
''Aku akan tetap mempertahankan Ana pa , meski harus seumur hidup pun dengan alat medis tersebut . Selama aku masih bernafas tak ada satupun yang boleh untuk melepaskan alat tersebut . Siapapun orangnya , sebab aku tak mentolelir hal ini " ucapan Rafli yang kala itu sangat enggan membiarkan Ana pergi .
" Ku harap berilah harapan kebahagiaan baru untuk kami ya Allah " batin Abdi.
Diperjalanan pulang dari luar kota . Rafli melihat sebuah toko bunga yang begitu menarik perhatiannya . Sudah lama rasanya Rafli tak memberikan wanita itu Bunga dan sebuah coklat .
Langkah kakinya mencuri perhatian orang di sekitarnya . Sungguh asing sosok Rafli disini karena dari segi wajah sungguh ia bukan orang Jerman asli , namun tampilannya sangat mapan dan tampan di usia 35 tahun lebih tersebut , tidak ada satupun yang menyangka usianya sudah segitu.
'' Gibt es etwas , was ich lhnen helfen kann , sir " tanya pelayan toko yang berbahasa Jerman.
( apakah ada yang bisa saya bantu tuan ) seorang pelayan dengan bahasa Jerman.
Rafli baru menguasai bahasa Jerman sekitar 70% .
'' Gibt es eine weibe rose " tanya Rafli .
'' Ini tuan pilihan bunganya " ujar penjual tersebut tiba-tiba saat melihat calon pembeli .
Rafli memilih bentuk bunga mawar putih yang begitu di sukai Ana . Rafli memilih mawar putih Mrs. Herbert Stevens adalah tipe bunga mawar putih yang memiliki aroma sangat kuat dan glamis castle yang beraroma sangat menyenangkan dan manis .
'' Tuan anda hebat sekali memilih bunga. Pasti kekasih anda begitu bahagia menerima bunga ini " ucap sang penjual memuji Rafli karena benar apa adanya .
'' Ini untuk istri ku " ucap Rafli membuat sang penjual menggaruk kepalanya yang tak gatal .
'' Aku kira anda belum menikah " ucapnya jujur.
'' Kami telah menikah sepuluh tahun lamanya " jawab Rafli .
'' Semoga rumah tangga kalian akan bahagia , karena mawar putih ini menyimbolkan kesucian dan ketulusan " ucap sang Penjual .
'' Aamiin dan tolong doakan istri ku agar cepat sembuh " ucap Rafli .
'' Ba...baik tuan " ucap penjual .
'' Kasihan sekali pria itu " batin penjual saat menatap punggung Rafli menjauh .
.
.
.
Rafli menelusuri lorong rumah sakit saat malam tiba , tubuhnya begitu lelah namun lelahnya akan terbayar saat melihat sang istri .
" Sayang " ucap Rafli menghampiri Ana dan mencium keningnya seperti biasa dan perawat serta bodyguard yang berjaga segera beranjak meninggalkan sepasang suami istri tersebut.
" Mas membawakan bunga mawar putih dan coklat makanan kesukaanmu " ucap Rafli meletakkan bunga mawar putih di samping Ana.
" Hiruplah pasti wanginya kau suka " ucap Rafli mendekatkan aroma bunga tersebut dengan Ana.
" Mas mandi dulu ya " pamit Rafli segera menuju kamar mandi dan membawa baju gantinya .
Pagi harinya tuan Gunawan mengunjungi sang anak dirumah sakit dan berniat mengungkapkan niatnya . Tiap malam Ana selalu mendatanginya.
'' Pak . Tumben pagi sekali " ucap Rafli yang sedang memasang dasi kerjanya. Terlihat sandwich masih komplit diatas nampan beserta teh tanpa gula.
'' Apa kau sibuk Raf " tanya Teguh membuat Rafli melihat jam di pergelangan tangannya .
'' Lima menit lagi aku harus berangkat pak . Ada apa , katakanlah " ucap Rafli . Tiba-tiba Gunawan yang telah memantapkan hatinya untuk berucap , kali ini lidahnya keluh seakan ada biji kedondong yang menyangkut di tenggorokan nya ....
" Bapak hanya ingin pagi ini membesuk putri bapak " ucap Gunawan yang tiba-tiba lidahnya keseleo.
