
Zee dan Alex pun sampai di depan rumah Sam, tapi disana terlihat begitu sepi. Zee menghampiri pintu rumah itu terlihat ada tetesan noda darah di sana.
“Noda apa ini?” tanya Zee pada Alex.
Alex menyentuh noda itu dan menciumnya, keningnya merengut mendapatkan hasil dari pemikirannya. Alex mencoba mendorong pintu dan ternyata tak terkunci, semalam karena panic Zyan lupa tuk mengunci
pintu itu. Zee dan Alex pun aling berpandangan merasa ada yang tidak beres, Alya berlari ke dalam begitu saja karena ingin cepat bertemu dengan Yuan.
“Ahhhh,,, Daddy, Mommy darah!” teriak Alya dari dalam ruang tengah.
Alex berlari dengan cepat dan melihat Alya sudah terduduk di lantai yang terdapat darah di depannya. Alya menangis menutup wajahnya karena melihat begitu banyak darah di sana. Alex langsung memeluk sang putri dan menggendongnya.
“Al, ada apa?” tanya Zee yang berada di belakang.
Matanya terbelalak melihat darah di depannya, Zee menutup mulutnya dengan perasaan yang sangat cemas. Zee berlari ke atas mengecek kamar Yuan dan Abigail, tak ada siapa pun di sana. Alex menelpon seseorang tuk membantunya membersihkan rumah Sam. Alex juga menelpon Zyan yang ternyata sedang berada di perjalanan ke rumah Sam.
“Lex, tak ada siapa pun di rumah ini. Ke mana perginya mereka, darah siapa itu?” tanya Zee.
“Entahlah, tapi Zyan sedang menuju kemari. Kita tunggu saja kakakmu datang,” jawab Alex.
Zee menemani Alya masih syok karena melihat darah, di rumah itu Zee membuatkan susu coklat hangat tuk sang anak. Darah itu sudah hilang dibersihkan oleh pekerja, Alex juga meminta semuanya membersihkan semua rumah Sam, terdengar suara mobil Zyan datang.
“Lex, Zee,” paanggil Zyan dari luar.
Terlihat Alex dan Zee sedang duduk di ruang tengah dengan Alya, Zyan melihat ke arah tangga tenyata noda darah itu sudah tak ada. Terlihat, Zyan sedikit lega sedangkan Alex dan Zee terlihat penasaran dengan apa yang terjadi.
“Apa yang terjadi?” tanya Zee.
“Semalam, Sam terjatuh dari lantai atas dan sekarang dia masih belum sadarkan diri di rumah sakit,” jawab
Zyan.
“Belum sadarkan diri, apakah lukanya sangat parah?” tanya Zee begitu syok mendengar itu.
“Ya, lukanya sangat besar dan Kak Ken bilang entah apakah Sam mengalami gagal otak atau tidak. Darah yang kalian lihat itu, darah Sam. Semalam disini mengalami memadaman listrik dan hujan lebat, Sam sendirian di rumah karena Abigail dan Yuan berada di rumah kakak,” jelas Zyan.
“Jadi maksudmu, Abi tak tahu jika suaminya tak sadarkan diri?” tanya Alex.
Zyan menganguk lemas, raut wajahnya begitu sedih. Zyan mengusap wajahnya kasar, meremmas rambutnya karena begitu sedih dan sangat bingung. Zee menghampiri saudara kembarnya, memeluk tubuh kekar sang kakak, tanpa Zee sangkah Zyan menangis di pelukannya.
“Ada apa? Ktakan padakku!” pinta Zee sembari mengusap lembut punggung Zyan.
“Zee, aku sangat takut, aku takut teman-temanku pergi meninggalkan aku. Sam semalam berkata dia melihat Al dan Via, sungguh aku takut jika harus kehilangan temanku lagi,” isak Zyan.
Air mata Zee menetes mendengar ucapan dari Zyan, hatinya begitu sakit, sedih dan juga merasakan takut yang sama dengan Zyan. Zee mencoba menenangkan dirinya dan Zyan.
“Apa yang kau takutkan? Kak Ken sudah menolongnya dia akan segera sadar dan kembali baik. Kau harus percaya itu!” pinta Zee.
“Aku takut sekali saat pertama menemukan Sam yang tergeletak disini sendirian dengan banyak darah,” ucap Zyan.
“Tangan ini penuh dengan darahnya, Zee. Aku menangis semalaman, tubuhku bergetar hebat mengingat kejadian berdarah itu dan melihat Sam yang tak sadarkan diri berada di pelukanku,” sambung Zyan dengan suara yang gemetar.
Zee kembali memeluk tubuh Zyan tuk menenangkan sang kembaran. Alex begitu sedih dan juga bingung harus mengatakan apa, yang dia tahu sekarang waktunya menolong Zyan yang masih syok.
“Zyan, pulanglah! Biarkan, Sam aku dan Zee yang akan menjaganya,” ucap Alex.
