Takdir Cinta

Takdir Cinta
Tangisan


__ADS_3

Zee menitipkan Alya pada Ara tuk beberapa hari, karena dia beralasan harus segera pergi karena ada urusan kantor. Oleh, karena itu Zee pergi dengan tenang.


Langkahnya tertatih menapaki rumput disana, tatapannya kosong, bibirnya seakan terkunci tuk berbicara. Hanya mata yang mengisyaratkan sesuatu, karena air mata itu tak hentinya mengalir di wajah ayunya.


Dadanya begitu desa merasakan luka, kekecewaan atas dirinya sendiri. Rasa bersalah yang amat membuatnya seakan memilih mati saja.


"Pantaskah, aku menemui dirimu? Pantaskah, aku berkeluh kesah dengan dirimu? Aku, aku sudah menodai segalanya, aku telah kehilangan semuanya," batin Zee menangis pilu dengan segala sayatan yang tak berwujud.


Langkah kakinya terhenti, tubuhnya seketika ambruk disana, mata sayu nya menatap sebuah tulisan yang sangat ingin genggam. Tempat yang bertaburkan bunga, tempat sunyi dimana kita merasa sendri.


"Sepi, sangat sunyi, aku ingin bersamamu saja!" ucapnya dengan lirih.


"Andai saat itu, Tuhan menakdirkan aku tuk pergi. Mungkin, aku tak akan menjalani hidup yang seperti ini!" gumamnya.


Tangan lentiknya menyapu batu itu, tak ayal air mata itu membasahinya. Menyerap cepat ke dalam tanah. Perasaan seseorang yang sudah tak menginginkan kehidupan, begitu putus asa.


"Kau tahu bukan? Tubuh ini sudah ternoda, aku gagal menjaganya. Aku kotor!" umpatnya.


Tangisnya pecah, tangisan penyesalan, tangisan kekecewaan, tangisan kerinduan, tangisan kehilangan, kini dia hanya bisa berteman sepi.


"Aku, aku, sangat ingin bertemu denganmu. Aku kembali, kembali dengan segala kesalahanku! Dengan segala rasa sesalku!" isaknya sambil meremmas rumput di atas pusaran sang kekasih.


Wanita itu begitu putus asa, sangat-sangat rapuh, tak ada pegangan yang kokoh tuknya berdiri. Hanya ada seuntai tali yang selalu mengelilingi dirinya.


Entah apa yang di pikirkan olehnya. Yang jelas, dia hanya merindukan kekasihnya. Jarak dan waktu boleh saja memisahkan mereka. Bahkan kematian pun tak bisa membuat hatinya ikut mati tuk terus mencintai sang pujaan hati.


Meninggalkan tempat sunyi itu, langkah wanita itu beranjak ke kediaman rumahnya. Sebuah rumah besar yang tak lagi bertuan rumah.


"Bunda, Ayah, aku merindukan serisi rumah ini, merindukan kehangatan rumah ini, merindukan segalanya yang berada di dalam rumah ini," lirihnya dengan berlinangan air mata.


Sangat menyakitkan, sungguh membuat luka yang sangat dalam, kenangan kebahagiaan, semua canda tawa itu tak lagi menjadi sebuah memori indah, melainkan memori kelam yang membuat hati tersayat.


******************************


Di ruang kerjanya, terlihat Alex begitu gelisa memikirkan Zee yang tak tahu pergi kemana. Bayangan bercinta itu muncul begitu saja saat dirinya memejamkan mata.


"Aku harus mencarinya! Dan menjelaskan semuanya, dengan begitu semuanya bisa selesai!" seru Alex.


Dengan cepat, Alex pun pergi ke sekolah alya. Dan benar saja, disana Alya sedang berdiri seperti sedang menunggu seseorang. Alex turun dari mobilnya dan menghampirinya.


"Al!" panggil Alex.


Alya menengok dan melihat Alex yang sedang berjalan menghampirinya. Alya tersenyum, melambaikan tangannya.


"Uncle," sapa Alya.


"Kau menunggu seseorang?" tanya Alex.


"Tidak, hari ini tak ada yang menjemputku. Aku sedang menunggu mobil jemputan," jawab Alya.


Alex menengok kanan kiri melihat sudah tak ada siapa pun.


"Hayo kita pulang! Kau, bisa bertemu dengan Daddy mu di rumah!" ajak Alex.


"Daddy, aku tak mau mengganggunya! Daddy kan sibuk kerja, Uncle," seru Alya.


