
Pagi DI Villa itu semakin ramai saja dan menjadi sangat sibuk, terlihat para pelayan dibuat diam mematung oleh seorang gadis muda yang sedang memasak dengan sangat hebohnya. Siapa lagi kalau bukan Vanya yang sangat bersemangat memasak makanan tuk sarapan.
“Selamat pagi semuanya,” sapa Zee seraya membungkuk pada pelayan disana.
“Selamat pagi, Nona,” sahut mereka bersamaan.
Zee melihat ke arah dapur dan terlihat Vanya yang sedang bergulat dengan semua bahn makanan, Zee menghampirinya dan melihat masakan apa saja yang dia masak. Tanpa meminta ijin, Zee mencicipinya dan rasanya luar biasa begitu nikmat.
“Rasanya lezat, semua orang akan menyukai masakanmu, Anh.”
Vanya yang sedang memasak tak mengetahui jika ada Zee yang sedang mencicipi makanannya, Vanya tersenyum dengan pujian yang Zee lontarkan padanya. Tak lama, terlihat Elina datang dan melihat ke semua pelayan di sana dengan tatapan tajam.
“Kenapa kalian tidak memasak?” tanya Elina.
“Permisi, Nona El. Mereka tak perlu memasak, karena Vanya sudah menyelesaikan tugas mereka,” jawab Zee.
Elina memasuki dapur dan melihat sudah banyak makanan di atas meja bundar panjang itu, tercium aroma makanan itu yang sangat harum. Membuat
semua cacing yang berada di dalam perutnya berteriak meinta segera di isi, apalagi air liur di dalam mulutnya sudah sangat penuh.
“Apa semua pelayan itu memintamu memasak, Nona Vanya?” tanya Elina.
“Tidak, tolong jangan salahkan mereka! Aku yang memaksa tuk memasak, jadi aku membiarkan mereka saja tuk diam,” jawab Vanya sembari menatap semua pelayan itu dengan senyuman.
“Tapi kau itu tamu, sudah sepantasnya kami melayani kalian,” ucap Elina.
“No, kalian tak perlu memperlakukan kami seperti itu. Kami juga bisa melakukannya sendiri, jadi biarkan kami membantu di sini,” balas Zee.
“Emm, Nona El. Apakah aku bisa meminta tolong padamu?” tanya Vanya.
“Apa itu? Silakan bicaralah!” jawab Elina.
“Aku membutuhkan buah apel dan anggur, aku tak bisa
menemukannya di lemari pendingin,” ucap Elina.
“Tentu, aku akan membawakan semua buauh yang kau butuhkan,” balas Elina.
Pelayan pun mengerti dan langsung berlalu tanpa Elina
memintanya, Elina memberitahukan semua orang tuk berkumpul di ruang makan. Semuanya terlihat sangat terkejut dengan semua masakan yanyg berada di depan mereka, aromanya benar-benar menggugah selera. Wiliem tersenyum karena sudah mengetahui makanan buatan siapa itu, karena aromanya yang khas membuat Wiliem tahu.
“Sepertinya sangat lezat, apakah kita bisa memakannya sekarang juga?” tanya Wildan.
“Tentu, makanlah! Semua ini tuk kalian semua, aku sengaja memasak sejak pagi buta,” jawab Vanya dengan tesenyum.
__ADS_1
“Jadi semua ini kau yang memasak, Nona Vanya?” tanya Wildan.
“Panggil aku, Vanya! Tidak dengan sebutan Nona, aku tak suka itu paman,” jawab Vanya dnegan cemberut.
Wildan terkejut dengan tingkah Vanya yang menggemaskan menurutnya, semuanya makan dengan sanagt lahap dan terus memuji masakan dari
Vanya. Sedangkan, Wildan tersenyum melihat Vanya yang terlihat senang karena masakannya bisa di makan oleh semuanya.
“Nona, ini buah yang kau mau,” ucap pelayan.
“Ahh, terimakasih bibi,” balas Vanya seraya mengambil keranjang buah itu.
Setelah itu, Vanya kembali ke dalam dapur dan memberitahukan jika dia menyisakan makanan tuk para pelayan. Tak percaya dengan ucapan Vanya
pun, salah satu pelayan membuka tudung saji yang terletak di meja dapur. Terlihat makanan yang sama dengan apa yang tersaji di meja utama.
“Wah, Nona Vanya ini makanan yang terlezat. Aku sangat menyukai makanan ini,” ucap Messi memuji Vanya dengan mengacungkan jempolnya.
“Makanlah yang banyak! Aku senang jika kau menyukainya,” balas Vanya.
Mata Vanya mencari seseorang yang tak terlihat di sana,matanya terus mencari keberadannya. Wildan yang terus memperhatikan Vanya pun mengikuti apa pun gerak gerik Vanya.
“Kemana dia? Kenapa tak makan bersama, apa makanannya berbeda dengan apa yang sekarang kita makan?” tanya Vanya begitu saja.
“Kau mencari Laudya, Nona? Dia tak ikut bergabung, karena sudah makan di kamarnya,” jawab Arga.
Terlihat, Laudya sedang menatap keluar jendela dengan memegang gelas yang berisi minuman hangat. Entah itu coklat atau teh, Vanya tak tahu itu. Vanya melihat kakinya yang terus di tutup selimut tebal.
“Nona Laudya,” panggil Vanya lirih yang berdiri di depan kamarnya.