" Bapak sudah sarapan " tanya Rafli.
" Sudah . Kau makanlah " ucap Gunawan dan dijawab anggukan dari Rafli serta senyuman .
" Baiklah . Mari makan pak " ucap Rafli dan diangguki Gunawan.
Terlihat menantunya itu sedikit berbeda , berbanding terbalik saat Ana mengurus semua kebutuhan Rafli saat dulu meski begitu Rafli terlihat tetaplah tampan , rapi dan mempesona.
" Pak aku pamit dulu. Titip Ana ya " ucap Rafli secepat kilat ia menikmati sarapan paginya.
__ADS_1
" Kau hati-hatilah " ucap Gunawan dan diangguki Rafli
Cup Rafli kembali mengecup kening sang istri dan sedikit merapikan rambut Ana , matanya menatap Ana dengan penuh cinta dan kerinduan yang mendalam.
" Mas pergi dulu ya , cepatlah sadar. Mas sangat mencintaimu, kami semua merindukanmu " ucap Rafli segera melangkah pergi setelah mencium pipi Ana.
" Apa aku tega mengatakannya . Nak kau harus sembuh . Ingat suami dan anakmu yang menantimu bahkan kami semua " batin Gunawan.
.
.
.
'' Huft , Rafli masih saja setia pada mayat hidup itu " gerutu Viona yang selama ini ikut berada di balik layar..
'' Kau bahkan tak diliriknya " sindir Willy .
'' Kau sendiri apa . Bahkan kekasihmu memilih mengasuh anak-anak mereka " ucap Viona tak terima .
'' Karena dia kasihan pada Ana. Coba wanita itu tak melindungi Rafli saat tembakan itu , yang dipastikan meninggal adalah Rafli . Aku ingin melihat Camelia menangis darah " geram Willy , racun pada peluru itu begitu mematikan hanya ada satu obatnya yang berasal dari sari bunga yang sangat Langkah berada , sedangakan racun itu terbuat dari getah tangkai sang bunga. Hanya segelintir orang yang tahu racun jenis itu. Jika mendapat obat penawarnya sekarang pun dirasa percuma saja.
'' Apa jika aku menawarkan Rafli penawar nya , Rafli bakal melirikku dan mau memberikan hadiah apapun yang ku pinta. Jika ia aku mau menjadi istrinya dan simpanannya pun tak masalah. Oh ototnya begitu ku nantikan saat menjajahi tubuhku " batin Viona penuh kemesuman membayangkan Rafli yang perkasa di atas ranjang yang mengemudikan dirinya.
Pluk
Kulit jeruk menyadarkan lamunan Viona. Membuat wanita itu kesal sendiri dan beranjak pergi.
.
.
.
'' Bagaimana keadaan istri saya Dok " tanya Rafli tanpa bosan.
'' Seperti biasa tuan , belum ada perkembangan " ucap dokter Mark menunduk .
'' Saya permisi tuan " ucap dokter Mark sopan , sang dokter pun sedang berusaha mencari dokter terbaik yang bisa menyadarkan pasiennya tersebut meski hanya kecil kemungkinan . Namun mukjizat bagi siapapun tetaplah ada.
'' Rafli , bisa kita bicara sebentar di ruang luar " tanya Gunawan .
'' Kenapa tidak disini saja pak " tanya Rafli enggan beranjak .
'' Ini penting " ucap Gunawan dan tak ada pilihan lain bagi Rafli .
Rafli menggebrak meja kantin rumah sakit dengan begitu keras membuat seluruh pengunjung di sana menatap mereka...
'' Ku peringatkan sekali lagi pada dirimu. Jika aku tidak akan melepas alat yang menempel pada tubuh istriku. Apapun alasannya " ucap Rafli tak mampu mengontrol emosinya terhadap bapak mertuanya yang begitu jahat ia anggap kini , sopan santun Rafli tinggalkan sejauh mungkin.
" Aku suaminya dan paling berhak atas dirinya . Kau tak mengerti soal cinta , jadi jangan bicarakan cinta dan kasih sayang disini. Aku tak butuh belas kasihan dari siapapun , aku hanya butuh Ana disisiku . Dan kalian tak bisa memisahkan kami " imbuh Rafli geram , Rafli berjalan mendekati dimana Gunawan berada yang di dampingi body guard milik Abdi Wijaya.
