Takdir Cinta

Takdir Cinta
Drama ruang rawat.


__ADS_3

" Bisakah kalian keluar " ucapnya pelan pandangan penuh rindu teruntuk Ana yang terlelap.


Perawat dan dokter Puspa keluar dari ruang Ana namun tidak bagi Ayu.


" Kenapa kau tak keluar " ujar Rafli tak suka dan ia tersenyum melihat bayi mungil Ana , ingin menggendongnya namun ia takut jika bayinya terjatuh.


" Kapan istriku terlelap Yu " tanya Rafli.


" Baru saja " ucap Ayu ketus meski sebenarnya Ayu tak punya sifat seperti itu.


" Apa kau ingin menggendong anakmu " tanya Ayu memastikan.


" Apakah boleh " tanya Rafli penuh harap .


Huuft... Ayu menghela nafas panjang.


" Tentu saja boleh , selagi Ana tertidur. Kau kan tetap ayahnya " ucap Ayu seraya mengambil bayi Ana dari tidur lelapnya disisi Ana , ia mengambilnya hati-hati agar Ana tak terbangun.


" Kau mengambilnya pelan-pelan " ucap Rafli kesal karena Ayu begitu santainya menggendong bayinya.


" Kau mau menggendongnya tidak " desis Ayu menjadi kesal.


" Ya tentu mau " jawab Rafli.


" Maka kau diamlah " umpat Ayu.


Ayu menyerahkan bayi Ana kepada Rafli . Hati Rafli begitu bahagia saat mampu menggendong bayinya... ia berjalan dengan hati-hati menuju sofa..


" Sayang , ini ayah nak " ucapnya lirih...


" Ayah menyayangimu melebihi apapun.. maafkan ayah " ucap Rafli dengan mata berkaca-kaca.


" Maafkan ayah ya... ayah menyayangimu dan bunda lebih dari apa yang kalian tahu. Jangan pernah membenci ayah ya " imbuhnya mencium lembut pipi anaknya diiringi air mata yang menetes membasahi pipi Rafli junior.


" Kau harus bantu ayah membujuk bundamu agar mau memaafkan ayah mu ini..hikss...hiksss. Kita akan hidup bahagia sayang hiks.. tentu dengan adik-adikmu nanti " ucap Rafli dengan isaknya pelan.


Rafli terus saja mengucapkan kata maafnya karena penyesalannya begitu dalam. Ia berharap bayi kecilnya mampu membantunya membuat hati Ana luluh. Disisi lain Ayu yang melihat dan mendengar Rafli terharu dan matanya berkaca-kaca. Ayu sendiri akan berusaha membuat Ana mampu menerima Rafli , trauma Ana tidaklah berat namun Ana begitu kecewa pada suaminya dan Ana juga takut Rafli melukai putranya sendiri.


" Aduh kenapa pahaku menjadi hangat " gumam Rafli terlihat bayinya menggeliat..


" Astaga kau mengencingi ayahmu sayang , kau ini... Usil ya " ucap Rafli dengan suara parau kebanyakan menangis namun senyum bahagia terpancar dari wajahnya.


" Yu , tolong bantu aku " ucap Rafli pelan dan ayu mendekat perlahan.


" Apa " tanya Ayu.


" Kau gendong dulu anakku " ucap Rafli dan Ayu menerima saja.


" He.. " ucap Ayu terpotong.


" Sudah gendong saja jangan banyak protes " ucap Rafli.


" Aku pergi sebentar ganti pakaian dulu " imbuhnya berlalu.


" Lihat Ayahmu , tadi begitu menyedihkan namun sedetik kemudian membuat aunty mu ini kesal kepadanya " gumam Ayu mengganti pakaian bayi Rafli junior.


" Ehhh jangan nangis sayang , ayahmu yang menyebalkan bukan dirimu " imbuh Ayu saat melihat bayi tampan itu hendak menangis..


Ceklek Rafli kembali masuk dengan pakaian bersiihnya dan Ayu sendiri telah mengganti pakaiannya. Rafli menggenggam tangan Ana , ia mengusap surai Ana dengan penuh kehati-hatian. Ingin sekali ia memeluk Ana namun ia takut Ana terbangun.


" Maafkan mas sayang " ucap Rafli lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan rasa nyeri di dadanya bertambah parah saat melihat bekas memar di leher Ana akibat cumbuannya.


