Takdir Cinta

Takdir Cinta
Koma


__ADS_3

'' Devan " panggil seseorang bodyguard saat baru saja Devan datang bersama anak buahnya .


'' Dimana tuan dan nona Ana '' tanya Devan pada point nya .


'' Nona di sandera di atas , dan tuan ke atas di temani beberapa orang " ucap bodyguard tersebut.


'' Kau lihat istriku " tanya Devan , semua anak buahnya fokus menyerang dan berusaha naik ke atas .


'' Tidak , sedari tadi kami fokus disini bersama anak buah Eric " ucapnya.


'' Aku akan mencari Alexa lebih dulu '' ucap Devan.


Langkah Devan terhenti saat melihat sosok yang ia kenali jatuh telungkup. Berjalan dengan perlahan tanpa peduli suara baku hantam di sekitarnya . Bahkan peluru tak dapat menembus tubuhnya karena rompi anti peluru yang ia kenakan beserta anak buahnya.


'' Alexa... " lirih Devan segera mengecek denyut nadi Alexa , menolak untuk menerima kenyataan jika Alexa telah tiada .


'' Alexa ..... " teriak Devan terus memanggil sang istri yang kini dalam pelukannya .


'' Alexa.... Bangun Alexa .... " ucap Devan kini tak terbendung air matanya .


'' Alexa sayang bangun... " imbuhnya dengan kasar menggerakkan Alexa.


'' Aku akan membalas kematian mu dengan cara keji untuk mereka " ucap Devan ia menghirup sedikit aroma bius pada pipi sang istri. Tangan Devan mengepal . Ia segera menggambil pistol milik Alexa dan ia memasangkan sarung tangan penuh dengan pisau kecil melengkapi jari-jarinya membuat Devan mampu menyerang dengan gaya apapun.


'' Bawa Alexa keluar dari neraka ini , biar aku yang membereskan dua puluh orang ini " ucap Devan menatap nyalang pada para musuhnya yang tertawa mengejek.


Tanpa aba-aba Devan menyerang membabi buta para musuhnya tanpa ampun , secepat kilat Devan menendang saat musuhnya ingin menembak , lalu Devan mencakar wajah serta dada musuhnya bahkan perut hingga membuat aroma amis membaur di tubuhnya . Tanpa ampun Devan menyerang , menempel di dinding bagai Spiderman ia lakoni demi membunuh orang yang mencari masalah pada orang sekitarnya, kehilangan Alexa pukulan terburuk baginya wanita yang mampu membuka senyumnya untuk pertama kali bahkan wanita yang mampu membuatnya menjadi manusia sedikit berhati , meski hanya sedikit. Kini Devan tak ingin punya hati untuk berbaik hati kepada siapa saja , ia akan menyerahkan hidupnya untuk Alex sang buah hatinya serta Rafli kakak angkatnya sekaligus atasannya.


'' Ana " ucap Rafli segera berlari memeluk istrinya yang kini matanya telah terpejam . Rafli memeluk wanita yang begitu berarti dalam seluruh hidupnya sementara para bodyguard sibuk menyerang . Ruangan ini kosong , dimana yang lainnya dan Asuka.


'' Mas " lirih Ana membuka matanya . Rafli menatap sedih keadaan sang istri yang wajahnya penuh lebam...


'' Maafkan mas . Mas gagal menyiapkan orang terbaik untukmu '' ucap Rafli dengan mata berkaca-kaca menahan tangis melihat kegagalannya membuat wajah Ayu Ana terdapat banyak lebam bahkan cetakan lima jari tercetak jelas di pipi yang merah dan sedikit membiru itu.


'' Perutku sakit mas '' ucap Ana lirih. Ia tak tahan lagi menahan sakitnya hingga membuatnya tadi memejamkan mata.


'' Ayo mas akan membawamu keluar '' ucap Rafli ingin menggendong Ana .


Prrook....prok....prok... Seketika membuat tubuh suami istri itu terkejut.


'' Romantis sekali ya '' ejek Asuka menahan kekesalannya melihat adegan romantis tersebut.


'' Kau '' ucap Rafli dengan gigi bergemeretak , segera membawa tubuh Ana di belakang tubuhnya.


'' Ternyata kau dalang semua ini '' ucap Rafli dengan rahang mengeras...


'' Ayolah sayang. Jangan marah , apa kau tak merindukanmu .hhmmmm '' ucapnya dengan pakaian yang menggoda.


'' Dasar kau wanita gila '' ucap Rafli lantang.


'' Aku gila karena mu Rafli dan obatnya hanya kau '' ucap Asuka namun Rafli meludah meremehkannya.


'' Kau manusia terburuk dan memuakkan di dunia ini yang aku temui. Manusia tak bermartabat dan tak punya malu '' hina Rafli dengan mulut pedas nya , ia membenci makhluk wanita di hadapannya saat ini . Tangan Asuka terkepal karena Rafli kembali memalukannya dan menghinanya dengan buruk.


