
Wil melajukan mobilnya dengan sangat kencang, Alex terus mengikutinya dari belakang. Mobil, Wil memasuki halaman rumah Zee, Wil berlari masuk kedalam rumah itu.Terlihat, Zee yang sedang menunggu diruang tamu.
“Vanya?” tanya Wil.
“Didalam kamar, dia sedang istirahat.”
Wil pun masuk kedalam kamar tamu, terlihat Vanya yang sedang tertidur dengan memeluk bantal guling sebagai teman tidurnya. Sudut matanya masih terlihat basah, karena buliran bening itu masih tersisa dan belum mengering.
“Maafkan aku, sayang. Aku sudah membuatmu menangis,” ucap Wil mencium mata Vanya kilas.
Wil menyesal sudah pergi begitu saja, membiarkan sang istri menangis. Wil meras dia begitu egois tak bisa mengontrol emosi dan dirinya. Vanya terbangun, saat merasakan sesuatu pada tangannya yang ternyata itu air mata Wil.
“Wil, sedang apa kau disitu?” tanya Vanya.
Wil mendongak mendengar suara dari istri kecilnya itu. Wil menghapus air matanya, menatap Vanya yang terlihat masih sedih. Wil memeluk perut Vanya.
“Sayang, maafkan aku! Sungguh, aku merasa egois padamu,” ucap Wil.
“Maafkan aku juga, Wil. Karena aku sudah keras kepala tak mau mempercayai dirimu,” balas Vanya.
Wil melepas pelukannya, mencium kening sang istri dengan penuh kasih sayang. Vanya tersenyum sennag karena Wil kembali dan meminta maaf padanya. Pada hakikatnya, sifat Vanya masihlah labil gadis seusia dia cepat
tersinggung tapi juga cepat tuk melupakannya.
“Aku berjanji mulai sekarang tak ada yang aku tutupi lagi
darimu,” ucap Wil.
“Kau mau kan, mengajari aku yang kekanak-kanakan ini menjadi
__ADS_1
wanita dewasa? Agar suatu hari, aku tak membuat suamiku ini malu!” pinta Vanya.
“Tentu, sayang. Aku akan sangat senang hati, kita belajar bersama tuk mengetahui sifat masing-masing,” balas Wil.
Vanya mengangguk ia, masalahnya sudah terpecahkan. Alex masuk dan melihat Zee yang sudah menunggnya, Alex memeluk tubuh sang istri menggedongnya masuk kedalam kamar. Malam itu, Zee begitu manja pada Alex
membiarkan sang suami melepas sendalnya, membaringkan tubuhnya, menggerai rambut panjang Zee lalu menyelimutinya.
“Aku disini, kau tidurlah!” seru Alex.
“Bisakah kau matikan semua lampunya? Aku hanya sinar bulan yang menerangi,” pinta Zee.
Alex mematikan semua lampu didalam sana, membuka sedikit hordeng agar sinar bulan itu bisa masuk, ya memang malam itu bulan sangatlah indah seperti bulan purnama begitu bulat dan terang.
Zee menatap bayangan dari hordeng yang tertiup angin dari luar, mengingatkan kenangan indah dimasa lalunya. Senyuman manisnya terlihat begitu indah, Alex memilih memeluknya dari belakang tanpa ingin menganggu khayalan sang istri.
“Sinarnya seakan masih sama seperti dulu kala, aku selalu merindukan suasana seperti ini. Rasa damai dan tenang sangat nyaman kurasakan,” batin Zee.
“Kenanglah dia selalu sayang, karena dengan mengenang dirinya saja membuat kau tersenyum dan aku sangat menyukai wajahmu seperti itu. Entah seperti apa kisah cintamu dan dia sampai tak lekang oleh waktu,” gumam
Alex sembari mencium Zee.
Malam itu, Vanya dan Wil pun sudah kembali merajuk cinta kasih mereka. Mencoba saling percaya dan memahami satu sama lain. Sinar bulan seakan membawa pertanda baik tuk dua pasangan itu, tapi tidak degan seorang lelaki yang masih terjaga dengan air mata yang selalu mengalir diwajah tampannya yang sedang memandang bulan.
