Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kami menyayangi mu


__ADS_3

'' Biar aku dan Ana memberitahukannya secara perlahan pa " ucap Rafli membuat hati Lia tak tenang , karena kondisi Ana sendiri belum ada kemajuan yang berarti saat ini..


Dewa dan Gunawan datang bersama cucu yang lainnya tentu ada Bi Jum juga kesana dan Bunga tidak masuk kedalam ruangan Rafli , ia lebih memilih keruangan Ana.


Bunga sudah tak peduli dengan hubungannya dengan Willy , karena Willy tak menepati janji nya agar tak mencelakai Ana...


Jika di kamar ruang rawat Rafli terjadi suasana haru sama hal nya di ruang rawat Ana.


Bunga menitihkan air matanya saat melihat kondisi Ana yang tidak ada kemajuan sama sekali , bagai mayat hidup yang mampu tetap ada karena alat medis yang menempel di tubuhnya , sunyi hanya bunyi monitor jantung yang terdengar serta ada beberapa suster yang berjaga .


'' Sadarlah kak , ku mohon . Kasihan anak-anakmu ....hiks....hiks.... Maafkan aku yang tak mampu mencegah hal buruk ini ....hikss....hiks.... " gumam Bunga lirih ...


'' Bangun kak , kau harus bangkit kak . Ada kami yang menyayangimu ....hiks....hiks.... Suamimu sudah sadar dan ia tak tau keadaanmu saat ini kak .... Bagaimana kami menghadapinya nanti...hiks.... Bahkan aku takut melihatnya.... '' imbuhnya menggenggam jemari lemah Ana...


Ceklek ..


Bunga di kejutkan oleh hadirnya sosok seorang pria tampan yang di perkirakan lebih muda dari pada Rafli. Ia adalah Eric yang melakukan perjalanan bisnis di Berlin dan segera meluangkan waktu yang begitu berharga demi melihat keadaan Ana dan sekarang Eric disini di ruang rawat Ana , waktunya tak banyak karena Eric mengetahui bahwa pemilik wanita ini sebenarnya telah siuman .


'' Bisa menyingkir " ucap Eric angkuh dengan pandangan tak sukanya...


'' Kau siapa " tanya Bunga enggan pergi.


'' Kau tanyakan pada tuan Abdi dan Gunawan , siapa Eric Permana " ucap Eric membuat Bunga mengendalikan jantungnya yang tiba-tiba ingin jatuh kelantai.


" Bukankah ini mantan kak Ana " batin Bunga , ia ingat sekali jika bukan hanya Rafli dan Eric yang bersaing namun Lia dan Sasa juga bersaing ingin menjadi yang terbaik untuk wanita yang berbaring lemah tersebut .


" Kak Rafli su.... " ucap Bunga terhenti.


" Aku sudah tau , kau menyingkir dan jangan cerewet " ucap Eric tak ingin di bantah , mata Bunga berkedut karena merasa aneh seorang Eric bebas masuk membesuk Ana .


Bunga beranjak membiarkan Eric menemui Ana saat ini . Bunga menatap Angga yang menatapnya penuh selidik saat ini , membuat Bunga keluar dari ruang rawat itu .


" Tidak mungkin kan pria itu berani macam-macam , ada banyak suster disana bahkan ada body guard khusus disini . Dasar pria gila , sibuk mengurus istri orang " batin Bunga..


Eric menatap Ana dengan sendu , ia berbicara kadang penuh kesedihan dan kadang pula penuh motivasi . Setelah puas bercerita dengan Ana , ia segera beranjak sebelumnya telah mengecup kening Ana dengan puas . Sebenarnya para suster ingin melarangnya karena pria ini bukanlah suami pasien yang mereka jaga , namun mereka beranggapan jika Eric saudara Ana dari jauh meski wajahnya tak ada kemiripan sama sekali karena salah seorang suster pernah melihat Eric mengobrol dengan Abdi serta Gunawan.


Eric keluar dari ruangan Ana dan kebetulan bertemu dengan Gunawan yang kini menatapnya sudah ramah, sedikit bertegur sapa dan tak lama Eric segera melangkah melanjutkan perjalanan bisnisnya ke Kanada , dimana perusahaan cabangnya akan di buka disana .


