
" Ya ampun bibi , apa yang terjadi dengan Ana " teriak Ines dan hampir saja tubuhnya terjatuh melihat keadaan Ana.
" Ana bangun ana , ini aku Ines " ucap Ines yang kini mulai menangis.
" Ana bangunlah , aku membawa singkong untukmu " imbuhnya menangis
" Kau berjanji padaku untuk membuat Getuk kan " ucap Ines terisak.
" Bi , coba kasih minyak kayu putih lagi bi " ucap Ines panik.
Ines juga mulai memijat urat di tangan Ana dan menekan ibu jarinya kuat namun Ana tak kunjung bangun.
Ines segera memeriksa kandungan Ana dan beruntung masih ada pergerkan di dalamnya.
" Kita harus segera membawa Ana kerumah sakit bi , tolong pakaikan baju Ana dengan layak dan lap darah di ujung pangkalnya " ucap Ines tak sanggup melihat keadaan Ana saat selimut itu terbuka.
" Bukan kau yang melenyapkan aku Rafli , tapi aku yang akan melenyapkanmu. Persetan dengan keluargamu , aku tidak menyangka kau setega ini melakukannya kepada Ana . Bahkan tadi pagi kau terlihat biasa saja cihhh " batin Ines murka.
" Darwin , ayo tolong kau gendong Ana , kita harus membawa Ana kerumah sakit " ucap Ines kini menarik paksa tangan Darwin.
" Eh kenapa , ada apa " ucapnya kaget.
" Jangan banyak bertanya , kau akan tau nanti " ucap Ines masih menangis.
Terlihat Ana telah rapi dengan pakaiannya sementara Susi dan yang lainnya menangis melihat keadaan Ana , mereka semua berdoa untuk kebaikan Ana..
" Nona , bolehkah saya ikut " ucap Susi tersedu..
" Ikutlah " sahut Ines dan kemudian mereka melangkah mengikuti Darwin yang tengah menggedong Ana.
" Kenapa Rafli sungguh tega menyakiti wanita ini , apalagi ia sedang hamil , bukankah Rafli begitu menjaga istrinya ini. Aku yang tidak mengenalmu saja merasakan kesedihan yang mendalam , apalagi Ines " batin Darwin dan melihat Ines masih menangis.
" Maaf , kalian mau bawa nona Ana kemana " ucap Baim mengahalangi langkah kaki Darwin dan Ines.
" Semua ini juga karena mu , coba malam itu kau mengembalikan ponsel milikku , pasti nona tak akan seperti ini " ucap Susi menangis.
" Kau lihat , luka di tubuh nona , karena tuan Rafli melakukan kekerasan kepadanya , bahkan ia memp*rkosa istri sendiri seperti hewan " teriak Susi membuat Baim terkejut.
" Itu tidak mungkin bi " sahut Baim lirih.
" Terserah apa katamu , hubungi tuan muda mu itu untuk ke rumah sakit keluarganya. Aku akan ikut dengan mereka " ucap Susi segera masuk kedalam mobil yang siap menerobos gerbang dan Baim sendiri segera menekan tombol agar gerbang terbuka.
Baim mencoba menghungi Rafli namun tak diangkat juga dan menelepon ke kantor disambut Dewi yang mengatakan Rafli dan Jimmy belum tiba di kantor..
Di dalam mobil Ines memangku kepala Ana di pahanya dan sesekali mengelus perut Ana , guna berkomunikasi dengan sang anak dalam kandungan Ana.
" Bi , apa sudah menghubungi keluarga Wijaya " tanya Ines dan di angguki Susi cepat. Ines sendiri telah memberitahu di grup persabatan mereka mengenai Ana yang dibawa ke rumah sakit membuat sahabat Ana ikut menuju rumah sakit.
" Bi ceritakan apa yang bibi tau dalam rumah tangga mereka " ucap Ines lirih tanpa mengalihkan perhatiannya pada Ana. Ines tak kuasa menghentikan tangisnya.
" Darwin , lebih cepat lagi Darwin " pinta Ines lirih.