“Sudah tiga bulan sudah aku mencarimu dan hasilnya tetap nihil, apakah benar takdir telah memisahkan dengan cara seperti ini? Kau membawa duka dan segala kesedihanmu, pergi menjauh bahkan sebelum aku mengakui jika aku menyayangi dirimu.”
Segala penyesalan yang dia rasakan seakan percuma karena tak kan bisa membuatnya kembali datang dan hadir kembali dihidupnya. Semua yangdulu di lakukan mungkin sudah sangat membuatnya begitu terluka, membuatnya
begitu menderita karena masa lalu yang terus membayanginya.
__ADS_1
“Apakah pantas air mata ini terus mengalir tuknya? Sedangkan akulah yang sudah begitu jahat padanya, akulah sumber penderitaannya, akulah yang membuatnya terbunuh,” lirihnya dengan terus menggenggam sebuah foto gadis cantik ditangannya.
Samudera tengah menangisi sang adik angkatnya Zyvia Andero yang telah tiada tiga bulan lalu karena kecelakaaan pesawat, Sam sudah mencari kemana pun tapi jasad adiknya tak pernah ditemukan. Tim evakuasi mengatakan jika jasadnya mungkin saja sudah hancur ditengah lautan.
Setiap malam datang seakan dunia kiamat tuk Sam, karena diatak akan bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan Zyvia yang menangis meminta maaf selalu terlihat dipelupuk mata Sam. Mimpi dalam tidurnya selalu saja terlihat kedua orang tua angkatnya membenci dirinya karena sudah jahat pada Zyvia
“Maafkan aku, aku mengaku salah pada kalian. Aku mohon, biarkan aku menebus semua kesalahan ini. Akan kucari Via dimana pun itu, sebelum ku lihat sendiri jasadnya,” isak tangis Sam.
Abigail menatap sang suami yang selalu menangis setiap malamnya, Sam menjadi suka menyendiri tak memperhatikan dirinya dan Yuan putra mereka. Abigail merasa begitu kasihan pada sang suami yang begitu kehilangan Zyvia.
“Mau sampai kapan kau seperti itu? Mau sampai kapan kau mengacuhkan aku dan Yuan, Sam?” tanya Abigail.
Abigail memilih selalu tidur dengan sang putra Yuan dikamarnya, membiarkan Sam dalam dunianya sendiri dengan segala kesedihannya. Malam semakin larut, Sam kembali ke kamarnya dan tak mendapati Abi di sana Sam
duduk ditepi ranjang dan merasa bersalah juga pada Abigail yang selalu dia acuhkan.
“Kau juga memilih pergi menghindari aku Abi,” ucap lirih Sam.
Sam merebahkan tubuhnya diatas ranjang besar itu, matanya perlahan terpejam membawanya ke alam mimpi. Terdengar dengkuran lembut menandakan Sam sudah tertidur barulah Abi masuk dan melihat keadaan sang suami.
Abi menyelimuti tubuh Sam, mengusap lembut wajah Sam yang ditumbuhi kumis dan jenggot tipis di wajahnya.
“Aku rindu dirimu, Sam. Akku rindu kehangatan dirimu, aku rindu akan kekhawatiran dirimu, aku merindukan senyuman hangat yang selalu kau tunjukkan padaku dan Yuan.”
Air mata Abigail mengalir deras, wanita itu benar-benar harus menghadapi sifat sang suami yang telah berubah sejak kematian Alfa dan sekarang Zyvia. Abigail hanya bisa menggenggam tangan Sam, tuk mengobati rasa rindunya yang mendalam pada sang suami, mereka bersama dan sangat dekat tapi nyatanya mereka begitu jauh dan seakan tak saling melihat.
“Selamat tidur, bermimpilah! Aku selalu berharap saat kau membuka matamu bisa menjadi Samudera yang aku kenal dulu,” ucap lirih Abigail mencium kening Sam.
Abigail kembali kekamar Yuan, tidur dengan putra kesayangannya. Sekarang hanya Yuanlah yang menjadi kekuatan Abi tuk terus bersama dengan Sam, membiarkan sang suami yang berada didunianya sendiri
__ADS_1
“Kau harus selalu bahagia, Yuan. Kau harus menjadi sinar tuk seseorang suatu hari nanti, kau harus menjadi lelaki kuat dan juga bisa melindungi seseorang yang sangat kau cintai dan sayangi,” ucap Abigail mencium Yuan.