
Jalani saja, lakukan saja, dengan terus menatap ke depan. Tak akan ada yang menghalangi, tak akan ada yang juga mendatangi, karena memang seperti itulah sifat dari angin..
Pagi itu, Zee bergegas keluar dari kamarnya, teriakan dari Kiara membuat gadis itu terbuat-buru saat sedang berdandan.
"Princess, cepat keluar! Alfa sudah menunggu!" seru Kiara dari luar kamar.
"Ya, aku akan segera keluar!" ujar Zee sedikit berteriak.
Alfa tersenyum mendengar teriakan Kiara, terlihat dia sudah mulai akrab dengan Zee.
"Hay, Al," sapa Ara.
Alfa beranjak dari duduknya, segera memeluk Ara mencium pipi sang kakak.
"Pagi, kak" sambut Alfa.
"Bagaimana kabarmu? Sudah lama baru kemari," ucap Ara.
"Sibuk kuliah, kak. Ini juga aku masih harus pergi lagi, setelah mengantarkan Zee," balas Alfa.
"Apa, Zee selalu merepotkanmu?" tanya Ara.
"Tidak kak, aku lah yang ingin mengantarnya!" tegas Alfa.
Terlihat Zee turun dari kamarnya, gadis itu begitu cantik. Sangat sempurna di mata Alfa, Zee tersenyum menatap sang kekasih hati.
"Zee, berangkat ya kak!" seru Zee sembari mencium pipi Ara.
"Ya, kalian hati-hati di jalannya!" pinta Ara.
Alfa menggandeng tangan Zee, dan segera masuk ke dalam mobil. Alfa mengendarai dengan kecepatan sedang, mereka menuju kota C.
"Apa, benar tak apa. Jika kau menemani aku?" tanya Zee.
"Is Ok, aku sudah mengatakannya pada ketua tim. Aku pun sudah menyelesaikan tugasku dengan sempurna," jawab Alfa.
"Baiklah, terimakasih. Karena, kau sudah mau menemani diriku," balas Zee seraya menyenderkan kepalanya di pundak Alfa.
Memakan waktu lama, mereka sampai di desa C. Karena, jalan yang bisa di lewati di tutup. Tapi, untungnya disana masih sepi, baru ada ketua tim dan teman wanita Zee.
"Maaf, apakah aku telat?" tanya Zee saat baru turun dari mobil.
"Tidak, Zee. Kita juga baru sampai, mungkin yang lainnya terkena kendala jalan yang di tutup itu," jelasnya.
"Ya, kau benar! Aku saja, harus memutar balik sangat jauh," balas Zee.
"Oa, Alfa kau kenapa bisa berada disini?" tanya ketua tim.
"Gue, gak papa kan menemani Zee? Ya, sapa tau gue juga bisa bantu kalian sedikit, karena tugas gue udah selesai di desa A," terang Alfa.
"Hemm, Ok lah. Boleh silakan! Tapi, kau hanya boleh menemani dan membantu Zee!" perintah ketua kelas.
"Kenapa hanya Zee?" tanya Alfa.
"Karena, Zee bertugas memotret tuk dokumentasi. Dan, kebetulan kau itu kan sangat jeli, tahu harus bagaimana caranya," ucap Ketua kelas.
"Ok, gue bakal bantu Zee dengan sepenuh hati," ucap Alfa begitu mantap.
Alfa dan Zee sudah berjalan-jalan menyusuri jalan setapak menuju pemukiman di sana. Alfa menatap sekekliling dengan heran, tatapannya begitu tajam.
"Kau, heran. Al? Kenapa desa indah seperti ini begitu sepi?" tanya Zee.
"Ya, kau benar! Ada apa dengan desa, ini?" tanya balik Alfa.
Zee pun menceritakan semuanya, Alfa mengangguk mengerti akan situasi desa ini.
Saat sedang berjalan-jalan. Alfa melihat gadis kecil yang duduk di atas rumput sambil memegang kakinya.
"Ada apa dengannya? Terlihat, begitu kesakitan?" gumam Alfa.
Dengan cepat, Alfa berlari dan menghampiri gadis kecil itu. Sedangkan Zee di buat heran akan sikap Alfa.
"Kau tidak apa, gadis kecil?" tanya Alfa lirih. Sambil menatap kakinya yang terluka.
Gadis itu, menggeleng kepalanya. Terlihat takut pada Zee dan Alfa.
"Ok, jangan takut! Saya, hanya ingin menolongmu!" ucap Alfa dengan bahasa isyarat.