Rafli tersentak kaget saat Ana meremas bajunya kuat.


'' Aku tak tahan mas. Sakit sekali '' ucap Ana membuat Rafli segera ingin menggendong Ana namun terhenti saat matanya menangkap sebuah samurai yang siap menebas lehernya.


'' Jika kau membawa wanitamu keluar , kau akan mati Rafli '' ucap Asuka mengancam .


'' Atau tinggalkan Ana dan ikutlah denganku '' imbuhnya.


Tak ada waktu bagi Rafli membuatnya menyerang beberapa ninja mengenakan pistol yang ia bawa , hal itu hanya untuk mengecoh Rafli.


Brakk


sebagian anak buah Eric serta anak buah Devan berhasil masuk kedalam ruangan tersebut dan segera menyerang para ninja bayaran Asuka.


'' Tuan pergilah bawa nona '' ucap salah satu anak buah Devan dan diangguki Rafli.

__ADS_1


'' Benar tuan , sebagian dari kita menjaga tuan dibawah '' sahut lainnya.


Rafli menggendong Ana secara bridal style di didampingi tiga orang penembak jitu di sisi nya.


Rafli sentak menurunkan Ana begitu terpaksa bukan karena sakit karena tembakan di lengannya namun saat beberapa orang kembali menghalangi jalan mereka.


Baku tembak terjadi .


'' Mas , sakit sekali '' rinti Ana dibalik ketakutannya membuat konsentrasi Rafli menjadi terpecah .


Dor


Ana segera menjadi tameng bagi sang suami membuat punggung belakang nya tertembak , membuat Rafli menjatuhkan pistol yang ia genggam sedari tadi.


'' Ana ... '' ucapnya bergetar.


'' Kenapa kau lakukan ini huh '' imbuhnya segera menggendong Ana dengan berlari menuruni tangga , langkahnya begitu tergesa sesekali melihat wajah Ana yang terlihat menahan sakitnya namun sang istri tak merengek kesakitan membuatnya semakin takut.


'' Jaga anak kita mas '' ucap Ana pelan seraya menggenggam perutnya yang terasa sakit.


'' Kita akan jaga dan merawat anak kita bersama '' ucap Rafli menahan emosinya karena ucapan Ana tak menyenangkan baginya.


'' Bertahanlah sayang kau ha..... '' ucapan Rafli terhenti karena seseorang menembak nya dari belakang sebanyak dua kali ....


'' Kakak '' teriak Devan saat melihat Rafli terkena tembakan musuh.


Anak buah Devan yang berada di lantai tiga segera membabat habis seluruh musuh yang masih tersisa di balik dinding bangunan tua tersebut.


'' Selamatkan istriku lebih dulu Devan '' ucap Rafli .


'' Izinkan aku menggendong istrimu kak '' ucap Devan dan diangguki Rafli .


'' Ayo tuan '' ucap bodygaurd miliknya yang akan memapah Rafli yang kini begitu memucat akibat kehilangan banyak darah sedari tadi dan tembakan dua di punggungnya .


Seseorang yang memonitor tempat tersebut dari jauh mengumpat kesal karena Rafli dan Ana di selamatkan oleh anak buah Rafli. Orang itu adalah Willy yang menggelontorkan dana cukup besar dalam penyerangan ini.


'' Kau membohongi ku Willy '' teriak Mrs.X merasa kesal karena melihat keadaan Rafli yang terlihat begitu melemah , bahkan ia ragu jika Rafli dapat selamat.


'' Jika Rafli tiada , aku akan membunuhmu Willy bersama putramu . Tak ada kerja sama diantara kita lagi " batin Mrs.X


Ambulance sudah menunggu di luar dan terlihat beberapa polisi mulai masuk . Darwin terpaksa menelepon polisi setelah Rafli dan Ana tak kunjung keluar untuk dapat bantuan lebih banyak.


Ana di letakkan di brankar rumah sakit dan disisinya ada brankar lain terdapat sang suami yang menggenggam jemari Ana yang terlihat matanya kini sayu dan meneteskan air mata memikirkan anak dalam kandungan ....


" Mas " ucap Ana begitu pelan.


" Jangan tinggalkan aku Ana " ucap Rafli lirih dan seketika tangan Ana terlepas dari tautan sang suami membuat Ines menangis histeris berserta Intan yang berada di lokasi kejadian .


" Ana.... ban....bangun.... Ana " ucap Rafli berusaha bangkit namun tubuh nya jatuh dan di ikuti mata yang terpejam.


'' Anak mama " teriak Lia lalu jatuh pingsan. Lia berada disana karena pikirannya tak tenang sedari tadi dan Rava menangis terus membuatnya mengajak Rava keluar di temani pengawal milik Abdi Wijaya .


