Takdir Cinta

Takdir Cinta
Ceraikan aku


__ADS_3

Rafli sungguh menyesali dirinya yang gagal mengendalikan emosinya dan meluapkannya kepada Ana. Kini ia menatap sendu punggung wanita yang ia cintai kini sedang bergetar karena tangis. Ana makin mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya saat merasakan ranjang di sebelahnya sedikit bergerak.


" Pergi jangan mendekat " ucap Ana lirih saat ia mengetahui bahwa itu Rafli.


" Maafkan mas sayang " ucap Rafli memaksa memeluk Ana dari belakang.


" Maafkan mas " imbuhnya memeluk tubuh Ana yang tertutup selimut tebal.


" Kau menyakitiku dan anak kita mas " ucap Ana terisak.


" Maaf " ucap Rafli dengan hati yang terdalam dan terus memeluk Ana membiarkan Ana memakinya dan meluapkan semuanya... Rafli berusaha membuat Ana tenang dalam pelukannya... Terlihat air matanya juga menetes melihat istrinya menangis karena perbuatannya.


" Aku membencimu mas " ucap Ana dengan suara yang sedikit melemah.


" Jangan Ana , jangan membenci mas " ucap Rafli lirih..


" Darah " teriak Ana membuat Rafli panik.


Ana menyibakkan selimutnya dan dirinya aman saja tak berdarah lalu matanya melihat darah yang berasal dari jemari Rafli.


" Tanganmu terluka mas " ucapnya khawatir dan segera bangkit dari tidurya.


" Aaauuww sakit " lirih Ana merasa area bawahnya nyeri.


" Maafkan mas sayang " ucap Rafli membawa tubuh Ana kembali keatas ranjang.


" Obati lukamu " lirih Ana.


" Luka ini tak seberapa , dari pada luka yang baru saja mas ciptakan " ucap Rafli yang sedari tadi menatap Ana sendu.


" Tapi obati lukamu , nanti bisa infeksi " ucap Ana cemas tanpa merasa selimutnya sedikit turun. Hati Rafli tersenyum hangat saat mengetahui istrinya masih peduli padanya meski ia menyadari amarah Ana masih terasa. Rafli segera beranjak mengambil kotak P3K . Ana dengan telaten mengobati luka suaminya , rasa perih tak dirasakan Rafli matanya terlalu fokus melihat ke indahan yang di sajikan istrinya tanpa sang empunya sadari.


" Kenapa kau selalu meluapkan emosimu dengan melukai dirimu mas " ucap Ana.


" Sayangi dirimu mas " imbuhnya masih mengobati luka Rafli.


" Kau selalu saja begini " ucapnya.


" Jika infeksi bagaimana dan bisa semakin parah " gerutu Ana.


" Apa darahmu begitu banyak , hingga tiada bosan mengeluarkannya dengan cara melukai diri sendiri " omel Ana saat mengingat perbuatan Rafli yang cukup nekat.


" Kenapa kau yang selalu meluapkan semuanya kepada benda kaca , selalu saja kaca jadi sasaran " ucap Ana merasa kesal karena Rafli hanya diam.


" Kasian kaca dirumah kita bisa habis " ucap Ana kesal lalu meremas jemari tangan Rafli yang baru saja ia selesai obati.


" Aaauuuw sakit " teriak Rafli merasa terkejut.


" Matamu itu sangat liar , sembarangan melihat " ketus Ana


" Kan melihat ke indahan milik istri mas " goda Rafli.


" Dasar suami edan ( amit-amit batin Ana ) , aku masih marah apa kau sadar " ucap Ana kesal karena Rafli malah menggodanya. Senyum samar terukir di bibir Rafli melihat tingkah Ana yang lucu saat ini.


" Iya mas minta maaf , mas tau kau marah. Mas sungguh menyesal Ana " ucap Rafli bersungguh-sungguh.


" Jika kau mengulangi dan apalagi menyangkut anakku . Aku tidak segan-segan meminta cerai darimu jika kau mengulanginya " ucap Ana serius .


