Takdir Cinta

Takdir Cinta
Pertengkaran


__ADS_3

Ana turun dari mobil sang suami tanpa memperdulikan Rafli yang sibuk dengan benda pipihnya , saat memasuki kamar nafasnya begitu sesak . Tapi Ana menyerit heran saat ranjang yang duduki ini berbeda dengan ranjang yang ada di foto .


'' Apa mas Rafli telah menggantinya dengan ranjang yang baru dan nuansa kamar ini jauh berbeda . Kamar mandinya juga tak semewah yang di foto " gumam Ana . Bayangannya saat diranjang bersama suaminya terlintas di fikirannya , Ana merasa jijik saat mengingatnya ....


ceklek .


Terlihat mata Ana memerah karena menangis . Ana tak mampu lagi menahan sesak di dadanya . Ia tak ingin di sentuh oleh suaminya kembali , ia tak akan membiarkan mulai detik ini suami sah nya menyentuhnya .


'' Jangan mendekat " teriak Ana matanya menatap Rafli penuh jijik bukan minat seperti dulu .


'' Sa...sayang . Mas bisa jelaskan semuanya '' ucap Rafli parau . Pikirannya bertambah kalut saat feeling nya tepat .


'' Nikahi Bunga dan lepaskan aku mas '' ucap Ana. Berniat akan bertahan semampunya namun belum sehari pertahanan Ana runtuh sudah.


Rafli tak menggubris perkataan Ana , kakinya terus melangkah mendekati Ana. Di bawanya Ana dalam pelukannya .


'' Maaf .... maafkan mas '' lirih Rafli , air matanya mengalir membasahi rahang tegasnya .


'' Semua tak seperti yang kau fikirkan sayang '' imbuhnya memeluk Ana erat saat wanita itu mulai berontak .


'' Jangan pernah pergi dari mas Ana , atau kau akan lihat kehancuran mas '' ucap Rafli memeluk erat Ana dan sesekali mengecup pucuk kepala Ana .


'' Lepaskan aku. Aku jijik dengan mu mas....hiks.....hiks.... '' ucap Ana masih berusaha melepas pelukan suaminya .


'' Dengarkan penjelasan mas dulu Ana . Gunakan hati dan fikiranmu . Mas mohon dengarkan dulu '' ucap Rafli menatap lekat wajah Ana yang kini enggan menatapnya. ..


Rafli terus menjelaskan semua yang terjadi malam itu tak peduli tangisan Ana dan tubuh Ana yang terus memberontak . Rafli tak mengelak atas tuduhan yang Bunga berikan namun Rafli menjelaskan kenapa ia bisa melakukannya .


'' Apapun alasanmu mas . Aku tak dapat menerimanya '' Isak Ana mendorong Rafli kasar saat Rafli baru beberapa detik melonggarkan pelukannya .


'' Kau mau kemana Ana. Pikirkan anak-anak '' cegah Rafli dan membuang koper Ana kearah pintu .


'' Kau tak boleh pergi dari mas Ana '' teriak Rafli .


'' Kau selesaikan dulu masalah mu mas '' mohon Ana.


'' Jangan menyentuh ku mas '' teriak Ana tepat di depan wajah suaminya ...


'' Aku jijik kau sentuh '' imbuh Ana seraya meludah ke arah samping suaminya . Rafli memejamkan matanya menahan emosi yang bergemuruh dalam hatinya. Menejelaskan kepada sang istri yang begitu keras kepala seperti Ana tidaklah mudah .


'' Jika kau pergi dari rumah ini Ana , mas pastikan kau tidak akan bisa menemui anakmu '' ucap Rafli , membuat pergerakan Ana terhenti.


'' Mereka anak-anak ku. Aku lah yang berjuang melahirkannya '' ucap Ana menatap wajah sang suami tanpa takut .


'' Jangan pernah menghalangiku untuk menemui anakku '' imbuhnya


'' Jangan lupa , mas lah orang yang berperan penting hingga kau bisa hamil dan melahirkan sayang . Jangan juga lupa siapa suami mu ini bisa melakukan apapun di luar kendali '' ucap Rafli menangkup wajah sang istri begitu ia cintai .