Susi menceritakan semua yang terjadi berawal dari Ana yang makan sore sendiri tanpa di dampingi Rafli kemudian Rafli turun untuk makan namun beberapa saat kemudian Rafli yang menghamburkan seluruh makanan yang di atas meja kemudian menahan ponsel semua pelayan dan memutuskan sambungan telepon.Tidak lama kemudian hujan lebat dan tidak tau apa yang terjadi , lagi pula kamar Ana kedap suara dari luar apabila pintu tertutup rapat. Ia juga menjelaskan jika melihat bekas tamparan di pipi Rafli tadi. Saat memasuki kamar Ana , terlihat Ana seperti orang tertidur namun di bangunkan sangat susah membuatnya cemas dan saat membuka selimut Ana , betapa terkejutnya susi , tubuh Ana memar yang berasal dari cumbuan Rafli dan di pangkal paha Ana terlihat bekas darah yang berasal dari organ intimnya.
" Rafli melakukan pelecehan kepada Ana dengan sangat brutal bi, apa ia tak memikirkan kandungan Ana " ucap Ines lirih dan mengusap pipi Ana yang juga memar.
" Kenapa nasib cintamu begini Ana , dicintai tapi kau disakiti . Aku menyesal saat itu mendukung Rafli untuk mendapatkanmu. Andai Eric tak menghamili Laurent , apa kau akan bahagia juga " batin Ines.
Tanpa mereka sadari Darwin mencengkram kuat kemudinya mendengar kenyataan jika Rafli begitu kejam kepada istrinya sendiri.
Beberapa saat mereka pergi kini orang tua Ana mengunjungi rumah menantunya. Namun Baim mengatakan jika Ana dibawa kerumah sakit karena akan melahirkan , Baim tidak mungkin menceritakan kenyataan yang terjadi saat ini. Binar bahagia terukir jelas di wajah Gunawan beserta istrinya dan Rizki juga bahagia mendengar keponakan kecilnya akan terlahir. Laras segera menghuhungi Rahma mengabarkan jika Ana melahirkan dan Rahma akan mengusahakannya pulang.
" Ya Tuhan , ampuni dosaku yang begitu banyak saat ini " batin Baim , ia merasa bersalah atas apa yang menimpa Ana saat ini.
Baim mengantarkan mertua tuannya menuju rumah sakit tempat dimana Ana akan melahirkan.
.
.
.
Rumah sakit.
Keluarga besar Wijaya telah menunggu di rumah sakit tanpa tahu kenyataan yang terjadi sebenarnya.
" Kenapa lama sekali mereka tiba pa " ucap Lia gelisah.
" Mama tenanglah " ucap Gunawan.
" Nah itu siapa yang menuju ruang ini " ucap menantu perempuan Joe mengalihkan perhatian mereka.
Rombongan suster mendorong brankar rumah sakit dimana Ana tak sadarkan diri. Wajah khawatir mereka membuat tanda tanya di pikiran Lia dan Abdi.
__ADS_1
" Ya Tuhan kenapa menantuku seperti ini Susi " tangis Lia langsung pecah seketika , begitu juga sahabat Ana yang lainnya , bahkan Tiara sudah pingsan duluan dan segera di urus kembarannya.
" Pa Ana pa " ucap Lia terisak melihat keadaan Ana.
" Maaf tuan besar kami harus segera memeriksanya " ucap dokter Pupsa yang sudah stand by.
" Selamatkan cucu dan mantuku " pinta Lia.
" Susi ceritakan semuanya yang terjadi" tanya Abdi Wijaya yang saat ini tengah menenangkan istrinya yang menangis tiada henti.
Susi menceritakan semuanya tanpa ada ia sembunyikan sedikitpun. Amarah jelas terlihat diwajah orang yang mencemaskan keadaan Ana saat ini. Bahkan Ines segera permisi dengan alasan ada meeting penting walaupun sebenarnya Ines akan membuat perhitungan dengan Rafli secara langsung.
" Ayo Darwin kita pergi " ucap Ines setelah permisi kepada mereka semua.
Setiap hembusan nafas dan langkah kaki Ines membawa amarah saat ini.
" Akan ku bunuh kau Rafli " umpat Ines di hatinya.