" Betapa kejamnya aku memperlakukanmu malam itu sayang , sungguh mas menyesalinya. Maafkan mas , telah membuat luka di hati dan tubuhmu , beri mas satu kesempatan untuk menembusnya dengan cara mas " batin Rafli penuh sesal.


" Rafli apa kau sudah makan " tanya Ayu.


" Sudah " jawab Rafli berbohong.


" Makanlah dulu , bagaimana kau punya energi untuk meminta maaf kepada istrimu yang keras kepala ini " ucap Ayu mendapat tatapan tajam dari Rafli.


" Hey , aku bisa menyuntikmu mati malam ini. Jangan menatapku begitu " ucap Ayu mencoba tenang.


" Kau akan berterimakasih nanti padaku. Karena aku berada di pihakmu untuk mendapatkan maaf Ana untukmu . Bukan karena aku kasihan padamu tapi aku mementingkan perasaan anakmu nanti saat menghadapi lingkungan sosialnya " ucap Ayu menjelaskan.


" Makanlah , aku tau kau berbohong. Penawaran tidak dua kali Rafli " imbuhnya dan Rafli menerima makanan dari Ayu.

__ADS_1


" Aku tak ingin kau menjadi gila karena Ana , jika kau berpisah darinya pasti mentalmu terganggu " gumam Ayu menatap sedih Rafli yang kini makan dengan lahap , ia tahu Rafli tidak makan dengan benar.


" Kau benar Ayu , aku harus berterimakasih padamu nanti. Aku memang akan gila bila perpisahan itu terjadi " batin Rafli ia mendengar kalimat Ayu yang menohok di hatinya. Ayu sendiri tak mengetahui jika Rafli mendengar gumamannya.


Rafli berjalan kearah Ayu yang menjaga Ana , terlihat jika sahabat istrinya itu kelelahan.


" Ayu , kau tidurlah . Biar aku yang menjaga Ana " ucap Rafli melihat sendu Ana.


" Tidak , nanti jika dia histeris melihatmu bagaimana " ucap Ayu.


" Apa Ana masih takut melihatku " tanya Rafli lirih.


" Beri dia waktu Rafli , saat ini Ana masih kecewa padamu dan untuk traumanya aku akan berusaha semkasimal mungkin membuatnya tidak takut terhadapmu dan kau juga punya peran penting Rafli " ucap Ayu dan ia menjelaskan dengan Rafli secara terperinci.


" Seharusnya kau percaya penuh pada Ana , Ana tidak mungkin berkhianat padamu. Jika ia sudah mencintai seseorang , ia akan percaya sepenuhnya. Meski yang di beri kepercayaan mengkhianatinya " ucap Ayu penuh sindiran.


" Apa maksudmu " tanya Rafli , ia merasa tak mengkhianati Ana namun kalimat Ayu tertuju padanya.


" Kita mengobrol di sofa , agar Ana tak terganggu tidurnya " ucap Ayu dingin dan Rafli mengikuti. Saat ini Rafli menjadi pria yang penurut meski yang memerintahkannya bukan istrinya..


" Katakan , apa maksudmu " tanya Rafli yang baru saja menghempaskan bokongnya di sofa.


" Kau pernah berkhianat pada Ana bukan " tanya Ayu membuat dahi Rafli bekerut karena bingung.


" Tidak mungkin aku mengkhianati Ana " jawab Rafli tegas.


" Apa kau sangat yakin " tanya Ayu.


" Apa kau meragukan perasaanku pada Ana , kau lama-lama ngeselin " ucap Rafli geram.


" ck..ck...ck.. Aku bingung , ntah mataku yang salah atau dirimu yang pikun. Aku melihatmu sedang berciuman di rumah sakit cempaka, tepatnya di ruang seorang gadis . Jika tidak salah namanya Maudy . Apa kau ingat , bahkan kau terlihat menikmatinya. " ucap Ayu meluapkan rasa kesalnya yang lama terpendam.


Reaksi Rafli terkejut bukan main , ia tak mengira jika hal itu di lihat oleh Ayu. Rafli mengusap wajahnya kasar , tidak bisa membayangkan reaksi Ana sepeti apa nantinya jika mengetahuinya.


