Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 295


__ADS_3

Kicauan burung membangunkan semua manusi yang masih berselimutkan kain tebal berbulu itu, wajah-wajah yang terlihat polos bagaikan bayi yang baru dilahirkan. Pagi itu, Vanya dan Wil memilih tuk kembali kerumah mereka, Zee dan Alex bersyukur masalah semalam bisa diselesaikan dengan baik.


“Apakah harus mereka memamerkan kemesraan itu setelah semalam menangis dan pergi begitu saja?” tanya Alex.


“Jangan berkata seperti itu, itukan adikmu dan juga adikku,” jawab Zee sembari tersenyum.


Didalam mobil Vanya dan Wil tersenyum bahagia, seperti kemarin tak ada masalah apapun. Wil membawa Vanya tuk mengunjungi sang Mommy di mansionnya, terlihat wanita paruh baya itu sedang asyik dengan tanaman bunganya. Sofia tersenyum melihat kedatangan mobil Wil, terlihat Vanya turn dari mobil dan langsung berhambur memeluk Sofia dan membuat wanita tua itu terkejut.


“Apa kabarmu, sayang?” tanya Sofia.


“Aku baik, bagaimana dengan Mommy?” tanya kembali Vanya.


“Aku sangat baik, apalagi kalian berada disini,” jawab Sofia.


Wil berjalan menghampiri sang Mommy memeluknya dan mencium kening sang Mommy. Sofia tersenyum bahagia karena melihat anak-anaknya sudah menemukan semua kebahagiaannya.


“Ayo, masuk! Mommy akan memasakkan makanan enak tuk kalian,” ajak Sofia.


“Mom, jangan. Istirahatlah, biarkan aku saja yang memasak,” balas Vanya.


“No, honey. Mommy masih kuat, sehat tuk hanya membuat makanan enak tuk kalian,” ucap Sofia.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, Vanya begitu senang karena bisa mendapat seorang mertua yang begitu baik seperti Sofia. Wil masuk kedalm kamar lamanya, merebahkan tubuhnya disana sedangkan Vanya mebantu sang mertua di dapur. Terlihat, Vanya termenung saat sedang membereskan bahan makanan.


“Ada apa sayang, kau sedang melamun apa?” tanya Sofia.


“Ehm,, tidak ada. Dulu aku sangat ingat kalau aku begitu trauma tuk masuk kedalam dapur. Apalagi jika aku melihat pisau, entah kenapa kenangan itu menjadi suatu kenangan indah bagiku,” jawab Vanya.


“Kau memiliki trauma pada pisau? Kenapa, apa yang dulu pernah terjadi. Ahh,, mommy begitu penasaran, maaf ya sayang,” ucap Sofia.


“Saat itu, aku masih sangat kecil dan aku begitu nakal. Saat, ibu sedag berada di dapur tanpa mereka tahu aku masuk dan memainkan pisau, aku terluka sampai saat itu aku takut pisau dan darah,” balas Vanya mengingat akan masa lalunya.


Air mata Vanya menetes mengingat kejadian di Amerika saat itu usianya barulah sepuluh tahun. Bayangan Alfa yang marah pada Sam yang memarahinya karena menyalahkan dirinya. Zyvia terluka karena terkena pisau yang dipegang oleh Vanya.


“Zyvia, ya benar kemana dia? Semenjak kejadian itu semua orang tak ada yang mengatakan apapun padaku soal Zyvia,” gumam Vanya.


“Ada apa sayang, kenapa kau menangis?” tanya Sofia.


“Mom, kemana Zyvia? Apakah mommy tau dimana temanku yang wanita bule yang menolongku?” tanya Vanya.


Sofia seketika diam tak bisa mengatakan apapun, sangat sulit tuk mereka mengatakan yang sebenarnya karena kejadian itu akan membuat Vanya dan Sam mendapat masalah.