'' Jika Ana datang kemimpi itu lagi , bilang padanya untuk kembali kesisiku atau aku akan hancur sehancur-hancurnya " ucap Rafli menatap tajam Gunawan yang kini menatapnya dengan sulit di artikan.
'' Kau ingin putriku terus merasakan sakit " ucap Gunawan.
'' Ana harus merasakannya jika enggan kembali. Dan itu akan terus berlanjut hingga suaminya ini berhenti bernafas " ucap Rafli terlihat memancarkan aura menyeramkan dalam dirinya .
'' Jika tak mengingat dirimu ayah dari wanita yang ku cintai, maka aku akan mengirimkan peti mati untukmu " ujar Rafli berlalu pergi , jika lama tetap berada disana bisa saja ia membunuh mertuanya.
'' Aku melarangmu untuk kedepan dan seterusnya membesuk istriku . Aku salah menilaimu sebagai sosok ayah yang baik " ucap Rafli tanpa membalikkan badannya ...
'' Dia tetap putriku . Tak ada hubungan darah menjadi mantan . Ana tetap anakku , apapun yang terjadi " gumam Gunawan.
Langkah Rafli terlihat tergesa-gesa untuk sampai diruang rawat sang istri.
Rafli menangis seraya memeluk Ana , menceritakan semua apa yang terjadi barusan . Bahkan Rafli terlihat menangis dalam setiap ucapannya , penuh harapan untuk Ana segera terbangun dari tidur panjangnya.
Rafli segera meraih benda pipihnya , meminta orang tersebut segera menyiapkan apa yang ia pinta .
'' Sepertinya kakak ipar menangis " gumam Rahma , yang di telepon Rafli adalah Jimmy yang sedang menikmati waktu santai nya bersama istrinya.
__ADS_1
'' Aku tidak menyangka dengan pola pikir bapak kali ini . Itu begitu menyakiti perasaan kakak ipar. Aku yang sebagai adiknya saja begitu sakit mendengarkan apalagi harus mengikhlaskan mbak Ana " isak Rahma menangis dalam pelukan Jimmy, perasaan Jimmy juga bersedih saat ini .
Rafli enggan pergi ke kantor setelah kejadian itu dan Gunawan pun begitu sulit untuk menemui putrinya , Rafli tak main - main dengan ucapannya. Bahkan Abdi pun turut terkena imbasnya , Rafli meyakini bahwa sang papa mengetahui hal itu saat mengetahui keberadaan bapak mertuanya yang di dampingi para bodyguard Abdi , Rafli yakin sang papa mengetahui rencana ini .
'' Bahkan papa telah bersiaga agar aku tak membunuh mertuaku '' ucap Rafli tersenyum getir.
'' Ma " ucap Rafli menyandarkan kepalanya di pangkuan Lia .
'' Yang sabar ya sayang . Mama yakin , penantian mu tak sia-sia . Ana akan segera sadar " ucap Lia , air matanya merembes melihat Rafli yang begitu terpuruk .
'' Terimakasih mama mendukung keputusanku untuk tetap mempertahankan Ana " ucap Rafli.
'' Kau harus yakin , berdoalah . Anggap saja saat ini Ana ingin pergi sesaat darimu dan tersesat jalan pulang . Yakinlah , ia akan kembali pada mu " imbuh Lia , mengusap surai sang anak agar tak bersedih kembali .
'' Tapi kapan ma " ucap Rafli lirih .
'' Apa kau lelah menantinya " ucap Lia lembut .
'' Tentu aku tak lelah ma , Aku sangat merindukannya " ucap Rafli dan tak lama Rafli tertidur dalam pangkuan Lia .
'' Mama , berharap kau segera sadar Ana . Lihat anakku , begitu hancur tanpa mu Ana. Rafli hidup tapi tanpa gairah dalam hidupnya " gumam Lia.
.
.
.
Pagi pun tiba , dan hal yang direncanakan Rafli berjalan lancar. Kini Rafli memilih tinggal di sebuah rumah cukup mewah namun bukan mansion karena ukurannya tak begitu besar dan megah bagi dirinya dan tak lupa ia juga membawa Ana keluar dari rumah sakit untuk tinggal disana. Hal itu di dukung oleh Lia yang pagi ini sengaja menahan besan laki-lakinya yang biasa tetap berusaha membesuk Ana meski itu sia-sia dan dokter Mark juga ikut tinggal disana serta beberapa suster .