Saat di perjalanan menuju parkiran Ines melihat orang tua Ana baru saja turun membuatnya langsung bersembunyi di badan kekar Darwin .
" Darwin sembunyikan aku di belakang mu , itu orang tua Ana " gumam Ines.
" Aku gak sanggup buat menceritakan apa yang terjadi " imbuhnya.
Darwin yang mengerti dengan cepat pun membiarkan Ines bersembunyi bahkan Darwin melihat senyum di wajah orang tua Ana kepadanya.
" Apa mereka akan tetap tersenyum jika tahu anak mereka berjuang antara hidup dan mati di dalam sana " batin Darwin.
Di ruang perawatan Ana dokter Puspa berhasil membuat Ana tersadar dan terlihat dokter Rani mengusap air matanya.
" Mbak " ucap Ana lirih
" Ya sayang , kau sabar ya kita akan mempersiapkan operasi yang terbaik untukmu " ucap Rani berusaha tersenyum menahan tangis.
" Anak ku pasti selamatkan mbak " tanya Ana lemah seakan tenaganya tak ada lagi.
" Anak kalian sangat kuat di dalam sana " ucap Rani.
" Itu hanya anakku mbak , bukan anak Rafli " ucap Ana tersenyum.
" Rafli tak mengakui anak ini " imbuh Ana menangis.
" Tidak Ana , ini anak kalian " ucap Rani mengigit bibir bawahnya menahan tangis.
Ruang operasi telah siap dan Ana kini berada di meja operasi.
Para dokter memutuskan melakukan bius lokal kepada Ana sesuai dengan kondisinya tak mungkin melakukan bius total agar kesadaran Ana tetap terjaga.
Berbagai suntikan telah di lakukan di tubuh Ana , hingga suntikan tepat di daerah epidural yaitu di daerah punggung bagian bawah yang di lakukan langsung oleh dokter Smith. Setelah dikiranya kaki Ana telah kebas operasi segera di lakukan , dokter Smith terlihat berhati-hati di bantu dokter Neti dan asistennya Sindy. Rani sendiri juga fokus pada bagiannya , sementara dokter Puspa sedang mengajak Ana mengobrol mencoba membuat semangat Ana bangkit.
Di luar ruangan operasi , orang tua Ana segera menghampiri besannya , sedikit aneh karena suasana begitu hening apalagi Lia yang terus menangis dan sudut mata Abdi Wijaya terlihat basah.
" Mbak gimana keadaan Ana " tanya Laras ikut cemas. Namun keluarga Wijaya mengetahui jika orang tua Ana belum mengetahui kondisi Ana sebenarnya membuat mereka memilih tak menceritakannya , biarkan waktu yang bicara.
" Kita berdoa saja , semoga anak dan cucu kita selamat " ucap Lia tersedu.
" Mbak kenapa menangisnya begitu " tanya Gunawan memperhatikan sekelilingnya yang tampak hening.
" Biasalah mas , Lia orangnya baperan " sahut Abdi mencoba tertawa.
Obrolan terus terjadi dan di saat itu juga Abdi sedang berfikir cara agar Gunawan tak marah besar kepada keluarganya terutama Rafli. Abdi sadar betul jika anaknya pasti salah namun ia juga menyakini Rafli tidak akan sekejam ini jika tak ada sebabnya dan Gunawan juga mempunyai hak atas Ana karena mereka orang tuanya . Siapapun orang tuanya tak akan rela jika anaknya di sakiti.
. .....
( Kejadian berlangsung saat Ana di larikan ke rumah sakit )
Di sisi lain tepatnya di markas milik Rafli terlihat seorang lelaki sedang terikat dan juga seorang wanita hamil sedang terikat.
Deru langkah Rafli membuat para anak buahnya menunduk.
" Pagi tuan " sapa anak buah yang di khususkan bertugas menangkap dan mengeksekusi manusia yang di anggapnya musuh termasuk pengkhianat.
Plaakkk tanpa aba-aba Rafli berjalan cepat dan menampar lelaki yang begitu ingin di bunuhnya. Membuat pria itu terkejut dan meringis kesakitan , ia di tangkap tanpa tahu salahnya , sementara pandangan Rafli teralihkan pada wanita yang hamil di sebelahnya membuat Rafli melihatnya tajam dan tubuh wanita itu bergetar karena takut.