Gadis itu pun sedikit terkejut, karena Alfa bisa mengerti sian dirinya. "Baiklah, kakak tolong bantu saya! Kakiku tak bisa di gerakan!" (Dalam bahasa isyarat)
Alfa mengangguk, menggendong gadis itu di punggungnya.Gadis itu terus berbicara menggunakan bahasa isyarat dengan Alfa, yang sama sekali Zee tak mengerti. Zee merekam adegan langkah itu, menurutnya Alfa begitu hebat bisa langsung berinteraksi dengan warga di sini.
"Al, apa yang kau bicarakan dengannya?" tanya Zee.
"Nama nya, Anggi. Dia bilang kau begitu cantik dan sangat cocok denganku," ucap Alfa berbohong.
"Apakah itu benar? Jangan menipuku!" seru Zee.
"Hay, Anggi. Namaku Zee, bagaimana dengan kaki mu, masih sakit kah?"
Gadis itu tersenyum, lalu mengangguk ia.
"Dimana rumahmu?" tanya Alfa.
Anggi menunjuk rumah kecil di sebebrang sana, Zee mengikuti arah tangan Anggi, dan terkejut saat melihat rumah siapa yang dia tunjuk.
__ADS_1
"Anggi, apa kau gadis yang kemarin bersembunyi di balik tirai, sayang?" tanya Zee.
Anggi kembali mengangguk, terlihat wajahnya menjadi murung. Membuat Alfa dan Zee saling bertatapan.
"Aku akan mengobati dirimu dulu, kita duduk di kursi sana dulu yah!" pinta Zee.
Alfa pun membawa Anggi ke kursi, mendudukkan gadis kecil itu disana. Zee mengobati lukanya, sedangkan Alfa mencari informasi sesuatu darinya.
(Dalam bahasa isyarat)
"Anggi, kau dengan siapa disana?" tanya Alfa.
"Dirumah, itu aku tinggal dengan kakak lelakiku," jawab Anggi.
"Kakakmu, apakah dia ada disana? Ahh, maksudku apa kakakmu ada dirumah?" tanya Alfa.
"Tidak, ada. Kakak pergi ke kota dan belum kembali, aku hidup sendiri sana," ucapnya dengan berkaca-kaca.
"Lalu, bagaimana kau makan?" tanya Alfa.
"Kakak, menanam banyak sayuran di belakang rumah. Jadi, aku bisa makan dari merebus semuanya," jawabnya.
"Apakah, tak ada yang mau menolong dirimu?" gumam Alfa.
Zee menatap Alfa, yang terlihat kesana setelah berbicara dengan Anggi.
"Aku tak bisa bicara, semua orang bilang padaku. Kalau, aku ini anak pembawa sial! Ibu dan Ayah meninggal karena diriku!" seru Anggi.
Mata Alfa melebar penuh mendengar cerita itu, dirinya benar-benar marah. Zee menggenggam tangan Alfa.
"Siapa yang mengatakan itu? Tidak ada anak pembawa sial sayang," ucap Alfa.
Anggi menangis mendapatkan jawaban dari Alfa, baru kali ini ada yang begitu baik padanya. Dan, tak takut pada dirinya. Karena, semua warga desa begitu takut padanya. Takut akan terkena kutukan darinya.
"Luka nya sudah aku, obati. Kau sudah bisa pulang sekarang!" perintah Zee.
Anggi tersenyum mengangguk tanda terimakasih. Zee menyentuh pipi gadis kecil itu dengan lembut, Anggi menggenggam tangan Zee lalu menyatukan dengan tangan Alfa.
"Semoga kailan bisa terhindar! Semoga ini akhir dari semuanya, semoga kakak cantik ini bisa hidup dengan bahagia walaupun tak berteman dengan kakak tampan ini," ucap Anggi dalam hati.
Alfa pun kembali menggendong Anggi, Zee mengikuti dari belakang. Setelah mengantuk sampai rumah, Alfa dan Zee segera kembali karena semuanya sudah berkumpul. Dirumah, Ketua RT.
"Al, Zee kalian darimana saja?" tanya Sam.
"Hanya berkeliling saja, maaf sudah membuat menunggu!" pinta Alfa.
Semua orang disana begitu terkejut, saat Alfa bisa berbicara santai seperti itu. Termasuk, Abi dan Sam yang saling tatap.
"Ekhem, baiklah ayo kita mulai saja. Bukannya, hari ini kita harus selesaikan semuanya?" tanya Zee.
"Aku kira, gadis itu tak memiliki kekasih. Ternyata, dia membawa kekasihnya kemari. Dan mereka begitu dekat sekali," gumamnya.
Sam dan Abi bisa leluasa berdua, tanpa harus menghawatirkan Zee. Karena, sang penjaga ada di dekatnya.
"Alfa itu sudah bagaikan matahari tuk, Zee. Senyuman, kesedihan, semuanya berpusat pada Alfa," ucap Abigail.
"Mereka saling memiliki, melengkapi, hidup mereka seperti terhubung," balas Sam.
