Takdir Cinta

Takdir Cinta
Duabelas


__ADS_3

Di luar villa atau pun di dalam villa sudah terlihat banyak sekali orang-orang yang memakai warna putih dan pink.. Ya, Vanya dan Wil mengirimkan undangan dengan catatan harus menghadiri pernikahan mereka dengan memakai gaun atau dres berwarna pink tuk wanita sedangkan tuk lelaki memakai tuxedo putih.


Sungguh dua warna itu membuat suasana ditempat itu sangat indah, cantik dengan warna yang soft. Bunga-bunga sudah berterbaran di sepanjang halaman villa itu. Terlihat semua kolega dari Ken dan Ara, termasuk juga Diago dan sang istri Deasy. Ken memberikan isyarat pada Zyan tuk memperhatikan keluarga Diago. Zyan mengangguk ia, lalu menegerahkan anak buahnya.


"Kau siap, Wil? Kita akan berangkat sekarang!" pinta Alex.


"Sungguh ini rasanya sangat sesak, lihat tubuhmu menjadi tegang," jawab Wil.


"Santailah! Tarik napasmu, lalu kau bayangkan hal yang menyenangkan saja," ucap Alex.


"Lex, apakah kau juga merasakan ini saat menikahi Zee?" tanya Wil.


"Ya, aku pun merasakan itu. Tapi, mu hkun lebih tenang darimu," jawab Alex.


Terlihat Sofia masuk ke dalam dengan memakai dres pink bersama dengan Zee yang terlihat sangat cantik. Alex menghampiri Zee, Wil menatap sang Mommy dengan tersenyum tapi terlihat buliran bening mengir dari sudut matanya. Sofia menggelengkan kepalanya pada sang anak.


"Jangan menangis! Kau harus tersenyum, ini hari bahagiamu," ucap Sofia.


Wil hanya bisa memeluk sang Mommy dengan isak tangisnya. Wiliem begitu sedih dan juga bahagia karena sang Mommy bisa melihatmu menikah dan mungkin juga bisa lihat cucunya.


"Maafkan, aku. Maafkan aku yang selalu membuat Mommy dalam masalah, selalu mencemaskan aku," ucap Wil.


Zee terharu dengan pememamdangan itu, air matanya ikut mengalir dengan sendirinya. Alex pun memeluk sang Mommy dan sang adik, isak tangis Wil semakin menjadi saat merasakan pelukan dari Alex.


"Stop it! Hapus air matamu! Kau akan mengacaukan semuanya," perintah Alex.


Mereka pun melepas pelukan itu, lalu menatap kearah Zee yang masih menangis. Dia begitu terharu melihatnya, Wil berjalan ke arah Zee dan memeluknya berterima kasih padanya. Zee membalas memeluk Wil dan mencium.pipi sang adik ipar.


"Berbahagialah! Jangan buat orang tersayangmu menderita!" pinta Zee.


"Ya, tentu. Aku berjanji," balas Wil.


Akhirnya mereka pun pergi ke tempat acara pernikahan, Wil terus menggenggam tangan Sofia. Alex dan Zee tersenyum karena melihat Wil begitu manja pada sang Mommy.


Di tempat lain, Vanya dan keluarga besar mereka sudah bersiap menyambut kedatangan dari Wil dan keluarga. Vanya begitu cantik dengan gaun pink berpadu dengan warna putih. Abigail dan Kiara tak pernah pergi meninggalkan Vanya sendirian.


Zyan dan Ken sibuk menjaga keamanan disana, Rio dan Rion yang sudah beranjak dewasa pun menjaga di area taman bersama dengan teman-temannya.


"Hari ini, aku melihat hari bahagia dari adikku. Aku akan melepasnya pada lelaki yang sangat menyayanginya. Lelaki itu bahkan sampai gila saat kehilangan Vanya. Ayah, Ibu, aku merindukan kalian. Aku harap kalian ada disini mendampingi aku dan Vanya," batin Sam.


Ya, Sam sebenarnya adalah anak yang begitu dekat dengan orang tuanya. Dia lelaki yang sangat cepat terbawa perasaan, hanya saja sejak kematian Alfa. Sam menjadi dingin tuk menutupi rasa sedihnya, rasa bersalahnya.


Sam menangis di balik pintu saat melihat Vanya yang sedang tertawa bahagia bersama dengan Abi dan Kiara. Gadis kecilnya sudah dewasa dan akan menjadi istri orang lain, yaitu Wiliem Alexander.


