Takdir Cinta

Takdir Cinta
266


__ADS_3

Malam itu, karena merasa tak enak hati. Akhirnya Wil bersedia berkenan dengan Erika. Apalagi, gadis itu terlihat begitu baik, sopan santun.


Selagi Alex dan Zee menyapa kolega yang lainnya, Wil dan Erika pun berbincang-bincang.


"Bagaimana dengan kuliahmu, apa berjalan dengan lancar?" tanya Wil.


"Ya, Tuan. Tentu saja, saya berusaha melakukan yang terbaik dalam kuliahku," jawab Erika.


"Kau mengambil jurusan management itu, apa karena kau menyukainya atau dorong dari orang tuamu?" tanya Wil kembali.


"Dari kecil saya memang menyukai management, karena dulu Daddy selalu membawa saya ke kantor. Dari situlah pertama buku bacaan saya, saat usiaku sepuluh tahun," jawab Erika dengan antusias.


Wil tersenyum mendengar kepolosan dari Erika, mengingatkan dirinya pada Vanya. Dengan seketika, Wil menggelengkan kepalanya agar tak lagi mengingat akan gadis itu.


"Teruslah belajar! Karena usaha dari orang tuamu akan turun kepadamu," seru Wili.


"Ya, Tuan. Saya akan mengingat akan ucapan anda," balas Erika dengan senyumannya.


"Hari sudah malam, sebaiknya kita kembali masuk ke dalam. Mungkin juga, orang tuamu mencarimu," ucap Wil.


Erika mengangguk, gadis itu begitu senang bisa berbicara dengan Wiliem. Rasa sukanya pada Wiliem semakin bertambah karena sikap dan kepribadian Wil yang begitu baik.


Zee dan Alex sudah menunggu Wil di dalam. Karena, mereka harus segera pulang. Alya mendadak panas, di rumah hanya ada Alya dan si kembar.


Saat melihat Wil yang berjalan dari luar, Zee dan Alex pun segera menghampirinya dan memberitahukannya keadaan Alya.


"Putriku panas? Memang, bagaimana kedaannya saat kalian pergi?" tanya Wil begitu panik.


"Dia mendadak demam, Wil. Rio mengabariku tadi, kami akan pulang kau saja yang menemui semua kolega di sini!" pinta Zee.


"Jangan bercanda! Ini kan acara kalian, jadi biarkan saja aku yang pergi. Kalian tetap di sini!" perintah Wil seraya berlari keluar gedung.


Erika yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka hanya bisa diam sambil memikirkan ucapan Wil yang mengatakan "putriku".


"Apa Tuan Wil, mempunyai anak? Apa dia memiliki seorang anak?" batin Erika.


Zee begitu terharu dengan kesigapan dari Wiliem, Alex menenangkan Zee agar tak perlu takut jika Wiliem sudah bertindak.


Zee pun mengangguk ia, mencoba menenangkan dirinya. Sedangkan di rumah Zee, Alya sudah merintih karena demam, seluruh tubuhnya terasa pegal. Rio dan Rino pun mengabari Ara tapi tak ada jawaban.


Tanpa sengaja, Vanya datang ke rumah Zee, membawakan makanan kesukaan Alya. Sesampainya di dalam rumah tak ada siapa pun, hanya terdengar kegaduhan dari dalam dapur. Membuat Vanya waspada, takut itu adalah maling.


"Kemana semua orang? Siapa yang ada di belakang?" gumam Vanya dengan membawa sapu.


Vanya berjalan sangat pelan, saat melihat siapa yang ada di dapur pun. Vanya lega karrna itu si kembar.


"Sedang apa kalian?" tanya Vanya mengejutkan Rio dan Rino.


"Ahh, kak Anya. Kau membuat kami terkejut saja, untung saja kita tak jantungan," jawab Rino.


"Kak, Alya demam tinggi. Dia mengatakan seluruh tubuhnya sakit," ucap Rio.


