Takdir Cinta

Takdir Cinta
Ana melahirkan.


__ADS_3

Kini Ana tengah membagikan oleh-oleh yang ia bawa dari Seoul untuk sahabatnya sementara Rafli dihadapkan oleh tumpukan kertas yang membutuhkan tanda tangannya . Betapa enaknya CEO ini , tinggal tanda tangan yang mengerjakan semuanya Dewi dan juga Jimmy . Apa selamanya Jimmy dan Dewi tak akan menikah , tentu saja tidak. Namun otak Rafli cukup pintar di atas rata-rata orang kepercayaannya namun kini dirinya begitu di mabuk cinta oleh istrinya.


Kembali ke Ana dan para sahabatnya.


Mereka begitu bahagia saat menerima makanan , minuman serta pakaian tradisional Korea hanbok. Tidak lama Ayu menyodorkan amplop rumah sakit ke hadapan saudara .


'' Apa ini " tanya Ines . Ia sendiri pusing memikirkan permintaan neneknya agar segera menikah dengan Darwin sementara dirinya masih meragukan Darwin.


" Buka aja. Gitu aja repot " ujar Ana yang kini membuatnya mendelik kesal.


" Kau hamil "pekik Ana begitu bahagia dan membuat para sahabatnya turut bahagia juga .


" Iya dong , gak mungkin Nyonya Rafli Wijaya aja yang bisa hamil '' ucap Ayu terkekeh.


'' Bini sultan mah bebas , mau hamil anak berapa aja . Lihat anaknya Dewa begitu banyak yang mengasuhnya '' ucap Tiara.


'' Kau fikir Rafli yang melahirkannya. Aku cukup tiga aja '' sewot Ana.


'' Kapan kau akan menyusul '' Tanya Ana pada Tiara..


'' Tanyakan pada suami mu '' ucap Tiara .


'' Apa maksudnya '' tanya Ana bingung bersama yang lainnya .


'' Suamimu melarang Nicko menikahiku sebelum baby kalian lahir '' jawab Tiara jujur dan menjelaskan suaminya. Para sahabat Ana yang mendengar seakan tak percaya .


'' Kelewatan banget mas Rafli '' ucap Ana .


'' Ya ampun Tiara , lo juga bakal enak . Nikah di danain sama suami Ana. Dapat rumah mewah dan mobil juga kan '' solor Intan membuka alasan Tiara yang setuju juga menundanya meski saudaranya itu telah kebelet .


'' Sialan '' ucap Ana menimpuk Tiara dengan bantal.


Kini kandungan Ana tinggal menghitung hari membuat Rafli membawa pekerjaannya di rumah saat usia kandungan Ana memasuki sembilan bulan.


Ana yang tengah menyuapi bocah manjanya ini tiba-tiba perutnya merasa mulas namun tiba-tiba menghilang .


'' Bunda kenapa '' tanya Dewa memperhatikan bundanya.


'' Tidak apa sayang . Ayo makan lagi '' ucap Ana tersenyum.


Tidak berapa kemudian Ana mengalami sakit yang tak tertahan bersamaan dengan air ketuban yang mengalir di sela kakinya.


'' Bunda '' jerit Dewa.


'' Panggil ayahmu . Cepat nak '' lirih Ana dan Dewa dengan segera memanggil sang ayah yang sedang di ruang kerja.


'' Bibi , bunda sakit dikamar '' ujar Dewa saat bertemu pelayan dan pelayan segera melihat kondisi nona rumah tersebut .


ceklek

__ADS_1


'' Ayah . Bunda '' ucap Dewa dengan tubuh bergetar dan nafas hampir putus karena berlari.


'' Kenapa '' tanya Rafli.


'' Bunda pipis celana hu....hu.... '' ucap Dewa .


'' Pelan-pelan bicaranya , ambil nafas dulu nak '' ucap Rafli .


'' Tuan , nona Ana mau melahirkan '' teriak Nur membuat Rafli terlonjak kaget . Jika bukan karena Ana mau melahirkan , Nur tak akan berani berteriak.


Rafli segera menggunakan Lift untuk turun kebawah bersama Dewa.


'' Ana ayo '' ucap Rafli sigap segera menggendong Ana ala bridal style.


'' Sakit mas '' lirih Ana.


'' Tahan sayang '' ucap Rafli yang kini matanya berkaca-kaca , apalagi sang anak merengek ingin ikut membuat ia pusing dan menjadi panik . Susi telah menyiapkan barang-barang Ana dan Nonik telah menelepon keluarga Wijaya serta Gunawan .


Baim dengan sigap telah menyiapkan mobil.


Hingga akhirnya Rafli membiarkan untuk Dewa ikut dan Susi pun harus ikut. Membiarkan yang lain dirumah dan berdoa...


