Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 340


__ADS_3

BYURR


Roy menyeburkan dirinya kr dalam kolam dan terus berenang ke arah dasar. Terlihat Cecilia sudah menutup matanya, waah yang sudah memucat. Roy menariknya ke atas permukaan dan berteriak memanggil bawahannya.


“Panggilkan Dokter!!!” perintah Roy dengan berteriak.


Roy membuka tali dan sumpal yang ada di mulut Cecil, mencoba mengeluarkan air dalam tubuhnya. Tapi sepertinya Roy sudah terlambat, tidak ada respon sama sekali dari Cecil. Wanita itu sudah pergi meninggalkannya tuk selamanya.


“HAHHHHHHHH,,,!!!” teriak Roy merasa sedih dan sangat bersalah. Lelaki itu mendekap tubuh Cecil yang sudah dingin seperti es, Roy menangis dan meraung memanggil nama Cecil dengan sangat kencang.


Semua anak buahnya menunduk menyembunyikan air mata mereka masing-masing melihat Roy yang kehilangan Cecil yang mereka tahu begitu menyayangi Roy. Wanita tanpa ekspresi, namun begitu lembut dan perhatian pada Taun mudanya.


“Tuan, kita harus melakukan hal terakhir tuk Nona Cecil  dengan benar. Biarkan dia tidur dengan


damai,” ucap Julian.


Roy menatap Julian dengan mata yang basah, Roy mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Saat pintu itu terbuka, mata Roy membelalak karena ia tidak tahu seperti apa sayangnya Cecil padanya.


Banyak foto Roy sejak pertama dengan Cecil, tangisan Roy semakin menjadi saat melihat fotonya dengan Cecil di dekat danau. Roy membaringkan tubuh Cecil di atas ranjang, mencium tangan dingin itu dengan lembut.


“Tidurlah dengan damai, aku akan membalaskan semua yang terjadi padamu. Aku janji itu,” ucap Roy denga menangis.


Pelayan wanita menggantikan baju Cecil dengan sebuah gaun putih yang sangat indah. Gaun yang Roy simpan tuk Vanya, namun entah kenapa hari ini Cecil lah yang sangat berharga tuknya.


Roy menunggu di depan kamar Cecil, air matanya masih terus mengalir tanpa henti. Sungguh Roy merasa sangat marah dan penuh dendam dengan orang yang telah membuat Cecilia meninggal.


“Tuan, semuanya sudah siap. Kami menunggu perintah darimu,” ucap Julian.


“Kita segera kuburkan Cecilia hari ini juga, setelah itu aku mau semua orang yang telah melukai semua orangku harus mati!” perintah Roy dengan nada dingin.


Julian mengangguk ia mendengar semua perintah dari Roy, terlihat peti mati memasuki lorong dan masuk ke dalam kamar Cecilia. Roy masuk dan mengangkat tubuh Cecilia yang sudah terbalut dengan gaun indah itu dan memasukkannya ke dalam peti yang sudah terdapat bunga mawar dan lily putih.


“Tidurlah dengan tenang, maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkanmu,” ucap Roy seraya mencium kening Cecilia.


Setelah itu masuklah anak buah yang Julian bawa tuk mengangkat peti jenazah itu keluar. Roy memakamkannya dengan ketiga wanita yang dia sayangi.

__ADS_1


Gudang Lama


Laudya masih di sekap, wajahnya di tutup kain dengan tangan yang di ikat dan mulut yang di sumpal. Laudya masih ingat akan apa yang terjadi pada sang kakak saat ingin menghalangi orang-orang itu membawanya.


“Lauren, aku harap kau baik-baik saja,” batin Laudya begitu sedih.


Tanpa dia tahu jika sang kakak telah tiada, Lauren yang susah payah melawan semua orang dari Zidan pun tidak bisa berbuat apa pun saat semua penjaga mati di tembak. Sedangkan Lauren sendiri di ikat dan lansung di tenggelamkan di dasar kolam sampai meninggal.


“Apa sudah ada keputusan dari Taun Zidan, kita apakah wanita ini?”.


“Tidak ada, Tuan Zidan sepertinya sedang sibuk dengan para wanita barunya.”


Laudya yang mendengar itu begitu terkejut, ternyata Zidan yang telah menculiknya. Laudya mencoba melepaskan ikatan di tangannya namun tetap tidak bisa.


“Apa Roy tahu soal ini? Aku harus segera memberitahukan dia, jika pamannya itu orang yang jahat,” batin Laudya.


TAK,,, TAK,,, TAK,,


Terdengar langkah kaki yang sangat di kenal oleh Laudya, jantungnya berdegup sangat kencang mendengar langkah itu. Laudya panik seketika, wanita itu tidak ingin bertemu kembali dengan lelaki yang ingin membunuhnya.


“Ya, Tuan. Terimakasih karena kemurahan hati anda,” jawab para penjaga.


Zidane menyeringai melihat Laudya yang di tutupi wajahnya, melihat wanita itu dari ujung kaki sampai kepala. Zidan melihat luka yang berada di kakinya yang sudah tak terlihat, bahkan sepertinya sudah di operasi.


