
Setelah memilih pergi dari Indonesia, aku memutuskan menetap di Finlandia. Aku menjadi orang baru ditempat asing ini, melupakan semua masa lalu, kenangan, dan semua kebahagiaanku.
Saat pertama aku mengingatkan kakiku di negeri ini, aku mengandung Al yang berusia 6 bulan. Aku bertahan dengan membuka toko bunga di toko kecil. Usiaku yang masih terbilang muda saat hamil, membuat banyak pasang mata yang menatapku dengan tatapan ejekan.
Tapi, setelah aku memang foto Alfa dan mengetahui jika kekasihku telah meninggal. Membuat, mereka simpati padaku dan selalu membantuku.
Sekarang, aku bekerja di sebuah perusahaan milik orangtua teman anakku. Mereka sangat baik padaku dan Al, apalagi sekarang sudah memasuki tahun ke 10 tahun aku beras di negeri ini.
"Zee, nanti kau yang akan mengurusi kontrak dengan perusahaan Sanders! Aku, percayakan semuanya pada dirimu!" pinta Anthoni.
"Kenapa, tidak kau saja? Itu, perusahaan besar. Aku, aku takut gagal," ucap Zee cemas.
"Kau jangan bercanda! Selama ini, kau selalu menangani semuanya, dan selalu sukses!" ujar Jefty.
"Ayolah, ku mohon kalian saja! Aku mohon, aku merasa ini akan buruk. Jika, aku yang akan pergi!" pinta Zee memelas.
Tapi semuanya tak di hiraukan oleh sepasang atasannya itu. Ya, Anthoni dan Jefty adalah pemilik perusahaan itu.
"Ahhh, aku bisa gila! Jika, sudah menghadapi dua manusia itu!" gerutu Zee.
Dengan langkah malas, Zee kembali ke ruangan kerjanya. Disana ada Enbi yang menjadi sekretaris, dia orang Korea yang menjadi teman ngobrolnya.
"Bagaimana? Apakah, mereka tetap mau kau yang pergi?" tanya Enbi.
"Ya, kau benar! Aku, tetap harus pergi meeting dengan perusahaan Sanders," jawab Zee cemberut.
Enbi menatap wajah Zee yang cantik itu di usianya yang sudah mau memasuki kepala tiga. Apakah bos mereka sengaja memaksa Zee tuk meeting? Karena Direktur dari perusahaan itu masih lajang dan katanya sangat tampan.
"Apa yang kau fikirkan?" tanya Zee menatap Enbi.
"Zee, kenapa kau tak menikah lagi? Dan memberikan Ayah baru tuk Al, dia pasti sangat merindukan sang Ayah?" tanya balik Enbi.
Wajah, Zee seketika berubah jika sudah menyangkut urusan pasangan. Karena, sampai sekarang di hatinya Alfa masih bertahta di sana. Hatinya seakan ikut pergi, tak ada rasa cinta dan sayangnya lagi tuk seorang lelaki.
Alfa benar-benar telah membekukan hati Zee, dia telah membawa semua perasaan Zee dengan dirinya ke alam keabadian.
"Aku, tak membutuhkannya! Dan, Al dia bahagia hidup bersamaku, mau itu ada atau tidak adanya Alfa di hidup kami. Karena, kami menyakini jika Alfa tetap bersama kami selama ini," jelas Zee.
Enbi kembali merasa sedih, mengingat begitu cintanya Zee pada Alfa. Cinta mereka seakan abadi dan tak bisa di lupakan begitu saja. Walaupun, itu adalah kematian.
"Aku hanya ingin kau bahagia, Zee. Dan cobalah, kau lihat dengan hatimu! Apakah benar, Al tak membutuhkan sosok seorang Ayah?" tanya Enbi.
Zee hanya bisa memalingkan wajahnya, lalu duduk di kursi kebesarannya. Di putarnya kursi itu menatap jauh keluar jendela. Didepannya terhampar langit biru yang luas dengan awan putih.
Zee, menutup matanya. Terlintas semua kenangan dirinya dengan Alfa.
"*Al, jangan lepaskan tanganku! Jangan, menjauh dari diriku!" pinta Zee.
