
'' Ayah apa jadi kita ketempat nenek buyut '' tanya Dewa karena sedari tadi tidak ada pergerakan dari Rafli.
'' Kita tunggu nenek Lia dan kakek Abdi , katanya mereka mau ikut '' jawab Rafli dan dituruti oleh Dewa lalu Dewa pamit mau bermain dengan Arjuna didalam kamar.
'' Kamu beneran gak apa sayang '' tanya Rafli kepada Ana.
'' Gak apa kok mas '' jawab Ana yakin .
'' Apa benar mama dan papa mau ikut '' Tanya Ana .
'' Iya , mereka juga butuh liburan Ana '' jawab Rafli sekenanya.
'' Iya . Bukan seperti mu yang setiap hari bisa libur bebas '' ucap Ana.
'' Kamu kapan ke kantor mas '' tanya Ana .
'' Ya kapan-kapan . Lagian kamu aneh sayang . Kok suami dirumah gak seneng , kecuali kalau mas gak kerja dan kita gak makan kamu boleh ngomel '' gerutu Rafli , ia merasa Ana mengusirnya meski memang benar adanya.
'' Gitu aja ngambek '' ucap Ana saat melihat wajah Rafli di tekuk...
.
.
.
Rumah neneknya Ana kini kedatangan tamu dari keluarga Rafli . Terlihat dua anggota baru yang tidak dikenal keluarga Ana , yaitu bi Jum dan juga Bunga. Ibu dan anak itu lantas memberi salam kepada orang tua Ana , mama Lia pun turut menjelaskan siapa mereka.
'' Silahkan duduk '' ucap bu Laras ramah sementara para lelaki berbicara di luar namun tidak berlaku pada Rafli , ia setia disisi Ana bahkan bagaikan ekor pengganti Dewa dan Arjuna yang biasa mengikuti Ana setiap saat .
'' kenapa hatiku begitu sakit melihatnya .. Ya Tuhan buang perasaan yang sangat salah ini " batin Bunga sementara Rahma menantapnya tajam melihat bunga yang mencuri pandang kepada kakak iparnya itu .
" Awas saja jika wanita ini pelakor , cukup ibunya yang menjadi pelakor " batin Rahma , ia mengetahui secara detail tentang bi Jum dari Jimmy karena rasa ingin tahu Rahma begitu tinggi .
Sedangkan di dalam kamar nenek terlihat Chantika sedang menyuapi sang nenek di temani oleh pria yang ia sukai yang tidak lain adalah Rizki. Kini Rizki tak manja lagi seperti dulu , ia menjadi sosok yang dewasa setelah sang kakak tersayangnya memberikan keponakan yang banyak untuknya dan ia pun telah sekolah di bangku SMA dan kelas akhir sedangakan Chantika berada di bawah Rizki satu tingkatan.
Perbincangan mereka terganggu karena deheman dari Ana , ia pun memicingkan matanya saat Chantika begitu gugup melihat kedatangan mereka tidak seperti biasanya.
" Ada apa dengan mereka " batin Ana dan Rafli menerka-nerka...
'' Nenek '' ucap Ana menyapa sang nenek yang kini terbaring lemah , tak dapat berbicara....
Tangan renta nenek menghapus air mata Ana yang menangis , nenek pun ikut menitihkan air matanya.
'' Jangan nangis sayang nenek juga ikut sedih '' bisik Rafli dan dalam sekejap saja Ana mampu mengendalikan perasaannya meski sang nenek tau hanya senyum palsu yang diberikan Ana.
'' Chantika , keluarlah . Biar istri paman yang menyuapi nenek " ucap Rafli dan diangguki Chantika.
'' Terimakasih Chantika " ucap Ana dan di balas senyum Chantika . Chantika merasa kikuk di situasi ini memilih untuk segera keluar.
Ana menyuapi nenek dengan penuh kasih sayang . Dewa datang langsung berhambur memeluk nenek buyutnya , disusul oleh Arjuna yang kini ditintin oleh Bunga .
'' Biar aku yang membawa keponakanku masuk " ucap Rahma yang memperlihatkan jelas tanda tak sukanya kepada Bunga.
'' Maaf '' ucap Bunga sedikit takut akan sorot mata Rahma , berbeda dengan cara Ana memandangnya.
'' Menyeramkan sekali . Sama seperti si Jim . Pasangan yang cocok " batin Bunga yang sudah tak menyukai Jimmy dari awal bertemu.