Laudya menengok ke arah suara itu, terlihat ada Vanya yang berdiri di luar kamarnya dengan membawa nampan di tangannya. Vanya tersenyum pada Laudya, dan itu membuat wanita itu begitu gugup dan merasa canggung.
“Apa aku boleh masuk?” tanya Vanya.
“Tentu, masuklah! Ada apa kau kemari?” jawab Laudya seraya tersenyum.
“Aku tak melihatmu di meja makan, maka dari itu aku membawakan mu makanan. Kau pasti belum makan bukan?” tanya Vanya.
“Maaf, Nona. Bukannya aku tak sopan padamu atau tak ingin memakan masakanmu, tapi aku sudah terbiasa makan di kamar ini tanpa keluar,” jawab Laudya.
“Oh, tidak apa-apa. Aku sudah diberitahu oleh Arga, maka dari itu aku membawakan makanannya kemari. Tolong cobalah, aku akan segera keluar,” ucap Vanya seraya berjalan keluar.
“Nona, terimaksih,” balas Laudya.
“Tentu, semoga yang menyukainya.” Vanya pun keluar dari kamar Laudya dengan tersenyum, entah kenapa dirinya tak merasa kesal saat melihat Laudya dari dekat. Yang ada, Vanya merasa kasihan padanya.
__ADS_1
“Anh, kau dari mana? Cepat kau juga harus makan!” seru Ken.
“Baiklah, Kak. Aku akan makan juga bersama kalian,” balas Vanya duduk di samping Wiliem.
Wiliem mencium kening Vanya yang di balas senyuman olehnya, Wildan yang melihat itu tersenyum tipis karena menurutnya mereka adalah pasangan yang unik. El juga memperhatikan perlakuan Wiliem pada Vanya membuatnya iri karena dirinya belum pernah merasakan apa yang Vanya rasakan.
“Sangat romantis, bahkan mereka tak segan melakukannya di depan semua orang,” batin Elina merasa begitu iri.
Arga yang sudah menghabiskan makanannya pun permisi tuk pergi setelah berterima kasih pada Vanya atas makanannya. Vanya tersenyum dan memberikannya dua buah apel pada Arga, Vanya berbisik dan membuat Arga tersipu malu.
“Berikan buah ini, pada Nona Laudya! Aku lupa membawanya saat membawa makanan ke dalam kamarnya,” bisik Vanya.
Arga mengangguk dengan wajah yang memerah, namun di balas dengan tawa kecil oleh Vanya yang menepuk bahunya dengan mengacungkan jempol.
“Apa yang kalian bicarakan, aku meras tersaingi oleh bocah itu,” sindir Wiliem pada Vanya dan Arga.
“Ahh, tidak ada. Pergilah!” ucap Vanya menatap Arga.
Semalam sebelum masuk ke dalam kamarnya, Vanya yang begitu menyukai Villa itu berkeliling terlebih dahulu dan tak sengaja melihat Arga yang sedang bersama dengan Laudya. Karena penasaran, akhirnya Vanya melihatnya dengan dekat bersembunyi di balik pintu dan mendengar semua yang mereka bicarakan. Terlihat Arga yang sangat senang bisa menemani Laudya di malam bersalju yang dingin itu.
Oleh karena itu, Vanya tak lagi merasa kesal atau pun cemburu saat melihat Laudya. Dia berharap wanita itu mempunyai kehidupan yang lebih baik, Vanya tahu jika Wiliem dan Lau dulu sepasang kekasih. Namun dia sudah berjanji kalau akan percaya pada Wiliem suaminya.
“Jangan membuatku cemburu, sayang!” pinta Wiliem dengan berbisik pada Vanya.
“Tidak kah itu salah, sayang? Apa aku harus mencurigaimu juga yang beberapa hari ini tinggal dengan mantan kekasihmu, Wil?” tanya Vanya dengan nada sindiran.
Tak ada jawaban dari Wil, yang ada hanya tundukan kepala sang suami yang berada di bahunya. Membuat Vanya tertawa kecil karena telah menggoda Wiliem.
“Aku percaya padamu, Om,” ledek Vanya berbisik pada Wil.
**************************************************
Finlandia
Terlihat Roy yang sedang berada di depan sebuah rumah dengan memegang sebuah kertas berisikan alamat, ternyata Roy mencari rumah Vanya. Namun, terlihat rumah itu sangat sepi karena tak terlihat ada aktivitas di dalam rumah tersebut.
“Apa aku mendapatkan alamat rumah yang salah?” ucap Roy bertanya pada dirinya sendiri.
Rumah Vanya termasuk komplek kawasan orang berada karena perumahan itu sangatlah elit, tak ada siapa pun di sana yang bisa membantu Roy tuk bertanya. Roy sudah berdiri di sana sangat lama, hanya tuk bertemu dengan
Vanya.
Drrrtttt,,, suara getaran ponselnya membuat Roy mengalihkan pandangannya dari rumah Vanya dan melihat siapa yang mengabarinya. Ternyata itu Zidan, Roy pun mengangkatnya dan terlihat wajahnya berubah menjadi kecewa.
“Maafkan Paman! Kita harus segara pulang ke Milan, ada sesuatu yang terjadi pada perusahaan Paman.” Seperti itulah bunyi percakapan dari Zidan, Roy pun dengan sangat kecewa harus kembali ke Milan dengan Zidan tanpa bisa bertemu dengan Vanya.
__ADS_1
“Selamat tinggal, Anh. Aku berharap bisa bertemu dengamu dan bisa memelukmu tuk terakhir kalinya,” batin Roy.
Bersambung🍂🍂🍂