“Zyvia teman wanitamu itu bukankah dia telah kembali ke negaranya, memang ada apa kenapa kau tiba-tiba

__ADS_1


menanyakan dia?” tanya Sofia.


“Apa benar, Mom. Entahlah, aku baru sadar jika selama aku dirawat dia tak ada. Apa kak Sam tak membolehkannya menemui aku?” tanya Vanya.


“Tentu tidak sayang, dia juga saudaramu dan adik dari kakakmu,” jawab Sofia.


Wiliem yang baru keluar dari kamar melihat Vanya dan Sofia yang sedang berbicara terlihat begitu serius.


“Sedang berbicara apa, sepertinya sangat serius?” tanya Wil.


“Ah, kebetulan kau kemari. Wil, apakah kau tahu kapan Zyvia kembali saat aku terluka? Dan aku tak tahu kabarbdarinya semenjak itu, apakah kalian tak menerima surat atau suatu barang apapun dari Zyvia?” tanya Vanya.


Sekarang giliran Wiliem yang diam dan terlihat gugup tuk menjawab pertanyaan dari Vanya tentang Zyvia. Sungguh, Wil melupakan soal kematian Zyvia karena terlalu senang melihat Vanya bisa sehat kembali.


“Ah, seperti apa yang Mommy katakan dia kembali kenegaranya dan mungkin dia sedang sangat sibuk disana karena diakan seorang Dokter,” jawab Wil.


Sofia menyelesaikan masakannya dan segera menghidangkannya agar bisa mengalihkan Vanya dari pertanyaan soal Zyvia. Vanya masih menatap ragu pada Wil yang terlihat gugup.


“Makanan sudah siap, kita makan dulu yah! Makanan ini akan tak enak jika dingin,” ucap Sofia.


Wil tersenyum menatap Vanya dan mengisyaratkan tuk segera makan, Vanya pun hanya bisa mengangguk ia. Sofia menyajikan makanan tuk Vanya, hari itu Sofia begitu memanjakan Vanya. Sama halnya saat Zee berada dirumah itu, Sofia tak ingin piih kasih pada kedua menantunya itu.


Setelah makan, Vanya menemani Sofia memetik bunga dan merangkainya di vas kaca. Sangat cantik dengan bunga mawar yang berwarna warni, Sofia sangat menyukai rangkaian dari Vanya.


“Sangat cantik, darimana kau bisa membuat rangkaian yang begitu indah ini?” tanya Sofia.


mewariskan kesukaannya itu pada anak-anak mereka,” jawab Vanya.


“Azura, ya wanita itu sangat cantik seperti bunga. Kebaikannya harum seperti aroma bunga yang menebarkan kebaikan, wanita yang sangat baik, istri dari Tuan Raya itu sangatlah sempurna,” ucap Sofia.


“Ya, bunda Zura wanita yang sempurna. Dan sekarang, kak Ara yang sangat mirip dengannya.Dia kakak dan ibu yang baik tuk kami semua, menjaga aku dan Sam seperti adiknya sendiri. Selalu ada tukku dan kak Sam,” balas Vanya.


“Beruntungnya hidupmu karena mendapat sosok keluarga yang baik seperti mereka, di kelilingi dengan kasih sayang dan cinta yang tulus,” ucap Sofia.


“Aku juga beruntung bisa mempunyai seorang ibu mertua seperti Mommy, karena Mommy sangat sayang padaku dan sangat memanjakan aku,” balas Vanya sembari memeluk Sofia.


“Oh, sayangku. Kau dan Zee sudah ku anggap sebagai putriku bukanlah menantuku, aku sangat menyayangi kalian berdua,” ucap Sofia mencium pipi Vanya.


Wil mengabari Alex dan Zee soal Vanya yang menanyakan keberadaan Zyvia, membuat keduanya merasa bersalah  jika terus menutupi semuanya. Alex dan Zee segera pergi kerumah Sofia tuk memberitahukan semua kebenaran itu.