'' Tuan Rafli " ucap dokter Mark membuka pembicaraan secara serius .
'' Ada apa dok " tanya Rafli.
Dokter Mark menjelaskan bahwa tim nya menemui sesuatu yang ganjal memasuki aliran darah Ana kini . Mata Rafli membelalakkan kaget mendengar penuturan dokter Mark , awalnya berbinar namun binar itu meredup seketika.
'' Tapi tidak ada salah nya mencoba , meski ini terlambat dan kita bantu dengan doa " ucap Mark menyemangati pria putus asa dihadapannya ini .
'' Lalu kapan adik iparmu kemari dokter . Aku akan membayar berapapun " ucap Rafli .
'' Dia sudah terikat kontrak dirumah sakit dan jika kita membayar dendanya itu akan sangat mahal " ucap Mark jujur.
'' Berapapun akan ku bayar . Meski harapan kesembuhan Ana sangat kecil " ucap Rafli terlihat menggebu-gebu.
'' Sebutkan rumah sakitnya . Aku akan memerintahkan orang-orang ku menyelesaikannya " tegas Rafli dan dokter Mark menyebutkan nama rumah sakit tersebut sekaligus nama adiknya.
Awalnya dokter Mark curhat kepada sang adik yang satu profesi dengannya namun siapa sangka adik ipar yang mendengarnya menyambung obrolan mereka dan adik iparnya cukup memahami jenis racun yang perlahan dapat membunuh. Namun sayang , adik iparnya terikat perjanjian cukup besar di rumah sakit tersebut.
Jika Gunawan tak patah semangat untuk melihat anaknya sama hal nya Rafli yang tak patah semangat menanti sang istri agar segera sadar..
'' Nak " ucap Lia berkunjung rumah Rafli dengan membawa para cucunya . Para cucu Lia memeluk orang berstatus ayah bagi mereka dengan bersemangat begitu juga mereka mencium kening Ana dan yang paling setia Dewa berada disana. Dua orang yang sama namun beda generasi tersebut terlihat begitu setia menatap wajah Ana.
'' Kalian temani bunda ya . Ayah mau bicara dengan nenek " pinta Rafli dan diangguki Arjuna serta Dewa sementara Jelita sibuk bermanja kepada sang ayah sementara Rava bocah itu akan menyambangi dapur .
'' Ada apa ma " ucap Rafli mendudukan tenang Jelita di sampingnya seraya memberikan mainan untuk anak tersayangnya.
'' Bagaimana kabar Ana " tanya Lia .
'' Aku sedang berusaha menjemput sepasang dokter itu untuk kesini ma " jawab Rafli .
'' Semoga berhasil , meski harapannya begitu kecil namun harapan tetaplah ada " ucap Lia.
'' Mama bantulah dengan doa " ucap Rafli.
'' Pasti sayang " jawab Lia tegas.
'' Oh ya ma , bagaimana dengan bapak mertua '' ucap Rafli yang hatinya tercubit saat mengetahui dua hari yang lalu Gunawan mengalami panas tinggi , karena Rafli bersikeras memerintahkan bodyguard nya agar Gunawan tak memasuki rumahnya . Alhasil pria setengah baya itu berdiri sekitar lima jam di bawah guyuran air hujan dan esoknya Gunawan mencoba menemui sang anak dan menantu namun hati Rafli masih sekeras batu karang saat itu dan lagi-lagi hujan deras menyapa tubuh Gunawan hingga Gunawan meneteskan air matanya bersama air hujan namun tak ada yang menyadari. Gunawan begitu menyesali ucapannya , namun Gunawan tak mengadu kepada siapapun hingga ia jatuh pingsan dengan demam tinggi dan di temukan oleh pelayan mansion Abdi Wijaya . Abdi Wijaya sempat naik pitam terhadap keegoisan Rafli namun Lia segera menenangkan sang suami dan membela anaknya hingga memberi pengertian kepada Abdi tentang kondisi Rafli yang terlihat sedikit stres karena pikirannya terus tertuju pada Ana dan pekerjaan kantor yang begitu membuat pusing untuk Rafli berpikir.
Jangan lupa like dan komentarnya ya
__ADS_1