“Bagaimana aku mengatakanya pada Abigail?” tanya Zyan.
“Ada aku, biar semuanya kita yang akan menjelaskannya pada Abigail. Kau istirahat saja,” jawab Zee.
Mereka pun kembali ke rumah Ara, disana sudah ada Kiara di depan rumah menunggu sang suaminya, terlihat mobil Alex dan Zyan memasuki halaman rumah Ara. Kiara tersenyum, hatinya begitu lega karena melihat Zyan sudah datang. Tapi, tak terlihat Sam bersama mereka.
__ADS_1
“Zyan,” panggil lirih Kiara seraya memeluk sang suami.
Zyan, memeluk Kiara membuat dirinya sedikit membaik dan lega. Terlihat Abigail keluar dari rumah dengan menggendong Yuan, Zee menghampiri Abi dan mengendong Yuan.
“Apa kabarmu, Bhie?” tanya Zee seraya memeluk Abigail.
“Aku baik, bagaimana denganmu,” jawab Zee.
Alex mengambil Yuan dari gendongan Zee dan bermain dengan Alya yang memang begitu merindukan bayi lelaki itu.
“Zyan, dimana Sam? Kenapa aku tak melihatnya di sini, apa dia tak ingin bertemu dengan ku dan Yuan?” tanya Abigail.
“Bhie, bukan seperti itu. Sam sangat merindukan dirimu bahkan semalam dia mencarimu,” jawab Zee.
“Lalu kemana dia, kenapa tak datang bersama dengan kalian?” tanya Abigail.
“Abi, sebenarnya Sam sekarang ada di rumah sakit,” jawab Zyan.
“Rumah sakit, kenapa dengan Sam? Beritahu aku, Zyan!” pinta Abigail sangat cemas.
Zee membawa Abigail tuk duduk di kursi taman, Zyan memberitahukan semuanya. Tangisan Abigail tak bisa lagi di tahan mendengar sang suami yang tak sadarkan diri. Abigail merasa bersalah dan sangat menyesal karena telah pergi meninggalkan Sam malam itu.
“Bagaimana keadaan, Sam? Aku ingin melihatnya,”ucap Abigail.
“Terakhir aku melihatnya, dia masih belum sadar. Ada Kak Ara yang menjaganya,” balas Zyan.
“Pergilah, temani suamimu! Biarkan, Yuan bersamaku disini,” ucap Kiara.
Abigail menatap Kiara dan mengangguk ia, Abigail bergegas masuk dan bersiap-siap tuk pergi bersama
dengan Zee dan Alex.
Kiara menggendong Yuan yang tengah tertidur sehabis bermain dengan Alya dan Alex. Zyan masuk ke dalam kamarnya, melepas semua pakaiannya dan merendam seluruh tubuhnya di dalam bath up. Zyan masih teringat akan ucapan Sam yang memintanya tuk menjaga anak dan istrinya.
Zyan mengusap kasar wajahnya, air matanya mengalir deras namun tak terlihat karena berbaur dengan air. Hatinya begitu sesak, sangat sesak bahkan seakan ada batu yang menindihnya.
Kiara masuk kedalam kamar mandi dan melihat Zyan yang sedang menunduk di dalam bath up, mengusap lembut rambut sang suami, Zyan memeluk perut Kiara dan menangis seperti anak kecil.
“Menangislah, Oppa! Jika itu membuatmu lega dan tenang,” ucap Kiara.
Zyan menangis dengan hebat memeluk tubuh Kiara, entah kenapa rasanya dai begitu takut kehilangan Sam, rasa trauma akan kematian membuat seorang Zyan yang memang phobia akan darah menjadi semakin menjadi. Kiara dengan setia menemani suaminya itu menangisi sang sahabat.
“Begitu dalam perasaan persahabatan kalian, sampai rasanya kau mati jika terjadi sesuatu pada temanmu
itu. Zyan, rasa sayangmu pada Alfa dan Sam begitu besar,” batin Kiara.
Zyan tertidur setelah merasa baik sesudah mandi dan merasa tenang, hari ini Zyan benar-benar menjadi lelaki yang sangat lemah. Tidur pun, Zyan memeluk tubuh Kiara dengan sangat erat.
RUMAH SAKIT
Sesampainya di rumah sakit, Abigail, Zee dan Alex mencari keberadaan Sam. Terlihat, Ara baru saja keluar dari satu ruangan. Abigail memanggil Ara dan membuatnya terkejut, dengan kedatangan adik-adiknya.
“Kakak, bagaimana keadaan Sam?” tanya Abigail cemas.
“Dia sudah lebih baik, sekarang tinggal menunggu dia sadar saja. Kau bisa melihatnya,” jawab Ara.
Abigail merasa lega karena keadaan dari suaminya yang menurut Ara sudah lebih baik, Zee memeluk Ara dan bergantian dengan memeluk Alex.
