Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 317


__ADS_3

TATAPAN ITU


Terdengar suara Jet landing di landasan, membuat semua pepohonan menerbangkan dedauanan. Arga yang sejak tadi sedang bercengkrama dengan Alex, Wiliem dan Laudya bergegas berlari, membuat Alex dan Wiliem terkejut dan penasaran ada apa dengan pemuda tersebut.


“Hay, bocah kau mau kemana?” tanya Alex berteriak pada Arga.


“Dokter sudah kembali,” sahut dengan berteriak Arga tak kalah kencangnya.


“Dokter? Siapa Dokter itu, kenapa dia begitu heboh sekali?” tanya Wiliem.


“Dokter, mungkin dia Dokter yang membawaku kemari dan pemilik Vila ini,” jawab Laudya  menebak-nebak.


Alex dan Wiliem pun bepandangan mendengar itu, mereka pun bergegas berlari dari tempat itu. Namun, baru saja berapa langkah, kedua lelaki itu kembali lagi seraya menatap Laudya yang sedang menatap kakinya.


“Kita melupakan dia,” ucap Wil menatap Alex.


Alex dan Wiliem pun kembali ke arah Laudya, membuat Laudya terkejut tapi juga tersenyum. Alex dan Wiliem memapah Laudya dengan sabar sampai di dalam, Alex membawakan Laudya kursi roda.


“Ini akan mempercepat kita menemui lelaki itu,” ucap Alex.


“Maaf, sudah membuat kalian jadi repot karena aku,” balas Laudya.


“Is ok, aku kita temui lelaki itu dan bertanya padanya!”


seru Wiliem seraya mendorong kursi roda itu.


Saat sampai di landasan, terliat Elina, Messi dan Arga


sedang berdiri menatap kearah Jet yang sudah berhenti itu. Alex dan Wiliem pun bergabung, begitu juga dengan Laudya yang berada di depan kedua lelaki itu duduk di kursi roda.


Pintu Jet itu terbuka, melihatkan sosok Wildan yang gagah membuat senyum di wajah Elina terlukis indah. Sedangkan, Alex dan Wiliem berbisik pada Laudya menanyakan apakah itu orangnya.


“Apa dia lelaki itu?” tanya Alex.


“Jadi itu, Dokter yang membawamu kesini?” tanya Wiliem.


“Ya, kalian benar dialah orangnya,” jawab Laudya seraya menengok ke arah Alex dan Wiliem.


Wildan menatap kearah Elina, Messi dan Arga dengan tersenyum bangga. Karena mereka melakukan tugas dengan sangat baik, terlihat dari Laudya, Alex dan Wiliem dalam keadaan baik. Saat, Wildan turun terlihat sosok lelaki yang tak kalah tampannya turun, membuat Alex dan Wiliem membelelakan matanya karena tak percaya.


“Kak Ken,” ucap Alex dan Wiliem bersamaan.

__ADS_1


Ken turun dengan santainya dan melihat kea rah Alex dan Wiliem yanyg tak percaya saat melihatnya, membuatnya tersenyum dan berdiri tegak di sebelah Wildan.


“Dia benar, Kak Ken,” seru Wiliem dengan mata berkaca-kaca.


Alex dan Wiliem berlari dengan cepat menghampiri Ken, membuat Elina dan semua orang merasa aneh dan terkejut. Ken tersenyum melihat Alex dan WIliem yang berlari kearahnya. Keduanya memeluk erat tubuh Ken, sehingga tubuhnya hampir saja terjatuh karena tak bisa mengimbangi tubuh keduanya.


“Kalian baik-baik saja, aku senang bisa melihat kalian


kembali,” ucap Ken seraya mengusap punggung keduanya.


Alex dan Wiliem tak bisa brtaka apa pun, karena mereka terlalu bahagia bisa bertemu dengan keluarganya. Alex menangis memeluk Ken, entah kenapa dia merasa begitu takut saat memikirkan tak bisa kembali lagi. Dan kedatangan, Ken seakan menjadi harapan tuk dirinya.


“Kalian menangis, melihatku?” tanya Ken.


Alex dan Wiliem melepas pelukannya dan menatap Ken dengan tersenyum, Wildan kembali di kejutkan dengan hubungan keluarga Putra. Sikap Alex dan Wil pada Ken seperti seorang anak kecil yang bertemu dengan ayahnya, lelaki itu tersenyum begitu takjub dengan rasa persaudara itu, kasih sayang yang telah mereka terima sejak kecil dan selalu di turunkan pada anak-anak mereka.


“Kak, kau datang tuk kami?” tanya Wil.


“Bukan hanya aku yang datang, tapi juga dengan kedua princessku yang mengadu merindukan suami mereka,” jawab Ken seraya ersenyum dan memandang ke adalam Jet.


Alex dan Wiliem pun menatap ke arah Jet dan terlihatlah, Zee dan Vanya yang tersenyum manis menatap keduanya. Air mata Alex dan Wiliem tak


bisa lagi di bendung, mereka berjalan dengan sangat lemas karena tak percaya bisa melihat kedua bidadari dalam hidupnya.


“Aku merindukanmu,” ucap Wiliem kembali menciumi pipi dan kening Vanya.


