
Malam itu, Wildan dan Wendy membawa semua tamunya melihat kota Milan dalam malam hari. Elina yang sudah merasa tak tahan memilih memisahkan diri, sedangkan Messi terus mengikuti Arga dan Laudya karena dia masih tak percaya dengan Laudya, Messi takut akan Arga yang terluka.
Ken mengabari Ara dan mengirimkan sebuah foto Alex dan Zee, Wil dan Vanya. Ken pun tak lupa berfoto dengan Wendy dengan berpose tersenyum riang. Ara merasa sangat bersyukur karena adik-adiknya dalam keadaan baik-baik saja, Ara mengusap pelan foto yang di kirimkan Ken padanya dengan tersenyum.
“Aku berharap kalian baik-baik saja, berbahagialah adik-adikku tersayang,” ucap Ara.
Rio dan Rino melihat ibu mereka yang terlihat senyum namun menangis pun membuat kedua pemuda yang sudah beranjak remaja itu khawatir. Rino memeluk Ara dari belakang, sedangkan Rio duduk bersimpuh di depan sang ibu sembari menggenggam erat tangan Ara.
“Apa yang membuatmu menangis, Bunda?” tanya Rio menatap Ara sembari menghapus air matanya.
Ara menggeleng dan memperlihatkan senyuman manisnya, tangannya mengusap lembut wajah Rio, begitu pula tangan kanannya yang memegang wajah Rino yang berada di pundaknya. Kedua anaknya kini sudah beranjak remaja, Ara semakin lekat menatap kedua putranya. Terlihat wajah mereka lebih mirip dengan Bumi dari pada dengan Ayahnya Kenzio.
Ara mencium kening dan pipi Rio, setelah itu mencium putra keduanya Rino dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan pada Rio.
“Ada apa, kenapa kau mencium kami? Katakanlah, kau jangan membuat kami khawatir, Bunda!” pinta Rino yang semakin memeluk erat Ara.
“Ada apa dengaku, tidak ada. Bunda hanya senang saja, melihat Zee dan Vanya bisa bertemu kembali dengan suami-suami mereka,” jawab Ara.
Rio mengambil ponsel sang Bunda, terlihat foto sang Ayah bersama wanita bule dan itu membuat wajah Rio merah padam karena merasa kesal dengan menatap tajam ponsel itu. Rino yang penasaran dengan apa yang Rio lihat pun merampas paksa ponsel tersebut, membuat Ara kebingungan dengan kedua putranya.
“Apa yang di lakukannya di sana, apa dia sudah tidak waras dan ingin merasakan tinju dari kami, huh?’ umpat Rino menatap tajam foto tersebut.
Rino dan Rio pergi begitu saja membawa ponsel Ara, Ara meneriaki kedua putranya yang pergi begitu saja sembari membawa ponselnya.
“Ada apa dengan mereka? Kenapa ponselku juga di bawanya, Rio dan Rino juga terlihat marah. Mereka melihat apa?” tanya Ara begitu kebingungan.
Di dalam kamar, Rio menatap Rino tuk menghubungi sang Ayah dengan ponsel sang Ibu. Mereka ingin melihat sedang apa sebenarnya ayah mereka di Milan, selain ingin menemukan Alex dan Wiliem.
“Siapa wanita bule itu, kenapa mereka berpose seperti itu dan mengirimkannya pada Bunda?” tanya Rino.
“Apa mereka teman atau keluarga jauh dari Ayah?” sambung Rino kembali sembari terus menatap foto tersebut.
“Kau bertanya pada siapa? Dan menjawab pertanyaan siapa, dasar bodoh!” seru Rio melempar bantal pada kembarannya.
“Tersambung, tersambung,” teriak Rino sembari mendekati Rio.
__ADS_1
Terlihat wajah Ken begitu bahagia dengan senyuman yang merekah, tapi tidak dengan kedua putranya yang terlihat marah. Ken yang mengira itu panggilan dari Ara pun terdiam sembari memanggil nama sang istri.
“Zia, Zia kau di sana?” tanya Ken tanpa melihat layar ponselnya.
Tak ada jawaban dari Rio dan Rino yang masih menatap Ken yang sedang duduk bersama wanita bule itu. Merasa tak ada jawaban dari sang istri, Ken pun melihat layar ponselnya dan betapa terkejutnya saat melihat wajah kedua putra penuh kemarahan.
“Astaga, Rio, Rino. Ke mana Bunda, kenapa ponselnya berada pada kalian?” tanya Ken dengan santainya.
“Sedang apa kau di sana, wahai Ayah?” tanya Rino dengan tatapan tajam.
“Aku? Aku sedang menemani Tante dan Om kalian berkeliling,” jawab Ken kebingungan dengan sang putra.
