semak belukar, Alex dan Wiliem mengikutinya. Dengan cepat, Messi menancapkan gas mobilnya dan membawa pergi kedua tawanan itu. Alex dan Wiliem melihat setiap jalan yang mereka lalui. Messi focus dengan terus menyetir tanpa berbicara apa pun.


Perjalanan itu ternyata sangat memakan waktu yang lama, Alex dan Wiliem sampai tertidur karena semalam mereka memang tak bisa tidur dengan nyenyak. Messi tersenyum melihat keduanya.


“Apa mereka tertidur dengan lelapnya? Hah, mereka benar-benar percaya padaku dan tak merasa waspada sama sekali,” gumam Messi namun masih bisa di dengar oleh Alex.


“Hey, anak kecil. Kau mau membawa kami kemana? Kau bukan anak buah dari Zidan, lantas kau bekerja tuk siapa?” tanya Alex dengan mata tertutup.


“Aku kira tertidur, yang jelas aku menolongmu dan saudaramu itu. Aku tak bisa memberitahukan padamu siapa orangnya, yang aku tahu dia seorang Dokter,” jawab Messi.

__ADS_1


Alex membuka matanya dan beralih duduk di depan bersama dengan Messi, membiarkan Wiliem tertidur di belakang. Messi menatap Alex dengan senyumannya.


“Kau mengatakan seorang Dokter? Aku memiliki seorang Kakak yang menjadi Dokter,” ucap Alex.


“Jangan banyak bertanya padaku! Aku tak tahu, apakah itu orang sama atau tidak,” balas Messi.


“Berapa usiamu?” tanya Alex.


“Usiaku dua puluh tahun,” jawabnya singkat.


Messi melihat kea rah kaca spionnya dan tersenyum saat melihat ada sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang. Alex yang ikut melihat itu merasa cemas, apakah itu anak buah dari Zidan.


“Mereka ank buahku, bala bantuan datang di saat aku tak membutuhkannya,” ucap Messi.


“Bala bantuan? Kau ini, membuatku penasaran saja,” seru Alex.


Mobil itu melintasi banyak jalanan yang begitu sepi, tempat asing yang tak Alex kenal, bahkan penduduk di sana terlihat sangat aneh dengan penampilan mereka yang sangatlah kuno bahkan terlihat sederhana sekali. Sampai mobil itu kembali memasuki hutan dan masuk dalam gerban tinggi yang kokoh.


“Tempat ini kau bisa bebas melakukan apapun, hanya satu yang tak bisa kau lakukan yaitu keluar dari tempat ini,”  jawab Messi.


Alex menatap ke arah Messi dengan tatapan kesal karena dia merasa di tipu oleh Messi yang mengatakan menolong tapi kenyataannya tetap memenjarakan dirinya. Messi keluar dari dalam mobil dan terlihat tiga pemuda mendatanginya.


“Hey, Tuan apa kau tak ingin turun?” tanya Messi pada Alex.


Alex membangunkan Wiliem tuk bangun, setelah itu mereka turun bersama. Wiliem terlihat terkejut melihat sebuah Villa yang begitu besar dengan halaman luas bagaikan sebuah kastil. Alex menariknya tuk mengikuti Messi yang sudah berjalan masuk ke dalam Villa tersebut.


“Silakan masuk, kalian bisa langsung beristirahat! Aku akan pergi sebentar,” ucap Messi.


Alex dan Wiliem di antarkan tiga pemuda itu menuju kamar mereka masing-masing, Alex dan Wil melihat seluruh bangunan di villa tersebut. Tampaknya pemilik Villa ini merupakan anak orang berada, terlihat dari semua ornament yang terdapat di sana.


“Tuan, kamar anda kami pisah. Jika ada sesuatu yang kalian butuh kan , silakan panggil kami saja!” ucapnya.

__ADS_1


“Tunggu, sebenarnya kami dimana? Tempat ini, dan siapa kalian semua?” tanya Alex.


“Tidak ada kewenangan dari kami tuk menjawabnya, Tuan. Maafkan kami,”jawabnya seraya pergi begitu saja.


Di sebuah taman, terlihat Elina sedang berbaring dengan santainya, sedangkan Arga sedang asyik bermain dengan anjing kesayangannya. Messi melihat kedua saudaranya dari balik jendela besar yang dia lewati, langkahnya terhenti saat anjing dari Arga menggonggong dan berlari ke arahnya. Arga yang melihat anjingnya pergi pun begitu terkejut saat melihat sosok pemuda gagah yang seeding berdiri dengan menatap dirinya dengan senyuman manisnya.


“Me-Messi,” teriak Arga seraya berlari kearah Messi lalu memeluknya.


Arga begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan Messi setelah terpisah selama sepuluh tahun lamanya. Messi memeluk erat tubuh gagah sang adik lelakinya itu.


“Aku merindukanmu,” isak Agra menangis melepas rindu.


“Aku sangat merindukan dirimu, Ar,” balas Messi.


Arga melepas pelukannya dan menunjuk Elina yang sudah berdiri menatap kedua adiknya yang telah kembali berkumpul setelah perpisahan yang begitu lama. Messi melepas rangkulan dari Arga dan berlari memeluk Elina. Bahkan pemuda itu membuat tubuh Elina berputar di udara, Elina menangis tapi juga tersenyum melihat Messi yang baik-baik saja.


“El, aku merindukanmu,” ucap Messi seraya menurunkan tubuh sang kakak perempuannya.


“Tentu, aku pun begitu. Aku sudah sangat lama menantikanmu dan juga Arga, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan kalian,” balas Elina seraya mengusap air mata Messi.


Arga berhambur ikut memluk kedua kakaknya, mereka tertawa bersama. Melepaskan rindu yang telah mereka pendam selama beberapa tahun lamanya. Dan semua ini karena,Wildan yang sudah mempertemukan mereka kembali.


“Apakah itu keluarga dari wanita itu? Dua pemuda itu, terlihat menyayangi dia,” ucap Laudya yang melihatnya dari balik jendela kamarnya.


Laudya begitu iri melihat kedekatan Ellina dengan adik-adiknya, karena dia memang tak mempunyai saudara. Dia adalah anak tunggal, dulu dia adalah putri di keluarganya, namun semuanya berbeda setelah sang ibu meninggal saat usianya lima belas tahun. Sang ayah pergi meninggalkan dirinya demi menikahi teman wanitanya.


Wildan yang sedang berada di Jet pribadinya hanya tersenyum, dia tak sabar tuk segera mendarat  dan menapakkan kakinya pada di Negara Finlandia itu. Ya, Wildan pergi ke Filandia tuk bisa menemui sang keponakan dan Yuan. Kerinduan Wildan suah tak bisa dia tahan lagi, setelah semalam melihat mereka.


“Tunggu aku! Aku akan menemuimu dan segera membereskan tugasku tuk membantu pamanmu itu, Abi,” ucap Wildan.


**Bersambung…

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya**!!


__ADS_2