Vanya hanya bisa terdiam dengan terus membelai wajah sang suami yang sangat dia rindukan, Wiliem tak henti-hentinya menciumi sang istri.


“Kau baik-baik saja?” tanya Zee melihat seluruh tubuh sang suami.


“Aku sangat baik, karena bisa melihatmu disini. Zee, aku merindukanmu,” jawab Alex.


Zee memandang wajah Alex dengan tersenyum, lalu mencium bibir sang suami sekilas dan berbisik, “Aku dan anakmu juga merindukamu.”


Alex membelalakkan matanya menatap Zee lalu melihat kearah perut sang istri dengan cepat Alex menggendong Zee dan membuatnya berputar karena begitu bahagia.


Laudya yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis karena kedua temannya itu bisa bertemu kembali dengan istri-istrinya. Arga yang memperhatikannya hanya bisa memalingkan wajahnya, pemuda itu benar-benar menyukai Laudya.


“Sudah hentikan, apa kalian tak malu menjadi tontonan semua orang?” seru Ken meneriaki adik-adiknya.


Alex dan Wiliem hanya diam saat mendengar uacapan dari Ken, sedangkan Zee dan Vanya merasa malu menyembunyikan wajahnya di dada suami masing-masing.

__ADS_1


“Sebaiknya kita masuk, udaranya semakin dingin. Sepertinya, salju akan segera turun kembali,” ucap Wildan.


Elina dan Messi mengikuti Wildan dan Ken, sedangkan Arga membawa Laudya ke dalam terlebih dahulu. Membiarkan Alex dan Wiliem melepas rindu dengan istri mereka.


“Waktunya, kau meminum obat!” perintah Arga.


Laudya mencoba berjalan ke arah jendela  kamarnya dan benar saja, salju turun satu persatu. Terlihat senyuman dari wajah Laudya, Arga begitu menyukai senyuman dari wanita itu. Terlepas bagaiamana dulu kehidupannya, pemuda itu berpikir semua orang pasti mempunyai masa kelam dan pasti mempunyai tragedi dalam hidupnya.


“Kau suka salju?” tanya Arga sembari memberikan obat dan air minum.


“Ya, aku sangat menyukainya,” jawab Laudya seraya meminum obat tersebut.


Arga menarik tangan Laudya tuk duduk di dekat jendela, wanita itu hanya menurut dengan duduk berdampingan dengan Arga.


“Saat aku berusia sepuluh tahun, aku membuat seorang anak lelaki terluka. Aku membuat hidungnya berdarah dan saat itu sedang turun salju yang sangat lebat,” ucap Arga bercerita pada Laudya.


Laudya memandang Arga dengan penuh tanya, sedangkan pemuda itu tersenyum menatap Laudya. Terlihat binar di matanya, Laudya bisa mengerti apa arti dari tatapan itu. Namun dirinya menyadari akan situasinya dan berpikir itu hanya sebuah rasa simpati dari Arga pada diriny, tanpa memikirkan jika pemuda itu menyukai dirinya.


“Kenapa kau berbuat semacam itu? Apa yang di lakukan oleh anak lelaki itu, sampai membuatn kau melukainya?” tanya Laudya.


“Dia melukai seorang anak perempuan yang sangat cantik, sepertinya dia seorang anak orang kaya. Mungkin usianya tiga tahun diatasku. Saat itu aku sedang membuat patung salju dan tiba-tiba terlihat anak itu belari ke arah ku dan menabrak patung salju yang aku buat,” jawab Arga.


“Maksudmu kau menolong gadis kecil itu?” tanya Laudya semakin penasaran.


“Ya, dia meminta tolong padaku sembari menangis. Saat ku lihat, ada tiga anak lelaki yang mengejarnya dengan terus mengumpat padanya,” jawab Arga.


“Apa kau msih ingat siapa gadis kecil itu?” tanya Laudya dengan suara bergetar.


“Aku masih terus mengingatnya, tapi aku melupakan wajahnya. Karena, saat aku bergulat dengan tiga anak lelaki itu ternyata dia sudah di bawa pergi oleh orang tuanya. Dan sialnya, aku tak tahu siapa namanya,” jawab Arga dengan tersenyum.


Laudya memalingkan wajahnya dan melihat salju turun, entah kenapa dia meras cerita dari Arga membuatnya sedih. Seakan cerita itu, dial ah yang


mengalaminya. Arga yang melihat tangan Laudya yang memerah pun beranjak mengambil selimut, lalu melilitkan selimut tersebut pada tubuh Laudya.


“Pakailah, udaranya semakin dingin,” ucap Arga seraya merapihkan selimut itu agar menutupi seluruh tubuh Laudya.


“Tolong jangan lepaskan tangamu! Bisakah, kau memelukku sebentar saja, Ar?” pinta Laudya seraya menggenggam tangan Arga yang masih berada di depan tubuhnya.


Arga hanya bisa menelan salivanya merasakan genggaman tangan dari Laudya, jantungnya berdegup kencang, namun dengan perlahan Arga merapatkan


tubuhnya pada Laudya dan memeluknya dari belakang dengan erat. Laudya pun tak segan menyenderkan kepalanya pada dada bidang Arga, matanya tertutup rapat. Namun, terlihat buliran bening yang mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


Bersambung🍂🍂🍂


__ADS_2