" Beruntungnya kak Ana , mempunyai keluarga yang lengkap yang begitu mengan ciggap nya ada. Mempunyai suami yang begitu mencintai nya serta anak yang begitu menggemaskan bahkan mertuanya pun begitu sayang padanya . Andai aku juga punya keberuntungan seperti ini " batin Bunga yang sedari dulu hanya mendapat kasih sayang dari seorang ibu bahkan ia sering di kucilkan saat ingin bermain dengan teman sebayanya .
" Ada apa " tanya Bu Laras saat tanpa sengaja melihat air mata Bunga menetes.
" Maaf nyo....nya " ucap Bunga gugup.
" Panggil ibu . Jangan nyonya " ucap Laras lembut...
" Duduklah di depan berkumpul atau mau bergabung di dalam kamar nenek " tanya Laras sopan .
" Ti...tidak usah " jawab Bunga gugup saat melihat Rahma menatapnya horor dari jauh sana.
" Saya mau cari kamar kecil bu " ucap Bunga berkelit.
" Ada disana " ucap Laras lalu melangkah memberikan petunjuk sekaligus ia mau kedapur menyiapkan makan malam untuk keluarganya dan keluarga besannya tentunya.
Hidangan sederhana kini tersaji di ruang keluarga yang lumayan cukup besar itu , tidak ada meja ataupun kursi seperti di ruang tamu. Semua membaur menjadi satu , meski memiliki cucu mantu kaya raya tak membuat keluarga Ana tamak akan hal itu , melihat cucunya bahagia sudah cukup bagi sang nenek . Jika yang lain sedang bersantap sambil terselip canda berbeda hal nya dengan Rafli dan Ana yang kini memilih makan sepiring berdua di hadapan sang nenek membuat binar bahagia terpancar dari mata nenek yang lemah tak berdaya itu .
Hingga hari yang tak di sangka pun tiba , malam hari Dewa memilih tidur di ranjang yang sama bersama sang nenek . Nenek Fatmah sebut saja begitu namanya , mengalami kejang-kejang yang cukup membuat Dewa terbangun. Mata bocah itu terbelalak kaget bingung melakukan apa .
'' Bunda.... buyut bunda..... " teriak Dewa histeris.
Rafli yang baru saja akan terlalap segera bangkit membuat gaduh rumah minimalis itu , membangunkan semua orang yang tidur di ruang keluarga ....
__ADS_1
'' Ada apa tuan " tanya bi Jum ikut terbangun.
'' Dewa berteriak dari kamar nenek Fatmah " jawab Rafli segera berjalan kekamar depan.
'' Bunga , segera bantu tuan muda " ucap Bi Jum yang segera melangkah keruang Bu Laras dan tuan Gunawan , orang tua Rafli sendiri menginap di hotel melati yang berjarak sekitar lima rumah dari rumah nenek , tidak mungkin mereka tidur berdesakkan atau membuat besannya tidur di luar kamar karena rumah nenek Fatmah hanya mempunyai tiga kamar tidur.
'' Biar aku saja yang menyusul kakak ipar " sergah Rahma segera melangkah cepat membuat Bunga terhenti .
Didalam kamar terlihat Dewa menangis tersedu melihat tubuh nenek yang baru saja melemas tak bergerak.
" Nek " ucap Rafli mencoba membangunkan nenek Fatmah memastikan apa yang terjadi.
'' Tadi nenek buyut kejang - kejang yah , dan sekarang nenek gak bergerak '' Isak Dewa.
Air mata Rafli tumpah ruah , canda tawanya bahkan keusilannya dengan nenek Fatmah terbayang di benaknya , saat memeriksa nafas dan deyut nadi nenek Fatmah tak terasa lagi.
" Nenek " teriak Rahma ikut menangis melihat kakak iparnya dan Dewa sedang terisak , apalagi melihat Dewa mengguncang tubuh sang nenek namun tak bergeming.
'' Ya Allah ibu.... " teriak Laras melihat keadaan mertua yang ia anggap seperti ibunya sendiri.
'' Pak , ibu...hiks... hiks.... " ucap Laras menangis histeris . Tangisan itu pun membuat pintu di kamar Ana terbuka , secepat kilat Rizki melarang sang kakak untuk mendekat namun gerakannya terlambat saat sang bapak menghentikannya.
'' Tapi pak " ucap Rizki .
'' Tidak baik kita menyembunyikan dari kakak mu " lirih Gunawan yang kini juga air matanya mengalir melihat tubuh sang ibu tak bernyawa. Apa ini yang disampaikan ibu Fatmah padanya jika Bu Fatmah sering bermimpi di jemput suaminya yang telah tiada dan saat itu juga nenek Fatmah sering sakit-sakitan .