" Aku tidak akan pernah menceraikanmu Ana. Tidak ada kamus dalam hidup mas kata cerai , apalagi menceraikanmu itu mustahil, jangan berharap akan hal itu, kecuali mas telah tiada di dunia ini " ucap Rafli dingin menatap tajam sang istri.


" Jika anak ini kenapa-napa bagaimana , kau tak memikirkannya mas " ucap Ana masih kesal lalu menepuk jemari Rafli.


" Sakit sekali " ucap Rafli meniup lukanya membuat Ana kembali cemas namun sedetik kemudian tawa Rafli pecah melihat Ana sangat peduli padanya meski sedang marah. Ana segera melepas jemari Rafli yang terluka namu Rafli dengan cepat membawa Ana dalam pelukannya.


" Jagoan ayah , maafkan ayah yang tadi menyakitimu dan bunda " ucap Rafli berbicara pada anaknya yang masih dalam kandungan.


" Jangan membenci ayah " imbuhnya mencium hangat perut buncit Ana.


" Bilang pada bunda , marahnya jangan lama-lama nanti bunda makin jelek " melirik Ana yang mencebikkan bibirnya membuat Rafli segera menyatukan bibirnya dengan milik sang istri , Rafli memberikan Ana ciuman yang penuh cinta dan kasih , menikmati setiap kemanisan dalam bibir Ana yang menjadi candunya sejak bertahun-tahun lalu , ia hanya ingin rasa bibir ini , meski ia pernah mencium Tasya guna memanasi Ana namun tak berhasil , tapi Rafli tak ingat memori mencium wanita lain apalagi Maudy yang menciumnya secara paksa sudah ia lupakan karena tak berkesan untuk ia ingat.


" Kenapa rasanya tetap saja dan semakin nikmat saja " goda Rafli membuat pipi Ana memanas menciptakan rona merah jambu alami.

__ADS_1


" Jika aku makan coklat , maka rasanya akan coklat " gerutu Ana.


" Tunggu sebentar " ucap Rafli bangkit lalu mengambil baju untuk Ana pakai.


" Pakailah " imbuhnya


" Atau mau mas pakaikan " goda Rafli dengan cepat Ana menggeleng lalu merebut pakaian itu..


" Hanya memakaikan tidak lebih " goda Rafli.


" Tapi jika kau ingin lebih , dengan senang hati mas memberinya " imbuhnya dan mendapat timpukan bantal dari Ana membuat Rafli tertawa dan mengambil sesuatu di lemari pendingin di kamar depannya.


" Coklat " ucap Ana berbinar saat Rafli memberinya sekotak coklat.


Tanpa di perintah Ana segera melahapnya dan membuat Rafli yang melihatnya tersenyum. Rafli mendekati Ana .


" Coklat baik untuk siapapun , agar mengurangi stres " ucap Rafli dan Ana asyik dengan dunianya sendiri.


" Kenapa ia makan begitu teliti " batin Rafli protes dan terlintas ide jahilnya.


" Aduh mas , kan jadi... " ucapan Ana terpotong saat Rafli mengambil coklat yang berada dalam mulut Ana dan Ana mengerti kenapa Rafli memberinya coklat. Rafli mengedipkan matanya saat Ana menyadari niatnya dan Rafli kini menikmati coklat yang istimewa dari Ana.


" Terasa coklat , dan sangat istinewa " ucap Rafli tersenyum masih terasa coklat di mulutnya karena ia mengambil semua coklat dari mulut Ana.


" Mas " ucap Ana kesal karena Rafli mengganggunya..


" Jangan marah , mas akan membelikanmu segudang coklat bila perlu dengan perusahaan dan pabriknya sekalian " goda Rafli , ia tersenyum karena kemarahan Ana telah hilang.


" Cih... Suamiku sombong sekali " ucap Ana malas..


Ana melihat jam sudah mulai sore , ia berniat mandi namun masih terasa perih bagian bawahnya. Melihat Rafli yang sibuk dengan benda pipihnya dan terlihat Rafli sedang menahan kesal dengan orang yang sedang di teleponnya.


