
Di dalam mobil Wil masih terpikirkan tentang Alya, entah kenapa gadis kecil itu membuat dirinya tak tenang. Rasanya dia begitu marah saat Zee membentaknya. Anak yang beri dia kenal, tapi sudah mengambil hatinya.
"Daddy, Alfa, apakah itu alasannya selalu menangis. Kenapa, Mommy mu begitu tak suka padaku?" batin Wili.
Bayangan saat Alya ketakutan saat mendapat kemarahan dari Zee, masih saja membuat geram Wili.
"Tenang princess, Daddy akan sebisa mungkin tuk selalu menemui dirimu," seru Wili.
Mobil itu terus melaju dengan cepat, kembali kerumah besar keluarganya. Disana, Sofia sedang membereskan bunga-bunga kesayangannya.
Melihat, mobil Wili kembali membuat nya segera membersihkan tangannya lalu menghampiri sang putra.
"Wil, bagaimana? Apa kau bisa bertemu dengan keluarganya?" tanya Sofia.
"Yes, Mom. Aku bertemu dengan Ibunya," jawab Wili singkat.
Wajah Wili masih datar, terlihat gurat kecemasan di wajahnya. Wili pun masuk begitu saja, seraya menghubungi seseorang.
"Kau cari tau, keluarga dari Alyandra Zevara anak usia 10 tahun. Dia tinggal di perumahan blok G, aku ingin secepatnya!" perintah Wili.
Setelah mengatakan itu, Wili memutus sambungan ponselnya.
"Siapa Alfa? Dan kenapa mereka terkejut saat melihatku?" tanya Wili pada diri sendiri.
Hari ini, Wili tak pergi ke kantornya. Karena semuanya sudah dia selesai, tak ada yang begitu penting.
Akhirnya Wili hanya berdiam diri di dalam ruang kerjanya sambil menunggu email dari Tion.
Ting.
"Aku sudah mengirimkannya ke email mu, semoga kau tak dapat serangan jantung saat membacanya!"
Itu isi pesan dari Tion, membuat kening Wili mengerut heran.
Wiliem pun membuka emailnya, dan lembaran yang pertama dia lihat mmbuat dirinya sangat terkejut, melihat foto lelaki yang begitu mirip dengan dirinya.
"Dasar, Tion kenapa ada foto ku disini!" ujarnya kesal.
Tapi, Wili salah ada nama lain di bawah foto tersebut lengkap dengan biodatanya.
"Alfa Reza, dia anak dari Ars dan Tia. Keturunan asli Indonesia. Lahir 11 nov, meninggal 11 apr"
"Apa? Meninggal, jadi Alfa itu sudah tiada?" tanya Wili. Dia terus membaca semua email itu dengan seksama.
Hati Wili begitu tersentuh saat membaca semua itu, dia langsung akan Alya.
"Jadi Ayah mu sudah meninggal, nak? Dan wajahku begitu mirip dengan Ayahmu," ucap Wili.
"Zee Levina Putri, itu namamu. Kenapa, kau begitu berbeda saat bertemu denganku. Pertemuan pertama yang mengetarkan hatiku, sedangkan pertemuan kedua membuat amarah di hatiku," ucap Wili.
Berbeda lagi dengan Alex yang sedang melamun sambil memegang sebuah foto wanita cantik di tangannya.
"Zee, ternyata kau sudah memiliki anak. Dan, suamimu telah meninggal. Sayang, kau sudah mempunyai seorang putri," ucap Alex.
Hatinya sudah di getarkan oleh Zee, saat pertama melihat dirinya. Namun, bukan Alex nama nya jika tak bisa menaklukan hati seorang wanita.
"Kali ini, aku akan mengejar dirimu. Kau beruntung, karena aku yang akan mendekati dirimu terlebih dahulu," imbhnya dengan senyuman penuh arti.
Karena, selama ini Alex tak pernah mengejar wanita terlebih dahulu. Yang ada semua wanita berlari mendekati dirinya. Dan, Alex dengan tenang nya bisa bermain dengan mereka tanpa harus meminta. Wanita-wanita itu dengan suka rela menyerahkan diri pada Alex.
"Shit, kenapa hatiku tak berhenti bergetar hanya dengan memikirkan wanita ini," umpatnya.
__ADS_1
***********************
Di dalam rumah Zee, terjadi perang dingin antara Ibu dan anak. Semenjak kepulangan Wili dan semua kerabatnya. Alya tak mau keluar kamar, dia hanya duduk di balkon kamarnya dengan memeluk foto sang Ayah.