"Sam, kau harus berjanji padaku! Kau, harus tetap menjaga Zee. Walaupun disisinya ada Zyan atau pun Alfa!" pinta Abigail.
"Memangnya kenapa? Kenapa, tiba-tiba kau mengatakan itu?" tanya Sam cemas.
"Tidak ada, kau tau Sam. Aku melihat jika Zee itu seperti bulan, dan kalian bertiga itu bagaikan bintang," jawabnya.
"Bulan itu begitu indah dengan cahayanya di langit malam. Tapi, dia selalu sendiri tanpa teman. Mungin, dia tersenyum tapi di balik itu dia menangis. Maka, dari itu saat ada banyak bintang di dekatnya dia begitu bahagia," imbuh Abigail.
Sam mengangguk mengerti, tatapannya terarah pada Zee. Dulu, saat baru pertama kembali ke Indonesia Zee selalu dekat dengannya. Sam hampir saja mencintai Zee, bahkan orangtuanya mengatakan jika dirinya harus bisa bersama dengan Zee.
Takdir seseorang sudah ada yang mengatur, bukannya semakin cinta. Sam lebih menyayangi Zee, entah itu sayang sebagai wanita atau saudara, Sam tak tahu.
"Abi, kau tahu. Banyak yang menyukai, Zee, tapi rasa yang ku miliki itu hanya ingin menjaganya dan menyayangi dirinya saja. Mungkin, karena dulu Zee selalu bergantung padaku, setelah kepergian Zyan," jelas Sam.
Abigail tersenyum, sambil menggenggam tangan Sam dan berbisik, " aku, sangat mencintaimu. Dan begitu sayang padamu!"
Sam, tersenyum senang. Dan hatinya begitu berdebar karena ungkapkan cinta Abigail.
Tugas hari itu sangat menguras otak, tenaga dan waktu, Alfa selalu menemani kemana pun Zee pergi dengan sangat perhatian.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.15 wib, semuanya terlihat lelah, tapi senang karena semuanya sudah selsai.
Di jalan pulang menyusuri jalan setapak di malam hari, membuat mereka semua berhati-hati. Disana tak ada penerangan sama sekali.
"Perhatikan langkah kalian, jangan sampai terluka apalagi terjatuh!" perintah Ketua Tim.
Semuanya menyahut ia, dan terus berjalan pelan agar tak terjadi sesuatu apapun.
"Jangan lepaskan tanganku! Disini sangat gelap!" perintah Sam pada Abigail.
Sedangkan Zee langsung menggenggam kuat tangan Alfa, karena Alfa beras di barisan paling belakang.
"Tenanglah, aku ada di belakangmu!" seru Alfa.
"Jangan jauh-jauh dariku!" pinta Zee berucap dengan lirih.
Alfa tersenyum mendengar sang kekasih berucap manja dengan rasa khawatir.
__ADS_1
"Baiklah, princess!" ujar Alfa.
Setelah berjalan selama 15 menit, akhirnya mereka bisa bernafas lega. Bisa sampai di jalan raya, dan menemukan mobil mereka berjejer rapih disana.
"Akhirnya, malam yang melelahkan ini sudah berakhir. Terimakasih untuk kalian semua yang sudah bekerja keras," ucap Ketua Tim.
Semuanya bertepuk tangan dan tertawa gembira. Tanpa, mereka semua tahu. Sudah ada sepasang mata yang penuh kebencian menatap mereka.
"Tertawalah! Sebelum aku mengambil tawa kalian dan menggantinya dengan tangisan yang memilukan!" ucapnya dengan menyeringai penuh dengan kebencian.
Zee dan Alfa bergandengan tangan, menyebrangi jalan. Sam dan Abigail berjalan di belakang mereka.
"Tunggulah, sebentar. Aku melupakan sesuatu, bag ini milik teman tim ku. Aku, harus segera kembalikan!" pinta Zee.
Alfa yang sedari tadi ingin masuk mobil pun kembali keluar dan berjalan di belakang Zee.
Ciiittttt,,,, bbrruuggghh...
"Zee!!" teriak Abigail menatap Zee yang berpental melambung di atas angin.
Semua orang sontak menatap Abigail yang berteriak, dam mengikuti arah mata Abigail.
"Astaga, Zee!!" teriak semuanya seraya berlari kearah Zee.
Sam mematung melihat siapa orang yang berada di dalam mobil tersebut. Air matanya menetes dengan deras, bibirnya keluh tuk bersuara.
"Zee, ma-maafkan aku!" ucap Alfa yang juga terkapar sudah bermandikan darah.
Sam melototkan matanya saat melihat Alfa, sambil berlari mendekatinya.
