Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kedatangan Bunga


__ADS_3

Rafli yang sedang melakukan meeting bersama kliennya merasa geram karena saku celananya terus bergetar karena benda pipih itu menerima panggilan terus menerus. Secepat mungkin Rafli memangkas waktu meeting tersebut dan semuanya selesai dengan hasil yang memuaskan . Putera satu-satunya dalam keluarga Wijaya ini memang terkenal dengan keahlian dalam bisnisnya , para klien mengenyampingkan berita yang beredar jika Rafli memiliki tiga istri.


Rafli menghembuskan nafas kasar karena melihat panggilan tak berhenti dari mama tercintanya . Rafli langsung menerima panggilan tersebut dan mengucapkan salam , tak lupa Lia membalas ucapan salam itu dengan nada cukup berbeda.


'' Ya a.... " ucapan Rafli terpotong karena Lia lebih dulu memberondongnya dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan .


'' Ma , aku bisa jelaskan semuanya , dan Ana tidak bersalah dalam hal ini " ucap Rafli tak menerima jika Ana ikut di salahkan oleh Lia yang merasa telah di bohongi semua orang.


'' Tentang masalah keluarga Permana biar aku yang memutuskannya ma karena ini menyangkut Puteri kami ma" ucap Rafli segera mengakhiri telepon sang mama . Lia membanting handphone terbarunya karena kesal , ia tak mengerti jalan pikiran Rafli dan yang lainnya saat ini .


'' Aku tak bisa mengambil keputusan ini . Karena hutang budi . Menggelikan " batin Rafli .


.


.


.


Hari-hari telah berlalu dan keluarga Permana merasa kesulitan untuk bertemu dengan Ericana , membuat Vini dan Eric harus menahan rindu terhadap Ericana . Lia bersikap posesif terhadap Ericana , beribu macam cara ia lakukan untuk membuat Ericana selalu betah berada di keluarga kandungnya. Abdi kehabisan akal untuk mengelabuhi Lia agar sedikit saja memberi kelonggaran waktu terhadap Ericana , membuat keluarga Permana harus sedikit bersabar jika ingin bertemu Ericana.


.


.


.


Waktu santai di mansion Rafli tengah dinikmati oleh Ana dan Rafli yang lusa akan berangkat ke Milan .


Dering telepon rumah berbunyi dan secepat kilat salah satu pelayan segera mengangkatnya. " Baiklah " jawabnya.


Salah seorang tersebut melangkah dengan gugup untuk menyampaikan pesan terhadap sang pemilik rumah , Rafli sedang asyik menonton TV bertema action dan terlihat fokus membuat pelayan tersebut urung memberitahunya memilih alternatif paling aman yaitu menyampaikannya kepada nyonya yang begitu baik hati .


" Katakan , jangan mengganggu kesibukan istriku " ucap Rafli dingin membuat tubuh pelayan tersebut bergetar. Mata Rafli fokus ke televisi namun gerakannya dapat terbaca oleh Rafli .


" Ma...maaf tu...tuan " ucap Pelayan gugup dengan keringat jagung mulai membanjiri . Ia merutuki kebodohannya karena dengan sigap mengangkat telepon , sang kepala pelayannya pun tak terlihat yang biasa berbicara langsung dengan Rafli .


" Katakan " ucap Rafli memutar sedikit kepalanya membuat pelayan tersebut segera menunduk , tak berani menatap tuan rumah yang di kagumi seluruh penghuni rumah akan kesempurnaannya kecuali jiwa pemarah Rafli yang emosinya susah di kendalikan .


" Ada nona Bunga ingin bertemu dengan anda dan nyonya Ana tuan " ucap pelayan pelan.


" Suruh penjaga untuk mengusirnya " cetus Rafli , membuat pelayan itu mengangguk meski ia bingung kenapa kehadiran Bunga di tolak di mansion ini. Bukankah Bunga berperan penting menjaga anak-anak saat nyonya rumah mereka dalam keadaan koma . Bukankah karena Bunga juga anak-anak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu meski Rafli terus menentang keberadaanya kala itu .


" Ada apa " tanya Ana dengan membawa sepiring cemilan sehat untuk suaminya dan ikuti pelayan lain membawa cemilan untuk seluruh penghuni mansion .


" wanita licik itu ingin kemari dan mas tidak menerima kedatangannya " sahut Rafli dengan suara lembutnya namun jelas kesan tidak sukanya .


" Wanita licik siapa mas " ucap Ana berjalan kearah suaminya , Rafli mengecup bibir Ana sekilas.


" Bunga " ucap Rafli ketus.


