Takdir Cinta

Takdir Cinta
Pertemuan Berkahir Bencana


__ADS_3

" Aku menunggu jawabanmu Jim " ucap Ana saat melihat Jim baru saja keluar dari ruang kerja suaminya .


'' Ikut aku , jika kau tidak ingin mati di tembak suamiku " ucap Ana .


" Jadi seperti apa karakter bayi yang di kandung nona Ana ini "batin Jim menerka. Ia mengikuti langkah kaki Ana.


" Jadi apa jawabanmu " tanya Ana to the point.


" Nona tidak menerima penolakan bukan , jadi untuk apa bertanya " jawab Jimmy dingin.


" Jadi kapan " tanya Ana menatap Jimmy namun pandangan Jimmy lurus ke depan...


" Beri saya waktu tiga hari untuk mengatur janji temu itu " ucap Jimmy.


" Tapi ada syarat yang harus anda turuti " ucap Jimmy menatap wajah wanita yang mampu menjungkir balikkan kehidupan sahabat sekaligus atasannya itu.


" Apa " tanya Ana.


" Saya yang akan menentukan dimana tempat dan waktu anda bertemu dengan pria itu " ucap Jimmy dan diangguki Ana.


" Yang ke dua , Alexa serta Jen akan berada di sisi anda . Biarkan mereka menjadi pendengar yang baik dan mereka bertindak jika pria itu merespon di luar prediksi anda " imbuhnya serius , masalah hati siapa yang tau. Menghindari Ana pun percuma karena wanita ini tanpa bosan menunggunya intinya menunggu bantuannya .


" Biarkan beberapa bodyguard pria menjaga anda di luar ruangan . Saya tidak mau hal buruk terjadi . Sebisa mungkin saya akan menjaga tuan untuk tidak mengetahui anda bertemu dengannya " ucap Jimmy tegas.


" Baik , aku ikuti semua persyaratan ini " jawab Ana yakin.


" Jangan sering mencari masalah nona , meski tuan begitu mencintai anda namun jika anda melewati batasan maka saya tidak akan segan menghancurkannya termasuk anda di dalamnya " ucap Jimmy , ia serius dengan ancamannya .


" Terimakasih kau begitu peduli pada kebahagiaan suamiku " ucap Ana dan duduk di bangku taman .


.


.


.


Tiga hari telah berlalu dan Jimmy benar-benar menepati janjinya. Rafli di buat betapa sibuk jadwalnya hari ini , Jimmy sebenarnya enggan menuruti perintah Ana namun Ana sangat serius akan ancamannya .


'' Maafkan saya tuan dan saya harap feeling nona Ana tak meleset " batin Jimmy saat melihat Rafli yang cukup gelisah mulai dari pagi hari .


.


.


.


Sementara di sebuah restaurant yang mewah tepatanya bukan milik keluarga Wijaya , di sebuah ruangan VVIP terlihat seorang pria tampan menunggu wanita yang begitu di nantikan nya bertahun - tahun pria itu adalah Eric.


Dua hari sebelumnya Eric sempat terkejut seorang Jimmy datang dengan berani ke mansionnya seorang diri bukan ke kantornya .


Eric tak menyangka Jimmy memintanya bertemu dengan Ana di tempat dan waktu yang telah di tentukan.


" Jaga batasan anda tuan saat bertemu dengan nona Ana nanti , jika tidak saya akan membinasakan semua termasuk nona Ana di dalamnya " ucap Jimmy bagai sejarah yang selalu terkenang dalam otak Eric .


" **** " umpat Eric mengingat ancaman Jimmy. Eric tidak begitu berharap


terhadap Ana , ia tak akan membuat keluarganya celaka untuk kedua kalinya apalagi ancaman Jimmy melibatkan nyawa Ana didalamnya.

__ADS_1


" Lama sekali " gerutunya terlihat para pengawal suruhan Jimmy berada di sekitar penjuru restaurant yang telah di sewa Jimmy hari ini. Sempat Eric berfikir ini jebakan namun harapan bertemu Ana membuatnya berfikir positif.


" Semua jawaban tergantung denganmu Ana . Aku pun tidak tau rasa apa yang aku miliki nanti saat kita bertemu kembali " ucap Eric memandang coklat dan sebuah kotak beludru hitam yang di dalamnya terdapat dua cincin berlian bermata biru yang begitu indah , terukir nama Ana dan Eric di dalamnya .


Semua bodyguard menunduk hormat saat wanita cantik mengenakan dress berwarna mustard dan kaca mata hitam tersenyum kepada mereka.