“Ikut dengan kakak sebentar!” bisik Ara pada Zee.
Setelah, Abigail masuk ke dalam ruang VVIP pun, Alex dan Zee mengikuti Ara masuk ke dalam ruangannya. Terlihat wajah Ara berubah menjadi sedih, Ara terlihat menahan air matanya. Zee memeluk sang kakak, Ara menangis di pelukan Zee.
__ADS_1
“Kaka ada apa?” tanya Alex sangat cemas.
“Sam, dia tak akan sadar. Dia koma,” jawab Ara menangis dengan hebat.
Zee ikut menangis mendengar itu, kakak beradik itu menangis bersama. Alex mengusap kasar wajahnya mendengar kabar itu. Sungguh, dia pun merasa sedih akan berita buruk ini.
Di dalam kamar, Abigail melihat banyak alat di tubuh Sam. Abigail mencium tangan Sam yang terdapat jarum infus. Wajah Sam terlihat pucat, kepalanya berbalut perban, air mata Abigail kembali mengalir di wajah cantiknya.
“Maafkan aku, Sam. Telah meninggalkanmu, aku mohon buka matamu sayang! Ada aku di sini, Yuan juga merindukanmu,” ucap Abigail.
Abigail, meletakkan kepalanya di samping wajah Sam. Mengingat akan pertemuan antara dirinya dan Sam yang tak di sengaja, mengingat akan kisah cinta mereka yang sempat terpisah jauh oleh jarak dan waktu. Abigail kembali menangis hebat sembari memeluk tubuh Sam.
“Aku mohon bangunlah, buka matamu Sam!” pinta Abigail.
“Kenapa tubuhku terasa ringan, aku dimana? Kenapa tempat ini sangat aneh, kemana semua orang? Bukankah aku sedang berada di rumah mencari anak dan istriku” ucap Sam
Samudera terbangun dari tidurnya, menatap ke segala arah terlihat hanya tumpukan batu dan pasir yang terbentang luas di depan Sam.
“Padang pasir? Dimana ini, kenapa aku ada disini?” tanya Sam.
Sam merasakan udara panas yang menerpa wajahnya, bahkan pasir pun ikut terbang membuat pandangan mata Sam terhalang.
“Kakak, ayo kejar aku! Tangkap aku, kak!”
Terdengar suara gadis kecil berlari di depannya, Sam menyipitkan matanya tuk melihat siapa gadis itu. Namun, pasir yang masuk ke dalam matanya membuat pandangan Sam menjadi kabur.
“Jangan berlari, nanti kau terjatuh!”
Sam melebarkan matanya mendngar suara lelaki yang sangat dia kenali, ya itu adalah suaranya saat masih kecil.
“Siapa kalian, hey jawab aku!” pinta Sam mencoba berjalan maju.
Tak ada jawaban dari dua anak kecil itu, yang ada hanya tatapan tanpa ekspresi dari keduanya. Sam mengucek matanya agar bisa melihat siapa mereka.
“Kalian siapa? Kenapa suaramu seperti suaraku saat masih kecil?” tanya Sam pada anak lelaki itu.
Tetap tak ada jawaban darinya, yang terlihat hanya tatapan tajam dan wajah yang tak berekspresi.
“Kakak, dia jahat. Dia yang memarahiku, dia yang membuat aku menangis,” ucap gadis kecil itu sembari
menggoyangkan lengan lelaki kecil itu.
Sam begitu terkejut mendengar suara dari gadis itu, karena sangat mirip dengan Zyvia saat kecil. Sam berjalan maju ingin menggapainya, namun langkahnya terhenti saat lelaki kecil itu menahanya.
“Jangan dekati adikku! Kau orang jahat, jangan sentuh adikku, dia milikku!” serunya menatap tajam Sam.
“Dia seperti adikku, Zyvia. Dia, Zyvia bukan?” tanya Sam.
“Zyvia itu adikku bukan adikmu. Adikmu itu sudah mati, dia mati karena dirimu, dia sangat membencimu,” ujarnya dengan berteriak.
Sam melebarkan matanya, hatinya begitu sesak mendengar ucapan dari lelaki kecil itu. Aim mata Sam mengalir begitu saja, tubuhnya terjatuh di atas pasir, terlihat darah di kedua tangannya. Sam semakin terkejut dan merasa melihat Zyvia besar tergeletak di
depannya dengan penuh luka, merintih kesakitan dengan memanggil namanya.
“Zyvia, Zyvia, ini kakak sayang,” ucap Sam mencoba bangun tuk menggapai sang adik.
Namun entah kenapa, Sam tak bisa menggerakkan tubuhnya dan melihat tubuh Zyvia semakin pergi menjauh dan hilang dari pandangannnya.
"Zyvia!!!" teriak Sam.
Bersambung 🍂🍂🍂🍂
__ADS_1