
...بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم...
..."Membuka lembaran baru, dan tak usah memikirkan perihal masa lalu. Itu jauh lebih baik daripada terpuruk serta terpenjara oleh belenggu."...
...°°°...
Waktu terasa begitu cepat berlalu, seperti baru kemarin aku terlibat hubungan pernikahan yang diliputi banyak kesakitan dan penderitaan. Harus ikhlas dan berlapang dada kala ditalak dan diceraikan. Dan kini aku pun harus menjalani kehidupan baru dengan status janda yang bagi sebagian wanita merupakan aib yang memalukan. Tak apa, inilah takdir hidup yang harus kujalankan.
Proses perceraian yang lumayan cepat membuatku sedikit bisa bernapas lega, walau rasa sesak masih kian terasa. Masih terbayang dengan jelas bagaimana hakim menyatakan putusan atas pernikahan kami yang berakhir di persidangan. Sebuah perceraian dengan status janda kini sudah kukantongi.
Huft! Kutarik napas panjang lantas membuangnya kasar, berharap rasa sesak yang kini menyeruak sedikit sirna dan hilang. Kuatkan hatiku, lapangkan sabarku, dan berikan ketabahan untuk melewati segala cobaan ini.
Kian hari perutku kian membesar saja, bahkan kini sudah memasuki usia enam bulan. Janin yang dulu tak kuinginkan kini teramat sangat kusayang, hanya ia yang akan menemani hari-hariku nanti. Ia adalah alasan terkuat untukku tetap bertahan di tengah terpaan badai ujian menghadang.
"Bengong mulu, ada tamu itu yang mau ketemu kamu," tutur ayah berhasil menyadarkan lamunanku.
Aku pun bangkit dari ranjang dan menghampiri beliau yang tengah berdiri di ambang pintu. "Siapa, Yah?" tanyaku penasaran.
Beliau tersenyum samar dan menepuk lembut puncak kepalaku. "Ibu mertua kamu," jawabnya membuatku tersentak tak percaya.
"Mantan ibu mertua lebih tepatnya," ralatku yang beliau balas gelengan tegas. "Gak ada yang namanya mantan ibu mertua, bersikaplah baik pada beliau. Ayah gak suka kamu bertingkah angkuh dan egois seperti itu. Ikhlaskan, jangan malah terus diratapi."
"Maaf," kataku merasa bersalah dan tak enak hati. Beliau mengangguk dan memberikan senyum terbaiknya, lantas kami pun berjalan menuju ruang tamu, tempat di mana ibu berada.
Wajah teduh yang sudah beberapa bulan ini tak kutemui, kini sudah menyapa netra. Dengan segera aku masuk ke dalam dekapan hangatnya, pelukan yang begitu teramat aku rindukan.
__ADS_1
"Jangan nangis," katanya setelah melepas rengkuhan dan menghapus lembut cairan bening di sekitar wajahku. Aku mengangguk dan tersenyum simpul, walau tak dapat dipungkiri air mata malah kian berjatuhan.
"Ibu juga jangan nangis," ucapku kala mendapati tetesan air mata di sekitar sudut netranya yang mulai berkeriput.
"Ibu kangen sama kamu, maafkan Ibu karena baru berani datang kemari," bisiknya seraya kembali memelukku penuh sayang.
"Aku yang seharusnya minta maaf karena gak bisa menjadi istri yang baik untuk Mas Bagas, aku juga gagal menjadi menantu Ibu," sahutku yang beliau balas gelengan tak setuju.
"Duduk dulu, Sayang, kamu pasti pegel kalau kelamaan berdiri," ungkapnya sembari menuntunku duduk di sofa panjang yang tersedia.
"Ibu apa kabar? Sehat-sehat aja, kan?" tanyaku sedikit khawatir pasalnya keadaan ibu kala kutinggalkan jauh dari kata baik.
Beliau terkekeh pelan, seakan ingin menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. "Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, tapi minggu lalu asam lambung Ibu naik."
"Inalillahi, tapi sekarang udah mendingan, kan?" Anggukan mantap beliau berikan, hal itu membuatku lega bukan kepalang.
"Gak papa, mohon maaf merepotkan," sahut ibu tak kalah ramah. Sifat ibu memang tidak pernah berubah, sekalipun kini aku tak lagi berstatus sebagai menantunya.
"Mohon maaf, Pak saya baru berani datang kemari, jujur saya sangat malu dan seperti tak lagi memiliki muka untuk kembali bertemu Bapak dan juga Btari. Maafkan kesalahan putra saya yang sudah berlaku tidak baik pada putri bapak," ungkap ibu terdengar sangat tulus.
