Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 323


__ADS_3

Mata Wildan dan Vanya terbelalak saat bibir mereka saling terpaut, jantung mereka berdegup kencang karena adegan tersebut. Wildan melepaskan bibir itu dengan perlahan, Vanya memalingkan wajahnya karena merasa canggung dan merasa malu. Wildan merasa semakin berdebar karena telah mencium Vanya tanpa sengaja. Keduanya merasa canggung dan diam tanpa kata selama beberapa menit.


“Ehemm, Anh. Sebaiknya kita segara pergi dari sini,” ucap Wildan.


Vanya tak menjawab, gadis itu hanya mengangguk. Wildan berjalan di depan Vanya, sedangkan gadis itu berjalan menunduk di belakang Wildan. Vanya memegang dadanya yang terus berdebar tanpa henti, ada rasa bersalah saat menyentuh bibirnya.


“Kenapa, kenapa aku sampai berciuman dengan Kak Wildan?” batin Vanya.


Vanya melirik Wildan yang berada di depannya, melihat punggung lebar Wildan. Vanya menggelengkan kepalanya tuk menghapus kejadian tersebut. Mereka berjalan, sangat pelan dengan pikiran masing-masing. Sampai tak terasa mereka sampai di depan restoran, Vanya yang masih berjalan menunduk sampai menabrak tubuh kekar Wildan.


“Aduh,” pekik Vanya seraya memegang dahinya.


Wildan yang mendengar Vanya yang kesakitan pun berbalik melihat Vanya yang sedang memegang dahinya.


“Kau kenapa?” tanya Wildan terlihat cemas.


“Ahh,, aku tak apa-apa. Hanya sakit sedikit saja,” jawab Vanya.


Wildan melihat dahi Vanya yang terlihat sedikit merah karena menabrak punggungnya. Tangan Wildan yang ingin memegang dahinya, mendengar suara Wiliem dari belakang.


“Anya!!” panggil Wiliem dari jauh dengan sedikit berteriak.


Vanya dan Wildan begitu terkejut mendengar teriakan dari Wiliem pun sampai saling berpandangan. Mereka seperti terpergok selingkuh dari Wiliem. Wiliem berlari menghampiri sang istri dan memeluknya. Wildan berpaling karena tak ingin melihat kejadian itu.


“Maafkan aku, aku pergi begitu saja dan tak menunggumu saat sedang berbelanja,” ucap Wil dengan merasa bersalah.


Vanya mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan dari Wiliem, begitu juga Wildan yang kembali menatap Wil dan Vanya.


“Ada apa, kenapa kau berbicara seperti itu?” tanya Vanya heran.


“Maaf, saat aku sedang menemanimu. Aku melihat Laudya dan Arga sedang kesusahan karena ada segerombolan lelaki yang mengganggu Laudya, jadi aku membantu Messi dan Arga,” jawab Wildan.

__ADS_1


Wildan dan Vanya terkejut mendengar itu, Wildan pergi begitu saja karena cemas pada Arga dan Messi. Vanya melihat Wildan yang pergi begitu saja hanya bisa menghela napas panjang, Wiliem memeluk Vanya dengan erat.


“Jadi kau pergi karena melihat Laudya?” tanya Vanya dengan tatapan sendu.


“Jangan salah paham dulu, sayang! Aku melihat Arga dan Messi yang kalah banyak dengan segerombolan lelaki itu, jadi aku membantunya,” jawab Wiliem.


“Hemm, tidak apa. Aku tahu itu, ya sudah ayo kita masuk! Aku ingin makan sesuatu,” ucap Vanya seraya berjalan meninggalkan Wiliem begitu saja.


Wiliem yang melihat Vanya pergi begitu saja, membuat Wiliem sedih akan sang istri yang terlihat sendu. Wiliem meremmas kasar rambutnya karena merasa bersalah pada Vanya. Sesampainya di restoran terlihat Zee sedang berdiri denga wajah yang cemas, sedangkan Wendy sedang memeriksa Laudya yang terlihat terluka di kakinya.


Wildan memeriksa luka dari Arga dan Messi, Vanya ingin sekali menangis malam itu. Entah kenapa, Vanya merasa dadanya semakin sesak saja, lebih merasa tertusuk dan sangat dalam.


“Anya!!” teriak Zee seraya berlari memeluk sang adik dengan erat.


Vanya yang sudah tak tahan, akhirnya menangis di pelukan sang kakak. Terdengar tangisan Vanya begitu keras sampai membuat Ken yang sedang melihat luka dari Messi menengok dan melihat ke arah Zee dan Vanya. Ken semakin khawatir karena mendengar suara tangisan Vanya.


