
Takdir cinta Zee mungkin bukanlah Alfa Reza, teman masa kecilnya, kekasih masa kecilnya, lelaki yang selalu bersamanya, dan lelaki yang rela mati tuk dirinya. Tapi, Tuhan sudah menentukan bagaimana mereka bisa bersama kembali walaupun bukan dengan tubuhnya, raganya dan jiwanya.
SangKuasa sudah memiliki skenarionya tersendiri di tangannya. Semua makhluk hidup hanya bisa menjalani dan menanti akan bagaimana sekarang, esok, nanti apa yang akan terjadi.
Seperti itu pula perjalanan cinta sang palyboy kakap Wiliem Alexander. Lelaki kaya raya, tampan, penuh dengan wanita-wanita, gagah dan kharismatik ini menemukan jalan takdir cintanya.
Villa Zura
Pagi ini sepasang pengantin baru itu memutuskan tuk pergi ke sebuah desa yang sangat indah, mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kota.
Saat memasuki kawasan pinus, udara disana begitu sejuk. Zee mengeluarkan tangannya tuk merasakan henbusan angin yang menerpa tangannya.
"Darimana mana kau tahu, tempat terpencil seperti ini?" tanya Alex.
"Dulu aku dan keluargaku mempunyai satu vila besar disini begitu pula kebun bunga mawar yang sangat luas. Itu adalah milik Bunda, Ayah menghadiahi itu tuk Bunda karena melahirkan kak Ara," jawab Zee.
"Begitu cintanya Ayah pada Bunda? Sampai membuat semua itu tuk dirinya," balas Alex.
"Kau tahu, dulu Ayah dan Bunda berpisah katena tragedi penculikan. Mereka berpisah hampir satu tahun lamanya," ucap Zee.
"Penculikan? Apa Bunda yang di culik?" tanya Alex.
"Ya, kau benar. Dan saat itu, Bunda sedang hamil kak Ara," jawab Zee.
Alex menggenggam tangan Zee, menciumnya dengan lembut, membuat Zee tersenyum melihatnya.
"Apa kau selalu seperti ini dengan wanita-wanita mu, Lex?" tanya Zee.
"Tidak, aku tidak pernah memperlakukan mereka dengan sangat lembut. Karena, aku mendekati mereka hanya tuk sekedar tidur saja. Selebihnya, aku tak melakukan apapun," jawab Zee.
"Berapa wanita yang kau tiduri? Apakah ada yang sampai hamil anakmu?" tanya Zee dengan nada ragu.
Alex menatap Zee, menghentikan. mobilnya di pinggir jalan. Alex menatap tajam, membuat Zee sedikit takut dengan sikap Alex yang diam. Mungkin juga Alex marah, tersinggung dnegna ucapan Zee.
"Apa kau takut, jika aku memiliki seorang anak dari wanita lain?" tanya Alex.
__ADS_1
Zee tak menyangka Alex akan mengatakan itu, dengan hati yang terasa sakit, Zee menjawab dengan tenang. "Aku saja mempunyai anak dari lelaki lain sebelum denganmu, lalu kenapa jika kau memiliki anak dari wanita-wanita mu itu. Hanya saja, jika memang itu sampai terjadi. Aku akan sedikit lama tuk menerimanya".
Alex memalingkan wajahmu dari Zee, tanpa berbicara satu kata pun. Terlihat naoasnya sedikit memburu, rahangnya terlihat mengeras, mungkin dia sedang menahan amarahnya.
"Aku memang lelaki kurang ajar, Zee. Aku lelaki brengsekk yang sudah tidur dengan banyak wanita. Tapi, asal kau tahu aku selalu menggunakan pengaman. Dan wanita pertama yang ku tiduri tanpa pengaman itu hanya dirimu," jelas Alex tanpa memandang Zee.
Zee membulatkan matanya tak menyangka akan itu, tangannya menarik jas Alex, tapi Alex taj bergeming dia hanya diam tak ingin menatap Zee.
Alex merasa sakit hati dengan pertanyaan Zee padanya. Memang wajar juga jika Zee menanyakan itu karena tahu kebiasaan Alex yang sering melakukan itu dengan wanita-wanita di club. Hanya saja, Alex sedikit tersinggung akan itu.
"Al, aku minta maaf. Jika, pertanyaan ku menyinggung dirimu," ucap Zee dengan nada menyesal.
Alex masih diam tak menjawab. Alex langsung mengemudikan mobilnya tuk melanjutkan perjalanan itu. Zee terus berusaha meminta maaf, tapi tak di hiraukan oleh Alex.
Yang bisa di lakukan Zee, hanya menggenggam satu tangan Alex dengan erat. Untungnya saja Alex bisa mengemudiakan mobil dengan satu tangan. Sesampainya di depan Villa, Alex mencoba melepaskan tangannya dari Alex, tapi selalu di tarik oleh Zee.