'' Jika kau melangkah keluar maka kau akan melihat nisan yang bertulis nama anak-anak kita '' lirih Rafli namun membuat Ana terkejut setengah mati menyentak telapak tangan Rafli yang bertengger di wajahnya.


Plaakk tamparan keras dari Ana mendarat sempurna di wajah suaminya.


'' Kau ayah paling biadab di dunia ini . Mereka anak-anakmu dan kau tega ingin Melenyapkan mereka '' ucap Ana sarkas.


'' Jangan lupa ini karena siapa Ana. Ini semua karena mu '' bentak Rafli.


'' Pilihan ada di tanganmu . Bertahan disisi mas dan biarkan mas untuk menyelesaikan semua masalah ini atau pergi namun anak kita juga akan pergi bersama mas dari dunia ini '' ucap Rafli . Ia lelah terus membujuk Ana , dengan ancaman ini ia bisa menahan Ana agar berada disisinya .


'' Pikirkanlah Ana '' gumam Rafli seraya mendekati Ana yang berdiri di ambang pintu. Rafli secepat mungkin mengunci pintu tak membiarkan wanitanya itu untuk pergi dari kamar tersebut.


'' Kau hanya milik mas Ana dan tidak akan mas biarkan kau pergi '' ucap Rafli dengan nafas memburu menerpa wajah sang istri .


'' Jangan menyentuhku '' ucap Ana mengendalikan emosinya.


'' Aku akan bertahan disisimu tapi semampu hatiku '' ucap Ana memejamkan matanya dan meluncur kembali air matanya , Rafli yang melihat air mata istrinya terasa nyeri hatinya apalagi ini semua karenanya .


'' Aku akan pergi sejauh mungkin saat kau lengah mas " batin Ana


" Aku lakukan ini semua karena anakku. Bukan karena mu " ucap Ana dan diangguki Rafli yang terpenting istrinya masih mendampinginya .


" Tapi aku punya syarat " ucap Ana.


" Katakan , mas akan kabulkan " ucap Rafli.

__ADS_1


" Jangan pernah menyentuhku dan kita tidur terpisah " ucap Ana dan di jawab gelengan cepat dari Rafli tanda tak setuju .


" Mas tidak akan bisa tanpa menyentuhmu Ana , kau menyiksa batin mas apalagi tidur terpisah mas mana bisa . Mas tidak setuju akan syarat mustahil itu " protes Rafli mengusap wajahnya kasar.


" Jika tidak , aku tak segan membawa anak-anakku pergi " ucap Ana serius.


" Apa kau fikir mas akan membunuh anak kita . Tak akan terjadi Ana , bagaimana pun darah daging mas mengalir di darah mereka. Mas lebih memilih mati sendiri saat kau meninggalkan mas " batin Rafli .


" Oke...oke mas akan usaha tak menyentuhmu " ucap Rafli .


" Tapi tetaplah tidur di sisi mas " ucap Rafli menawar .


" Aku akan tidur di kamar tamu " ucap Ana dan diangguki Rafli pasrah saja . Rafli punya sejuta cara untuk dapat menyentuh istrinya itu.


" Oke . Tapi berprilaku lah sebaik mungkin di hadapan anak-anak dan keluarga kita " pinta Rafli dan disetujui Ana walau berat karena Ana yakin Rafli akan memanfaatkan situasi saat itu untuk memeluk dan menciumnya .


" Pergilah mas. Aku ingin mandi " ucap Ana ketus .


" Kenapa kau mandikan di dalam kamar mandi sayang bukan disini , di hadapan mas . Kecuali jika kau ingin memancing junior mas " ucap Rafli , ia tau kelemahan istri saat ini. Baginya tak mengapa jika Ana cuek dan ketus padanya yang terpenting Ana berada disampingnya , Rafli akan membuat Ana untuk kembali seperti kemarin saat semua masih baik-baik saja .


Ana berjalan kekamar mandi dengan wajah masam , dan tak lupa membawa handuk serta baju ganti yang terlihat lengan panjang semua....


.


.


.


Sedangkan dirumah sakit dokter mengambil langkah untuk mengoperasi rahim Bunga untuk mengambil peluru yang bersarang di dalam sana , ajaib nya bayi yang di kandung Bunga masih selamat meski keadaanya melemah .


'' Kita harus melakukan nya karena ini perintah '' ucap ketua tim dokter dalam operasi tersebut .