" Aku tidak menikmatinya sama sekali , wanita itu yang langsung begitu saja menciumku " ucap Rafli tak terima karena itulah faktanya.


" Apa kau akan mengadukannya pada Ana " tanya Rafli memastikan.


" Aku dan Ines tidak akan memberitahu akan hal ini , asal kau tak mengulanginya lagi. Aku tidak ingin Ana bersedih karena hal ini . Ini peringatanku yang pertama dan terkahir. Jangan pernah menyakiti hati dan fisik sahabatku , aku bisa saja membuat Ana membencimu seumur hidupnya " ucap Ayu penuh peringatan.


" Ha... Ines lagi" batin Rafli.


Malam itu Rafli di ajari Ayu cara menggendong anaknya dengan benar , lalu Ayu juga mengajari Rafli membuat susu untuk bayinya jika ia tak mau Ana terbangun dan membuat Ana kelelahan dan Rafli setuju aja karena jika Ana bangun dipastikan Rafli akan di usir dari ruang rumah sakit itu.


Ayu memilih mengistirahatkan tubuhnya dan kini Rafli setia menjaga Ana dan bayinya dengan di temani dua suster yang menjaga. Rafli tak memperdulikan bisikan dua perawat itu yang sedang menceritakan dirinya.


.......


Pagi pun tiba , kini Rafli malah tertidur nyenyak karena lelahnya , selepas sholat subuh ia tertidur pulas.


Lia dan Laras melihat Ana dan cucu mereka pagi-pagi sekali , Lia sendiri memilih menginap disamping ruang rawat Ana.


Ceklek


Pintu terbuka dan di sambut dengan Ayu dan Ana yang sedang mengobrol dan si bayi tampan baru saja tertidur di dekapan sang bunda. Dan di ujung ruang terlihat Rafli yang tertidur pulas di balik lemari tinggi itu membuat Ana tak melihat keberadaan Rafli.


" Nak " ucap Laras mencium pipi Ana , kini ia masuk tak mengenakan kursi roda.


" Ibu " ucap Ana memeluk manja sang ibu.


" Ibu jangan pingsan lagi ya , Ana gak mau ibu sakit " ucap Ana sendu.


" Iya sayang , jika kau baik-baik saja ibu tidak akan sakit " ucap Laras tersenyum.


" Mana bapak dan Rizky bu " tanya Ana membuat Lia menjadi was-was.


" Nanti tengah hari akan kemari " jawab ibu Laras , karena ibu Laras meminta Gunawan mengurus Rizky saja dirumah karena ia tak mau Rizky mengetahuinya sakit dan mengadukannya ke Ana.


" Oh ya lah.... " ucap Ana .


" Ehmmm...ehhmmm... " ucap Lia.


" Ma " ucap Ana tersenyum kikuk mendapati Lia yang sengaja berdehem agar di tegur Ana.


" Mama cemburu kau tak menegur mama " ucap Lia berpura-pura merajuk.

__ADS_1


" Mama jangan gitu dong , seperti ..... " ucapan Ana terhenti mengingat sang suami yang ia rindukan namun ia takuti.


" Ana ingat , apa yang aku katakan " ucap Ayu dengan lembut dan Ana menurutinya.


" Ayo kau makan sayang , mama meminta asisten rumah tangga mama membuat makanan kesukaanmu " ucap Lia tersenyum.


" Terima kasih ma " ucap Ana dan kini bayi Ana berpindah tangan ke tangan Lia dan di ikuti Laras yang mengekor di belakangnya. Lia dan Laras berjalan dimana Rafli tertidur karena disana ada jendela besar yang berguna menjemur bayi tampan itu agar terkena sinar mata hari pagi , karena ruangan ini di desain khusus untuk Ana.


" Jeng , kok ada Rafli disini " bisik Laras ia tak mau di dengar Ana.


" Rafli semalam pasti menyelinap kesini " ucap Lia seraya membuka gorden jendela dan di bantu Laras membuka jendela.


Lia dan Laras kini ayik mengobrol di samping Rafli sementara Rafli merasa tidurnya terganggu dengan bisik-bisik yang terdengar di telinganya serta mentari pagi memberi sensasi hangat di wajahnya. Kedua nenek itu kini saling berdebat untuk bayi tampan itu.