" Anak bunda , kau jangan suka marah seperti ayahmu " batin Ana mengusap perut buncit Ana , terlihat Rafli yang menahan kesal disana.


" Kau ingin mandi sayang " tanya Rafli duduk di samping Ana.


" Iya tapi untuk berjalan terasa perih " lirih Ana.


" Maafkan mas ya sayang , ayo mas bantu mandi " ucap Rafli namun Ana hanya diam terlihat raut wajah tak percaya Ana melihat suami mesumnya ini.


" Apa milikkmu perih mas " tanya Ana bingung.


" Itu milik siapa " tanya Rafli dengan menunjuk menggunakan ekor matanya.


" Milikku lah " jawab Ana.


" Apapun yang ada pada dirimu itu milik mas , jadi otomatis hutan sejuk nan harum dan nikmat itu milik mas " ucap Rafli membuat pipi Ana merona menahan malu , sementara Rafli tawanya pecah begitu saja.


" Ayo mas janji , hanya membantumu mandi . Tapi jika kau mau melanjutkannya , dengan senang hati " goda Rafli.


" Ayo " imbuhnya segera menggendong Ana.


" Cukup berat ya " goda Rafli.


" Bilang aja aku gendut " cibir Ana.


" Hahaha , biar di luar sana tak ada pria yang menyukaimu selain mas " jawab Rafli.


" Bila perlu kau terus hamil " imbuhnya enteng.


" Kau fikir aku ini mesin pencetak anak mas " ucap Ana mencebikkan bibirnya.


" Hei , kondisikan bibir ini " ucap Rafli mengecup bibir Ana sekilas , kemudian Rafli segera memandikan Ana dengan hati-hati.


.


.


.


Kini Ana sedang bersantai diranjang empuknya setelah makan malam dengan orang tuanya yang tadi berkunjung. Sesekali Ana melirik suaminya yang sedang sibuk dengan pekerjaaannya , sedangkan Ana sibuk dengan benda pipihnya.

__ADS_1


" Minumlah susumu Ana , setelah itu tidur " ucap Rafli lembut dan tetap fokus dengan pekerjaannya.


" Aku belum ngantuk mas " elak Ana , sebenarnya ada yang mengganjal di hatinya.


" Sabar ya , pekerjaan mas sedikit lagi selesai " ucap Rafli dan Ana mengangguk.


" Ayo mas elus punggung mu " ucap Rafli setelah pekerjaannya selesai.


" Mas , ada yang ingin ku tanyakan " ucap Ana terlihat ragu.


" Apa " ucap Rafli.


" Kenapa kau tadi pulang dari kantor siang dan kau langsung menyerangku dengan sangat kasar " lirih Ana terlihat jelas dimatanya bahwa Ana sedikit takut atas kelakuannya suaminya tadi.


" Maafkan mas , mas hanya takut kehilanganmu , mas takut kau pergi meninggalkan mas " jawab Rafli memeluk Ana.


" Ayo tidur , ini telah malam " imbuhnya.


" Apa kau tak percaya akan perasaanku padamu mas " ucap Ana kesal .


" Jika aku tak mencintaimu , mana mau aku menyerahkan hal berhargaku untukmu dan kini lihat , aku mengandung anakmu " imbuhnya.


" Tapi kenapa dulu kau menolaknya untuk mas melakukannya " tanya Rafli.


" Aduh sakit sayang " gumam Rafli saat Ana menyentil keningnya.


" Apa kau gila , saat itu kita masih pacaran , apa jadinya masa depanku , apalagi kamu hilang ingatan , jika tidak kembali mengingatku bagaimana , jika aku hamil gimana , bagaimana dengan keluargaku , agama kita juga pasti akan marah karena itu dosa besar . Aku juga ingin menyerahkannya hanya untuk suamiku " ucap Ana bersungguh-sungguh..


" Kau tau , jika itu terjadi , anak kita pasti sudah mulai sekolah , jika itu terjadi pasti mas kekeh akan ada disisimu meski kau memaksa mas untuk pergi bahkan mas akan paksa dirimu untuk mau menikah dengan mas seperti saat ini , mas paksa kamu . Kau tau , ada ketakutan dalam hati mas saat mas jauh darimu , takut kau diambil orang. Mas memintamu menikah dengan mas , kau menolaknya, meminta untuk bertunangan dulu juga kau tolak. Mas tau itu dosa , maaf ya " ucap Rafli..