" Tunggu " ucap Ana menghentikan langkah pelayan tersebut menuju telepon .

__ADS_1


" Suruh dia masuk " ucap Ana .


" Ana " ucap Rafli dengan nada cukup meninggi .


" Untuk terkahir kalinya , biarkan istrimu ini bertemu dengan Bunga " ucap Ana menatap tajam Rafli . Setiap mengingat Bunga , Ana selalu merasakan kekecewaan yang begitu mendalam dan Rafli tak ingin itu terjadi. Rafli cukup kesulitan untuk membawa Ana terbang ke nirwana saat mereka berada di atas ranjang karena Rafli mengetahui jika Ana terus terbayang saat sang suami pernah menyentuh wanita lain selain dirinya.


" Tapi Ana " ucap Rafli mulai melunak .


" Untuk terkahir kalinya mas " ucap Ana penuh penekanan membuat Rafli segera bangkit memilih menuju kamar mereka. Terdengar suara dentuman pintu kamar cukup menggema di mansion tersebut .


Ana menganggukkan kepala membuat pelayan tersebut mengerti perintah dari sang majikannya . Ana duduk menunggu kedatangan Bunga dengan tenang .


" Semoga kedatangannya kemari untuk berpamitan seperti tebakan mama saat itu dan ku berharap tak bertemu dengannya lagi " gumam Ana .


Bunga tersenyum senang saat di izinkan untuk masuk kedalam mansion megah tersebut , kedatangannya kesini dengan niat baiknya bukan niat yang buruk . Telah cukup lama Bunga memantapkan hati untuk meminta maaf kepada Ana dan juga Rafli meski kemungkinan terburuk bisa saja terjadi terhadap dirinya.


Pintu rumah terbuka membuat Bunga mencari sosok yang ia cari-cari selama ini .


" Kak " ucap Bunga lirih saat berada di balik tubuh Ana . Kejadian yang menimpa Ana cukup membuat bunga merasa bersedih..


" Duduklah " ucap Ana ramah .


" Kau mau minum apa Bunga " tanya Ana .


'' Tidak perlu kak , aku hanya sebentar " ucap Bunga .


Hening


'' Kak " ucap Bunga dan hanya di balas Ana dengan deheman.


'' Kedatanganku kemari ingin minta maaf '' ucap Bunga lirih .


'' Aku sudah memaafkanmu . Jadi kau tak perlu terus meminta maaf padaku '' ucap Ana ...


'' Kesalahan ku begitu besar kak . Aku terpaksa melakukannya saat itu demi keselamatan putraku dan wanita iblis itu mencari kesempatan disaat dirimu koma kak. Aku sungguh bingung saat itu harus meminta bantuan kepada siapa . Hanya dirimu kak , yang bisa menolongku saat itu namun keadaanmu koma kak '' Isak Bunga.


'' Bukankah kau begitu dekat dengan ibu mertuaku , kau bisa meminta bantuannya dan pasti suamiku akan menolongmu mengingat kasih sayang yang kau berikan terhadap anak-anak kami , bukan malah membuat masalah dan menjadi duri dalam rumah tangga ku . Jika kau ingin minta maaf . Minta maaflah pada suami ku . Dia yang paling menderita disini setelah diriku '' ucap Ana dingin membuat Bunga susah menelan saliva nya. Jangankan untuk meminta maaf pada Rafli , Rafli terkesan sangat membencinya dan itu disadari oleh Bunga bahkan terlihat mata indah Ana berkaca-kaca.


'' Kak , ku mohon maafkan aku . Aku akan melakukan apapun untukmu kak '' Isak Bunga bersujud di kaki Ana.


'' Nyonya , maaf . Tuan meminta anda untuk segera ke atas '' ucap kepala pelayan .


'' Iya , aku nanti akan segera ke atas '' ucap Ana dan diangguki kepala pelayan tersebut dan segera pamit tak berani untuk mendengar atau sekedar melihat interaksi kedua orang tersebut.


'' Jika tak ada yang ingin kau sampaikan lagi , aku harus ke atas. Ada hal penting yang harus ku urus '' ucap Ana .


'' Kak , ku mohon maafkan aku dan sampaikan maaf ku kepada kak Rafli. Terimakasih atas kebaikan kalian selama ini , aku telah melakukan banyak kesalahan namun keluarga ini memberiku harapan untuk memperbaiki semuanya . Sekali lagi diriku minta maaf '' ucap Bunga dan hanya diangguki Ana.


'' Aku pamit kak. Karena keluarga Willy meminta kami untuk tinggal bersama mereka '' ucap Bunga lirih.