'' Tapi ini melanggar kode etik dok " ucap asisten dokter.


'' Kita tak punya pilihan " jawab ketua tim dokter .


" Dok ingat sumpah kita '' ucap dokter lain memperingati .


.


.


.


'' cerobohnya aku hingga lupa membawa penutup bagian bawah '' gumam Ana . Sementara satu makhluk menahan susah hasratnya saat ini yang tengah bersembunyi , hanya bisa menatap tanpa bisa menyentuh sungguh membuat nya tersiksa...


Ana segera melangkah keluar mencari anak-anak yang begitu ia rindukan dan Rafli segera meluncur ke kamar mandi untuk membersihkan diri tapi sebelumnya ia harus bermain solo terlebih dahulu .


.


.


.


Setelah makan malam usai , Ana lebih memilih menemani anak-anaknya dari pada memikirkan Rafli yang malam ini sedang keluar , semua penjagaan rumah di perketat dan hal itu salah satunya bertujuan agar Ana tak bisa keluar untuk kabur.


Melihat wajah bi Jum membuat hati Ana terasa teriris kembali namun wanita paruh baya ini tidaklah bersalah bahkan tak tau apapun .


Ana mondar mandir di dalam kamarnya masih memikirkan perkataan Bunga jika rahimnya telah tiada.


'' Aku harus segera periksa . Bisa jadi bunga tengah berbohong tapi bisa jadi benar. Sialan kau Bunga '' gerutu Ana segera mengunci kamar tamu yang akan ia tiduri .


Rafli mendesah lirih saat melihat Ana tak berada di kamarnya . Rafli segera turun memeriksa seluruh kamar tamu dimana yang Ana tempati . Disaat seperti ini ia sangat membutuhkan Ana namun Ana malah menghindarinya .


Rafli tersenyum penuh kemenangan saat pintu kamar pintu yang terkunci berhasil ia buka . Terlihat Ana sedang tertidur pulas saat itu. Sifat tidur nyenyak Ana sangat menguntungkan bagi Rafli yang dengan mudah mengecup bibir wanita yang begitu ia rindukan sedari tadi .


'' Mas hanya mencium bibir mu sedikit lalu menumpang tidur sambil memelukmu . Biar lah malam ini kita berpuasa dulu tapi mas tak berjanji untuk besok '' gumam Rafli dengan senyum mesumnya . Ia harus segera terbangun sebelum Ana bangun lebih dahulu .


'' Jangan pernah bermimpi untuk pergi dari mas , karena itu tak akan pernah bisa '' imbuhnya lalu ikut terlelap melupakan sejenak masalah yang sedang mereka hadapi .


.


.

__ADS_1


.


'' Maaf nona , anda di larang untuk berpergian '' ucap bodygaurd yang menghalau Ana saat hendak memasuki mobil. Bahkan mereka berani mencabut kunci mobil milik Ana . Ana nekat mengendarai mobilnya karena sang supir menolak mengantarnya.


'' Kalian kembalikan kunci mobil ku '' marah Ana .


'' Maafkan kami nona , kami hanya menjalani tugas '' ucap bodyguard .


'' Ini pasti ulahnya '' gerutu Ana ia segera mengambil benda pipihnya dan siap memarahi sang suami yang mengatur perintah sesukanya.


Tut....Tut.....


'' Hallo sayang '' ucap Rafli bersuara ramah seperti tak ada masalah yang terjadi .


'' Aku ingin keluar kenapa kau memerintahkan mereka melarang ku '' ucap Ana dengan suara melengking nya .


'' Ana tetaplah dirumah dan menurutlah kata suamimu . Membantah itu dosa loh '' ucap Rafli , ia menahan tawanya saat melihat CCTV di halaman depan mansionnya saat ini melihat Ana memarahi bodygaurd yang menahan kepergiannya .


'' Suami apa yang harus ku turuti , suami sepertimu tak patut untuk di turuti . Ingin sekali aku membunuhmu '' ucap Ana berkacak pinggang .


'' Suami yang sengat mencintaimu dan hanya melakukan sekali kesalahan lalu kau menghukumnya secara kejam '' ucap Rafli dan terdengar jelas ada kesedihan saat ia mengucapkannya .