"Al, Alfa! Alfa, bangun! Kamu harus kuat, dengarkan aku! Aku mohon, bertahanlah, demi Zee, Al. Aku mohon!" pinta Sam sembari menangis memangku kepala Alfa yang sudah banyak darah.
Alfa menatap Sam dengan sangat sendu, air matanya mengalir mengingat akan kekasihnya. Alfa berucap tapi begitu lirih. Sam mendekati telinganya.
Sam melebarkan matanya terkejut dengan apa yang dia dengar dari Alfa.
"Jaga Zee dan anaku! Zee, dia akan mengandung anakku, Sam!" seru Alfa dengan sisa nafasnya.
Alfa menutup matanya, semua bayangan Zee dan dirinya terlintas begitu jelas, semua janji yang dia ucapkan, semua kenangan yang mereka lalui bersama. Sam menggenggam erat tangan Alf menangis dengan haru.
"ALFA!!!" teriak Sam memanggil sang sahabat yang sudah tiada meningglkan amanat yang begitu berat untuknya.
Ketua kelas berlari menghampiri Sam, dia begitu terkejut ternyata Alfa juga tertabrak. Ketua kelas teduduk lemas didekat Alfa.
"Panggilkan Ambulance!! Cepat, kenapa kalian diam saja,huh!!! Teriak Ketua Tim marah.
Semua anak- anak pun bergegas memanggil ambulance dan menghubungi semua keluarga Zee dan Alfa.
Sam memeluk tubuh, Alfa dengan erat tangisnya begitu hebat. Terasa sakit hatinya melihat sahabatnya sudah tiada.
"Aku mohon, bangun Al. Buka matamu, Zee hanya membutuhkan dirimu bukan diriku!" pinta Sam sembari mengundang tubuh Alfa.
Sosok yang masih duduk terpaku di dalam mobil pun menangis, hatinya begitu sesak, hancur, menatap siapa yang celaka di depannya.
"Tidak, tidak, kenapa kau yang pergi? Aku ingin wanita itu yang pergi bukan dirimu!" ucapnya tak percaya.
Dengan tubuh yang gemetar, gadis itu membuka pintu mobil tersebut, dan berjalan dengan tertatih berjalan ke arah Sam dan Alfa.
"Wanita, itu, dia yang sudah menabrak Zee dan Alfa!" seru teman-teman.
Sam menatap ke arah gadis itu dengan penuh kebencian, kemarahan yang sudah memuncak padanya.
Sam meletakkan Alfa kembali di atas jalan, lalu Sam berdiri dan menghampiri gadis itu.
PLAKKKK,,,,,
Gadis itu sampai tersungkur di tanah, matanya menatap ke arah Sam.
"Pembunuh! Kau sudah membunuh sahabat-sahabatku! Apa kau sudah puas, senang telah melakukan itu, hah!!" hardik Sam menatapnya dengan sangat tajam.
"Aku mohon! Biarkan aku melihat Alfa sebentar!" pintanya dengan mata sendu.
"Kau berani menyentuhnya barang sedikit saja, aku akan membuatmu, detik ini juga!" ujar Sam penuh amarah.
Abigail masih memeluk tubuh Zee, yang keadaannya begitu parah.
"Aku mohon, Zee! Jangan buat semuanya menjadi kenyataan, aku mohon bangunlah jangan pergi seperti ini!" pinta Abigail menangis memeluk Zee.
"Abigail, Zee masih bernapas! Tangannya, bergerak, Zee masih hidup!" seru teman lainnya.
Abigail melihat tangan Zee yang bergerak, bibirnya berucap dengan begitu lirih.
"Al, Alfa," ucapnya dengan susah payah. Setelah itu tak sadarkan diri.
Setelah menunggu tiga puluh menit, akhirnya Ambulance datang bersama keluarga besar mereka.
Tia pingsan setelah mengetahui anak semata wayangnya telah tiada. Ars menangis menatap sang putra tanpa berbicara.
Azura dan Kiara lemas di buatnya, melihat Zee tak sadarkan diri. Sednagkan Zyan terus memarahi Zyvia. Menamparnya dengan begitu keras, sampai terlihat darah keluar dari sudut bibirnya.
Malam itu Zyvia di bawa oleh polisi, kedua orangtuanya begitu malu dan sangat menyesal. Bahkan, Sam tak mau menatap Leo dan Cessi.
Sam tak melepaskan tangan Alfa barang sedetik pun, Ken dan Wildan segera menyiapkan segalanya di rumah sakit.
Malam itu, jadi malam berdarah dan tak akan bisa di lupakan oleh semuanya. Terutama oleh Zyvia yang sudah berhasil memisahkan Zee dan Alfa, dan berhasil membuat lelaki yang sangat dia cintai telah tiada. Pergi tuk selamanya.
__ADS_1
Bersambung💞💞💞