'' Ada apa ini " ucap Ana dan tiba-tiba tubuhnya membeku saat menyadari keadaan saat ini , matanya beralih keranjang sang nenek yang melihat Rafli dan Dewa saling memeluk dalam keadaan menangis dan terlihat Rahma sedang terisak.
'' Nenek " ucap Ana segera mendekat kearah sang nenek yang kini tak bernyawa..
'' Nenek bangun nek.... bangun.....hiks.... bangun nek ... Ini Ana nek... buka mata nenek ....hiks.... bangun.... " ucap Ana terisak membuat Rafli membawanya dalam dekapannya ..
Mama Lia yang baru tiba bersama suami dan Chantika terlihat syok atas apa yang ia lihat.
Bu Laras jatuh pingsan segera di urus oleh Rizki , sementara bi Jum mengurus Arjuna yang menangis karena dia terbangun tidak ada yang menemani . Sementara Rahma memeluk erat tubuh Dewa terlihat begitu terguncang selalu memanggil buyut Fat , kehilangan buyut satu-satunya yang di miliki kini habis tak tersisa. Sementara Ana menangis terisak di pelukan Rafli hingga tubuh wanita itu melemah dan jatuh pingsan segera ia pindahkan kedalam kamar di ikuti mama Lia yang terlihat panik melihat keadaan menantunya. Semua panik menenangkan dan mengurus keluarga yang terpuruk.
Abdi datang dan menepuk pundak besannya yang terlihat bergetar karena tangis.
'' Yang tabah mas , ikhlaskan " ucap Abdi kini yang matanya mengembun .
'' Aku belum bisa membahagiakan ibu ku " ucap Gunawan lirih.
Sementara Jimmy yang mendapat kabar dari Rahma segera bersiap malam itu menuju rumah nenek Fatmah .
Matahari mulai menampakkan sinarnya malu-malu para tetangga telah ramai mengunjungi rumah nenek Fatmah untuk melayat .
Bu Laras berusaha tegar untuk mendampingi suaminya di temani oleh Lia dan Abdi di sisi mereka untuk menyambut para pelayat.
Rizki di bantu dengan Jimmy yang baru saja tiba segera mengurus untuk pemakaman sang nenek .
Ana sendiri sering menangis dan jatuh pingsan jika mengingat nenek Fatmah telah tiada . Nenek yang menjadi tepat curhatnya dan selalu menyayanginya melebihi siapapun . Buyut satu-satunya milik anaknya kini telah tiada bahkan bayi dalam kandungannya belum bertemu dengan sang nenek..
'' Ya Tuhan , kenapa begini , kenapa secepat ini " gumam Rafli.
'' Maaf tuan " sapa bidan wanita yang di panggil oleh Rahma untuk memeriksa kakak iparnya ...
'' Silahkan Bu " ucap Rafli mempersilahkan dokter untuk memeriksa istrinya . Ia takut ada sesuatu yang buruk terjadi kepada anak dan istrinya.
Dokter menjelaskan bahwa Ana mengalami guncangan yang cukup berat akhir ini , untuk bayinya sendiri keadaannya baik-baik saja. Dokter memberikan obat serta vitamin untuk Ana dan berpesan kepada Rafli tentang hal apapun mengenai Ana dan kandungannya.
Rafli memilih menunggui Ana sendiri di dalam kamar meski ia ingin sekali mengantar nenek ketempat pengistirahatan terakhirnya .
'' Bangun sayang " lirih Rafli mengecup jemari Ana berkali-kali .
ceklek
'' Ada apa " tanya Rafli kepada Bunga.
'' Tuan tidak makan atau minum " tawar Bunga dijawab gelengan dari Rafli.
'' Jika tuan lelah biar saya yang menjaga nona " ucap Bunga ia peduli kepada keduanya..
'' Pergilah , aku bisa menjaga istriku " jawab Rafli.
'' Tapi anda butuh istirahat tuan " ucap Bunga.
'' Pergi . Jangan pedulikan aku " bentak Rafli seketika membuat Bunga memilih pergi.
'' Ya ampun , aku kan hanya peduli kepada mereka berdua . kenapa pria itu marah padaku " batin Bunga sedih.
" Ada apa nak " tanya bi Jum.
__ADS_1
'' Bu . Aku hanya menawari tuan muda istrihat atau makan malah ia membentakku " ucap Bunga .