'' Hei. Pinggang ramping mu itu remuk nanti '' ucap Rafli membuat Ana heran .


'' Aku di belakang mu sayang '' ucap Rafli dan seketika Ana membalikkan tubuhnya yang hanya ada pohon bonsai di belakang nya dengan bentuk polkadot cukup besar.


'' Lihatlah ke atasnya '' perintah Rafli dan Ana mendelik sebal saat di atas pilar besar ada sebuah cctv yang menyorotnya.


'' Sialan '' umpat Ana .


'' Aku ingin pergi . Sebentar saja '' ucap Ana .


'' Tidak boleh sayang , kau akan boleh pergi saat bersama mas '' ucap Rafli .


'' Ayolah mas . Sebentar saja '' ucap Ana memelas .


'' Kau kan bisa meminta bodyguard sialan ini untuk memataiku '' gerutu Ana...


" Ku kira ia ingin merayuku namun kini " batin Rafli .


" Baiklah . Biarkan bodyguard ikut denganmu dan jangan coba mengendari mobil sendiri . Mas melarangmu " ucap Rafli .


'' Cih. . . Ini mobil untukku dan kado dari Ines tapi aku belum boleh memakainya " gerutu Ana.


'' Suami mu ini bisa membelikan mu mobil itu sekaligus pabriknya " kesal Rafli , karena istrinya memuji kado dari Ines yang baginya tak seharusnya di berikan untuk Ana membuat Ana dua bulan sibuk berlatih untuk belajar mengendari mobil tersebut.



BMW i8 yang Ines berikan untuk Ana saat sahabatnya itu terbangun dari tidur panjangnya . Mobil dengan harga hampir 4 milyar ini tak pernah di bawa Ana untuk berpergian karena Rafli sungguh melarangnya . Alhasil mobil itu hanya menjadi salah satu pajangan di mansion mewah tersebut. Sungguh malang nasibnya.


Ana terpaksa pergi kerumah sakit untuk memastikan ucapan Bunga sementara body guard yang mengendarai mobil tersebut hanya mengangguk patuh.


Ana segera di periksa oleh dokter yang telah membuat janji temu tersebut. Dokter hanya memberikan semangat untuk Ana karena banyak wanita yang bernasib lebih buruk dari Ana . Hati Ana kembali hancur saat melihat kenyataan ucapan Bunga bukan kebohongan belaka , jika rahimnya kini telah diangkat .


" Ana " ucap Lia saat dari jauh mengamati menantunya yang tengah menangis itu .


" Mama .... " ucap Ana dengan bibir gemetar memeluk Lia dengan erat .


" Yang sabar ya nak . Kau juga tak boleh bersedih , kalian juga telah mempunyai anak yang cukup banyak " lirih Lia mengusap punggung Ana berusaha menenangkan .


" Aku bukan wanita yang sempurna ma. Kenapa nasib buruk selalu menimpa ku " isak Ana..


" Kemarin aku baru tau mas Rafli menyentuh Bunga hingga Bunga hamil dan kini aku kembali menerima kenyataan pahit tentang rahimku " imbuh Ana.


'' Ana dengarkan mama . Semua orang bahkan wanita gak ada yang sempurna di dunia ini . Sempurna hanya milik Tuhan . Kau tetap paling sempurna menjadi menantu mama " ucap Lia.


Banyak hal yang di ucapkan Lia kepada Ana agar tetap bertahan dalam rumah tangganya yang sudah lebih dari sepuluh tahun tersebut , apalagi mereka baru - baru ini merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 14 tahun . Lia meminta Ana untuk memikirkan baik-baik semuanya jangan melalui emosi , disamping itu Lia juga tidak mau Rafli kehilangan arah hidupnya yang akhirnya cucu-cucunya akan terlantar .


'' Keluarga saudari Bunga " ucap dokter membuat Li seketika bangkit .


'' Saya dok " ucap Lia , Ana terperanjat kaget. Pantas saja mama mertua nya tak mengubungi ya karena menjaga Bunga dari kemarin malam .


'' Bahkan ibu mertuaku menjaga Bunga sampai seperti ini " batin Ana . Ana pergi tanpa permisi kepada Lia lebih dahulu .

__ADS_1


" Jangan lupa like dan komentarnya"


Selamat membaca 😊


__ADS_2