
Bel apartemen kembali berbunyi.
"Adam baru saja pergi, kenapa sudah kembali lagi?" Gumam Anisa sambil melangkah mendekati pintu.
"Tapi..."
Anisa mengurungkan niatnya untuk membuka pintu dan memilih untuk melihat terlebih dahulu siapa yang datang.
Anisa menekan sebuah tombol di dekat nya untuk menyalakan monitor.
"Kak Alina? Dari mana kak Alina tau aku disini?"
Anisa segera menjauh dari pintu. Dia kembali ke tempat duduk nya dengan tidak tenang.
"Anisa.. kakak tau kamu di dalam. Buka pintu nya, Nis."
Teriakan Alina terdengar sampai kedalam.
"Maafkan aku kak. Tapi aku belum siap bertemu kak Alina saat ini." Gumam Anisa kemudian masuk ke dalam kamar nya agar tidak lagi bisa mendengar Alina.
Dua puluh menit berlalu...
Anisa keluar dari kamar, berniat memantau monitor apakah Alina masih ada di sana atau sudah pergi.
Tapi matanya tertuju pada sebuah kertas yang terselip di bawa pintu.
Anisa, kakak tidak akan pergi dari sini sebelum kamu menemui kakak. Kakak sudah tau semuanya. Kakak tidak akan memarahi mu. Kakak hanya ingin bertemu dengan mu. Kita bicara.
Setelah membaca isi surat itu, Anisa menoleh ke arah monitor dan benar saja, Alina masih berada di depan pintu apartemen.
"Adam! Aku butuh dia sekarang."
Anisa pun segera menghubungi Adam dan meminta nya untuk segera ke apartemen.
--
"Alina? Sedang apa kamu disini?"
__ADS_1
Alina menoleh ke arah seseorang yang menegur nya.
Adam !!!
Alina menatap tajam tanpa berkedip. Entah apa yang sedang di pikirkan nya.
"Alina!!!"
~Plaakk
Satu tamparan mendarat sempurna di wajah Adam.
"Kamu kenapa Alina?" Adam sambil memegang pipi nya yang terasa panas akibat tamparan Alina.
"Tega kamu, Dam!"
"Tega? Apa maksud kamu Alina?"
"Kita sahabat sejak kecil, Dam. Selama itu juga kamu tidak pernah sama sekali membuat aku merasa kecewa memiliki sahabat seperti kamu. Tapi kenapa sekarang..."
Apa Alina sudah tau masalah kehamilan Anisa? Dan dia mengira aku yang menghamili Anisa.
"Aku akan..."
"Aku tidak butuh penjelasan kamu. Sekarang aku hanya perlu bertemu Anisa. Itu saja!"
"Baiklah. Memang lebih baik kita bicarakan ini bersama. Tunggu sebentar."
Adam menekan bel, beberapa saat kemudian pintu terbuka, tapi tidak terlihat seorang pun berdiri di sana.
"Ayo masuk, Alina."
Alina mengikuti Adam masuk ke dalam. Di dalam ternyata Anisa sudah duduk sambil menunduk.
Tak bisa lagi menahan kerinduan nya terhadap adik satu-satu nya, Alina langsung menghambur memeluk Anisa.
Keduanya saling peluk tanpa kata dan suara. Hanya air mata yang saling bicara mengungkap perasaan hati masing masing.
__ADS_1
Merasa sudah bisa menguasai perasaan, Alina menarik diri, menghapus air mata di wajah nya juga di wajah Anisa dan mencoba tersenyum.
Mata Alina langsung melirik ke bagian perut Anisa... Dan benar saja, perut nya terlihat sedikit membesar sekarang.
Sekali lagi hati nya terpukul. Lagi dan lagi menyalahkan diri nya atas semua yang sudah terjadi kepada Anisa.
Baru seminggu yang lalu kita bertemu, aku bahkan tidak memperhatikan perubahan pada tubuh Anisa. Dasar bodoh kamu, Alina !!!
"Nis, sudah waktunya kita bicarakan ini dengan Alina." Ucap Adam.
"Aku malu! Aku malu sama kak Alina."
"Kamu tidak perlu malu, Anisa. Sudah kakak bilang, kakak tidak akan marah. Untuk apa? Semua sudah terjadi."
"Kamu tenang saja, Alina. Aku akan segera menikahi Anisa." Selah Adam.
"Tidak!!!" Tolak Alina keras.
"Kenapa kamu masih keras kepala, Alina? Kamu sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya, kenapa masih tidak mengijinkan aku menikahi Anisa?"
"Karena yang harus menikahi Anisa adalah mas Raka!!!"
Anisa dan Adam sama-sama kaget di buat nya.
"Bayi yang Anisa kandung adalah anak mas Raka. Jadi dia yang harus bertanggung jawab atas Anisa dan anak nya." Lanjut Alina.
"Kak... Maafkan Nisa. Tapi Nisa tidak mau menikah dengan Raka."
"Karena mas Raka suami kakak?"
"Itu salah satu alasan nya. Alasan yang lain nya karena aku sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi terhadap Raka."
"Tapi bayi yang ada di dalam kandungan kamu itu nanti nya butuh Raka sebagai ayah nya."
"Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Adam, kak. Dan Adam juga bersedia menjadi ayah untuk anak ini."
"Tidak, Anisa!!! Sampai kapanpun kakak tidak akan pernah setuju. Yang harusnya menikahi kamu adalah mas Raka! Dia harus bertanggung jawab. Kakak dan mas Raka akan segera bercerai !!!"
__ADS_1
...******...