Takdir Cinta

Takdir Cinta
Pertama


__ADS_3

Di dalam mobil, Roy mencari sesuatu tapi tak bisa dia temukan, akhirnya di teringat jika benda itu masih berada di dalam kamarnya. Akhirnya, Roy kembali memutar mobinya dengan cepat tuk kembali kerumah.


Di dalam rumah, Vanya sudah tak sadari diri di teras belakang rumah. Wajahnya begitu pucat, tak ada yang tahu keadaannya. Sampai, Roy kembali tapi tak melihat Vanya dimana pun.


Pintu rumah yang tak terkunci membuat, Roy begitu cemas pada Vanya. Apalagi, tak mendengar suaranya sama sekali. Roy dengan sangat cemas mencarinya keseluruh ruangan di dalam rumah tersebut tetap tak ada.


"An, dimana kau? Apa kau pergi karena ucapanku semalam?" tanya Roy dengan begitu khawatir.


Tapi dugaannya salah, saat melihat pintu belakang terbuka dan terlihat tangan Anya yang berada di atas lantai.


"Anya!!!" teriak Roy seraya berlari mengampirinya.


Roy begitu terkejut, melihat Vanya yang pingsan di atas lantai, Roy langsung menggendongnya lalu membawanya ke rumah sakit terdekat. Di perjalanan, Roy terus saja menengok ke arah belakang melihat keadaannya.


"Bertahanlah, An. Aku mohon!" pinta Roy.


Mobil itu terus melaju dengan cepat membelah jalanan yang memang masih sangat sepi. Perjalanannya cukup memakan waktu, karena harus menempuh satu jam lamanya.


Sesampainya di depan rumah sakit, Roy yang begitu cemas langsung mengendong Vanya masuk ke dalam. Tanpa menunggu suster membawakan brankar.


"Tolong, tolong dia! Dokter, Suster!" teriak Roy.


Terlihat Dokter dan Susuter yang berlari menghampiri Roy, dan menyuruhnya tuk segera membawa Vanya ke ruang UGD. Roy begitu cemas dengan keadaan Vanya yang sejak tadi tak sadarkan diri.


"Tuhan, aku mohon lindungi dia! Aku mohon jangan sampai terjadi apa-apa pada, Vanya," gumam Roy seraya menatapnyadari jendela kaca.


Vanya masih terus di periksa oleh Dokter, dan memutuskan untuk di rawat karena Vanya kekurangan cairan, tekanan darahnya pun begitu rendah. Dokter pun menemui Roy.


"Tuan, sepertinya Nona harus di rawat dan dia juga mengalami kekurangan darah," ucap Dokter.


"Tidak masalah, Dok. Asalkan dia sembuh, aku akan menuruti semua prosedurnya," jawab Roy.


Suster pun membawa Vanya keruang inapnya, Roy mengikuti dari belakang. Terlihat memang begitu pucat.


"Ada apa denganmu? Bukankah saat aku pergi, kau terlihat baik-baik saja?" batin Roy.


Akhirnya, Roy pun menyimpulkan sendiri dengan keadaan dari Vanya. Dan meminta tuk di lakukan USG apakah Vanya hamil atau tidak. Suster pun mengiyakan dan melakukan USG tersebut.


Vanya masih saja belum sadarkan diri, terlihat lebam di kepalanya mungkin karena terbentur saat terjatuh. Roy begitu setia dan perhatian pada Vanya. Lelaki itu mengenggam erat tangan Vanya, mengusap penuh sayang luka lebam itu.


"Kenapa kau masih menutup matamu? Bangunlah, An. Aku sangat mencemaskan dirimu," ucap lirih Roy seraya mencium tangan Vanya.


Sudah hampir satu jam berlalu, tapi Vanya masih saja belum sadar. Apakah karena efek obat atau memang karena benturan itu sangatlah kencang.


Roy tertidur dengan menyederkan kepalanya di ranjang dekat dengan tangan Vanya. Roy yang begitu mencintai Vanya, Roy yang begitu setia pada Vanya, Roy yang menjadi tempat keluh kesahnya.


Tak beberapa menit kemudian, terlihat mata Vanya terbuka dengan perlahan. Vanya menyipitkan matanya karena silau oleh cahaya kampu yang tepat di atasnya.