"Tidak akan, princess! Aku akan selalu di belakang dirimu!" ujar Alfa*.
Air mata Zee lolos tanpa permisi, membasahi pipi putihnya.
__ADS_1
"Aku, akan bersamamu selamanya! Aku, akan menua bersamamu, dan kau hanya akan menjadi milikku sampai kapan pun!" seru Alfa.
Hiks,,, hiks,,, hiks,,, Zee tak akan pernah tahan tuk menangis. Jika, semua kenangan itu kembali terlintas.
"Al, kau telah membodohi aku, kau sudah membohongi aku, kau bukan lelaki baik yang menepati semua ucapan mu!" batin Zee. Hatinya akan kembali terkoyak.
Perih lara itu akan kembali terbuka jika semuanya telah berada dalam setiap pejaman matanya.
"Jika, kau berada di sisiku. Aku dan Alya takkan pergi menjauh dari sana. Kita akan hidup bahagia bersama. Dan, Al akan bisa memeluk tubuhmu, mencium dan tertawa bersama denganmu," isak Zee sembari menggenggam kalung yang sama dengan milik Alya.
"Alya, dia anak gadis yang sangat kuat. Dia begitu penurut. Tapi, setiap malam dia akan terus menangis dalam tidurnya dengan menyebut nama dirimu!" imbuh Zee.
Betapa Zee dan Alya sama-sama menutupi kesedihan mereka satu sama lain. Zee ingin menjadi sosok ibu yang sempurna tuk anak gadisnya, sedangkan Alya ingin menjadi anak yang berbakti pada sang Mommy dengan tak pernah menangis didepan sang Mommy.
Takdir seseorang tak ada yang tahu, akan bagaimana. Begitu pula dengan takdir Alya yang harus hidup hanya dengan sang Mommy. Lahir tanpa sosok Daddy yang memang sudah tiada semenjak dia di kandungan.
Begitu pula Zee yang sudah merancang sebuah hubungan yang akan segera mengikat dirinya dengan Alfa dalam ikatan suci. Namun, apa daya jika Tuhan sudah menggariskan berbeda. Zee dan Alfa harus terpisahkan oleh kematian.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan dari luar, membuyarkan semua lamunannya. Zee segera menghapus air matanya, membereskan diri dahulu.
"Hemm, masuk!" seru Zee.
Terlihat Enbi masuk bersama sosok lelaki yang tak asing tuk Zee. Senyuman lelaki itu mngembang begitu manis di wajah tampannya.
"Zyan," teriak Zee sembari berhambur di pelukan sang kakak.
Hangat, sangat hangat pelukan Zyan tuk Zee. Tangisan Zee lolos begitu saja, entah air mata apakah itu. Hanya Zee yang bisa mengartikan itu.
"Aku merindukanmu, princess!" seru Zyan.
"Aku, aku begitu rindu padamu! Aku, begitu merindukan dirimu dan pelukan ini!" seru Zee.
Mengingat saat dulu, Zyan lah yang selalu tidur menemani Zee dimasa terpuruknya. Dimana setiap malam, Zyan berpura-pura menjadi Alfa yang selalu memeluknya saat tidur.
Semenjak itu, Zee terbiasa dengan pelukan Zyan. Tapi, sudah sangat lama. Semenjak, Zyan kembali pergi ke Korea bersama dengan Kiara.
"Kapan, kau datang?" tanya Zee.
"Aku baru saja, sampai dan langsung pergi ke kantor mu. Dan sekarang Kiara sedang menjemput Al disekolahnya," jelas Zyan.
"Apa kau membawa semua keluargamu?" tanya Zee.
"Tentu saja, karena sekarang disinilah semua keluargaku berada. Kau dan kak Ara berada di negri asing ini. Bagaimana, aku bisa pulang ke Indonesia?" tanya balik Zyan.
"Baiklah, kau harus segera pergi kerumah kak Ara. Aku akan segera menyusul setelah melakukan meeting dengan client!" pinta Zee.
"Baiklah, aku akan menunggu dirimu! Princess, jangan terus menangisi dirinya disana! Kau harus segera keluar dari bayang-bayang Alfa!" perintah Zyan.