" Dari mana kalian mendapatkan mereka " tanya Rafli pada ketua anak buahnya.
Anak buahnya menjelaskan bahwa mereka menangkap pria itu saat menuju bandara bersama wanita itu yang berstatus kekasihnya.
Plakkk tamparan kembali di dapat di pipi pria yang bernama suseno.
" Beraninya kau menyentuh istriku " ucap Rafli dingin namun mampu membuat semua orang terkejut.
__ADS_1
" Matilah aku , ternyata ini suaminya... Tuhan lindungi aku , aku berjanji akan mengatakan semuanya , berilah aku kekuatan. Mas Suseno maafkan aku karena melibatkanmu " batin Widya menangis.
" Aku tak mengerti tuan " jawab Suseno lemah karena Suseno baru saja menerima pukulan dari anak buah Rafli karena ia menolak di bawa paksa dan kini Rafli menamparnya membuat telinganya berdenging.
" Huh... kau bahkan menyentuhnya dan kau lihat foto ini " ucap Rafli melempar foto yang begitu menyakiti hatinya.
Suseno terkejut akan foto itu dan ia melirik kekasihnya , Widya.
" Widya ,bukankah ini foto kita " tanya Suseno dan ucapan itu membuat dahi Rafli berkerut , ia berjalan menuju Widya.
" Apa maksud ucapan b*jingan itu " ucap Rafli menatap tajam Widya dan menunjuk Suseno.
" Widya , apa maksudnya ini , kenapa dengan foto ini " tanya Suseno lemah..
" Apa kau tidak jelas , difoto itu istriku bukan kekasihmu ini " bentak Rafli.
" Katakan ada apa , atau kau akan mati " ucap Rafli siap membidik Suseno tepat di dahinya.
" Widya jelaskan Widya , aku tidak tahu apapun Widya , hingga kau memakai topeng wajah waktu itu " ucap Suseno jujur apa adanya.
" Apa katamu " ucap Rafli terkejut , tiba-tiba hatinya berdenyut nyeri menyadari ini semua jebakan untuk Ana.
" Katakan Widya " bentak Suseno dengan sisa tenaganya.
" Ma....maafkan aku tu....tuan " ucap Lidya.
" Katakan semuanya , maka aku akan mengampunimu " ucap Rafli berbohong.
" Mana mungkin aku mengampuni kalian... Maafkan aku Ana sayang , mas akan menembus semuanya segera " batin Rafli.
Flash back
Satu tahun yang lalu.
Gaya hidup mewah telah melekat pada diri Widya , dimana ia terpaksa melepaskan kemewahannya demi menikah dengan pujaan hatinya , pria tampan bernama Suseno yang hanya pekerja kantor di perusahaan cukup terkenal ( milik ayah Agnes ) . Pernikahan itu terjadi tanpa restu orang tua Widya dan demi cinta Widya rela menikah dengan Suseno dan belajar hidup mandiri. Kemandirian yang di kira Widya itu mudah ternyata tak segampang yang ia hadapkan. Menginjak pernikahan empat bulan , Widya di nyatakan hamil membuat pasangan orang tua ini sangat bahagia namun kehamilan ini di manfaatkan Widya agar Seno mau menuruti ke inginannya dengan alasan ngidam.
" Mas , aku ingin ganti mobil pengeluaran terbaru ini " bujuk Widya dengan wajah memelasnya.
" Widya , uang tabunganku habis jika kau begini terus " ucap Seno lirih.
" Kau tidak sayang dengan anak kita , anak kita yang memintanya " gerutu Widya merajuk.
" Huuuftt , tiga bulan yang lalu kau beli satu set perhiasan san itu menguras tabungaku Widya " ucap Seno saat megingat sebelum Widya hamil mereka merayakan ulang tahun Widya dan widya meminta kado yang sangat mahal.
" Mas , seharusnya kau beruntung , berkat aku hamil saat ini jabatanmu naik menjadi manager keuangan " bujuk Widya.