Seseorang yang baru saja tiba merasa lemas di seluruh tubuhnya saat melihat tautan jemari suami istri itu terlepas dan segera keluar dari dalam mobil mewahnya menghampiri wanita yang begitu ia cintai. Rasa cintanya tak dapat terkontrol melihat keadaan memprihatinkan Ana.


" Ana bangun Ana " ucap Eric memeluk erat tubuh Ana . Tercium bau anyir melekat pada tubuh Ana. Eric tak peduli akan hal itu.


" Kau memintaku bahagia namun kau lihat hiks... , apa seperti ini akhirnya kau membuat ku bahagia...hiks...hiks... Maafkan aku Ana , aku gagal menjagamu dari jauh...hiks...hiks... Seharusnya waktu itu aku memaksa mengambilmu ...hiks...hiks... " ucap Eric dan segera meminta izin menemani sepasang suami istri tersebut masuk kedalam mobil ambulans tanpa peduli tatapan sulit di artikan dari orang sekitarnya .


Eric menemani Ana dan Rafli dalam perjalanan menuju rumah sakit menggenggam jemari Ana yang sesekali ia kecup . Sesekali ia melihat Rafli yang berada tepat di samping Ana yang kini memejamkan matanya .


" Jika kalian ingin mati bawa aku " batin Eric yang meluncur bebas air matanya .


" Kenapa jadi begini Ana " ucap Eric mengusap air matanya dengan jemari Ana yang Eric gerakkan.


" Aku akan melakukan apapun untukmu " imbuhnya dengan suara serak sementara sang suster hanya menangis tertahan melihat tuan muda , adik pemilik rumah sakit tempatnya bekerja memejamkan matanya bersama sang istri yang baru pertama kali ia lihat seumur hidupnya. Bahkan suster tersebut mampu melihat pria yang perasaannya begitu hancur tengah menggenggam jemari lentik dari istri tuan muda tersebut , terlihat cinta Eric begitu besar dari perbuatan dan perkataan yang di simak suster tersebut.


Rumah sakit terbesar di kota J di sterilkan demi keadaan genting tersebut . Hanya suster dan beberapa pengawal serta orang penting saja yang terlihat hilir mudik. Seluruh pasien dan kerabat yang membesuk di perintahkan untuk masuk sesuai dengan SOP rumah sakit dan jam besuk terpaksa di hentikan saat ini .


Eric terus menggenggam brankar rumah sakit yang terdapat Ana berbaring di atasnya , air mata terus menetes dan seribu doa ia ucapkan dalam hati. Eric mendesah lirih saat ia dilarang masuk di ruang operasi dimana Ana berada, sedangakan Baim berada di depan ruang operasi milik Rafli karena Devan segera mengurus jenazah istrinya dengan perasaan hancur lebur merasukinya saat ini.

__ADS_1


'' Ngga , cancel seluruh rapat hingga seminggu kedepan " ucap Eric .


'' Sahabat ku ini benar gila karena rasa cinta nya . Melihat Eric begitu hancur aku jadi tak tega. Apa aku bunuh saja Rafli biar Eric bisa bahagia " batin Angga.


" Ana itu bukan istrimu Eric , jangan bersikap seolah kau suaminya . Lihatlah orang Wijaya menatapmu tajam " batin Angga , ingin sekali ia berkata seperti itu namun mana berani walaupun itu sebuah fakta.


" Keluarga nona Ana " ucap salah satu dokter langsung keluar dari ruang operasi.


" Saya Dok " ucap Lia tiba-tiba berada disana membuat Eric menutup mulutnya seketika.


" Kami harus melakukan tindakan operasi secepatnya untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan pasien " ucap Dokter Budi yang bertugas mendampingi dokter Netti serta dokter Smith yang masih berada di dalam.


'' Lakukan yang terbaik dokter untuk cucu dan mantuku " ucap Lia bercucuran air mata.


'' Kami akan berusaha semaksimal mungkin nyonya . Namun... " ucap Dokter Budi meragu .


'' Apa dokter " sahut Eric penasaran.


'' Bisa kita bicara sebentar diruangan sebelah " ucap Dokter Budi segera di ikuti Lia dan tak ketinggalan Eric juga ikut masuk.


Dokter Budi membicarakan secara detail tentang kondisi Ana saat ini , mengalami luka tembak dan memar pada rahimnya membuat dokter harus mengambil keputusan berat jika itu terjadi. Serta kemungkinan terburuk usai operasi terjadi. Lia menangis dengan nasib yang menimpa keluarga bahagia putranya tersebut. Sementara Eric pandangannya kosong setelah mendengar penuturan dokter , memilih keluar karena tak sanggup mendengarkan lebih lanjut .


