
Suara bel pintu apartemen berbunyi.
Dengan cepat Anisa bangkit dari duduk santai nya dan berlari membuka pintu. Dia sudah tahu pasti siapa yang datang.
"Mana pesanan ku? Dapat kan semua?"
"Ini..."
Adam mengangkat kedua tangan nya yang penuh dengan pesanan Anisa.
Mulai dari rujak mangga, sop buah, nasi goreng, mie ayam, pentolan, dan yang paling terakhir beberapa pasang pakaian untuk ibu hamil.
"Kamu yakin akan menghabiskan makanan sebanyak ini?" Tanya Adam tidak habis pikir dengan permintaan Anisa untuk membeli semua makanan itu sekaligus.
"Hhmm.. seperti nya aku sudah tidak selera lagi untuk makan. Buat kamu saja. Aku mengantuk ingin tidur."
"Apa??? Oh ya Tuhan... Anisa. Kamu tahu susah nya aku mencari semua ini? Dan sekarang kamu bilang sudah tidak selera?"
"Ya maaf.. tapi mau bagaimana lagi. Namanya juga orang ngidam. Ya kadang hanya sampai di lihat saja, sudah."
"Tahu dari mana seperti itu?"
"Browsing!!! Sudah ah, aku mau tidur dulu."
"Eh, tunggu dulu." Tahan Adam.
"Ada apa lagi?"
"Tadi Alina dan Raka menemui ku. Mereka mencari kamu."
"Lalu? Kamu tidak memberitahu mereka aku disini kan?"
"Tentu saja tidak. Tapi aku kasihan dengan Alina. Kalau saja kamu melihat wajah Alina tadi saat menemui ku dan bertanya tentang keberadaan kamu, kamu pasti tidak akan tega. Apa kamu yakin akan terus berada disini?"
__ADS_1
"Ini cara satu-satu nya agar mereka tidak tahu tentang kehamilan ku ini. Kamu lihat sendiri perut ku semakin jelas terlihat membesar. Sementara kak Alina belum merestui pernikahan kita. Lebih baik seperti ini. Dan kita juga tidak perlu menikah."
"Terserah kamu saja lah, mau nya seperti apa. Selama itu bisa buat kamu tenang. Karena kamu harus ingat yang di katakan dokter kandungan kamu kemarin. Tidak boleh banyak pikiran. Harus happy. Semua demi perkembangan janin dalam kandungan kamu."
.
.
.
"Bagaimana mas? Sudah ada kabar dari pak Niko?" Tanya Alina yang masih terbaring di tempat tidur.
"Belum, Lin."
tok..tok..tok
Pintu kamar Raka dan Alina berbunyi.
"Ya.. masuk." Teriak Raka
"Baiklah. Terima kasih. Katakan pada nya untuk menunggu saya sebentar. Saya akan segera turun."
"Baik tuan."
"Aku ikut ke bawah. Aku ingin dengar info apa yang di dapat pak Niko." Ucap Alina.
"Tapi kamu masih sakit Alina. Lebih baik kamu disini biar aku yang menemui Niko."
"Aku sudah mendingan mas. Aku mohon. Biarkan aku ikut ke bawah." Pinta Alina memelas.
"Baiklah."
Raka pun membantu Alina untuk bangun dan berjalan sampai ke ruang tamu.
__ADS_1
"Selamat siang pak, Bu."
"Panjang umur kamu Niko. Baru saja saya dan istri saya membicarakan kamu."
"Lalu Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan keberadaan adik ipar saya?" Lanjut Raka.
"Orang-orang kepercayaan saya masih sedang mencari keberadaan mbak Anisa, pak."
"Lalu untuk apa kamu kesini kalau kamu tidak membawa kabar apa-apa tentang Anisa."
"Maafkan saya pak. Tapi ada hal yang ingin saya sampaikan tentang mbak Anisa. Saya rasa ini juga penting."
"Apa itu pak Niko? Cepat katakan!" Alina penasaran.
"Jadi begini bu, beberapa hari yang lalu saya tidak sengaja melihat mbak Anisa di rumah sakit."
"Rumah sakit? Sedang apa adik saya di sana? Apa dia sakit?"
"Saya juga kurang tahu kondisi pasti nya seperti apa, bu. Tapi saya melihat mbak Anisa..." Niko menggantung kata-kata nya.
"Niko.. bicara yang jelas. Jangan memutus penjelasan seperti ini."
"Mbak Anisa ke dokter kandungan!"
Apa? Dokter kandungan? Anisa hamil ? Siapa laki-laki yang menghamili nya? Apa Adam? Atau.. apa jangan-jangan.... malam itu... ya, kejadian malam itu.
"Dokter kandungan? Maksud anda adik saya hamil ?" Suara Alina bergetar menahan semua rasa tidak percaya.
"Maaf bu, saya tidak berani menyimpulkan apakah benar seperti itu. Saya hanya melihat mbak Anisa masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter kandungan."
"Bersama siapa Anisa di sana?" Tanya Raka.
"Bersama laki-laki yang ingin menikahi mbak Anisa."
__ADS_1
"Adam..."
...*****...