'' Mas '' erang Ana menahan sakit


'' Cepat Baim '' bentak Rafli , ia tak tega melihat istrinya kesakitan . Mata yang berkaca-kaca sedari tadi pun menetes. Dewa sendiri terus membacakan Doa yang ia ketahui demi keselamatan bunda dan adiknya. Dewa belajar mengaji dan Sholat melalui kakeknya , Gunawan dan belajar bela diri dengan para bodyguardnya Ana serta Jimmy dan hal itu di luar sepengetahuan Rafli .


Rafli mengusap lembut perut Ana berharap meredakan sakit Ana.


Rumah Sakit.


Dokter Puspa siap menyambut nyonya mudanya karena ia merupakan dokter Pribadi Ana , sedangkan Rani serta dokter Nety telah menunggu di ruang operasi , Ana kembali menjalani operasi. Terlihat para keluarga yang tengah menunggu Ana menuju ruang operasi , keadaan Rafli terlihat begitu kacau..


" Maaf tuan , anda di luar saja " ucap Wiwit gugup.


" Beraninya kau , istriku ingin melahirkan , Aku suaminya ingin melihat dan memastikannya mendapatkan yang terbaik " ucap Rafli marah karena tertahan.


" Tapi tu.... " ucap Wiwit.


" Kau di pecat " teriak Rafli marah dan meringsek masuk , sementara wajah Wiwit memucat.


" Aiishh lepas pa " ucap Rafli saat dirinya di tarik keluar oleh Abdi dan Gunawan , dengan segera Wiwit mengunci pintu ruang operasi.


" Pa istriku " ucap Rafli menahan amarahnya kepada Abdi...


" Papa tau , tapi nanti kau akan mengacaukan operasi di dalam karena ocehanmu yang selalu melarang dan bertanya aneh-aneh " ucap Abdi , karena ia tau sifat anaknya , bukannya memperlancar operasi namun menghambatnya .


Rafli mengusap wajahnya frustasi , mondar mandir tiada henti menunggu operasi sedari tadi sembari mengigit kuku jaring dan sesekali mengusap air mata yang menetes tanpa izinnya .


" Duduklah kakak ipar , mataku sakit " seloroh Rahma..

__ADS_1


" Kau disini , bukannya kau harus melakukan persiapan fashion. Apa rancanganmu telah siap " ucap Rafli yang baru menyadari Rahma padahal sudah satu jam lebih Rahma disana.


" Kan aku adiknya mbak Ana " jawab Rahma.


" Tapi Ana istriku yang melahirkan " ucap Rafli .


" Ah sudahlah " imbuhnya pusing sendiri .


" Jangan di ladeni kakak iparmu " bisik Gunawan karena ingin mendengar semua ya baik-baik saja bukan adu debat Rafli dan Rahma .


Suara tangisan bayi terdengar hingga keluar membuat kebahagian tersendiri bagi kedua keluarga terutama Rafli dan Dewa terlihat pria beda generasi itu berpelukan.


Ceklek


Dokter Netty keluar dengan wajah yang tersenyum bahagia sempat terjadi reaksi terkejut semua orang di dalam ruang operasi Ana saat melihat bayi laki-laki itu lahir .


Rafli segera menerobos masuk membuat dokter Netty terhuyung kebelakang , sementara Abdi menatap geram sang putra yang kini di pastikan di sisi Ana.


Dokter Netty hanya tersenyum geli melihat kelakuan tuan muda yang kini mempunyai anak dua itu .


'' Semua baik-baik saja tuan dan Nyonya . Semua berjalan lancar " ucap dokter Netty tersenyum hangat.


'' Dewa punya adik , hore '' teriak Dewa begitu bahagia.


Sementara Drama haru terjadi juga di dalam ruang operasi Ana . Ana yang melahirkan dan melakukan operasi namun Rafli yang menangis ketakutan.


'' Hei. Hentikan tangisanmu jelek " ucap Rani menatap Rafli jijik..


'' Kau sibuk saja " seloroh Rafli tak terima di bilang jelek dan ia lupa jika itu kakak perempuannya .


'' Apa ada yang sakit sayang " tanya Rafli.


'' Tidak mas , semua baik-baik saja " jawab Ana menghapus air mata Rafli .


'' Terima kasih , karena telah memberikan mas kebahagian tiada akhir " ucapnya mencium bibir Ana tanpa malu kepada empat pasang mata yang melihat.


" Aauuuwww " jerit Rafli karena godek halusnya di tarik oleh Rani .


'' Adzan kan dulu anakmu " seloroh Rafli .


'' Iya '' ucap Rafli .


Deg


Deg


'' Lo , kok gini " ucap Rafli bingung .


'' Tidak .... tidak mungkin. Ini bukan anakku " ucap Rafli protes.

__ADS_1


'' Ana ..... " ucap Rafli dingin .


Jangan lupa like dan komentarnya ya


__ADS_2