Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 322


__ADS_3

Malam itu, setelah Rio mengembalikan ponselnya pada Ara. Ken kembali menghubunginya dan itu membuat Ara merasa heran, ada apa lagi sang suami menelpon kembali.


“Ken, kenapa dia kembali menelponku?” tanya Ara seraya mengangkat panggilan dari Ken.


Terlihat wajah Ken yang merasa cemas, Ara yang melihat itu semakin merasa heran pada sang suami. Ken menatap lekat wajah sang istri, sedangkan Ara semakin bingung.


“Ada apa, bukannya kau baru saja menelponku?” tanya Ara.


“Kemana kedua anakmu? Ahh ... dimana, Rino?” tanya Ken balik.


“Rino, sepertinya dia sudah tidur. Memangnya, ada apa kau mencarinya,” jawab Ara.


“Dia sepertinya salah paham padaku, apa Rio dan Rino melihat fotoku dengan Wendy?” tanya Ken.


“Emm, ya mereka sempat melihat fotomu di ponselku. Setelah itu, mereka pergi dan membawa ponselku,” jawab Ara.


Ara kembali mengingat akan kejadian dimana Rio dan Rino terlihat marah setelah mereka melihat ponselnya. Ara tersenyum menatap Ken, membuat sang suami merasa heran dengan sikap Ara.


“Saat aku melihat foto yang kau kirimkan, membuatku menangis karena melihat Zee dan Vanya bisa bersama kembali dengan suami mereka. Mungkin, Rio dan Rino salah paham saat di situ ada fotomu dengan wanita lain,” ucap Ara merasa bersalah pada Ken.


Ken tersenyum melihat wajah Ara yang menurutnya sangat menggemaskan jika merasa bersalah. Ara tersenyum menatap wajah kekasih dalam hidupnya itu. Lelaki hebat setelah sang Ayah, lelaki pertama dan terakhir dalam hidup Ara.


“Aku merindukanmu,” ucap Ken dengan mata sendu.


“Aku juga merindukanmu,” balas Ara seraya tersenyum.


Beberapa menit, dua insan itu saling pandang dengan segala rasa yang mereka rasakan. Melepas rasa rindu hanya dengan melihat wajah masing-masing dengan sebuah senyuman.


“Hemm, baiklah. Aku akan mengatakan sesuatu pada anak-anakmu, Rino akan terus salah paham padamu jika bukan aku yang memberitahukannya,” ucap Ara.


“Terimakasih sayang, selamat malam. Love you Zia,” ucap Ken.


“Love you, Zio.”


Ken memutuskan sambungan video call nya dengan Ara. Seperti ini lah rasanya jika Ken berjauhan dengan Ara, dia akan akan terus merindukan sang istri. Usia mereka memang sudah tak muda lagi, namun rasa yang di rasakan oleh keduanya bak anak muda berusia dua puluh tahun.


Ara beranjak ke kamar Rino, tapi anaknya itu tak terlihat di sana, Ara beralih ke kamar Rio tapi tak juga terlihat Rino membuat Ara semakin cemas dengan anak keduanya itu. Saat melewati ruangan bioskop, terdengar suara, Ara membuka pintu itu dan terlihat Rino yang sedang duduk sendirian di sana.


“Anak ini, membuatku khawatir saja,” batin Ara seraya masuk dengan perlahan.


Rino yang serius dengan filmnya membuatnya tak sadar jika Ara sudah duduk di sampingnya, memperhatikan raut wajah Rino yang terlihat kesal, padahal filmnya tak sedang beradegan marah. Ara memegang tangan Rino


dengan perlahan lalu menggenggamnya, membuat Rino menoleh ke samooing dan melihat Ara tersenyum pada dirinya.


“Bunda, sedang apa di sini?” tanya Rino seraya membalikkan tangannya dan malah memegang erat tangan sang bunda.


“Kau belum tidur, ini sudah sangat larut,” jawab Ara.


Rino memalingkan wajahnya sembari menghembuskan napas panjangnya lalu tersenyum melihat ke arah kembali, membuat Ara semakin tak mengerti akan anak keduanya ini.

__ADS_1


“Aku tidak mengantuk, film nya juga sangat seru. Jadi, aku menontonnya,” ucap Rino.


“Rino apakah kau marah pada Ayahmu?” tanya Ara dengan nada lembut.


“Apa Tuan Kenzio itu, mengadu padamu? Sungguh mengesalkan,” jawab Rino terlihat emosi.