"Ya sudah. Kau ikut saja dengan Uncle! Disini sudah sepi, Uncle tak mau kau kenapa-napa," seru Alex.


"Ehem,,, baiklah!" jawab Alya.


Alex pun mengandeng tangan Alya. Gadis kecil itu memang cepat akrab dengan siapa saja. Alex mengantarkan Alya ke rumah Ara.


"Kemana, Mommy mu?" tanya Alex.


"Mommy, kembali ke Indonesia. Ada kerjaan disana," jawab Alya.


"Kau sampai pergi jauh keIndonesia? Apa semua itu karena diriku?" batin Alex.


Alya menatap Alex yang sedang melamun, dengan sedikit ragu Alya menyentuh tangan Alex.


"Ya, kenapa?" tanya Alex sadar dari lamunannya.


"Uncle tidak boleh melamun! Kan sedang menyetir!" pinta Alya sambil tersenyum.


Alex hanya mengusap kepala Alya. Lalu kembali fokus menyetir. Setibanya di rumah Ara, Alex begitu canggung saat bertemu dengan Ara dan Ken.


"Silakan masuk Tuan! Maaf, rumah kami kecil," ucap Ara.


Alex hanya mengangguk seraya masuk ke dalam rumah. Ken mempersilahkan Alex tuk duduk. Terlihat rumah itu begitu hangat, apalagi saat pertama masuk langsung disambut dengan foto keluarga yang sangat besar.


"Ayah Ken, Alya mau masuk ke kamar. Uncle terimakasih," ucap Alya seraya mencium pipi Alex.


"Uncle? Kau bukan Wiliem?" tanya Ken bingung.


"Sepertinya, kalian sudah sangat mengenal Wil. Saya Alex, kembaran dari Wiliem," jawab Alex.


"Ahh, maafkan saya. Saya tak tahu, kalau Wiliem mempunyai kembaran," ucap Ken.


"No, problem. Saya mengerti!" seru Alex.


Ara kembali membawa minuman tuk suami dan Alex. Ara tersenyum melihat Alex, dia begitu mirip dengan Alfa.


"Silakan di minum!" pinta Ara.

__ADS_1


"Terimakasih, maaf sudah merepotkan," seru Alex.


"Sayang, ini Tuan Alex kembaran dari Wiliem," ucap Ken.


"Aa-alex," ucap Ara terbata menatap Alex.


"Nama itu, nama yang tak asing. Aku seperti mengingat sesuatu atas nama Alex" batin Ara.


Ken dan Alex serius berbicara dengan begitu asyik. Ternyata Alex bisa juga di ajak bicara santai, dan begitu klop dengan Ken.


"Tuan Alex, apakah kau pernah tinggal di Indonesia?" tanya Ara tiba-tiba.


Alex menatap Ara, mengerutkan keningnya. Tapi, pertanyaan Ara sungguh sedikit mengusik pikirannya.


"Maaf, Nyonya. Tapi, saya tak pernah tinggal di Indonesia," jawab Alex.


Ara terlihat lega saat mendengar jawaban dari Alex. Ara mencoba tersenyum, mencoba tenang juga. Sedangkan Ken merasa ada yang di sembunyikan oleh Ara.


"Memang ada apa, Nyonya?" tanya Alex.


"Tidak ada, saya hanya mengingat akan sesuatu dimasa lalu," jawab Ara.


"Bunda," panggil Alya.


"Ya, sayang. Ada apa?" jawab Ara seraya menghampiri Alya.


Namun Ara tak sengaja menyenggol foto yang ada di belakangnya hingga terjatuh.


Prangg


Foto itu terjatuh dan foto itu milik Zee dan Alfa. Alya melihat itu langsung berlari.


"Bunda, foto Mommy!" serunya seraya berjalan hendak menyentuh foto tersebut.


"No!" teriak Alex.


Alya dan Ara pun terdiem, sedangkan Alex berdiri melihat foto tersebut. Matanya melebar saat melihat foto itu.


Deg,, deg,, deg,,


"Foto lelaki itu, dan wanita itu Zee?" batin Alex. Jantungnya berdetak kencang seakan jantung itu akan lepas dari tempatnya.


Alex tanpa sadar mengambil foto itu, dengan begitu saja tanpa menghiraukan pecah kaca di atasnya.


"Tuan, tangan anda berdarah," ucap Ara.


Tapi Alex tak menghiraukan ucapan Ara, Alex masih menatap lekat foto itu. Alya berlari mengambil kotak obat dan kembali sambil menarik tangan Alex.