.


.

__ADS_1


.


Rafli kini telah rapi , sedari tadi pria dewasa ini merengek ingin bertemu sang istri namun tak kunjung datang menjenguknya . Ia telah di bujuk rayu untuk makan dengan berbagai cara , meski pun berhasil ia hanya makan sedikit.


prangg...


'' Aku ingin Ana , bukan obat " ucap Rafli dengan mata berkaca-kaca.


'' Apa kau tuli . Aku ingin Ana , istriku , istriku. KAU DENGAR " ucap Rafli dengan nada tinggi membuat suster yang berjaga terkejut .


Beruntung bagi suster itu saat melihat Abdi dan Lia yang datang .


'' Ada apa ini Rafli " tanya Lia mengamati keadaan sedikit berantakan diruangan Rafli


'' Aku ingin bertemu istriku " ucap Rafli lirih , ia begitu rindu dengan istrinya . Hal yang paling di inginkan dan sudah membuatnya terbiasa yaitu melihat Ana saat matanya terbuka , namun istrinya kini tak tau dimana.


'' Siapkan dirimu ,apapun yang terjadi " ucap Abdi lirih .


'' Ada apa dengan istriku pa " tanya Rafli yang dipastikan tak dapat mengontrol emosinya nanti namun bukan hal muda untuk mengelabuhi Rafli selalu .


'' Jangan banyak tanya. Satu pinta papa , kontrol emosi dan perasaanmu . Semua baik-baik saja " ucap Abdi kini Rafli di pindahkan ke kursi roda karena Rafli belum mampu untuk berjalan dengan kuat karena ototnya butuh sedikit berlatih.


Lia meremas jemarinya sementara Abdi berwajah datar dia mendorong kursi roda Rafli. Rafli heran mengapa menuju sebuah ruangan yang jaraknya agak jauh dari ruangannya . Ia berfikir jika Ana dirawat namun tak mengetahui sang istri koma , membuat Rafli menghela nafas kasar .


Ceklek .


'' Rafli " gumam mereka bertiga .


Mata Rafli tertuju pada brankar rumah sakit yang di tempati makhluk tak berdaya itu . Ia mencoel tangan sang ayah agar cepat mendorong kursi rodanya . Semua orang menyingkir saat Rafli mendekat .


'' Ana " ucap Rafli lirih meraba wajah pucat Ana meski tak mampu melunturkan kecantikannya itu.


'' Ada apa dengan mu Ana " ucap Rafli meneliti seluruh yang ada di dekat istrinya . Meksi ia tak memahami betul dunia medis namun ia sedikit tau tentang alat yang menempel pada tubuh istrinya .


'' Ana , Bangun " teriak Rafli tak mampu menahan luapan emosinya .


'' Ana bangun sayang... lihat aku Ana....hiks...hiks... suami mu yang tak berguna ini ada disini ...hiks....lihat aku.... " ucap Rafli memeluk tubuh sang istri tersebut.


'' Apa kau masih nyenyak tidur disana . Apa kau masih menemani anak kita disana ...hiks...hiks... Kenapa kau tak ikut aku kembali . Biarkan anak kita di jaga nenek dan juga kakeknya disana tanpa harus kau ikut. Disini ada aku ....hiks.... Dewa ....dan anak kita lainnya . kau tau kan , ibu saat ini sedang sakit , apa kau mau menjadi anak durhaka juga jika membuat ibu mu semakin sakit , kau istri durhaka Ana jika tak bangun " Isak Rafli , saat komanya ia berkumpul bersama kakek dan neneknya yang telah tiada meski hanya sebagian yang ia ingat.


'' Ana bangun Ana...hiks....hiks.... apa kau ingin melihat aku tiada saat ini agar bisa bersamamu yang enggan kembali. Apa kau tak memikirkan anak kita yang disini . Mereka membutuhkanmu , aku juga membutuhkan mu , kami semua sayang denganmu ...hiks...hiks.... Kau selalu saja hobi pergi dariku dari dulu Ana " imbuhnya dengan suara serak tak peduli pusing yang menderanya karena banyak air mata yang tiada henti hari ini.

__ADS_1


'' Rafli tenangkan dirimu nak " ucap Gunawan membujuk.