" Jeng lagi sakit , nanti aja gendongnya ya " ucap Lia lembut.


" Tidak bisa gitu dong jeng , dari tadi kamu terus yang menggendong. Aku nya kapan " ucap Laras.


" Jeng kan sudah puas kemarin gendongnya , la aku baru pagi ini " elak Lia , ia teringat memori masa lalunya saat menggendong Rafli saat masih bayi.


" Tidak bisa gitu jeng , itu juga cucuku " ucap Lia.


" Hadeh berisik sekali " gumam Rafli namun Lia dan Laras terus berebut.


" Ana , setelah sehat buat anak satu lagi ya...Lihat ibu mu merebut cucu mama " ucap Lia merajuk.


Sementara Ana wajahnya memucat , bagaimana ingin punya anak lagi , sedangkan ia memutuskan bercerai dengan Rafli dan tak akan menikah lagi.


" Sini jeng aku lagi yang gendong " ucap Lia yang tangannya ingin lagi menggendong Rafli junior.


" Gendong saja sana yang besarnya " seloroh Laras tak mau kalah.


" Gak ah berat " jawab Lia pelan takut di dengar Ana dan Ana sendiri tak mengerti siapa yang besar di gendong , ataukah dirinya. Sementara dokter Puspa dan Ayu menahan senyum. Perebutan menggendong cucu pun makin menjadi membuat Rafli yang tertidur bangun dan kesal seketika.


" Kalian bisa diam tidak " teriak Rafli menggelegar , tanpa tau dimana ia berada saat ini dan siapa yang ia bentak tersebut.


Lia dan Laras saling pandang , situasi hening sejenak dan oeekkkk...oeeekkk..... suara tangis Rafli junior menggema seketika membuat Rafli tersadar dimana ia berada.


Semua orang mencemaskan Ana termasuk Rafli , Ana sendiri menggengam erat tangan Ayu dan Ayu segera memeluk Ana .


" Ibu bawa anakku kemari...hiksss....hiksss " ucap Ana kembali terisak.


Rafli yang cemaspun segera melangkah melihat Ana.


" Sayang " ucap Rafli lirih.


" Jangan mendekat , menjauh sana . Aku membencimu " ucap Ana berteriak.


" Ana lebih baik kau susui bayimu dan Rafli kau keluarlah dulu " ucap Ayu.


Rafli melangkah keluar dan di seret oleh Lia , lagi-lagi kesempatan untuk Rafi bicara tidak ada.


Bayi Ana terus menangis dan itu membuat Ana tambah bersedih hatinya.


" Ana , tenangkan dirimu.. kau jangan sedih. Ingatlah , anakmu meraskan kesedihanmu " ucap Ayu menasehati. Ana mengikuti saran Ayu dan berusaha untuk tenang. Ingin sekali Laras membujuk Ana , agar ia tak membenci Rafli begitu dalam.


Sementara di lain ruangan , Lia menasehati Rafli kembali , jika jangan terlalu dekat kepada Ana untuk sementara waktu membiarkan kondisi Ana sedikit tenang.


" Tapi aku tak bisa ma , menjauh dari mereka " ucap Rafli dengan bola mata yang mulai menggenang.


" Ma , apa yang harus aku lakukan jika Ana nanti nekat meminta pisah dariku " keluh Rafli.


Lia memijit pelipisnya , kali ini ia pusing tujuh keliling di buat Rafli dan masalahnya selalu berputar pada Ana. Andai ia dewi cinta , pasti ia menancap panah cinta Rafli untuk Ana seumur hidupnya...


" Hhhuuufftt " hanya hembusan nafas penjang Lia yang terdengar.


" Ma aku punya rencana " ucap Rafli berniat akan mengajak Lia sebagai tim nya.


" Apa " tanya Lia menatap Rafli curiga .


Selamat membaca.


Jangan lupa like dan komentar.


Terima kasih untuk yang sudah like dan komentar , meski sangat sedikit banget ya😁.

__ADS_1


Aku tetap lanjutin kok , sampai endingnya.


Beberpa episode ini mungkin Rafli akan tersiksa banget ya atas perbuatannya , nanti terselip kisah cinta Ayu dan Ines dan tak lupa si kembar , untuk Luna ntahlah nasibnya gimana , Luna sendiri masih sembunyi saat ini.


__ADS_2