" Lalu apa alasan yang lainnya , saat kau melakukannya dengan kasar mas " tanya Ana pada inti masalahnya dengan sang suami..


" Tidak ada sayang " elak Rafli.


" Aku sangat kecewa , ternyata kau meragukanku mas , meragukan cintaku " ucap Ana lirih..


Rafli mengambil nafas panjang saat melihat istrinya dengan mata mulai berkaca-kaca.


" Baiklah , ada masalahnya yang membuat mas melampiaskan padamu tadi.Sebenarnya mas sudah berusaha untuk tenang dan menahannya , tapi mas gagal " ucap Rafli sendu , kini Ana merasakan setetes kristal bening yang membasahi kulitnya..


" Mas " ucap Ana saat Rafli bangkit begitu saja menuju ruang kerjanya membuat Ana terkejut seketika.


Rafli kembali dengan membawa amplop yang isinya menjadi biang masalah rumah tangganya.


" Bukalah " ucap Rafli malas.


Ana membuka dengan ragu , hingga terpampang jelas foto dirinya sedang di peluk lelaki lain dan sedang berciuman mesra di atas ranjang , Ana membulatkan matanya seketika melihat dirinya berada disana , lebih tepatnya wanita yang menyerupai dirinya. Rafli melihat jelas keterkejutan Ana.


" Ini mustahil mas " ucap Ana pucat , karena itu bukan dirinya namun begitu mirip dengan dirinya.


" Apa benar itu kau Ana " tanya Rafli gugup.


" Jelas bukan mas " ucap Ana cepat dan ia kecewa atas pertanyaan Rafli.


" Apa kau ragu mas " tanya Ana menatap tajam Rafli.


" Coba perhatikan gambar itu , bagaimana reaksimu bila menjadi mas " ucap Rafli dingin , berusaha menahan emosinya yang mulai bergejolak..


" Tapi ini bukan aku mas , dan kau menuduhku " ucap Ana meninggi.


" Aku tanya , apa reaksimu dan perasaanmu , bila ada di posisiku . Melihat foto orang yang sangat kita cintai melebihi apapun sedang berselingkuh , hingga... " ucap Rafli terhenti saat sadar nada bicaranya dan ucapannya.


" Hingga mengandung anaknya . Itu yang berada di fikiranmu bukan " ucap Ana tersenyum getir.


" Perasaan ku jika menjadi dirimu , aku akan sangat kecewa dan reaksiku akan marah . Tapi sebagai seseorang yang mengenal betul orang yang di cintainya , aku akan menyelidikinya lebih dulu , sebelum menghakiminya dengan menyakiti tubuh dan perasaaan orang yang kita cintai " lirih Ana dengan air mata yang mengalir..


" Ini nyata seperti diriku tapi bukan aku , bahkan gaun hamil ini , bagaimana bisa wanita ini memilikinya . Aku sangat kecewa padamu mas " batin Ana.


" Aku sungguh kecewa padamu mas , kau bukan hanya meragukan diriku dan perasaanku , tapi kau juga meragukan anak dalam kandunganku . Tiada guna hubungan tanpa kepercayaan yang tinggi , kau hanya mementingkan ego dan perasaanmu " ucap Ana lirih.. Rafli hanya diam mematung , membenarkan ucapan Ana , yang seharusnya ia percaya penuh seperti Ana yang begitu percaya padanya dan seharusnya ia menyelidikinya dulu.


" Ana " ucap Rafli lirih dan Ana segera memotong ucapannya .

__ADS_1


" Lebih baik ceraikan aku , setelah anak ini lahir , terasa percuma tanpa kepercayaan bila terus berjalan " ucap Ana ragu dan air matanya tanpa henti menetes. Jangan di tanya bagaimana reaksi Rafli.


" Jangan lupa like dan komentarnya ya "


__ADS_2