" Aku suka sikap siagamu Jim " gumam Ana melihat isi manusia di dalamnya yang tak lain bodyguard milik Jimmy bahkan kokinya dan karyawannya pun anak buah Jimmy.


" Silahkan nona " ucap kepala bodyguard yang bertanggung jawab disana.


" Terimakasih " ucap lembut Ana


Ceklek


Suara pintu kaca yang terbuka sontak membuat Eric yang merasa bosan mengalihkan pandangannya kearah pintu.


Deg jantung Eric terasa terhenti saat melihat Ana beserta dua pengawalnya ikut masuk kedalam .


" Maaf , lama menunggu kak " sapa Ana sopan setelah sesaat mendudukan bokongnya .


" Tidak apa . Aku Baru saja lima menit disini. ucap Eric berdusta dan hanya di balas senyum oleh Ana . Sebenarnya Eric menunggu telah lama hampir saja jamuran.


Hening ..


Mereka terhanyut dalam pemikirannya sendiri.. Ana memikirkan ucapan yang tepat agar tak melukai hati Eric , kata-kata yang telah ia rangkai mendadak ragu untuk di ucapkan , dasar Ana banyak merasa tak enak hati . Sementara Eric meyakinkan rasa yang ada di hatinya yang sebenarnya rasa itu tetap sama cinta pada mantan kekasihnya yang di hadapannya kini yang merupakan cinta masa kecilnya juga. Sedangkan pria yang mengatur pertemuan ini menjadi gusar berharap secepatnya berlalu saat Rafli tiba-tiba mempersingkat meeting penting hari ini. Sejenak Jimmy mengambil berkas namun sekejap kemudian Rafli telah menghilang bersamaan dengan Zizi yang baru saja keluar dari pantry khusus untuk para petinggi perusahaan .


" Ana " ucap Eric menatap manik mata Ana dalam. Gugup itu yang Eric rasakan .


" Apa kabar mu kak . Lama tidak bertemu " tanya Ana sekedar basa-basi.


" Kabarku baik . Apa kabar mu. Apa kau bahagia " tanya Eric memastikan .


" Apa tidak ada harapan untuk kita " tanya Eric enggan untuk basa-basi.


" Maksud kakak apa " tanya Ana memastikan.


" Jangan berpura-pura polos Ana. Hatiku saat melihat mu saat ini masih sama. Masih dengan rasa yang sama " ucap Eric jujur terlihat dari tatapannya... Ana terhenyak atas pernyataan Eric , bagaimana bisa bahkan waktu cukup lama memisahkan mereka. Ana menggeleng tak percaya.


" Ck . Kau tau kan statusku saat ini kak. Aku istri orang dan aku kini pun tengah mengandung anak kami " ucap Ana , ucapan terakhir Ana membuat hati Eric begitu hancur. Ia merutuki kebodohan hatinya yang masih memilih Ana sebagai wanita yang ia cintai kembali.. Andai ada sekolah untuk hati dan perasan mungkin Eric akan mendaftar kesana.


" Aku akan menerima anak mu Ana . Aku akan merima kalian. Kembalilah padaku Ana " ucap Eric lirih dengan ide gilanya , seolah lidah tak bertulang merasa tanpa dosa .


" Kau sangat gila kak , bahkan kau... " ucapan Ana terhenti.


" Aku gila karena mu Ana . Rafli merebutmu dariku saat statusmu menjadi tunanganku. Kau tau , ia membuatku menjadi melupakanmu . Bahkan ku rasa ia terlibat atas kejadian Laurent hamil yang hanya bualan belaka jika Excel itu anakku " ucap Eric kini emosinya meluap melihat jelas tidak ada cinta dimata Ana untuknya sedari tadi ia memandang mata indah itu .


" Cukup. Berhenti menyalahkan orang lain disini. Ia hadir tepat disaat aku bimbang saat itu dan Rafli tidak sekotor itu , ia tidak ada urusan apapun dengan anakmu dan anak Laurent itu " sarkas Ana , ingin sekali ia menampar Eric yang berani memfitnah suaminya agar menjalar ke kepalanya supaya pria di hadapannya bisa sedikit encer otaknya dalam mengambil kesimpulan.


" Anakku kau bilang , itu anak Laurent dari kekasih gelapnya . Bahkan aku sangat yakin jika aku tak pernah menyentuhnya Ana. Tolong percaya padaku " ucap Eric kembali sedih.


" Aku percaya kak " ucap Ana mengalah toh itu bukan lagi urusannya.


" Tapi maaf jika kembali padamu aku tak bisa " ucap Ana datar ternyata ia salah menilai Eric. Ternyata masih egois seperti dulu , sebelas dua belas dengan Rafli.