Zee hanya tersenyum tipis, seraya mengedipkan kedua matanya. Zyan pun pergi tuk kembali pulang kerumah.
__ADS_1
"Semua keluarga ku, ada disini. Dan, sekarang inilah duniaku, dan disinilah tempatku berada," ucap Zee seraya menggenggam kembali kalung tersebut.
"Tuhan! Tolong, kuatkan aku. Berikan aku kekuatan, dan selalu lindungi perasaanku dan kesetiaanku pada kekasih hatiku, pada belahan jiwaku!" pinta Zee sembari menangkupkan kedua tangannya.
*************************************
Coffee Shop
Zee dan Enbi sudah menunggu di tempat pertemuan yang sudah di sepakati. Mereka baru saja datang sepuluh menit lalu. Kemudian terlihat sosok lelaki yang begitu gagah dan tampan pastinya menghampiri mereka. Dan ternyata, di Direktur perusahaan Sanders.
"Excusme, apa kau Zee?" tanyanya begitu sopan.
"Yes, Sir. Im Zee and you?" tanya Zee.
"Im, Williem Alexanders. Direktur perusahaan Sanders," jawab Will memperkenalkan diri.
"Oh, Ok. Silahkan duduk!" pinta Zee mempersilahkan.
Will terus menatap wajah ayu Zee, tanpa fia sadari matanya tak bisa berpaling dari sosok wanita di depannya ini.
Zee sudah menjelaskan panjang lebar dengan sangat seksama. Begitu teliti tanpa tertinggal sedikit pun. Sedangkan Will hanya bisa diam mengangguk ia tanpa dia dengarkan apa yang Zee ucapkan.
"Bagaimana? Apa, anda setuju dengan semua yang saya persentasikan?" tanya Zee.
"Tentu, saya akan setuju. Dan akan segera melakukan kontrak bisnis tersebut dengan atasan anda," jawab Will.
"Baiklah, Sir. Terimakasih sudah mau bekerjasama dengan perusahaan kami," ucap Zee seraya menyulurkan tangannya.
Wil langsung menyambut uluran tangan itu dengan cepat, ada rasa bahagia tersendiri oleh Will saat dirinya menggapai tangan Zee.
Zee, tak memperhatikan seperti apa wajah Will dengan seksama. Berbeda dengan Enbi yang sejak pertama melihat sudah begitu terkejut, karena wajahnya begitu mirip dengan seseorang.
Di dalam mobil, Enbi memberanikan diri tuk berbicara dan memberitahukan Zee.
"Zee, apakah kau tak merasa kalau tuan Will itu mirip seseorang?" tanya Enbi dengan hati-hati.
"Mirip siapa? Aku tidak terlalu melihat seperti apa wajahnya, karena aku fokus saja dengan presentasi tadi," jawab Zee santai.
"Hemm, apakah kau tak sadar? Jika tadi sekilas dia sama persis dengan Alfa suamimu!" ujar Enbi.
Deg,,,
"Jangan, bercanda. Didunia ini bukannya, banyak orang yang mirip dengan satu sama lain. Dan, mungkin saja itu tadi hanya kebetulan saja," balas Zee.
Zee tak pernah ambil pusing tentang seperti itu, karena hidupnya sekarang itu adalah Alya. Gadis semata wayangnya, buah cintanya bersama dengan Alfa. Dan, sampai kapan pun Zee tak akan bisa menggantikan Alfa dengan siapapun.
Oleh karena itu lah, Zee masih sendiri selama ini. Padahal kematian Alfa sudah memasuki sepuluh tahun. Tapi, memang rasa yang Zee miliki begitu luar biasa besar pada Alfa.
**Bersambung💞💞💞
Sekali lagi aku ucapkan sangat banyak Terimakasih bagi yang sudah membaca, memberikan LIKE, KOMEN, VOTE nya padaku. Dan masih terus mendukung ku dengan memberikan RATE bintang 5 nya.
__ADS_1
Salam syaang tuk semuanya.. Mianhae kemarin sudah membuat kalian menangis😁😁😁**