__ADS_1


"Dimana aku? Kenapa aku tak mengenal tempat ini?" tanyanya.


"Anda susah bangun, Nona? Kau sekarang berada di rumah sakit," jawab suster yang sedang mengecek keadaannya.


"Rumah sakit? Ada apa denganku?" tanya Vanya dengan begitu lirih.


"Anda terjatuh dan tak sadarkan diri, untung saja suamimu dengan cepat membawamu kemari," jawab suster.


"Suami? Maksud anda, Roy?" tanya Vanya.


"Lihatlah, suami mu sedang tidur di sampingmu! Dia sejak tadi begitu mencemaskan dirimu, sampai tak ingin melepas tanganmu sama sekali, Nona semoga kau lekas sehat dan bisa mengurus suami dan juga anakmu dengan baik," ucap Suster.


"Anak? Maksudmu aku hamil?" tanya Vanya begitu terkejut.


"Ya, kau hamil Nona. Dan itu semua Tuanlah yang memintaku tuk melakukan USG nya," jawab Suster.


"Sus, maaf. Apakah, Roy sudah tahu jika saya hamil?" tanya Vanya.


"Saya baru saja ingin menyampaikan kabar gembira ini. Tapi, Tuan sedang tidur," jawab Suster.


"Sus, saya mohon. Biarkan saya saja yang mengatakan padanya," ucap Vanya.


"Baiklah, Nona.selamat beristirahat kembali. Saya akan keluar," balas Suster dengan tersenyum.


Vanya menatap perut ratanya dengan linangan air mata, dadanya begitu sesak mengingat akan siapa ayah dari bayinya. Vanya begitu menyesal karena tak melihat seperti apa sosok lelaki yang sudah menodainya.


"Kau pada akhirnya, hadir di rahimku. Pada akhirnya doa ku setiap hari tak jua di kabulkan oleh Sang Kuasa. Aku harus bagaimana?" batin Vanya menangis meraung tak kuasa menahan semua kejadian yang menimpa dirinya.


"Kenapa kau begitu baik, kenapa kau seperti malaikat di hidupku, Roy? Kenapa, aku harus di pertemukan dengan dirimu yang begitu sempurna?" gumam Vanya.


Air matanya masih mengalir deras, membasahi bantal yang menjadi tumpuan kepalanya. Disaat tidur pun tangan Roy begitu erat menggenggam tangan Vanya. Membuat, gadis itu semakin tak enak hati pada Roy. Vanya memang tahu seberapa besarnya cinta dan sayangnya tuk dirinya. Tapi entah kenapa, Vanya seperti tak tahu diri dan malah mencintai lelaki lain.


Isak tangis Vanya membuat Roy terbangun dari tidurnya. Dan lelaki itu semakin cemas saat melihat Vanya menangis.


"Ada apa? Kau kenapa, apa ada yang sakit? Kenapa kau menangis, An. Jangan diam saja, katakan padaku!" pinta Roy dengan melihat seluruh tubuh Vanya.


"Aku tidak apa, jangan khawatir!" balas Vanya seraya menghapus air matanya.


Roy menatap wajah Vanya dengan begitu taj, benar-benar memperhatikan jika keadaannya baik-baik saja.


Vanya tersenyum, lalu menarik tangan Roy seraya berkata, "Aku mau makan buah, bisakah kau belikan tuk ku?" pinta Vanya.


Roy begitu terkejut dengan permintaan Vanya, tapi dengan cepat Roy mengatakan ia. Vanya tersenyum senang mendengar itu.


"Jangan terlalu lama! Aku menunggumu," ucap Vanya.


Roy mengangguk ia lali tersenyum. Lelaki itu begitu lega saat melihat Vanya bisa tersenyum kembali. Dengan langkah yang sedikit cepat, Roy segera masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi ke toko buah.

__ADS_1


"Aku akan menuruti semua yang kau mau, jika itu yang aku bisa. Tapi, jika kau meminta ku tuk tak mencintaimu, aku tak akan bisa mengabulkan itu," batin Roy.


Di dalam ruangan, Vanya terus mengusap perut ratanya. Berkata dengan janin yang mungkin saja masih berbentuk gumpalan darah. Ada rasa sedih, senang, bimbang, dan juga penyesalan yang begitu dalam.