Vanya yang membawa makanan pun langsung beranjak pergi ke lantai atas. Sebelumnya menyimpan dahulu makanan itu.


Vanya berlari ke arah tangga, tapi sebelum menaiki tangga terlihat Wil masuk ke dalam rumah dengan berlari.

__ADS_1


"Alya,,,!!!" teriak Wil.


Membuat Vanya terhenti menatap kedatangan Wil. Lelaki yang dia rindukan, apalagi malam ini Wil berpakaian begitu rapi dan sangat tampan.


Wil menatap Vanya, lalu melewatinya begitu saja tanpa menyapanya sama sekali. Karena, Wil begitu sangat menghawatirkan Alya.


Wil masuk ke dalam kamar Alya, terlihat gadis kecil itu tertidur dengan meringkuk karena merasakan sakit ditubuhnya.


"Princess, you ok. Honey?" tanya Wil seraya memangku tubuh Alya.


"Dad, help me! Al sakit," ucapnya lirih.


Wil yang merasakan suhu tubuh Alya pun begitu terkejut. Karena, begitu panas mungkin lebih dari 39° .


"Ayo sayang. Kita segera kerumah sakit!" pinta Wil.


Wil membawanya turun di sana terlihat Vanya masih berdiri mematung disana. Sedangkan Rio dan Rino juga berdiri di belakang Vanya.


"Aku akan membawa Alya ke rumah sakit. Jadi tolong kunci saja rumahnya. Dan kau, Vanya apakah kau mau ikut atau tidak?" tanya Wil.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu!" seru Vanya mengikuti Wil dari belakang.


Wil mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, sesampaianya di rumah sakit. Alya langsung mendapatkan penanganan, tapi sayangnya gadis kecil harus di rawat.


"Daddy, Al takut. Rasanya sakit," ucap Alya sambil menangis.


"Jangan takut sayang! Ada, Daddy di sini," balas Wil.


Alya memeluk erat Wil, saat suster akan menancapkan jarum infus pada lengan Alya. Vanya yang berada di samping Alya, memegang tangan gadis kecil itu.


Wil dan Vanya pun saling berpandangan, lalu dengan cepat, Wil memalingkan wajahnya dari Vanya.


"Melihat wajahku saja, kau tak mau. Apakah benar kau sudah melupakan aku? Dan kini, sudah memiliki kekasih?" batin Vanya penuh tanya.


"Sus, tolong segera pindahkan anak saya ke ruang VVIP yah! Dan satu lagi berikan ranjang yang sedikit besar," pinta Wili.


"Baik, Tuan. Saya akan segera persiapkan ruangannya," balas suster.


Alya yang terkena efek obat pun semakin tenang dan tertidur dengan masih memeluk lengan Wil. Wil membelai lembut rambut Alya, mencium kening sang anak.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara Zee dan Alex dari luar. Zee berlari kecil saat melihat Alya terbaring di atas ranjang dengan adanya selang infus.


"Al, sayang," panggil Zee seraya menciumi wajah sang anak.


"Tenanglah! Alya sudah tak apa, ini karena efek obat makanya dia tak bangun," ucap Wil.


"Terimakasih, Wil. Vanya terima kasih sudah menemani Alya," ucap Zee menatap Vanya.


"Ya, kak. Kalian sudah datang, aku pamit pulang yah. Di rumah, hanya ada kak Abi dan Yuan saja. Aku sudah berjanji tuk menemani mereka," ucap Vanya.


"Mau aku antar?" tanya Alex.


"Tidak, kak. Terima kasih, aku sudah pesan taksi. Dan taksinya sudah berada di depan," jawab Vanya.


"Baiklah, hati-hati di jalan," ucap Alex.

__ADS_1


Vanya keluar tanpa menyapa Wil. Tak tahu, kenapa di saat dirinya sedang menyakinkan dirinya dan juga perasaannya pada Wil. Wil terlihat menjauh bahkan seakan tak mau mengenal dirinya.