" Apa maksudmu Widya , aku tak akan korupsi , aku bisa di penjara , jangan mengada -ngada , kau memilih menikah denganku berarti harus siap hidup mandiri. Mobil sudah bagus , rumah juga kita punya. Mengertilah Widya , aku sangat mencintaimu tapi aku tidak mau korupsi " ucap Suseno panjang lebar agar Widya mengerti.
" Kau tau mas , sahabatku telah berganti mobil semua bahkan tas branded ku da kuno mas. Aku tidak mau mereka selalu meledekku , aku malu mas" isak Widya menceritakan alasan sesungguhnya.
" Ku mohon mas , sekali ini saja , jika tidak aku akan mati saja " imbuhnya mengancam namun ada nada serius di ucapannya.
" Baiklah hanya kali ini " ucap Suseno pasrah karena ia tak ingin Widya nekat.
Semenjak kejadian itu Suseno dengan berani menggunakan uang perusahaan demi memenuhi keinginan istri tercintanya , hingga laporan keuangan akhir tahun tak seimbang dengan pengeluraannya dan setelah di selidiki semua mengarah pada Suseno membuat Suseno mendekam di penjara. Agnes yang geram terhadap karyawan di perusahaan papanya berniat membesuk Suseno di sel tahanan , namun langkahnya terhenti setelah sayup-sayup mendengar suara tangisan istri Suseno yang berniat mengugurkan kandungannya , semua rencana di susun rapi olehnya demi membalas dendam kepada Rafli yang menolak cintanya , hingga Agnes mengetahui fakta jika Rafli menikahi Ana membuat dendamnya semakin kuat. Agnes menemui Widya dan menjelaskan apa tujuannya dan berjanji membebaskan Suseno dan memberi Widya hidup mewah yang berkahir Widya menyetujuinya dengan syarat yang di perintahkan Agnes tanpa tau siapa orang yang di usiknya.
Flash back Off.
Widya menceritakan dengan gamblang semua rencana Agnes yang akan menjebak Ana , ia mengenakan dress yang berhasil di curi Luna saat acara tujuh bulanan Ana , di imingi kehidupan mewah membuat Widya berani memakai topeng kulit wajah yang100% sangat mirip dengan Ana , Widya bahkan melakukan adegan panas dengan Suseno dengan kamera tersembunyi tanpa di ketahui Suseno , awalnya Suseno syok melihat Widya memakai topeng wajah wanita lain namum dengan alasan mengidam membuat Suseno tak mempermasalahkannya. Adegan demi adegan ia lakukan dengan Suseno dengan permaianan yang sangat panas hingga foto dan video itu diterima oleh Agnes dan Agnes merasa sangat puas karena rencananya berjalan dengan sempurna dan akan menjadi sangat sempurna saat amarah Rafli terpancing dan kini terbukti.
" Beraninya kau " teriak Rafli menjambak kuat rambut Widya tanpa peduli tangisan Widya sementara Suseno kecewa karena tindakan Widya yang terlalu bodoh dan kejam.
" Tangkap Agnes dan Luna kemari , aku tak peduli hidup atau mati mereka , cari hingga seluruh penjuru negeri bahkan kalian cari hingga ke luar negeri , jangan kembali jika kalian tak menemukan mereka " perintah Rafli tegas dan anak buahnya segera melakukan perintah Rafli.
" Tuan sakit sekali " isak Widya.
" Bahkan istriku meraskan sakit yang melebihi ini " ucap Rafli
Plakk
Plakk
Plakkk
Suara tamparan menggema bahkan mulut Widya mengeluarkan darah.
" Tuan , ku mohon jangan sakiti istriku " pinta Suseno memelas bagaimanapun Widya orang yang begitu ia cintai.
" Apa katamu , jangan sakiti istrimu , kau kira aku orang yang akan berbaik hati dengan orang yang tega memfitnah istriku. Aku akan melakukan apapun untuk istriku bahkan untuk membalaskan dendamnya " ucap Rafli dingin.
" Jim , bunuh mereka dan buang mayatnya sejauh mungkin " ucap Rafli
Jangan lupa like dan comentarnya.....
__ADS_1
Tolong dukungannya , Terimakasih