"Daddy, Al rindu Daddy," isaknya.
Zee hanya bisa bersembunyi di balik pintu, memandang sang putri yang begitu rapuh. Air matanya keluar tanpa henti, hatinya begitu sesak.
"Al, apakah kau begitu merindukan Daddy mu atau lelaki asing itu?" tanya Zee dalam hati.
"Daddy, Alya bertemu dengan Uncle baik. Dia sangat mirip dengan Daddy. Al sayang dia, Dad," cerita Alya.
Air matanya menetes di atas figura sang Ayah, terlihat foto Alfa yang sedang tersenyum. Wajah tampannya begitu menyejukkan hati Alya.
Zee berjalan pergi masuk kedalam kamarnya. Mengunci diri disana, sama dengan sang putri, Zee akan menangis sambil memeluk foto kekasih hatinya. Tangisnya pecah begitu saja, dadanya begitu sesak.
Akan sampai kapan hati dan semua dunianya menjadi milik Alfa, sudah 10 tahun berlalu tapi dia tetap seperti ini. Zee sudah lelah dengan semua air mata ini, lelah berputar-pura semuanya baik-baik saja.
"Tuhan, jika memang semuanya telah berlalu. Aku mohon hilangkan rasaku pada dia, hilangkan semua kenangannya, dan biarkan aku mencoba membuka hatiku!" pinta Zee memohon pada Sang Kuasa.
Hari itu tak ada tegur sapa dari Alya dan Zee, seakan mereka mempunyai dunianya sendiri.
"Uncle itu, kenapa begitu mirip dengan Daddy? Apakah, dia Daddy ku?" gumam Alya.
"Bukan, dia bukan Daddy mu! Dia hanya orang yang mirip, Al," sergah Zee.
Alya langsung menunduk takut, diam tak bersuara. Zee begitu menyesal telah membentak sang putri, sampai membuat Alya takut saat melihatnya.
"Al, maafkan Mommy!" pinta Zee seraya berjongkok di depan sang putra.
Alya masih menunduk, air matanya sudah menetes dengan cepat.
"Honey, please. Maafkan Mommy!" pinta Zee menggenggam tangan Alya.
"No, Mommy. Alya yang salah, maafkan Al sudah membuat Mommy menangis," isaknya seraya menghapus air mata sang Ibu.
Zee menciumi wajah sang putri, hatinya begitu lega bisa bertatap muka kembali dengan sang putri.
"Alya tak salah, Mommy yang membentak Al, dan sudah marah-marah padamu, nak!" seru Zee.
"Alya tak menuruti kata-kata, Mommy. Jadi, Al tak apa jika kena marah oleh, Mommy," balas Alya.
"Alya sayang Mommy, Alya sayang Daddy," ucapnya sembari memeluk tubuh Zee.
Zee kembali menangis, hatinya selalu saja sesak jika mendengar kata Daddy.
"Mommy, juga sayang Alya. Dan, tentunya Daddy mu sangat menyayangi dirimu Al," balas Zee.
Zee melepas pelukan sang putri, dan menatap wajahnya.
"Kemari, Mommy ingin tanya sesuatu padamu!" pinta Zee.
Alya menuruti sang Mommy, duduk di pangkuan Zee. Zee tersenyum membelai rambut panjang Alya.
"Kemarin malam, Al tidur dimana, dengan siapa?" tanya Zee.
"Hemm, kemarin malam Alya tidur di rumah grandma Sofia, dia itu Mommy dari Daddy. Upsh, sorry Uncle Wili,"jawab Alya sembari tersenyum kuda.
Zee tersenyum mencoba tenang, mendengarkan cerita dari putrinya.
"Apa mereka baik?" tanya Zee.
__ADS_1
"Hee'em, mereka baik pada Al. Mommy, tahu? Grandma membuatkan Al sarapan dan susu, mengantikan Al baju, menemani mandi. Uncle Wili juga sangat baik, selalu memeluk, mencium Al, juga menyuapi Al sarapan," cerita Alya begitu senang.
"Dimana kau bertemu dengan Uncle Wili?" tanya Zee.
Seketika wajah Alya berubah sedih, matanya sudah berkaca-kaca, Zee merasa ada yang tidak beres.
"Kenapa, honey? Ceritakan semuanya pada Mommy, tidak apa-apa!" pinta Zee.