“Vanya harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Zyvia. Dia telah menyelamatkan nyawanya, tak benar juga kita terus menyembunyikan semuanya,” ucap Zee.


“Baiklah, kita akan kesana menemui Vanya,” balas Alex.

__ADS_1


Abi pergi bersama Yuan tuk bermain kerumah Ara dan Ken, rumah pamannya itulah yang bisa membuat dirinya tenang dan bisa sedikit dirinya nyaman. Rio dan Rion bermain dengan Yuan yang sudah menyinjak usia satu tahun, Ara dan Ken sudah mengetahui apa yang terjadi pada Abi dan Sam.


“Apakah kau pergi tanpa bicara lagi pada suamimu?” tanya Ken.


“Aku pergi pun tak akan membuatnya mencariku, paman. Jadi, biarkan aku istirahat sebentar disini, tolong jaga Yuan sebentar saja!” pinta Abigail.


“Istirahatlah, kau bisa tenang karena ada Rio dan Rino yang menjaga Yuan,” balas Ken.


Abigail tesenyum dan memeluk sang paman sembari berbisik, “Aku merindukan, Naru.”


Ken melebarkan matanya, mendengar nama itu disebut, sosok yang sudah sangat lama tak pernah dia lihat. Ken hanya bisa membalas pelukan sang ponakan, mengusap punggungnya tuk menenangkannya.


“Jangan merindukannya, dia sudah tenang disana,” ucap Ken.


Abigail hanya bisa menahan semuanya lalu pergi kekamar tamu, menenangkan pikirannya yang begitu kalut dan begitu merindukan sosok yang dahulu selalu ada bersamanya.


“Naru,” ucap lirih Abigail dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya.


Sam yang baru saja datang dari kantor tak melihat siapa pun didalam rumahnya, Sam memanggil dan mencari keberadaan istri dan anaknya. Namun, tak ada siapa pun disana.


“Pergi kemana, Abi dan Yuan? Kenapa tak mengabariku dahulu,” ucap Sam sembari melepas jas dan kemeja kantornya.


Sam memikirkan apa yang sudah terjadi pada keluarganya bukanlah hal yang benar. Sam merasa  Abi semakin menjauh darinya dan juga tak seperti dulu. Tanpa dia sadari kalau itu semua karena sikapnya dan sifatnya yang acuh pada istri dan anaknya. Sam, merebahkan tubuhnya di atas ranjang


tanpa disadari jiwanya sudah berada di alam mimpi.


“Bukan aku, Kak. Bukan aku, percayalah padaku! Aku mohon!’ teriak seorang wanita.


“Siapa itu? Siapa kau, dimana kau?” tanya Sam.


Sam mencari asal suara itu kesembarang arah, tapi tak bisa menemukan siapa-siapa disana selain ruangan putih. Akan tetapi, suara wanita itu terus menggema disana.


“Aku tanya siapa kau? Dimana kau, tunjukkan siapa dirimu!” pinta Sam dengan berteriak.


“Kau akan marah padaku, kau akan kembali melukai aku, kau akan kembali membenciku.”


"Zyvia, apakah itu kau? Zyvia kembalilah pada kakak! Kakak mohon!" pinta Sam dengan menangis.


"Tidak, Kak. Aku akan pergi menjauh, bahkan sangat jauh agar kau tak merasa terancam oleh kehadiranku."


"Zyvia,,!!!" teriak Sam sembari membuka matanya.


Napasnya terengah, peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya. Mimpi itu seakan nyata, Sam merasakan begitu sesak dalam dadanya.

__ADS_1


Tak disadari, hari sudah berganti malam. Terlihat rumah itu seperti rumah kosong yang tak berpenghuni tak ada cahaya lampu yang menyala disana. Karena, Abigail masih belum kembali.


Bersambung 🍂🍂🍂🍂


__ADS_2