"Jangan seperti anak kecil, aku lelah ingin segera mandi dan istirahat!" serunya.
Dengan terpaksa akhirnya Zee melepaskan tangan Alex, dari dalam Villa keluar lelaki paruh baya dari sana.
"Bunda, Ayah, kalian bisa hidup bersama setelah perpisahan itu. Aku dan Alfa terpisah tuk selamanya, tapi kini ada sosok lelaki yang bisa kembali mengisi hatiku. Tuhan mengirim Alex tuk ku dan menggantikan Alfa," batin Zee.
Zee menghapus air matanya yang menitik lembur di pipi mulusnya. Mencoba menenangkan kembali hatinya, karena kini adalah lembaran baru tuk Zee dan kehidupan baru tuk dirinya.
"Nona," panggil wanita paru baya.
Zee membalikkan tubuhnya, terlihat wanita itu masih keliatan cantik di usianya yang sudah tua. Zee tersenyum begitu pula dengan dirinya.
"Nona, silakan masuk! Sebentar lagi akan turun hujan, Tuan juga sudah menunggu di dalam kamar," ucapnya.
Zee menatap langit yang memang sudah menggelap, sepertinya akan turun hujan lebat.
"Terimakasih, bi. Baiklah, tolong antarkan saya ke kamar!" pinta Zee.
Wanita paru baya itu pun mengantar Zee ke kamar utama. Villa itu sudah berganti kepemilikan, dan katanya pemilik Villa ini sekarang orang Amerika.
__ADS_1
"Ini, Nona. Silakan masuk! Jika membutuhkan sesuatu tinggal panggil saya saja!" pintanya.
"Terimakasih, bi. Sekali lagi maaf sudah merepotkan," balas Zee serah tersenyum.
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu pergi meninggalkan Zee disana.
Zee membuka pintu kamar tersebut, begitu indah dengan aksen barat namun berminiatur tradisional. Zee tak melihat Alex disana, akhirnya mencarinya kearah balkon, tetap tak ada.
Ceklek, pintu kamar mandi terbuka. Melihatnya sosok lelaki gagah yang hanya berbalutkan handuk di pinggangnya.
Zee menundukkan kepalanya saat melihat tubuh atas Alex yang polos tereskpos begitu saja.
Alex mendekati Zee dengan perlahan, membuat Zee terkejut dan memilih mundur. Aroma tubuh Alex yang tercium oleh Zee membuat wanita itu semakin mundur dengan menutup matanya. Sampai tubuhnya menabrak dinding di belakangnya.
"Kenapa kau menutup matamu? Apa kau menghindariku?" tanya Alex.
"Tidak, bukan seperti itu. Aa-aku hanya...-" ucapan Zee terpotong karena bibirnya sudah di kecup lembut oleh Alex.
Alex sudah mengecup lembut bibir tipis itu. Alex menarik tubuh Zee sampai menabrak dada bidangnya. Mendekap tubuh sang istri, menguasai permainan bibir itu. Zee masih menutup matanya tak berani menatap Alex.
Alex terus melummat bibir sang istri, tangannya sudah memainkan tubuh Zee, melepas semua kain yang menempel pada tubuh mungil itu.
Setelah beberapa menit, Alex melepaskan tautan bibirnya. Membiarkan sang istri menghirup oksigen yang sudah tertahan saat penyatuan itu.
Zee menatap Alex yang sudah terlihat bergairah. Matanya sudah begitu sendu. Sedangkan tangan Zee sudah bergelayut di leher Alex tanpa dia sadari.
"Kau melepas semua pakaianku? Tahu saja kalau aki ingin mandi," ucap Zee dengan terbata.
Dengan perlahan Zee menurunkan tanganmu dari leher Alex dan berniat melarikan diri tuk mandi. Tapi usahanya gagal karena Alex malah menggendongnya ke arah ranjang.
"Al, kau mau apa? Biarkan aku mandi terlebih dahulu, ok!" pinta Zee.
Tapi Alex tak menjawab ucapan sang istri, yang ada Alex semakin menaiki tubuhnya. Mengungkung tubuh Zee di bawah tubuh kekarnya.
"Kau bisa mandi setelah melakukan olah raga dulu denganku," bisik Alex begitu lembut. Membuat bulu kuduk Zee merinding.
__ADS_1
Tanpa ingin berlalu-lama Alex sudah melancarkan serangan pertamanya pada Zee. Malam pertama mereka setelah menikah. Ya ini memang bukanlah yang pertama tuk Alex dan Zee, tapi tetap saja malam ini terasa begitu indah mereka rasakan. Bisa memiliki seseorang yang dicintai adalah suatu kebahagiaan.