
'' Mas kita mau membesuk siapa " tanya Ana saat Rafli membawanya kerumah sakit , bukan rumah sakit yang besar namun cukup ramai .
'' Mas ada janji dengan dokter sayang " jawab Rafli merangkul pinggang Ana.
Perawat wanita pun mempersilahkan Rafli dan Ana untuk masuk. Ana terlihat meneliti ruang dokter yang ia masuki saat ini. Aneh , itulah yang ada di benak Ana.
" Silahkan di minum tuan dan nyonya " ucap sang perawat ramah . Ana melirik Rafli meminta persetujuan , Rafli pun mengangguk dan Ana mau tak mau meminumnya meski merasa aneh saat di awal periksa malah di suruh minum.
'' Maafkan mas sayang " batin Rafli saat Ana sudah tak sadarkan diri .
" Lakukan dengan segera apa yang aku katakan " ucap Rafli datar .
" Baik tuan " ucap sang dokter patuh.
Rafli merupakan pemegang saham terbesar di rumah sakit ini , sejak beberapa tahun yang lalu dan itu tanpa sepengetahuan keluarga besarnya .
Enam jam lamanya , Ana baru terbangun seperti orang linglung yang sedikit lupa ingatan.
" Ada apa sayang " tanya Rafli pura-pura tidak tau.
" Kepalaku pusing sekali mas dan sedikit mual " ucap Ana memijat pelan pelipisnya yang terasa pusing dan mengerjapkan matanya agar pandangannya menjadi jelas.
" Mau ke kamar mandi " tanya Rafli dan diangguki Ana.
" Mas , apa yang terjadi padaku . Kenapa aku berbaring disini " tanya Ana heran .
" Tadi dirimu kelelahan Ana dan segera di tangani dokter " ucap Rafli tenang .
" Oh ... " ucap Ana.
Rafli menerima obat yang harus di minum Ana selama tiga bulan kedepan agar pengobatan itu berjalan sempurna . Sama hal nya yang di lakukan Rafli terhadap Eric dulu kini ia lakukan kepada Ana . Rafli terpaksa melakukan semua ini , namun metode yang di lakukan dulu dan sekarang jauh berbeda .
.
.
.
Terlihat senyum Ana mengembang saat di depan cermin dan juga senyum Rafli cukup cerah saat ini . Jika Ana senang bertemu dengan anak serta keluarganya sama hal nya seperti Rafli namun terdapat nilai tambahan untuknya tersenyum saat ini .
'' Ayo mas , aku gak sabar mau ketemu anak-anak " rengek Ana .
" Iya sayang . Ayo " ucap Rafli dan Ana menerima uluran tangan suaminya .
. . . . . . . . .
'' Sayang mas ingin lagi " ucap Rafli dengan tangan mulai berkeliaran di balik dress isterinya . Baru beberapa menit mereka berada di dalam pesawat pribadi milik keluarga Wijaya namun Rafli malah ingin mengulang hal panas yang baru semalam mereka lakukan ...
'' Mas , kan semalam sudah . Aku lelah mas " ucap Ana saat ini tubuhnya benar-benar remuk , suaminya menggempurnya tak kira-kira saat itu.
'' Sekali saja '' bujuk Rafli , meski menikah dengan Ana sudah lumayan lama namun tak ada kata bosan baginya untuk menyentuh tubuh istrinya yang begitu ia cintai .
'' Sekali aja , gak lebih dan jangan lama-lama '' ucap Ana dan diangguki Rafli . Kembali terjadi hal yang paling di gemari Rafli sedari dulu.
Ana tidur terlelap saat beberapa menit yang lalu permainan telah usai terlihat tubuh Ana seperti macan tutul yang berhias warna merah yang kontras dengan kulit putihnya. Sedangkan Rafli segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya , ia membiarkan Ana untuk mengistirahatkan tubuhnya .
.
.
.
Di sebuah kantor Permana terlihat Eric sedang mencengkram erat benda pipihnya , terlihat tatapan marah di bola matanya saat mendapat laporan apa yang baru saja kemarin terjadi terhadap Ana.
'' Kau tega melakukan ini bahkan terhadap wanita yang kau cintai Rafli . Kau bukan mementingkan keutuhan rumah tanggamu tapi lebih tepatnya kau pria yang sangat egois " geram Eric , Rafli melakukan hal yang sama pada Ana meski dengan cara yang berbeda.
__ADS_1
Namun senyum Eric mengembang seketika , ini akan menjadikan kartu bagi Eric untuk membuat Rafli menurut padanya nanti .
'' Kau akan menuruti permintaanku kali ini Rafli . Maafkan aku , Ana " batin Eric .