Vanya berjalan ke luar rumah sakit, di tepi jalan dia berdiri sendiri dengan udara malam yang dingin. Menunggu taksi yang dia pesan. Sesekali, Vanya menghapus air matanya yang terus menentes di pipi mulusnya itu.


Vanya menghembuskan napas panjangnya, perasaannya begitu kacau malam itu, rasanya sesak dalam dadanya sudah tak bisa dia tahan. Ingin rasanya Vanya berteriak kencang agar bisa melepas beban dalam hatinya.


Tak lama kemudian taksi itu pun datang, Vanya masuk dengan cepat. Tanpa dia tahu, Wil mengikutinya dari belakang dengan tegap menjaga jarak darinya.


Vanya kembali kerumah Sam, sesampainya disana, Vanya segera masuk ke dalam.


"Aku akan melakukan apa yang kau mau, aku takkan menjauh darimu. Tapi, aku akan mencoba melupakan rasa di hatiku padamu," ucap Wil seraya menatap Vanya masuk.


Setelah melihat, Vanya masuk rumah. Wil segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi pergi meninggalkan rumah Sam.


***************************


Pertemanan Wil dan Erika semakin hari semakin dekat, ternyata gadis polos itu tak seperti apa yang terlihat. Dia mempunyai banyak taktik tuk terus mendekati Wil.


"Erika itu, sepertinya banyak akal tuk mendekatimu Wil," ucap Zee.


"Selagi dia masih dalam tahap yang normal, aku akan biasa saja. Dan membiarkan dia melakukan apapun itu," balas Wil.


"Tuan Diago itu, sedikit licik. Kau harus berhati-hati dengannya. Aku tak mau kau menjadi korban mereka dengan memberi umpan Erika," ucap Alex.


"Baiklah, aku akan mengingat semua pesan kalian. Jadi, tenanglah aku harap kalian percaya padaku," ucap Wil.


Zee dan Alex saling bertatapan satu sama lain. Lalu menatap Wil dengan tatapan khawatir.


"Ok, kami akan percaya padamu, tetaplah waspada!" pinta Alex.


"Mampirlah! Al rindu dirimu, aku harap kau bisa menemani seharian ini," pinta Zee.


"Aahh, katakan maafku pada, Al. Aku sangat sibuk beberapa hari ini. Tapi, aku janji akan segera menemui putriku setelah semuanya selesai," ucap Wil dengan menyesal.


"Kabarilah sendiri, putrimu itu begitu keras kepala seperti Ayahnya. Jadi, aku tak bisa membantumu," balas Zee.


"Baiklah, aku akan segera mengabari Alya," seru Wil.


Alex dan Zee pun kembali ke kantor mereka. Sebelum pergi, Zee berpesan pada Brita jika ada Erika datang atau siapapun wanita yang mencari Wil. Dia harus segera memberihatukan itu pada Zee.


"Baik, Nyonya. Saya mengerti," ucap Brita.


Alex senang karena, Zee begitu perhatian pada Wil. Menjaga adiknya sepertinya adiknya sendiri. Tak ada rasa cemburu atau pun marah saat Zee menghawatirkan atau perhatian pada Wil.


"Kau sampai berpesan seperti itu," ucap Alex.


"Wil, dia lelaki yang baik. Dan aku, ingin dia memiliki sosok wanita yang baik pula tuk nya," balas Zee.


"Kau seperti, menyindirku. Aku, kelak brengsek tapi bisa memiliki wanita yang baik seperti dirimu," ucap Alex.


Zee berhenti dan menatap Alex, "Kau memang brengsekk, tapi takdir cintaku itu dirimu. Aku harus bisa menerima itu, lagi pula aku yang mencintai dirimu terlebih dahulu".


Alex mencium bibir Zee, begitu lembut, penuh dengan kasih sayang. Zee membalas ciuman dari sang suami. Mereka lalu tersenyum bersama.


"Romantisnya, mereka. Membuat smeua orang iri akan hubungan mereka," gumam Brita yang tak sengaja melihat adegan itu.

__ADS_1


__ADS_2