"Mommy, saat kelas olah raga Al bertengkar dengan teman, Al. Dia selalu mengejar Al anak tanpa Ayah, itu sudah biasa Al dengar. Tapi, Al tak suka jika ada yang menjelek-jelekkan Daddy," isak Alya tak bisa menahan air matanya.
Zee memeluk putri kecilnya itu, Zee juga mulai menitikkan air matanya. Betapa Al sangat tersiksa dengan sebutan itu, selalu memendam amarahnya agar tidak di katakan anak nakal.
"Apa yang mereka katakan, padamu?" tanya Zee.
"Mereka, bilang kalau sebenarnya Daddy Al itu tidak ada. Daddy Al tidak meninggal, tapi dia pergi karena tak sayang Al," jawab Alya terbata.
"Alya. dengarkan Mommy! Daddy Al itu, sudah tiada. Alya lihat sendiri bukan, makam Daddy. Kau itu anak dari Alfa Reza dan Zee, kau itu buah cinta kami, nak. Kau adalah anugrah terindah yang Mommy punya," ucap Zee seraya mencium Alya.
"Ya, Mom. Alya tau Daddy Alya itu Alfa Reza. Saat, itu Alya mendorong temen Al sampai terjatuh. Dan temannya juga mendorong Alya, bahkan mereka bertiga melempari Alya dengan bola air. Alya berlari dengan menangis, tak tahu jika itu ada di tengah jalan. Hampir saja Uncle menabrak Al, tapi untungnya Uncle mengerem dengan cepat," jelas Alya memberitahukan semuanya.
Mata Zee membulat sempurna saat mendengar cerita putrinya. Zee melihat sekujur tubuh Alya, takut dia terluka.
"Tidak, Mom. Alya tak terluka sama sekali, Uncle Wili membantu Al tuk berdiri. Tapi, karena gemetar Alya lemas dan terduduk di jalan. Saat Al pertama melihat Uncle, Al kira itu Daddy. Alya langsung memeluknya dan memanggil Daddy," imbuh Alya kembali.
"Apa, kau menyukainya nak?" tanya Zee.
"He'em, Uncle sangat baik. Al suka Uncle," jawab Alya.
"Kau menyukainya, apa karena Uncle mirip dngan Daddy?" tanya Zee.
"Pertama ia, Al kira Uncle itu Daddy. Tapi, Al tahu jika Daddy sudah tiada. Tapi, Mom Uncle itu sangat baik, makanya Al suka," jawab Alya polos.
"Baiklah, jika seperti itu. Mommy harus minta maaf pada Uncle Wili, karena kemarin sudah memarahinya," ucap Zee.
"Jadi, apa Al boleh bertemu lagi dengan Uncle? Dan bisa main kerumah grandma?" tanya Alya.
"Grandma?" tanya Zee.
"Ya, grandma Sofia. Saat, Al akan pulang.
Grandma meminta Al tuk main kembali kerumahnya. Lalu, Al mengatakan bisa kembali main jika ada ijin dari Mommy," jawab Alya.
Zee tersenyum mendengar ucapan Alya. Ternyata dia bisa berbicara dengan baik, sopan saat berada di luar sana. Bahkan dengan orang asing.
"Baiklah, jika Mommy ada waktu. Kita akan berkunjung kerumah Nyonya Sofia," ucap Zee tersenyum.
"No, Mommy. Grandma tak suka di panggil dengan sebutan Nyonya," balas Alya.
"Lalu? Apakah, Mommy juga harus memanggilnya grandma juga!" seru Zee.
"Ya, Mommy harus memanggilnya grandma! Mommy, juga harus berjanji pada Al, kita akan kerumahnya!" pinta Alya.
"Ya, honey. Mommy berjanji," balas Zee.
"Terimakasih, Mommy. Al sayang Mommy," ucap Alya seraya mencium pipi Zee dan berlari keluar.
Zee tersenyum menatap sang putri kecilnya, karena sudah riang kembali. Perasaan, Zee sungguh tak enak hati pada Wili.
Dia akan menyempatkan waktu tuk berkunjung dan meminta maaf pada Wili. Tapi, ada satu masalah lagi yang harus Zee lakukan demi sang putri.
"Akan ku balas kalian yang sudah membuat anakku, menangis. Sampai dia hampir celaka," ucap Zee begitu dingin.
__ADS_1
Sekian dan Terimakasih