“Anh, kau kenapa? Apa ada yang terluka?” tanya Ken seraya melihat tubuh Vanya dari atas sampai bawah.


Vanya masih menangis tak bisa menjawab pertanyaan dari Ken, begitu juga Zee yang merasakan tubuh Vanya yang gemetar. Wildan melihat Vanya yang menangis pun merasa bersalah karena kejadian itu. Begitu juga dengan Wiliem yang terlihat begitu sedih karena melihat Vanya menangis.


Vanya hanya menatap Ken dengan mata basahnya, Ken memandang Vany dengan penuh kasih sayang. Ken memeluk Zee dan Vanya bersamaan. Entah kenapa hati Ken merasa sedih, merasa begitu takut jika kedua adiknya dalam bahaya.


“Kita masuk, kau duduklah!” pinta Ken memapah Zee dan Vanya bersamaan.


Vanya melewati Wildan, dan membuat lelaki itu menatap lekat pada Vanya yang menyembunyikan wajahnya di pelukan Ken.


“Wil, ada apa? Kenapa, Vanya menangis?” tanya Alex.


“Entahlah, mungkin dia marah padaku karena meninggalkannya. Tapi kau tahu bukan, tadi aku benar-benar menolong Arga dan Messi,” jawab Wiliem.


Alex menepuk bahu sang kembaran tuk menenangkannya, mencoba bersabar dengan sikap  Vanya yang terkadang labil. Wiliem hanya bisa menunduk lemas, Laudya menatap Wiliem yang sangat sedih karena telah menolongnya.

__ADS_1


“Apa, Vanya salah paham kembali pada aku dan Wiliem?” batin Laudya.


Zee memberikan minum kepada Vanya, Ken menatap Vanya karena begitu cemas melihat sang adik menangis dan tak menjawab kenapa. Zee masih mengusap rambut panjang Vanya, sedangkan Ken mengusap lengan Vanya tuk menenangkannya.


“Kak, aku ingin pulang. Aku sangat lelah,” ucap Vanya dengan terbata.


Wendy yang mendengar itu pun menghampiri mereka dan berjongkok di depan Vanya, tersenyum pada Vanya. Vanya menatap Wendy dengan mata sayunya.


“Vanya, maaf. Kita tak bisa kembali dulu ke mansion ku, kau tidak apa-apa bukan jika harus tidur di hotel dulu?” tanya Wendy.


“Ya, tidak apa.”


Wendy mengangguk tersenyum dan beranjak berdiri dan terlihat menghubungi seseorang, tak lama kemudian terlihat segerombolan lelaki berjas memasuki ruangan, seperti bodyguard. Salah satu mereka menghampiri Wildan dengan berkata formal, Vanya melihat sekilas ke arahnya. Wildan terlihat marah pada bodyguardnya itu.


“Jaga semuanya dengan baik, aku tak ingin hal ini terjadi lagi!” perintah Wildan dengan nada dingin.


“Wendy, bawa merka dalam satu mobil, aku akan menyusul nanti,” ucap Wildan.


“Baiklah.” Wendi membawa mereka semua pergi keluar dan masuk ke dalam sebuah mobil panjang. Entah mengapa Vanya terus melihat Wildan, dia merasa seperti tak mengenal Wildan yang beberapa lalu bergurau dengannya.


Setelah, melihat semuanya keluar, barulah Wildan menatap Vanya dari dalam. Sebenarnya dia tahu jika Vanya semenjak tadi terus melihat dirinya. Hanya saja, Wild tak ingin apa yang telah terjadi antara dia dan Vanya bisa menyakiti siapa pun.


“Tidak, semua itu adalah kesalahan. Aku harus melupakan itu dan memendam semuanya!” batin Wildan pada dirinya sendiri.


Mobilnya telah pergi membawa semuanya, tersisa hanya dia dan satu anak buahnya saja. Bodyguardnya memberikan sesuatu dari balik punggung dan terlihat sebuah pistol. Tak lama kemudian, masuk kembali seorang pemuda yang membisikkan sesuatu padanya.


“Baiklah, kita ke sana!” perintah dengan wajah penuh amarah.


“Tuan, kita akan kalah orang. Karena mereka memliki dua puluh orang yang berjaga.”


“Kau bisa mengabari polisi, dia juga saudara dekatku. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, jika sudah ada dirinya,” balas Wildan dengan menyeringai.

__ADS_1


Note: Siapakah, polisi itu? Jika kalian membaca dari awal, pasti siapa pemuda yang menjadi polisi yang dekat dengan Ken dan Wildan, bagi yang tak tahu coba carilah!!


Bersambung🍂🍂🍂


__ADS_2