" Aku janji Ana , kita akan hidup bahagia di luar sana. Menjadi wanita Rafli tidak lah aman untukmu serta keluarga mu . Kau akan selalu jadi incaran rival suamimu Ana . Aku juga janji akan menjaga dirimu serta anakmu Ana " ucap Eric lirih seraya menyentuh jemari Ana namun segera Ana menariknya. Eric tak sadar masuk ke duanianya sama bahayanya. Sementara seorang pria menahan amarahnya sedari tadi...


" Kau sungguh gila. Aku tidak mencintaimu . Dan aku sangat mencintai suamiku. Sadarlah kak , aku ingin kau bahagia juga . Mengertilah .. Ku mohon " ucap Ana berteriak sementara Alexa dan Jen terkesiap mendengar teriakan Ana sama halnya seperti yang lain beruntung dinding kaca itu tak bergoyang mendengarnya terutama Eric yang kini matanya di penuh embun yang akan mengalir deras seperti hujan.

__ADS_1


" Apa yang harus ku lakukan Ana . Kau fikir selama ini aku tak mencari kekasih di luaran sana. Bahkan aku sendiri tidak menyangka jika saat ini bertemu denganmu hatiku kembali memilihmu '' ucap Eric.


'' Apa yang harus ku lakukan Ana '' Isak Eric bersujud di kaki Ana saat wanita itu beranjak pergi .


'' Bangun kak , jangan jatuhkan harga dirimu di hadapanku. Kau pria , penuh rasa hormat . Tapi aku minta , hargai keputusanku. Hidupku telah bahagia bersama suami serta anakku . Cintaku hanya untuknya. Carilah wanita lain , belajarlah untuk mencintainya. Aku mohon demi aku dan mama Sasa '' ucap Ana berkaca-kaca. Sakit saat melihat Eric begitu terpuruk saat ini , seseorang yang selalu melindunginya saat mereka bermain dulu.


'' Baiklah . Demi kamu aku akan mencari kebahagiaanku '' ucap Eric semampu mungkin menerima keputusan Ana . Ia tak mau egois , sudah jelas Ana menutup pintu hatinya untuk pria lain selain suaminya.


'' Terimalah ini '' imbuhnya memberi Ana sekotak coklat merek ternama dari Italia . Sementara kotak kecil yang berisi cincin ia simpan dalam kantong celananya karena mustahil Ana menerimanya . Ana yang melihat itupun pura-pura tak melihat . Eric juga enggan menanyakan usia perut Ana yang membucit itu , karena itu akan membuat hatinya semakin hancur . Sudah cukup semua ini. Kini saatnya ia menata hidupnya yang perasaanya luluh lantah di hancurkan wanita di hadapannya. Dendam kepada Ana , tentu saja tidak karena ia memang mencintai wanita ini itu sudah dipastikan berharap kedepannya ia mendapatkan pengganti yang lebih baik.


'' Bolehkah aku untuk memelukmu terakhir kali ini saja '' pinta Eric penuh permohonan.


'' Anggap ini sebagai terakhir kali kita bertemu '' imbuhnya karena Ana tak bergeming. Ana mengangguk dan Eric segera memeluknya . Merasakan harum tubuh Ana , punggung Eric bergetar menahan tangis serta kerinduan yang begitu berat .


Sementara para bodyguard dibuat kewalahan menghalangi Rafli yang sedari tadi mengamuk bahkan isi restaurant itu terlihat hancur. Sementara yang di dalam tak melihat apapun karena mereka begitu fokus dan Rafli berada di jarak yang jauh. Antara marah dan senang yang Rafli rasakan saat melihat situasi didalam sana melalui layar televisi yang sengaja dipersiapkan oleh Jimmy agar Rafli sadar jika Eric bukan sainganya , senang karena Ana menolak mentah-mentah Eric dan Ana begitu mencintainya . Marah karena Eric mengharapkan Ana kembali padanya , bahkan Eric juga ingin mengambil anaknya. Ana hanya miliknya serta seluruh yang bersangkutan dengannya. Melihat Eric yang memeluk Ana dan Ana menyetujuinya , emosi Rafli meletup-letup seperti gunung Merapi yang siap memuntahkan lahar panasnya . Ia siap menyemburkannya kepada Eric.


'' Halangi aku sekali lagi , bukan hanya kalian yang akan menyesal tapi seluruh keluarga kalian '' ucap Rafli serius mengamati segerombolan manusia yang menghentikan langkahnya . Tentu membuat mereka berhenti.


'' Tapi jika kau tak bahagia bersama Rafli atau Rafli menyakitimu . Aku siap menerima mu Ana dengan ikhlas '' ucap Eric terakhir berhasil membuat emosi Rafli meledak.