'' Kau tak berpamitan pada ibumu '' tanya Ana.

__ADS_1


'' Aku tak berani kak . Ibu begitu membenciku saat kejadian teh itu '' Isak Bunga.


'' Tapi dia ibumu . Bertemulah dengan ibu mu . Satu Minggu lagi , bi Jum kembali kesini '' ucap Ana membuat Bunga sedikit bahagia.


'' Bagaimanapun dia ibu mu , keluarga yang kau punya satu-satunya . Karena setelah kejadian itu , aku memutuskan tidak menganggapmu sebagai adikku lagi dan otomatis kami bukan keluarga mu. Aku tak sebaik yang kau kira Bunga . Ku harap ini pertemuan kita yang terkahir '' ucap Ana tegas dan meninggalkan Bunga yang tubuhnya merosot ke bawah. Pernyataan Ana sungguh membuat dirinya sedih sekaligus kehilangan . Kehilangan orang sebaik Ana yang ia anggap sosok kakak yang begitu di impikan seorang adik , semua karena perbuatannya membuat Bunga kehilangan sebuah keluarga yang tulus menerima kehadirannya .


Bunga menghapus air matanya kasar berjalan menunduk menuju pintu keluar dari mansion .


Sementara Ana berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya berada. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar , dadanya terasa sesak saat bayangan buruk itu kembali muncul meski sebisa mungkin ia melupakan segalanya namun bukanlah hal yang mudah .


" Aku bertahan hingga kini demi anak-anak dan juga mas Rafli . Bantu aku ya Allah " batin Ana.


Ceklek .


Terlihat kamar utamanya begitu sepi dan kamar mandi tertutup bertanda sang suami tengah mandi keraton saat ini . Sebisa mungkin Ana bersikap tenang , seolah kedatangan Bunga tak membuka luka yang berusaha ia sembuhkan .


" Mas " ucap Ana terkejut saat Rafli memeluknya dari belakang dan hanya menggunakan handuk membiarkan rambut basahnya menetes begitu saja.


" Apa kau tak merindukan mas sayang " tanya Rafli mengecup leher jenjang Ana.


" Aku sedang lelah mas " elak Ana membuat Rafli membuang nafasnya kasar , bila Ana mengingat hal kelam itu ia harus berusaha ekstra untuk membawa istrinya ke atas ranjang .


" Aku ingin mandi mas " ucap Ana..


" Ini bajumu telah ku siapkan mas " ucap Ana , namun Rafli segera mencekal lengan istrinya yang hendak berlalu .


" Apa yang harus mas lakukan , agar kau mudah melupakan semuanya sayang " ucap Rafli lirih.


Ana menangkup wajah suaminya yang tadinya segar kini berubah mendung .


" Mas tidak salah apapun , disini pun mas korbannya . Aku hanya butuh waktu saja mas untuk bisa melupakan semuanya " ucap Ana .


" Apa kau tidak akan menceritakan ini pada orang tua kita Ana " ucap Rafli bertanya ulang tentang hal ini .


" Apa mas siap jika harus kehilanganku " tanya Ana dan di jawab gelengan cepat dari sang suami. Mana sanggup dirinya berpisah dari sang istri.


" Maka aku tak akan bicara " ucap Ana.


" Ku tegaskan sekali lagi . Aku tak akan bicara hal ini kepada keluarga kita . Cukup mama Lia yang tau . Aku melakukan ini demi anak-anak dan juga dirimu mas . Jangan di ungkit lagi masalah ini . Kita simpan kisah pahit ini hingga akhir hidup kita mas bahkan hingga hembusan nafas terkahir kita , biarlah menjadi rahasia yang abadi " ucap Ana dengan tatapan teduhnya , Rafli hanya bisa mengangguk patuh memilih hal terbaik menurut opsinya


" Aku mandi dulu ya mas " ucap Ana dan kembali di angguki Rafli .


Rafli segera meraih benda pipihnya . Ia menghubungi seorang ahli guna menghilangkan penuh tentang peristiwa yang hampir menghancurkan rumah tangganya . Rafli tak ingin Ana terus di gentayangi hal tersebut membuat Rafli mengambil jalur cepat .


" Sudah cukup ini semua begitu rumit sayang . Mas akan menyelesaikan semuanya dengan cara mas " ucap Rafli tersenyum simpul.


" Jangan lupa like dan komentarnya "


" Semoga kita semua sehat selalu dan selalu dalam lindunganNya "


Selamat membaca 😊

__ADS_1


__ADS_2