“Oh, jadi Ayah sedang menemani mereka. Bisakah aku melihat mereka?’ tanya Rio.
Ken mencari keberadaan dari adik-adiknya, namun karena terlalu ramai membuat Ken tak bisa memanggil mereka. Rio dan Rino masih menunggu sang Ayah memanggil Tante dan Om mereka.
“Kau jangan bercanda dengan kami, Ayah!” seru Rino dengan nada yang kesal.
Rio maupun Ken merasa terkejut dengan sikap Rino yang ternyata bisa marah juga. Karena selama ini, Rino adalah pemuda yang sangat diam, berbeda dengan Rio yang mempunyai banyak kawan dan banyak bicara.
“Jika itu terjadi, tak masalah karena kau seorang Dokter. Bisa merawat diri sendiri,” jawab Rino begitu frontal pada sang ayah.
Ken mengerutkan dahinya, mendengar jawaban Rino yang menurutnya sangat keterlaluan. Ken sampai melihat dengan seksama antara Rio dan Rino, Ken berpikir mungkin saja yang berbicara dengannya itu Rio bukan Rino.
“Rio,” panggil Ken.
Terlihat, Rio menampakan dirinya. Ken melihat keduanya berada di layar ponselnya dan menghembuskan napas panjang dengan menatap ke arah Rino.
“Kau marah padaku, Gabrino?” tanya Ken dengan nada lembut.
“Siapa wanita yang berfoto ria bersama denganmu, Tuan Kenzio,?” tanya Rino dengan penuh penekanan.
“Apa yang kau maksud itu, wanita berparas bule," jawab Ken.
“Yah, sudahlah jawab saja! Apa kau mau dia mengamuk?” tanya Rio.
__ADS_1
Rino menatap tajam pada saudara kembarnya itu, Rio hanya tersenyum kuda sembari menunjuk pada layar ponsel. Seakan mengisyaratkan, kalau musuhnya itu bukan dirinya tapi Ken sang ayah.
“Dengarkan aku, kalian salah paham dan dia itu temanku. Namanya Wendy, dia kakak dari Wildan,” jelas Ken.
Rino dan Rio masih belum percaya dan malah menatap tajam sang Ayah. Ken hanya bisa memutar bola matanya malas. Sedangkan, Rino dan Rio sangat jelas jika melihat Bundanya menangis setelah melihat foto Ken dan Wendy.
“Ada apa, kenapa kalian terlihat marah dan bertanya foto itu pada Ayah?” tanya Ken dengan nada lembut.
“Bunda menangis setelah melihat fotomu dengan wanita itu,” jawab Rino seraya memalingkan wajahnya.
Rino sudah malas berbicara dengan Ken dan memberikan ponselnya pada Rio, Ken yang melihat ponsel itu berpindah sudah menduga jika anak keduanya itu benar-benar padanya.
“Rino, Ayah belum selesai berbicara padamu! Kembali dan bicara padaku!” seru Ken dengan sedikit berteriak.
“Tuan Kenzio Liu, maaf. Saya tak tertarik berbicara dengan Anda!” balas Rino dengan sangat formal.
Rio yang sudah sangat bosan dengan pertengkaran antara Rino dan Ken pun akhirnya mengakhiri percakapan dengan sang Ayah. Rio menghampiri Rino dan menjitaknya setelah itu pergi keluar begitu saja.
“Shit! Dasar kurang ajar,” umpat Rino dengan sangat kesal.
Rio kembali ke kamar Ara dan melihat sang Bunda yang sedang membaca sebuah dokumen di tangannya. Rio memberikan ponselnya pada Ara, Ara menerimanya tanpa bertanya telah di gunakan untuk apa.
“Aku kembalikan ponselmu, aku akan segera tidur. Bunda juga tidur, ini sudah larut!" pinta Rio seraya mencium kening sang Bunda.
“Baiklah, kau tidurlah. Sebentar lagi, bunda akan tidur,” balas Ara dengan tersenyum.
Rio pun keluar dan segera masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai atas. Sedangkan Rino memilih menonton film di ruang bioskop miliknya. Rino sungguh kesal dengan Ayahnya yang sudah membuat sang bunda menangis.
“Aku sangat kesal, apa Ayah tak bisa melihat jika bunda lebih cantik dari pada wanita bule itu?” gumam Rino.
Tak lama, ponsel Ara bergetar dan terlihat nama Ken di layar. Ara mengerutkan keningnya ada apa Ken menelponya? Bukannya mereka sudah mengabari satu sama lain.
“Ada apa dengan Ken?’ tanya Ara.
Bersambung🍂🍂🍂
__ADS_1