“Nak, dengarkan Bunda. Kau sudah salah paham padanya, wanita yang berfoto dengan Ken adalah temanku. Aku tahu dia, Wendy bahkan menjadi temanku saat dulu aku menyembuhkan Zyan,” ucap Ara.


“Jangan terus membelanya! Kau sampai menangis saat melihat foto itu, Bunda.”


Ara menggelengkan kepalanya seraya menangkup wajah Rino agar mau menatapnya, Ara tak menyangka jika sifat dari Rino ini terlihat sangat mirip dengan Alfa. Ara tersenyum mengingat mendiang adiknya itu, Rino menatap aneh sang Bunda karena malah tersenyum.


“Kenapa anakku tak ada yang bersifat seperti aku atau Ken?” tanya Ara menatap Rino.


Rino menyentuh tangan Ara  dan menggenggamnya erat, bahkan Rino menciumi telapak tangan Ara. Wanita itu hanya mengusap kepala sang anak.


“Jangan marah lagi, pada Ayahmu! Tuan Kenzio itu akan stress jika mengetahui kau masih padanya,” ucap Ara membujuk Rino tuk mau berbicara pada sang ayah dan tak lagi marah padanya.


“Baiklah, aku akan menelponnya pagi nanti,” balas Rino yang masih kesal pada Ken.


Alex dan Zee melihat kedai-kedai di sana, mereka begitu senang karena bisa menghabiskan malam bersama di Milan. Wiliem dan Vanya merasa sedang berbulan madu, karena memang semenjak mereka menikah tak ada honeymoon sama sekali.


Arga membawa Laudya melihat toko antic di sana, mereka memilih banyak barang yang cantik dan unik tuk di bawa pulang. Elina yang suka berkeliling sendiri pun merasa puas tuk terus memanjakan matanya dengan semua pernak pernik berbentuk burung.


Wildan yang berjalan dengan Wendy dan Ken pun tak kalah hebohnya, mereka seperti bernostalgia kembali di mana saat itu mereka sedang menjalani masa kuliah.


“Ya, aku suka. Hanya saja kenapa warnanya begitu mencolok, kau cari warna yang lebih soft saja sayang!” pinta Wiliem.


Memang warnanya begitu mencolok dan membuat Vanya tersenyum karena dia baru menyadarinya. Vanya kembali mencari barang bagus lainnya dengan warna yang lebih soft. Wil memperhatikan Laudya yang terlihat senang dengan Arga yang terus membuatnya tersenyum dan tertawa.


“Semoga setelah ini, hidupmu lebih baik lagi, Lau. Kau juga pantas di kasihi dan di cintai oleh lelaki baik tuk melindungimu,” batin Wiliem berharap jika mantan kekasihnya itu bisa juga bahagia.


Vanya yang keasyikan memilih baju pun tak mengetahui jika ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya, bahkan dia terus mengikuti Vanya.Terlihat senyuman di wajahnya saat melihat Vanya.


“Gadis muda itu terlihat senang tanpa dia sadari jika sudah berada jauh dari suaminya,”gumamnya.


“Kenapa baju-baju ini sangat cantik, aku akan membelinya untuk Alya dan Jiso,” ucap Vanya membawa beberapa potong baju dengan warna yang soft.


Vanya tak menyadari jika baju yang dia pilih sudah banyak dan membuat tangannya merasa keram karena terlalu berat. Vanya membalikkan tubuhnya ingin meminta Wiliem tuk membawakan baju-baju tersebut pun terkejut karena tak melihat Wiliem di belakangnya.


“Ahh, kemana Wiliem? Aduh, tanganku sudah kebas.” Anya hampir saja menjatuhkan semua baju itu jika tak ada Wildan yang dengan sigap mengambil semua baju itu dari tangan Vanya.


“Ahh, terimakasih,Tuan.” Vanya menatap lengan kekar itu yang berada di depannya.


“ Kau tidak apa-apa, Anya?” tanya lelaki itu.


Vanya mendongakkan kepalanya karena merasa begitu familiar dengan suara itu pun terkejut. Ternyata, Wildan yang telah menolongnya, Vanya tersenyum senang melihat Wildan.


“Kak, kau di sini? Ke mana Kak Ken dan Kak Wendy?” tanya Vanya seraya melihat ke belakang Wildan mencari keberadaan mereka.

__ADS_1


“Mereka sudah berada di sebuah restoran, kau kenapa sendirian? Ke mana suamimu, jangan terlalu jauh. Kau gadis muda yang cantik nanti ada lelaki jahat yang menculikmu,” jawab Wildan dengan sedikit bergurau.