'' Cukup takdirku yang bagitu buruk jangan takdir wanita yang kucintai " ucap Eric , mendengar kemungkinan bayi Ana tak terselamatkan membuat dadanya terasa nyeri , dan rahim Ana yang akan diangkat membuatnya merasakan amarah yang begitu hebat apalagi jika Ana koma membuat hidupnya terasa tak berarti. Bahkan mimpi beberapa tahun yang lalu tak semengerikan ini.


Operasi Ana memakan waktu cukup panjang ketimbang operasi Rafli , namun Rafli dinyatakan koma saat itu membuat para sahabat Rafli bersedih begitu juga Jimmy yang berada jauh disana . Sementara tangis bayi terdengar di ruang operasi Ana menandakan ada kehidupan di dalam sana namun ada satu bayi yang dinyatakan meninggal karena tembakan di punggung Ana menembus bayi tersebut dan itu mengakibatkan fatal. Dokter Netti menangis saat itu melihat kenyataan yang harus di alami wanita yang sudah ia anggap keponakannya ini begitu juga Smith ia gagal menepati ucapannya pada Ayu .


Bayi Ana yang selamat berjenis kelamin perempuan tersebut harus segera mendapatkan perawatan khusus , ada secuil binar bahagia di mata Eric saat sekilas melihat bayi cantik itu tengah di gendong seorang suster dengan terburu-buru demi mendapatkan pertolongan segera. Eric kembali duduk terlemas menanti kabar pasti tentang Ana yang masih menjalani operasi di dalam sana. Lima jam telah berlalu bahkan Angga mendapat kemarahan terus dari Eric yang menurut Eric Angga begitu cerewet . Angga bukan cerewet namun ia mencemaskan kondisi Eric yang diam sedari tadi tak berbicara apapun.


Tiga jam kemudian lampu operasi padam menandakan operasi telah selesai , seluruh dokter menunduk lemas membuat Eric serta seluruh sahabat Ana bangkit.


" Apa yang terjadi padanya " tanya Eric dengan rahang mengetat dan mata berkaca-kaca , sekali kedip sungai air mata tersebut langsung meluncur deras begitu saja.


" Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tuan . Namun nona Ana di pastikan koma " ucap satu dari sekian banyak dokter yang bungkam saat itu .


" Apa maksudmu " teriak Eric marah mencengkram salah satu dokter muda yang ikut andil dalam operasi Ana saat ini.


" Ka.... kami... su...sudah melakukan ya...yang terbaik tu...tuan... Se...semua ter...gantung takdir..semangat ...hi...hidup pa...pasien " ucap dokter tersebut gugup dan terasa nafasnya tersengal.


" Eric hentikan , kau bisa membunuhnya " ucap Angga berusaha melepaskan cengkraman Eric di bantu para bodyguard lainnya.


" Bagiamana nasib anak-anak Ana nanti Ngga. Apalagi bayi mungil itu , ia butuh sosok ibunya. Rafli koma dan Ana juga koma . Kenapa mereka kompak ingin meninggalkanku " teriak Eric dengan dada naik turun. Ana dan Rafli di pindahkan diruangan yang sama agar dokter bisa memeriksa secara bersamaan , mama Lia menangis terisak begitu juga Abdi yang masih berada dalam jet pribadinya .


Eric mengabari orang tuanya mengenai keadaan Ana beserta Rafli saat ini membuat Sasa dan Teguh bersiap berangkat ke kota J.


Lia diam saat melihat Eric begitu mencemaskan menantunya , bahkan pria itu duduk disisi ranjang menantunya sedangakan ia duduk disisi ranjang Rafli .


" Nak , kau pulanglah . Kondisimu begitu kacau " ucap Lia .


" Izinkan aku tante untuk menjaganya sejenak saja " elak Eric berniat akan menjaga Ana hingga wanita itu terbangun.


" Baiklah . Kau makanlah dulu , sedari tadi kau belum makan " ucap Lia.


" Aku tak bisa makan Tante , dalam kondisi seperti ini " lirih Eric membuat Lia terdiam.


Berselang beberapa jam benda pipih Eric bergetar melihat telepon dari Angga sedari tadi membuatnya ingin marah saat itu.


" Ada apa " tanya nya ketus .


''...... '' Angga


'' Kau dimana " tanya Eric serius.


''...... " Angga.


'' Baiklah . Aku segera kesana " ucap Eric.


Eric berpamitan kepada Lia dan Lia mengucapkan terimakasih kepada Eric . Eric mengecup kening Ana sekilas membuat Lia membelalakkan matanya .


'' Aku akan kembali , jika mereka gagal menjagamu . Aku bersumpah akan merebutmu " bisik Eric.

__ADS_1


'' Cepatlah sadar " ucap Eric berlalu pergi.


Jangan lupa like dan komentarnya.


__ADS_2