Ara dan Ken hanya diam, melihat sang ponakan begitu baik pada Alex. Alya menarik tangan Alex.


"Uncle, tangannya berdarah," seru Alya.


Barulah Alex menyadari jika tangannya sudah penuh darah. Ara membantu memberikan pernah kecil pada Alex.


"Apa ini Zee?" tanya Ken.


"Ya, Tuan. Itu Zee dan lelaki itu Alfa, Ayah kandung Alya," jelas Ken.


"Alfa?" tanya Alex.


"Uncle itu mirip dengan Daddy Al. Sama juga dengan Daddy Wili," ucap Alya.


"Kalian memang sangat mirip, hanya berbeda rambut juga matanya saja," seru Ken.


Alex semakin tegang, dadanya begitu sesak. Entah kenapa jantungnya begitu sakit. Ara, melihat perubahan dari Alex.


"Tuhan, tidak mungkin dia, bukan?" batin Ara. Matanya sudah berkas-kaca, tapi masih dia tahan.


"Maaf, Tuan Nyonya. Saya pamit dahulu, karena masih ada pekerjaan," ucap Alex tiba-tiba dan berjalan keluar.


Ken dan Ara pun berdiri mengikuti ke depan rumah. Alya berlari memanggil Alex.


"Uncle, tunggu!" teriak Alya.


Alex berhenti dan berbalik menatap Alya, gadis kecil itu berlari sambil merentangkan tangannya. Alex dengan reflek berjongkok dan menangkap tubuh kecil Alya.


"Ada apa?" bisik Alex.


"Hati-hati di jalan, dan jangan sampai terluka lagi!" pinta Alya sambil mencium tangan Alex yang terbalut perban.


"Kenapa kau mencium lukaku?" tanya Alex.


"Mommy akan melakukan itu, jika aku terluka. Mommy bilang itu akan mengurangi rasa sakitnya," jawab Alya.


Alex tersenyum tipis, " ya, baiklah!" ucap Alex seraya mengusap kepala Alya.


Alya kembali berlari pada Ara dan Ken. Alex masuk ke dalam mobilnya dan pergi.


"Kau harus makan! Setelah tidur sianglah!" perintah Ara.


"No, Bunda. Al tak suka tidur siang. Al mau bermain saja dengan kak Rio dan Rino," jawab gadis kecil itu sembari tersenyum kuda.


"Anak nakal, ya sudah pergilah!" perintah Ara sembari mencubit hidung mancung Alya.

__ADS_1


Gadis kecil itu berlari ke kamar Rio dan Rino. Sedangkan Ken memeluk tubuh sang istri.


"Ada apa? Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" tanya Ken.


"Tidak ada. Hanya sedikit teringat akan masa lalu saja," jawab Ara.


Ken dan Ara pun kembali kedalam rumah, keduanya masih menjadi Dokter di sebuah rumah sakit di Finlandia. Ken menjadi Dokter yang sangat di segani karena repurtasinya yang sangat baik. Sedangkan, Ara menjadi Dokter yang sangat di cintai oleh pasiennya. Sifat lembut dan penuh kasih sayangnya membuat Ara sangat di sukai.


Di dalam kamar, Rio dan Rino sedang membaca buku ditemani musik yang mengalun menggema di dalam kamar mereka yang kedap suara.


Alya masuk dengan perlahan, bahkan gadis kecil itu masuk dengan mengendap-endap. Setelah itu dengan santainya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Semuanya sedang sibuk, biarkan sajalah. Yang penting aku bisa tidur disini dan ada yang menemaniku," batin Alya.


Sebenarnya, Alya sudah sangat mengantuk sejak tadi. Tapi entah kenapa, dia begitu takut tuk memejamkan matanya.


Rio yang sudah selesai membaca buku pun berniat tuk tidur siang terkejut saat melihat sosok kecil sudah meringkuk tertidur di ranjangnya.


Rio menepuk bahu Rino dan mengisyaratkan tuk melihat ke arah ranjang.


"Al, kapan dia masuk?" tanya Rino dengan suara lirih.


"Entahlah, aku pun tak tahu," jawab Rio seraya berjalan mendekat.


Terlihat Alya yang sudah tertidur pulas, Rio menyelimuti Alya. Membiarkan adik kecilnya itu tuk tidur.


Mereka pun berniat tuk keluar, namun terhenti saat mendengar suara Alya.


"Jangan pergi! Al takut, takut," ucapnya dengan tangan yang terus bergerak seakan mencari sesuatu.


Rino berjalan cepat dan memegang tangan Alya.