"Sam,, !!" panggil Zyan dari kejauhan.


Sam dengan cepat menghapus air matanya lalu menatap ke arah Zyan.


"Turunlah! Kak Ken mencarimu, dibawah juga sudah banyak tamu yang datang dan mencarimu," ucap Zyan.


"Baiklah, ayo kita turun!" balas Sam seraya turun ke bawah.


Zyan masuk kedalam ruangan Vanya, terlihat Vanya tersenyum melihat Zyan. Zyan mendekat lalu mencium kening Vanya dan tersenyum.


"Kau sangat cantik, berbahagialah sayang!" seru Zyan.


"Ya, kak. Tentu," jawab Vanya sembari tersenyum.


Zyan lalu pergi keluar menyusul Sam yang berada di bawah. Ken sedang berbincang dengan koleganya, Sam dan Zyan pun muncul dari belakang ikut menyapa mereka satu persatu.

__ADS_1


"Selamat, Tuan Sam. Atas pernikahan dari Nona Vanya."


"Ya, terimakasih. Anda dan keluarga sudah berkenan datang."


"Tentu, kami akan datang. Ini adalah pesta yang sangat mewah."


"Terimakasih, silakan nikmati acaranya!"


Zyan pun menyapa tamu lainnya, dan sangat kebetulan dirinya bertemu dengan keluarga Diago. Terlihat hanya Diago dan Deasy saja yang datang tanpa putri mereka.


"Selamat pagi, Tuan Zyan," sapa Diago.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Diago," sambut Zyan dengan tersenyum.


"Selamat atas pernikahan dari Nona Vanya dan Tuan Wiliem," ucap Diago.


"Ya, terimakasih. Anda dan istri sudah berkenan tuk datang menghadapi acara dari keluarga kami," balas Zyan.


Terlihat wajah Deasy tak senang. Bahkan terlihat sangat jelas jika wanita paru baya itu sangat kesal dan marah. Namun, Zyan tak ingin mengurusi itu lebih lanjut. Zyan hanya bisa tersenyum sembari berlalu tuk menyapa yang lainnya.


"Jaga sikapmu! Jangan sampai mereka menceritakan dirimu!" bisik Diago pada Deasy dengan penuh penekanan.


"Ya, baiklah. Aku mengerti," balas Deasy.


Tak lama kemudian terdengar mobil iring-iring dari Wil memasuki halaman villa. Alya dan Jiso yang membawa rangkaian bunga pun berjalan menghampiri mereka. Terlihat Wil keluar dengan sofia, Jiso menyematkan bunga pada tuxedo Wil dan memberikan buket pada Sofia. Lalu menggandeng tangan Sofia.


Sedangkan Alya menghampiri kedua orang tuanya, sama seperti Jiso. Alya menyematkan bunga di tuxedo Alex lalu memberikan buket bunga pada Zee. Tapi, bedanya Alya langsung di gendong oleh Alex.


"Ahh, princess kenapa kau begitu cantik hari ini?" tanya Alex.


"Terimakasih, Daddy," jawab Alya seraya mencium Alex.


"Eh, apa yang kau katakan? Dia itu anakku, cantik dan pintarnya pasti menurun dariku," ujar Zee.


"Sepertinya, tidak. Lihatlah, Al lebih cantik dari Mommy nya. Ya, kan sayang?" tanya Alex pada Alya.


Alya yang melihat kedua orang tuanya berdebat hanya tersenyum dan mengangguk. Saat, Alex bertanya padanya dan itu membuat Zee cemberut.


Alex dan Alya tersenyum melihat Zee yang merajuk. Keharmonisan mereka membuat para tamu begitu iri pada mereka. Alex terlihat begitu menyayangi Alya yang memang bukan darah dagingnya, sedangkan Alya begitu manja pada Alex.


"Lihatlah keluarga dari Tuan Alex. Mereka begitu bahagia dan sangat harmonis."


"Ya, kau benar. Bukankah, dulu Tuan Alex itu terkenal dingin dan sangar garang, tapi saat melihat ini aku merasa tak percaya."


"Mereka tampan, cantik dan juga mengemaskan."


Ya mereka sedang melihat visual dari Alex, Zee dan Alya. Sebenarnya, wajah Alya lebih mirip dengan sang ayah yaitu Alfa. Dan, itu yang membuat Zee begitu bersyukur. Karena, Alya bisa melihat wajah sang ayah dari wajahnya.