"Jika takdirku seperti ini, menjadi seorang ibu tanpa suami aku akan menerimanya. Asalkan kau bisa tumbuh dengan baik di dalam perutku," ucap Vanya.


"Kakak, Anya harus bagaimana? Aku, aku membutuhkanmu. Aku ingin memelukmu, Anya takut kak," isak tangis Vanya begitu mengiris hati.


Gadis dengan usia yang baru saja menginjak dewasa tanpa adanya orang tua. Menjalani hidupnya sendiri, dengan segala permasalahannya. Vanya tak sekuat Zee, dia tak setegar Zee, mereka gadis yang berbeda. Walaupun dahulu mereka sama-sama menjadi tuan putri dalam keluarganya. Akan tetapi mental mereka berbeda.


"Tumbuhlah jadi anak yang kuat, kita akan baik-baik saja, nak. Ibu akan menjagamu," ucap Vanya.


Di dalam toko buah, Roy memilih semua buah yang sangat segar-segar semua bah dia beli demi menyenangkan Vanya. Tapi, saat dia akan mengambil buah stobery terdengar suara lelaki yang melarangnya.


"Maaf, Tuan. Kau tak bisa membeli buah stobery ini, karena semua buah stobery ini sudah di beli oleh Tuan itu," ucap pelayan seraya menunjuk lelaki yang sedang duduk sambil memakan stobery.


"Yang benar saja? Semua buah ini sudah di beli oleh dia? Astaga, kenapa dia begitu tamak," ucap Roy.


"Maafkan kami, Tuan. Kau bisa membeli buah lainnya saja," pinta pelayan.


"Ya, baiklah. Tidak apa-apa," balas Roy.


Ya, benar. Lelaki itu adalah Wiliem yang sedang memakan semua stobery yang berada di depannya. Untungnya di toko swalayan itu, bisa langsung memakan buah setelah di cuci.


"Astaga, kenapa buah ini begitu nikmat? Aku tak bisa menghentikan stobery ini masuk ke dalam mulutku," ucapnya.


Terlihat sudah ada empat cup di atas mejanya, dan itu membuat penjaga toko dan pelayan memandang aneh pada Wil. Akan tetapi tak bisa juga menghalangi dia tuk membeli semua buah stobery tersebut.


Roy yang sudah selesai belanja pun akhirnya membayarnya di kasir, dan sekilas melihat ke arah Wil yang sedang makan stobery itu.


"Lelaki itu apakah sudah makan? Memakan semua buah stobery yang asam itu?" gumam Roy.


"Sepertinya belum, Tuan. Tuan yang disana itu sudah memakan stobery dari pagi hari. Dan mungkin saja sudah menghabiskan beberapa cup," jawab penjaga toko.


"Astaga, memangnya dia tak merasa sakit perut? Kau harus perhatikan Tuan itu, takutnya dia akan merasa sakit perut tau kenapa-napa!" perintah Roy.


"Baik, kau benar, Tuan. Aku akan mengawasinya, aku pun takut terjadi sesuatu padanya," balas penjaga toko.


Setelah membayar, Roy pun keluar dengan membawa tiga kantung plastik besar di tangannya. Lalu kembali pergi ke rumah sakit menemui Vanya.


Baru saja mobil Roy melesat menjauh, Wil merasakan sesuatu pada perutnya. Dia begitu mual dan begitu sakit. Dengan langkah cepat Wil berlari ke toilet. Penjaga toko dan pelayan pun saling berpandangan merasa cemas.


"Apa terjadi pada lelaki itu? Kita harus bagaimana?" tanya pelayan.


"Tenaglah, ini kan bukan salah kita. Dia yang memaksa membeli dan memakan semua stobery itu. Jadi kita hanya bisa membantunya saja, jika terjadi sesuatu padanya," jawab penjaga toko.


Wil memuntahkan semua stobery yang dia makan, sampai habis tak tersisa. Terakhir hanya cairan kuning

__ADS_1


saja. Tenaga Wil begitu habis terkuras karena muntah. Peluh sudah membasahi seluruh wajah dan tubuhnya.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya !! Terimakasih 🙏🙏


__ADS_2