Eric bergegas keluar dari ruangan miliknya dan menuju ruangan dimana sang papa berada . Terlibat pembicaraan serius antara Teguh dan Eric , pembicaraan yang sama yang mereka pernah bahas beberapa minggu yang lalu . Teguh kehabisan akal untuk menghentikan keinginan anak lelakinya itu , hingga memijat pelipisnya yang terasa pusing . Jika Abdi menolak hal itu maka Rafli pasti lebih menolaknya .
" Papa tenang saja , Rafli yang angkuh itu akan menurut kali ini . Kita bukan hanya bisa bertemu dengan Ericana secara bebas tapi kita bisa membuat Ericana menjadi bagian dari keluarga kita " ucap Eric yakin.
" Terserah kau saja , papa pusing " ucap Teguh pasrah.
.
.
.
Ana tersenyum sumringah saat melihat barisan anak-anaknya tersusun rapi , bahkan Ana tak melihat tatapan tajam dari ibu mertuanya sedangkan Rafli tak peduli dengan tatapan sang mama.
Ana melepas rindu lebih dahulu kepada anak-anaknya terutama Ericana yang kini menangis karena begitu merindukan Ana selama ini . Lalu Ana mulai menanyakan kabar keluarga yang lainnya . Meski Ericana sudah terlihat dekat dengan Ana namun Ericana belum bisa untuk begitu dekat dengan sang ayah yang terlihat memang sedikit tampan dari Daddy nya namun Eric mempunyai wajah teduh setiap kali menatap Ericana .
'' Paman " ucap Chantika bergelayut manja pada sang paman , Rafli . Chantika yang kini sudah menikah bahkan akan mempunyai dua anak tetap saja menjadi gadis manja , sebagai cucu pertama sekaligus anak tunggal dari Rani serta suaminya membuatnya begitu manja tapi mempunyai sifat yang begitu dewasa pula.
'' Menjauhlah , kau ini menggelikan Chantika. Kau ini telah menikah " ucap Rafli yang merasa geli sendiri melihat keponakan tersayangnya tersebut .
'' Suamiku itu tidak cemburuan seperti mu paman " cetus Chantika seraya melirik Rizki yang memang tak pernah memperlihatkan cemburunya , Rizki bisa cemburu jika pas pada tempatnya jauh berbeda dengan Rafli.
'' Aku ingin punya anak pria yang nanti mirip dengan wajah paman , tapi wajahnya saja tidak sifatnya " ucap Chantika mulai berharap .
'' Mana bisa , keturunan seperti paman ini hanya akan di lahirkan oleh istri paman. Jadi kau jangan berharap " ucap Rafli tak ingin keturunannya menjadi wajah pasaran.
'' Mana bisa begitu paman , jika Allah berkehendak apapun bisa. Jangan lupa , kita ini masih satu keluarga jadi tidak menutup kemungkinan " ucap Chantika tak ingin kalah.
'' Terserah kau saja " ucap Rafli mengalah saat di kode oleh kakak perempuannya .
.
.
.
Abdi tersenyum kecut mendengar keputusan Rafli yang memang lebih berhak dari siapapun atas Ericana .
Malam ini Rafli dan Ana memilih untuk tidur di kamar yang cukup luas dengan ukuran 6x10 meter dimana terdapat lima anak mereka.
'' Anak kita sudah terlelap sayang , apa kita tidak tidur di kamar tamu saja " ucap Rafli yang kini bibirnya tak bisa di kondisikan mengecup bagian mana yang ia sukai .
'' Tapi mas , aku masih rindu dengan mereka " ucap Ana cemberut.
'' Besok kita akan menghabiskan waktu bersama mereka " ucap Rafli .
'' Sungguh " imbuhnya saat Ana kembali memastikan. Senyum di wajah Ana mengembang bersamaan dengan Rafli yang mulai menggendongnya ala bridal style , benda kenyal itu pun saling bertautan saat ini dan kembali membuat sepasang mata mulai menggeram siapa lagi kalau bukan Lia . Ingin meminta pada suaminya namun masih gengsi karena aksi marahan nya.
'' Ehm " deheman Lia membuat wajah Ana merunduk malu saat ini .
" Mama mengganggu saja " ucap Rafli dan berjalan cepat membawa tubuh istrinya .
" Dasar anak dan mantu tidak ada akhlak " ucap Lia sebal , seolah ia lupa jiwa mesum Rafli juga sebagian dari dirinya.
" Aduh kenapa kamar yang mereka tempati tepat di sebelah kamar ku . Semoga saja kedap suara " umpat Lia, ia tak ingin bergadang malam ini karena mendengar suara erotis dari kamar tetangga.
.
.
.