" Menawarinya hanya satu kali Bunga , jika kau berkali-kali atau terkesan memaksanya maka kau akan kena semburannya " ucap Bi Jum.
" Kau libur kuliah lama sekali . Kapan kembali kuliahnya " tanya bi Jum.
" Tiga hari lagi Bu " jawab Bunga.
" Bukankah liburnya hanya dua Minggu kenapa malah hampir satu bulan " batin Bi Jum.
" Istirahatlah , temani den Juna tidur . Ibu harus beberes sedikit membantu yang lainnya beberes " ucap Bi Jum dan diangguki Bunga karena sesungguhnya ia lelah.
" Ana " lirih Rafli saat wanita yang di tungguinya dari semalam kembali tersadar dan kini air matanya menetes.
" Nenek mas .....hiks.... kenapa nenek pergi meninggalkanku mas ...hiks... nenek sudah janji akan mengadakan acara tujuh bulanan disini tapi nenek malah pergi mas....hiks...hiks... " ucap Ana kembali menangis.
" Ana , biarkan nenek pergi dengan tenang tanpa beban , ikhlaskan Ana . Kami disini pun sedih Ana termasuk Dewa " ucap Rafli lirih , menangkup wajah pucat Ana.
" Jangan siksa dirimu Ana , ada mas , anak kita Arjuna dan juga Dewa serta buah cinta kita yang kau kandung. Pikirkan itu semua Ana. Paling tidak anak dalam kandunganmu " ucap Rafli menatap mata sayu Ana.
Ana meraba kandungannya " maafkan bunda ".
" Mas , kok sepi " tanya Ana sedangakan Rafli asyik merapikan rambut Ana .
" Mereka mengantarkan nenek ke makam " ucap Rafli hati-hati dan wajah Ana kembali muram .
" Kenapa aku gak di ajak mas " tanya Ana semakin sedih.
" Aku mau kesana mas " ucap Ana lirih dan kembali menangis.
" Baiklah . Tapi harus makan dulu ya . Dari semalam dirimu belum makan Ana " ucap Rafli.
" Tapi mas ... Aku mau lihat nenek untuk terkahir kali " ucap Ana .
" Baiklah . Tapi kau makan di jalan nanti " ucap Rafli dan diangguki Ana.
Bi Jum membawa makanan Ana menuju mobil sedangakan Rafli menggendong Ana menuju mobil dimana supir telah siap mengantar mereka.
" Bi , kami pergi dulu. Aku titip Arjuna ya " pesan Rafli dan diangguki bi Jum.
Mobil kini melaju cepat menuju ketempat pemakaman umum , selama di jalan Rafli terus memaksa Ana untuk mau makan , cukup berhasil namun Ana juga memaksa Rafli untuk ikut makan ,alhasil Rafli susah payah menelan makanan sama apa yang dirasakan Ana. Makanan enak itu terasa hambar , bagai ada biji kedondong yang membuatnya susah menelan .
Tiga hari telah berlalu dan selama itu juga Rafli beserta keluarga kecilnya mengikuti tahlilan di rumah almarhumah nenek Fatmah .
Kini kembali ke ibu kota yang jalanan saat ini begitu padat dengan kemacetan yang cukup parah.
Ana memilih kembali ke mansion utama milik suaminya . Mengingat para buyut Dewa habis tak tersisa membuatnya dapat kembali bersedih .
.
.
.
Rafli telah siap berangkat ke kantor menjalankan tugas yang telah ia abaikan cukup lama dan Dewa sendiri telah kembali bersekolah atas semua persyaratan yang di ajukan sang ayah, Dewa mau menerimanya.
'' Jangan lupa di minum susunya sayang " pesan Rafli kepada istri tercinta.
'' Jangan nakal dan jangan susahkan bundamu. Oke " ucap Rafli seraya mengelus perut buncit istrinya.
'' Hati-hati ya mas " ucap Ana seraya mencium tangan sang suami dengan takzim..
'' Iya hati-hati dirumah . Jika perlu apapaun segera beritahu mas " ucap Rafli dan diangguki Ana . Pria itu seakan berat meninggalkan sang istri meski hanya untuk bekerja saja .
Ting...Tong...
Bunyi suara bel membuat Ana menyerit heran .
'' Siapa yang bertamu di jam segini . Apa mas Rafli kembali lagi " gumam Ana .
'' Biar bibi saja non " ucap Susi.
ceklek
.
.
.
Jangan lupa like dan komentarnya .
__ADS_1