'' Pak , suruh Ana bangun . Marahi dia jika tak kunjung bangun " adu Rafli persis seperti anak kecil.


'' Ma , marahi Ana ma . Ia tega meninggalkan ku kembali " imbuhnya menatap Lia penuh harap sementara Lia tak kuasa melihat tangisan anaknya saat ini .


'' Aku akan membencimu Ana , jika kau tak bangun saat ini " teriak Rafli tiba-tiba dan tubuhnya yang berusaha bangun oleng seketika beruntung Gunawan sigap menangkap tubuh Rafli . Pria itu pingsan , tak sanggup menerima keadaan yang menimpanya saat ini .


Rafli segera di pindahkan di ruang rawat inapnya , dokter yang memeriksa memberitahu jika Rafli merasa terpukul berat atas apa yang ia alami . Dokter sudah memperingatkan agar tak memberi kabar buruk kepada pasien , namun Rafli yang keras kepala tak mau mengerti apapun alasan orang sekitarnya membuat orang sekitarnya terpaksa mempertemukannya dengan Ana.


Hari telah berlalu . Seminggu ini Rafli memilih tidur dirumah sakit menemani sang istri yang masih terlalap bahkan ia tidur dalam satu ranjang bersama sang istri , membersihkan tubuh Ana dengan teliti dan mulutnya selalu komat kamit mengucapkan kata cinta tiada pernah bosan setiap saatnya , tiap malam dirinya selalu menangis bahkan terkesan tak memperdulikan anaknya .


.


.


Satu bulan kemudian


Jimmy yang terus di desak sang mertua terpaksa terbang ke Berlin sekaligus menjenguk kondisi Ana untuk kedua kalinya dan bertemu Rafli yang telah sadar pertama kalinya. Awalnya Laras sempat ngedrop saat mengetahui kabar sang anak , tapi ia tak akan pergi jika keadaanya sakit membuatnya berusaha untuk sembuh karena anak serta cucunya membutuhkannya.


Suasana haru kembali terjadi diruang rawat Ana saat Laras dan Rahma melihat keadaan Ana yang saat ini masih memucat . Sedangkan Rafli menemui anak-anaknya yang saat ini rindu padanya , anak-anak nya merajuk karena sang ayah tak memperhatikan mereka.


Meski Rafli bersama anak-anak nya namun jiwanya hanya berporos pada Ana , memikirkan Ana yang tak kunjung sadar membuat gairah hidupnya ikut menguap entah kemana.


Kini Rafli dan keluarga Ana pergi ke kota J untuk ziarah kemakan keluarganya , Rafli menitipkan Ana pada Jimmy membuat Jimmy berada di ruang rawat Ana selalu mengurus pekerjaannya dari jauh.


Rafli , Laras , Rahma menyentuh nisan yang bertulis nama Zilva dan Vanya yang dengan binti Rafli .


Air mata Rafli luluh lantah , melihat gundukan yang terjaga rapi tersebut , tepat di sisi paman kecilnya , rumah penuh kenangan ini akan menjadi pemakaman keluarga sepertinya.


Semua yang berada di pusara itu membacakan yasin dan doa agar mereka tenang disana.


Rafli tetap berdiri di dekat nisan tersebut..


'' Pinta bunda kalian untuk kembali menemani ayah , karena ayah serta kakak-kakak kalian merindukan bunda dan kami membutuhkannya . Suatu saat kelak kita akan bersama. Titip salam dari ayah untuk bunda kalian " ucap Rafli mengecup terakhir nisan anaknya . Entah kapan ia akan kembali namun doa akan ia ucapakan di setiap doa nya untuk malaikat kecil yang telah tiada itu dan sang istri agar segera membuka matanya .


Rafli pergi sebentar menemui Devan , ia turut berdukacita atas meninggalnya Alexa dan terlihat Devan tegar menghadapinya. Devan memberi semangat kepada Rafli agar tak putus asa untuk kesembuhan Ana , meski Devan sendiri rapuh di dalam hatinya setiap mengingat Alexa Rafli pun pamit karena ia harus segera kembali ke Berlin mengingat Ana dan anak-anaknya yang membutuhkan nya .


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komentarnya .


__ADS_2