“Huh, ternyata mereka memperlakukanmu dengan sangat baik Laudya?” tanya Zidan seraya membuka penutup kepalanya.


Laudya menatap Zidan dengan tatapan tak bersahabat. Zidan hanya tersenyum tipis, membuka sumpal di mulutnya lalu menyentuh wajah Laudya dengan sangat pelan.


“Kau merindukanku, Dya?” tanya Zidan.


Laudya hanya diam dan memilih memalingkan wajahnya, wanita itu benar-benar merasa takut yang teramat berada dekat dengan Zidan. Seakan malaikat maut dekat dengannya.


“Aku sangat kecewa dengan responmu yang ternyata tidak merindukanku. Sepertinya kau sudah menjadi kucing yang jinak, sampai kau lupa jika jati dirimu yang sesungguhnya adalah kucing yang liar,” ucap Zidan tertawa lepas.


“Apa lagi yang kau inginkan dariku? Bukankah, kau sudah membuangku dan tidak membutuhkan wanita cacat sepertiku ini. Lantas kenapa sekarang kau membawaku kemari?” tanya Laudya menatap tajam Zidan.

__ADS_1


“Wow, lihat siapa ini? Kau sudah berubah Dya. Kau sudah berani menatapku dengan mata yang seperti itu, huh?” tanya Zidan dengan berteriak.


Dan tanpa Laudya tahu, jika Zidan sudah siap menamparnya dengan sangat kuat. Laudya merasakan pipinya begitu panas karena tamparan itu, merasakan perih di sudut bibirnya yang mungkin saja sobek dan berdarah.


“Dasar wanita laja**! Berani sekali kau menatapku seperti itu, huh? Jika saja aku tidak membutuhkanmu sudah ku bunuh kau dengan tanganku sendiri sejak tadi. Akan aku bunuh kau seperti aku membunuh anakku,” ucap Zidan dengan nada dingin.


DEG


Air mata Laudya menetes deras begitu saja, jantungnya berdegup sangat kencang karena mengingat akan kejadian masa lalu itu. Karena sangat kencangnya membuat dadanya merasa sakit, tubuhnya melemas seketika.


Zidan tersenyum puas karena telah membuat Laudya menjadi lemah dan merasa sangat bersalah. Zidan melepas ikatan di tubuh Laudya, membiarkan wanita itu bebas tuk sesaat.


“Sekarang kau kembali menjadi milikku. Kau harus bersiap-siap tuk aksimu yang pertama, setelah vakum beberapa bulan,” ucap Zidan seraya berjalan keluar.


“Tunggu, apa yang akan ku lakukan? Tugas apa yang akan kau berikan padaku?” tanya Laudya dengan suara yang bergetar.


“Ternyata kau tidak sabaran juga. Tidak tuk hari ini, tapi tuk esok,” jawab Zidan.


Laudya melihat Zidan yang  berjalan keluar denga terus tersenyum pun merasa begitu takut. Apa yang akan menjadi tugasnya besok? Laudya berpikir banyak tentang siapa target Zidan yang pertama kalinya.


“Tuhan, jika aku harus mati di tangan Zidan aku rela. Asalkan tidak ada orang yang mati lagi karena ulah diriku,” batin Laudya memohon pada Sang Kuasa.


Malam itu di habiskan Laudya dengan diam di dalam kamar tanpa keluar tanpa makan dan minum. Padahal Zidan sudah meminta para pelayan tuk melayani Laudya seperti sedia kala dan meminta pelayan memindahkan Laudya kembali ke kamarnya.


“Nona Laudya, kau harus segera pindah ke kamar lamamu! Jika tidak, Tuan Zidan akan marah dan kembali menyiksamu,” ucap Iren seraya menunduk.


Iren adalah anak buah dari Laudya yang masih sangat muda. Usianya masih lima belas tahun, dia sudah ikut dengan Laudya sejak usia sepuluh tahun saat Laudya menemukan anak itu terkapar di tengah jalanan.


“Baiklah, aku akan kembali ke kamar itu. Asalkan Zidan mau mengubah semua yang ada di kamar itu,” balas Laudya.


“Baiklah, Nona. Saya akan memberitahukan Tuan Zidan akan masalah itu,” ucap Iren seraya berjalan keluar.


Laudya berdiri melihat keluar jendela, di luar sana terlihat Iren sedang berbicara dengan Zidan yang sedang bersenang-senang dengan para wanitanya. Laudya memicingkan matanya melihat siapa saja yang ada di samping Zidan.


“Jikaa aku sudah di takdirkan sebagai wanita pembunuh, jika aku sudah di takdirkan sebagai kucing liar di dunia ini. Baiklah, aku akan melakukannya dengan lapang dada. Aku akan membunuh semua orang yang menghalangi langkahku termasuk menjadi malaikat maut untuk diriku sendiri dan dirimu Zidan,” ucap Laudya penuh amarah.

__ADS_1


Bersambung🍂🍂🍂


__ADS_2