__ADS_1
Terlihat Abdi dan Rafli terlibat pembicaraan serius saat ini , Abdi dengan sabar memberikan pengertian kepada Rafli yang terlihat teguh atas pendiriannya .
'' Aku tak akan membiarkan mereka bertemu Ericana pa " ucap Rafli sedikit membentak .
'' Jika bukan karena mereka .... " ucap Abdi terhenti .
'' Jika bukan karena mereka , maka Ericana akan tetap berada disisiku dan Ana sedari Ericana kecil . Dan nama anak ku bukan lagi Ericana , tapi Rayana Rafli Wijaya " ucap Rafli tegas.
'' Papa jangan lagi membelanya , dan aku tak ingin membahas hal ini lagi. Aku muak mendengarnya pa "ucap Rafli , pagi yang buruk menurut nya karena telah membuat emosinya meluap. Apa ia makan banyak tadi karena harus untuk marah-marah pagi ini .
'' Pa , mas Rafli '' ucap Ana membawakan secangkir teh pagi ini .
'' Mas '' Ana memberi isyarat kepada suaminya agar mengecilkan suaranya karena bisa terdengar anak-anak dan juga suaminya sedang berbicara dengan orang yang usianya lebih tua. Rafli melengos begitu saja enggan berdebat dengan istrinya juga .
'' Pa , maafin mas Rafli '' ucap Ana kini matanya sudah berkaca-kaca . Suaminya selalu saja tidak bisa mengontrol amarahnya meski berbicara kepada orang yang usianya lebih tua bahkan kepada orang tua suaminya sendiri .
'' Ini bukan salah Rafli , mungkin papa yang gagal mendidiknya dulu '' ucap Abdi lirih .
'' Tidak pa , papa adalah orang tua yang paling hebat yang pernah Ana kenal , atas nama mas Rafli , suamiku . Aku minta maaf pa '' ucap Ana hampir menangis, karena dirinya bisa merasakan perasaan Abdi saat sang anak cukup berkata dengan nada tinggi.
'' Papa tidak apa-apa nak . Papa baik-baik saja . Kejarlah suamimu , buatlah ia tenang '' ucap Abdi .
'' Papa tidak apa-apa sendirian '' tanya Ana tak enak hati .
'' Papa tidak apa-apa , sebentar lagi Joe akan kemari '' ucap Abdi tersenyum.
'' Ku kira karena sebentar lagi ada mama pa . Ternyata paman Joe lebih sigap dari segalanya " ucap Ana tersenyum.
'' Ya , bahkan Joe selalu siaga melebihi seorang istri " seloroh Abdi .
'' Apa paman Joe akan menggantikan posisi mama di hati papa " ucap Ana tertawa geli membayangkan hal tersebut .
'' Kau ini ya " ucap Abdi mengacak rambut menantunya karena gemas. Ia tau jika Ana hanya bercanda namun cukup geli ia mendengarnya .
'' Pergilah susul suami mu nak . Kita jangan membicarakan macan betina itu saat ini . Karena emosinya masih labil " ucap Abdi .
'' Baiklah pa . Aku urus suami ku dulu ya pa " ucap Ana dan diangguki Abdi.
....
Ceklek
Ana terpana sesaat melihat penampilan suaminya yang cukup santai namun begitu cool saat ini . Tak akan ada seorangpun yang mampu menebak usia Rafli sesungguhnya jika hanya melihat penampilannya.
'' Mas mau kemana '' tanya Ana .
'' Apa kau lupa kita ada janji dengan anak-anak " ucap Rafli ketus .
'' Masih marah... ehhmmmm " ucap Ana memeluk sang suami mencium aroma yang begitu memabukkan baginya .
'' Tidak " ucap Rafli berusaha acuh , tak peduli sentuhan jemari lentik istrinya itu yang kini berani menyentuh titik sensitifnya.
'' Jangan ketus gitu dong , lihat istrimu " ucap Ana mencoba menarik rahang tegas suaminya namun malah tubuhnya yang tertarik hingga kini di hadapan suaminya.
'' Apa mau mu Ana " tanya Rafli .
'' Aku tidak mau apapun , aku hanya meminta " ucap Ana tersenyum , senyum yang bagaikan virus karena mudah menular.
'' Jika ingin membahas tentang Rayana dan Permana maka lupakan " ucap Rafli tegas.
'' Bukan itu mas " ucap Ana dan menjijitkan kakinya agar mampu mencium bibir ranum suaminya .
'' Jangan memancing nya jika tak ingin bertanggung jawab sayang " geram Rafli , tubuhnya begitu mudah bereaksi jika bersama sang istri.
'' Aku ingin berbicara tentang diri mu mas " ucap Ana membuat dahi Rafli menyerit.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya.
Selamat membaca 😊