"Kami tak akan pergi, tidurlah lagi!" pinta Rino.


Rio dan Rio pun akhirnya tidur di samping Alya, dengan posisinya berada di tengah. Alya masih menggenggam erat tangan Rino. Sedangkan, Rio mengusap pelan punggungnya dan mencium kepala Alya.


Siang itu, Alya di jaga oleh dua pangeran tampan yang ikut tertidur pulas di sampingnya.


"Kemana anak itu, aku tak bisa menemukan!" seru Ara.


"Kau, mencari siapa?" tanya Ken.


"Kau melihat Ara, dia belum makan," jawab Ara.


"Coba kau lihat di kamar Rio! Mungkin dia masih berada disana," ucap Ken.


Ara pun mengangguk ia, dan memeriksa kamar sang anak. Betapa terkejutnya Ara saat melihat anak-anaknya sedang tertidur pulas begitu pula dengan Alya.


"Kalian mengingatkan ku dengan adik-adikku. Aku begitu merindukan masa kecil itu. Tidur satu ranjang dengan Zee dan Zyan," ucap Ara sambil mengusap air matanya yang menetes.


Ken yang melihat Ara di depan pintu kamar sang anak pun menghampirinya.


"Ada apa? Dimana Alya?" tanya Ken.


"Suuiit," ucap Ara pelan seraya menempelkan satu telunjuknya.


"Wait?" tanya Ken.


Ara menarik tangan sang suami tuk melihat momen langkah itu. Ken tersenyum bahagia melihat anak-anaknya menjaga dan menyayangi Alya sebagai adik mereka.


Ara pun kembali menutup pintu kamarnya. Ken dan Ara kembali ke kamar mereka.


"Kau tahu, sayang. Kekuatan cinta dan sayang keluargamu itu sungguh menakjubkan bagiku. Melihat bagaimana Ayah dan Bunda selalu mengajarkan kebiasaan itu pada anak-anaknya," ucap Ken.


Ara masih terdiam, tapi mendengarkan apa yang Ken bicarakan.


"Aku mendapatkan kasih sayang dari sosok orangtua dari mereka. Bisa merasakan, kasih sayang saudara dari adik-adikmu," imbuh Ken.


"Kau, tahu. Bagaimana orang itu mengatakan semua wasiatnya padaku yang menurut mereka aku adalah anak lelaki tertua mereka semua? Aku merasa itu bukanlah beban, tapi sebuah kepercayaan yang harus aku terima dari semuanya," sambung Ken mengingat kembali akan ucapan dari Bumi, Azura, Ars, Tia, Aldo dan Intan.


"Dan kau mampu tuk melakukannya. Kau menjaga aku dan semua adik-adikku. Kau menyayangi mereka tanpa batas, aku beruntung bisa memiliki dirimu begitu juga dengan Zyan, Zee, Sam, Abi dan juga Vanya," balas Ara.


Ken memeluk erat tubuh sang istri. Wanita yang begitu dia sayangi, wanita yang begitu berarti bagi dirinya.


"Terimakasih Ken. Kau selalu menjadi tameng tuk keluargaku," ucap Ara.


"Terimakasih juga, kau telah menjadi bagian dalam hidupku, dan memberikan banyak keluarga tuk ku," balas Ken.


Memang dari dulu sampai saat ini, semua adik-adik Ara sudah sangat bergantung pada Ken. Mereka menghormati Ken seperti seorang ayah, mereka akan selalu melibatkan Ken disetiap situasi apapun.


Karena mendiang orang tua mereka sering mengatakan jika Ken lah yang akan menjaga mereka setelah mereka tiada. Dan itu benar terjadi Sam dan Zyan begitu tergantung pada Ken semenjak orangtua mereka tiada.


"Tuhan tolong jaga semua keluargaku. Karena mereka semua adalah nyawaku, hidupku, dan kekuatan diriku," batin Ken seraya menutup matanya.


Disisi lain, Ara masih teringat akan reaksi Alex saat melihat foto Alfa. Perubahan di dirinya saat mengetahui tentang Alfa. Ingatannya pun kembali ke sepuluh tahun lalu saat malam berdarah itu.


"Ada apa sebenarnya? Akan ada kejutan apa lagi setelah ini?"


Aahh... Para readers ku semakin pintar saja. Semuanya menebak-nebak dengan sangat baik.


Dan aku sangat menyukai itu. Karena itu berarti kalian benar-benar membaca novelku, dan mengikuti jalan ceritanya.


Bye,,, bye,, sayangku semua nya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2