Ayah tersenyum tipis dan mengangguk maklum. "Yang lalu biarlah berlalu, saya sudah mengikhlaskan semuanya. Ini memang sudah menjadi takdir yang harus dijalani," sahut ayah begitu legowo.
"Mas Bagas apa kabarnya, Bu?" selorohku sedikit berbasa-basi, kurasa itu biasa dan tak terlalu menyinggung masalah personal Bagas.
Ibu tersenyum simpul. "Alhamdulillah sudah lebih baik, penyakitnya juga sudah jarang kumat lagi karena Bi—"
__ADS_1
Perkataan ibu seketika terhenti, mungkin beliau baru menyadari bahwa sedikit lagi ia akan menyebutkan nama sang menantu baru. Sabar, Btari, sabar. Ikhlaskan.
"Gak papa, Bu terusin aja," kataku agar beliau tak merasa sungkan. Di antaraku dan Bagas sudah selesai, tak ada apa pun lagi.
"Setelah perceraian kalian, tak lama dari itu Bagas menikahi Bianca, Ibu kurang tahu alasan jelasnya. Tapi saat ini Ibu tahu, kalau Bianca tengah mengandung anak Bagas." Ada intonasi rendah tepat di akhir-akhir katanya, dan jujur saja itu membuatku sakit hati.
"Semula Ibu menolak tak setuju, bahkan terang-terangan memusuhi Bianca. Tapi saat melihat kondisi kesehatan Bagas yang kian membaik Ibu sadar, bahwa memang Bianca orang yang tepat untuk mendampingi Bagas. Dia sangat tahu betul bagaimana bersikap dan bertindak dalam memperlakukan Bagas, dan itu berdampak baik untuk kehidupan Bagas di masa sekarang," terangnya dengan ditutup sunggingan lebar.
Aku ikut bahagia jika memang Bagas sudah mulai terlepas dari penyakit mental yang dideritanya. Kuharap ia bisa sembuh total dan menemukan kebahagiaan baru bersama Bianca.
"Alhamdulillah, aku lega dengernya, Bu," sahutku jujur apa adanya. Terkadang dalam hal mencintai diperlukan rasa ikhlas, untuk menerima bahwa ia yang dicinta lebih bahagia bersama wanita lain. Tak apa, itu memang yang terbaik untuk kami semua.
"Selalu ada hikmah yang dapat kita petik dari sebuah akar permasalahan. Alhamdulillah, saya ikut bahagia mendengar kabar baik tersebut," tutur ayah ikut larut dalam perbincangan.
"Usia kandungan kamu sudah berapa bulan, Nak?" cetus ibu seraya mengelus lembut perut buncitku. "Jalan enam bulan, Bu," jawabku seraya tersenyum lebar.
"Masya Allah, yang sehat-sehat yah, Nak. Ibu doakan supaya kelahirannya dilancarkan," sahut ibu yang langsung aku dan ayah aminkan.
"Kandungan Bianca bagaimana, Bu?" tanyaku. Ada sedikit kegetiran sebelum ibu berucap, "Sama seperti kamu."
Aku memalingkan wajah sejenak, rasa sesak seketika menyeruak hebat. Itu artinya Bagas sudah main api kala awal pernikahan kami. Aku sudah ia bohongi. Tak apa, Btari, ikhlaskan. Semua sudah menjadi garis takdir yang harus kujalankan.
"Maafkan putra Ibu," ungkapnya seraya menggenggam tanganku erat. Kuberanikan diri untuk menatap beliau. "Gak papa, Bu, In syaa Allah sudah aku maafkan dan ikhlaskan."
"Apa Mas Bagas masih mengingat aku? Paling tidak anak yang tengah aku kandung," ujarku dengan senyum getir yang terbingkai.
__ADS_1
Ibu mengelus puncak kepalaku lembut lantas berujar, "Bagas gak pernah menanyakan keberadaan kamu, bahkan dia seakan lupa dengan kamu. Biaca bilang kalau itu wajar, terlebih di antara kalian memiliki kisah pahit yang cukup membuat Bagas trauma."
Aku hanya sepenggal kenangan pahit yang tak patut untuk dikenang. Tenyata benar apa yang dulu pernah Bianca katakan, penderita BPD takut akan ditinggalkan serta lebih memilih untuk meninggalkan. Namun kala sudah memutuskan untuk pergi, ia benar-benar melupakan. Tanpa bekas dan jejak sedikit pun.