Brakk


Ana dan tiga orang lainnya begitu terkejut akan kedatangan Rafli yang seperti bison Amerika mengamuk.


'' Mas Rafli '' lirih Ana , wajahnya pun pucat pasi saat di tatap Rafli tajam.


'' Beraninya kau berharap cinta dari istriku dan membujuknya menerimamu '' ucap Rafli dan bugh... Pukulan keras Eric dapatkan .


'' Mas '' teriak Ana .


'' Apa , kau ingin hidup dengannya '' ucap Rafli emosi tanpa menatap Ana , Rafli fokus kepada Eric yang kini dalam cengkeramannya. Eric tak membalas , ia ingin melihat setangguh mana Rafli apakah mampu membuatnya pingsan seperti dulu.


Bugghh , bunghh , bugh... '' Mati kau '' umpat Rafli merasa percuma karena Eric sengaja tak membalasnya . Namun emosinya meluap kembali saat mengingat kematian Baco , meski bukan Eric yang mengeksekusinya .


'' Akan ku balas kematian Baco kepadamu Eric '' teriak Rafli garang dan segera menghajar Eric kembali tak ingin mati konyol membuat Eric membalas pukulan Rafli . Tangisan Ana tak di pedulikan oleh Rafli dan Eric saat ini membuat Alexa dan Jen membawa Ana keluar , kedua bodyguard super itu sengaja berdiam diri karena tuannya baik-baik saja. Eric yang telat meladeni Rafli sejak tadi , membuat tubuhnya melemah.


Jimmy sendiri baru tiba di restaurant segera menuju dimana Rafli berada , apalagi anak buahnya mengatakan Rafli seperti akan membunuh orang membuat Jimmy segera masuk dimana Rafli dan Eric berada. Jimmy tak peduli melihat Ana yang kini gemetar ketakutan sedang di tenangkan Alexa .


'' Rafli jangan gila '' terpekik Jimmy saat tubuh Eric menerobos kaca restaurant dimana saat ini tubuh Eric yang berlumur darah bergelantungan dan hanya dengan tangannya yang menahan agar tubuhnya tak terjun bebas kebawah karena bisa saja membuatnya mati paling kecil patah kaki .


'' Lepaskan aku Jimmy '' teriak Rafli marah karena kedatangan Jim membuat ia gagal menghabisi nyawa Eric.


'' Kau akan menjadi seorang pembunuh . Biar aku yang akan menanganinya '' ucap Jimmy meyakinkan sementara Eric berusaha untuk bertahan dengan sisa tenaga nya. Jika Eric melawan sedari tadi yang akan berada diposisinya dipastikan Rafli .


'' Ingat . Ana terguncang di luar sana. Istrimu sedang hamil Rafli '' kalimat Jimmy menyadarkan Rafli dan membuat Rafli mencari Ana , untuk membuat perhitungan dengannya.


'' Kau punya urusan denganku Jim setelah ini. Temui aku nanti malam '' imbuhnya memperlihatkan kekecewaan dan kebencian kepada Jimmy . Ia yakin jika Jimmy terlibat dalam pertemuan ini.


Jimmy segera menolong Eric agar pria itu tak mati saat ini. Tanpa peduli keadaan lemah Eric . Jimmy dan Eric terlibat pembicaraan begitu penting , dan hanya di angguki Eric sebagai tanda setuju. Jimmy pergi meninggalkan Eric yang terkapar begitu saja . Sedangkan Jen mengurus semua kerugian yang dihancurkan oleh majikannya itu .


'' Ikut aku '' ucap Rafli membawa tangan Ana kasar menuju mobilnya bahkan Alexa yang menghalangi Rafli mendapatkan pukulan cukup parah pada bagian tengkuknya . Ingin Alexa membalasnya namun ia berharap tuannya itu tidak melampiaskan amarahnya kepada Ana.


Alexa segera mengejar mobil Rafli yang melaju kencang dan Jimmy segera mencari Viona karena ia yakin Viona yang menggagalkan rencananya hingga Rafli datang sendiri dan mengamuk bagaikan bison lepas. Seharusnya tak seperti itu rencana Jimmy.


'' Dasar wanita keparat '' umpat Jimmy segera menuju perusahaan keluarga Viona . ia akan membuat perhitungan disana . Jimmy bukan hanya jagoan di kandang saja namun ia juga siap di adu di kandang lawan.


'' Jangan lupa like dan komentar ya "

__ADS_1


Selamat membaca dan semoga sehat selalu.


Maaf siang baru Up.


__ADS_2