"Mommy, ayo masuk! Kak Anya sudah menunggu," ucap Alya.


"Baiklah, para gadis silakan masuk. Daddy akan menunggu disini," balas Alex.


"Bye, Daddy," ucap Alya.


Alex melambaikan tangannya, Zee dan Alya masuk kedalam Villa. Terlihat, Abi dan Kiara sedang tertawa disana, sedangkan Vanya begitu tegang.


"Apa yang kalian ketawakan? Sedangkan, adikku sedang tegang begitu?" ledek Zee.


"Aahh,, kakak. Aku kira kau akan membelaku," ucap Vanya merajuk.

__ADS_1


Zee tertawa tapi langsung memeluk Vanya, Vanya berakting sedih karena teraniaya oleh ledekan dari Abi dan Kiara.


"Sudah, tenanglah. Kami semua disini, apa yang kau takutkan?" tanya Zee.


"Tak ada, aku hanya tegang saja. Kemana, kak Ara? Sejak pagi dia belum menemui aku?" tanya Vanya.


"Aah, memang kemana kak Ara? Bukannya, seharusnya dia berada disini?" tanya Zee.


"Ya, aku dan Kiara pun tak melihatnya sejak pagi," jawab Abigail.


Tanpa mereka ketahui, Ara sekarang sedang berhadapan dengan wanita di samping Villa. Ara berdiri menatap tajam sang wanita tersebut. Sedangkan, wanita itu menunduk dengan menangis, merasa takut akan kemarahan dari Ara.


"Kenapa kau ada disini? Siapa yang mengundangmu? Apa, Vanya dan Sma tahu kau datang?" tanya Ara dengan nada dingin.


"Aa-aku disini karena Vanya yang mengundangku, kak," jawab Zyvia terbata.


"Vanya? Apa kau sudah bertemu dengan Vanya, lalu apa Sam tahu?" tanya Ara.


"Aku bertemu di Paris, saat Vanya dirawat disana. Dan, aku mohon kak, jangan beritahu kak Sam, aku ada disini!" pinta Zyvia sembari menangkupkan kedua tangannya sembari menangis.


Deg,,,


Ara melihat Zyvia yang menangis dengan sangat pilu terlihat ketakutan dimatanya. Membuat hatinya begitu iba pada Zyvia. Ara mendekati Zyvia lalu memeluk tubuh sang adik.


"Kakak," panggil Zyvia dengan isak tangisnya.


Sungguh, Zyvia begitu bahagia Ara mau memeluknya, entah itu merasa kasihan atau apapun. Yang, Zyvia tahu dia begitu senang dan merasakan nyaman di pelukan Ara.


"Jangan menangis, kau akan merusak wajahmu. Tetaplah diam disini jika kau mau melihat acaranya berlangsung," ucap Ara.


"Ya, tentu kak. Aku berjanji akan tetap bersembunyi disini," balas Zyvia.


Ara mencium kening Zyvia, menghapus air matanya. Lalu tersenyum menatap Zyvia, Ara pun pergi karena acara akan segera di mulai.


"Kakak, terimakasih," ucap Zyvia.


"Ya, tentu," balas Ara.


Ara menghapus air matanya yang mengalir. Ken menatap sang istri dan bertanya ada apa? Tapi, Ara berbohong menjawab jika dia hanya merasa bahagia saja. Dan merindukan Intan dan Aldo saja.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Ara.


"Ya, sayang. Semua sudah siap, kau panghilakn pengantin wanita tuk keluar," jawab Ken.


Ara dengan cepat berjalan kedalam di sana ternyata sudah berkumpul adik-adiknya. Dan sedang menunggu dirinya.


"Kakak darimana?" tanya Vanya begitu manja.


"Hey, aku ada disini. Kenapa kau mencariku?" tanya Ara balik.


"Kau belum memberikanku pelukan dan ciuman," jawab Vanya.


"Oh,, sayangku," Ara mendekati Vanya mencium dan memeluknya.


"Berbahagialah! Kau harus selalu tersenyum," ucap Ara.


"Ya, kak. Terimakasih," balas Vanya tersenyum.


"Satu lagi adikku berada di luar. Dia juga seharusnya berada disini. Tapi, aku pun tak bisa melakukan apapun. Karena luka yang dia perbuat masih belum bisa hilang di dalam hati kami semua," batin Ara.

__ADS_1


Bersambung 🍂🍂🍂


__ADS_2