Vanya tertawa dengan perkataan dari Wildan yang menurutnya lucunya. Tak cocok dengan penampilannya atau pun wajahnya yang terlihat cool. Wildan semakin terpaku melihat tawa Vanya yang sangat lucu itu.


“Apa ada yang lucu, kenapa kau tertawa?” tanya Vanya.


“Emm, maafkan aku. Kak! Aku begitu tak menyangka kau bisa bergurau juga, karena dengan penampilanmu yang terlihat keren ini sangatlah tak cocok,” jawab Vanya.


Wildan tersenyum dengan jawaban Vanya yang sangat jujur itu, bahkan Vanya sampai memegang lengan Ken. Karena tawa Vanya tak berhenti-henti dan membuat gadis itu lemas. Wildan yang merasakan sentuhan dari Vanya membuat jantungnya berdetak sangat cepat, bahkan dirinya sampai bisa mendengar suara detak jantung sendiri.


“Sudah berhenti tertawa, kau sampai mau terjatuh. Lebih baik kita bayar semua belanjaanmu, setelah itu kita menyusul yang lainnya ke restoran!” pinta Wildan.


Vanya pun mengangguk ia, Wildan membayar semua belanjaan itu. Membuat Vanya merasa tak enak hati, namun Wildan tak mempermasalahkan itu. Wildan membawakan lima kandung paper bag yang besar milik Vanya.


“Kak, berikan satu paper bag itu padaku! Kau terlihat berat


dan kesusahn membawanya,” pinta Vanya.


“Sudah tidak apa, kau berjalan saja dengan benar! Jangan sampai kau terjatuh,” ledek Wildan.


Vanya cemberut mendnegar ledekan dari Wildan, tapi memang benar di sana itu sangat lah ramai dan begitu padat. Bahkan tuk berjalan saja mereka saling berhimpitan, Wildan merasa Vanya begitu kesusahan dengan terus merapatkan tangannya pada tubuhnya agar tak terkena orang lain.


“Apa memang seperti ini jika sudah semakin malam?” tanya Vanya.


“Ya, ini akan semakin ramai jika sudah malam,” jawab Wildan.


Tak sengaja terlihat banyak pengunjung yang saling dorong karena terlihat ada seorang copet yang berhasil mengambil milik seorang wanita di depan ujung jalan dari copet itu berlari ke arah Vanya Dan Wildan.


Pengunjung itu tanpa sengaja menabrak Vanya, sampai wanita muda itu terhuyung ke belakang dan hampir jatuh, jika tak ada Wildan d belakangnya yang dengan sigap memeluk tubuh Vanya.


“Kau tak apa, Anh?” tanya Wildan merasa cemas.


“Ya, aku tidak apa-apa. Terimakasih, Kak,” jawab Vanya.


Wildan memeluk tubuh Vanya denga erat dan mencoba membawanya ke samping dekat dengan sebuah tokoh di sana. Vanya melihat wajah Wildan yang terlihat begitu khawatir padanya, membuat Vanya tersenyum seakan di lindung oleh seorang kakak.


Sampai akhirnya Wildan bisa membawa mereka keluar dari kerumunan orang dengan napas tersengal, Wildan melihat wajah Vanya dan tubuhnya memeriksa apakah gadis itu terluka.


“Apa kau terluka, Anh? Atau ada yang tersa sakit,” tanya Wildan.


Vanya melihat tangan dan kakinya tak terlihat masih mulus dan baik-baik saja tanpa lecet sedikit pun. Yang ada, lengan Wildan yang terlihat sedikit tergores, terlihat berdarah dan itu membuat Vanya terkejut.


“Kau menanyakan aku terluka atau tidak, tapi coba kau lihat tanganmu yang terluka Kak,” ucap Vanya seraya menyentuh lengan Wildan dan menunjukkannya padanya.


“Ahh, sudah tidak papa. Ini bisa di obati sampai di rumah,” jawab Wildan.


Saat Wildan dan Vanya sedang berbicara dengan saling berhadapan tak sengaja ada dua wanita dan lelaki yang terlihat mabuk menabrak tubuh Wildan sampai membuat Vanya terdorong menabrak dinding. Akan tetapi bukan itu yang menjadi masalah, karena sekarang posisi mereka saling menempel tanpa jarak. Dan yang lebih parahnya, Vanya dan Wildan saling berciuman tanpa sengaja dan itu membuat mereka sangat syok.


Bersambung🍂🍂🍂

__ADS_1


__ADS_2